
Sementara Dimas menantap nanar layar ponselnya saat Rafli dengan sengaja mengirim foto dirinya dan Ana sedang babymoon ke Belanda. Seolah peringatan keras untuk Dimas agar segera move on.
" Baiklah aku akan melupakanmu Ana , karena kau tengah mengandung , aku hanya tak ingin memisahkan anak dari seorang ayahnya " gumam Dimas.
" Jagalah istrimu dengan baik , jangan terlalu asyik babymoon dan dirimu menjadi manja hingga kau lalai. Keselamatan nyawa Ana itu penting " pesan Dimas kepada Rafli melalui WA.
" Aku suaminya , aku lebih berfikir dulu tentang itu " balas Rafli , ia ingin menjadi yang terdepan bagi Ana. Dimas tersenyum samar , ia mengetahui cara untuk menjahili Rafli. Anggap saja sebagai balasannya atas kekalahan cinta pertamanya.
.
.
.
Italia.
Laurent kini sedang cemas memikirkan anak lelakinya yang terjatuh dari tangga akibat dirinya asyik bertelepon mesra dengan kekasih gelapnya.
" Bagaimana kau tidak becus menjaga Excel hingga terjatuh " ucap Eric emosi bercampur cemas setelah Laurent mengabarinya anaknya masuk rumah sakit.
" Aku tadi lagi memasak Eric " elak Laurent.
" Apa kau sudah mengabari mama " tanya Eric.
" Sudah " jawab Laurent.
Laurent terduduk termenung memikirkan anaknya yang sedang dalam penanganan dokter. Ingin rasanya Eric menghajar wanita disampingnya ini mengingat kebusukannya selama ini. Diamnya dan cueknya Eric bukan berarti ia tak tahu semuanya. Andai Laurent berani jujur maka semua tak serumit ini. Memenjarakan Eric dalam ikatan pernikahan yang beralasan untuk tanggung jawab. Eric hanya menunggu kejujuran Laurent atau bom waktu yang akan meledak nantinya jika hari kejujuran itu tak kunjung tiba.
" Maaf keluarga pasien " ucap Dokter.
" Saya ibunya dok , bagaimana keadaan anak saya " tanya Laurent tengah terisak , tak sedikitpun rasa simpati Eric kepada Laurent.
" Pasien kekurangan darah dan membutuhkan golongan darah O+ " ucap dokter.
" Tapi golongan darah saya B " ucap lirih Laurent.
" Golongan darahku B negatif , ternyata semua benar " batin Eric kesal namun ia sengaja tidak akan mengungkapnya sekarang.
" Saya akan segera menacarinya dok " ucap Eric lalu menarik Laurent.
Eric menghempaskan tubuh lemah Laurent ke tembok rumah sakit yang kebetulan sepi di sekitarnya.
" Kau panggil ayah dari anakmu " ucap Eric kesal.
" Tapi Excel anakmu " elak Laurent.
" Kau pikir aku bodoh , jelas golongan darahnya berbeda. Aku mengetahui semuanya , jangan pikir diamku ini tidak mengetahui tentangmu yang selalu keluyuran dan meninggalkan anak mu dengan baby sisternya atau mama dirumah dari pagi lalu kembali sore. Aku mengetahui kau menemui kekasih gelap mu itu di apartemen milikmu . Ibu macam apa kau menelantarkan anakmu sementara kau bersenang -senang " ucap Eric membuat Laurent ketakutan.
" Aku mohon Eric , jangan tinggalkan aku . Aku sangat mencintaimu " ucap Laurent terisak dan bersujud.
" Cinta tak harus memiliki , seharusnya kau tidak menjebakku. Nanti kita bahas semuanya setelah urusan Excel selesai. Segera kau hubungan ayah biologis Excel , tak perlu bersandiwara kau kepadaku. Aku akan menahan mama agar tidak kemari hari ini " ucap Laurent.
" Mungkin aku akan pergi beberapa hari untuk menenangkan diri " imbuhnya berlalu pergi.
" Eric jangan tinggalkan aku " isak Laurent.
" Aku perlu waktu , pentingkan keselamatan anakmu " ucap Eric tegas dan segera pergi tak peduli Laurent terus memanggilnya.
.
.
.
Kembali ke Ana dan Rafli , kini Rafli dan Ana segera menuju mansion nenek Rose , dimana sang nenek sedang menunggu kedatangan mereka. Nenek Rose sudah menganggap Ana sebagai cucunya sendiri.
" Kalian sudah datang " ucap nenek Rose yang berjalan dengan tongkatnya. Sejenak Ana terpaku dengan kondisi nenek Rose. Nenek yang dulu kelihatan bugar kini tiba-tiba berjalan dengan bantuan tongkat.
" Nenek Ana rindu , maafkan Ana baru datang " ucap Ana terisak saat memeluk nenek Rose hingga membiarkan Rafli ia tinggalkan di belakang.
" Kau tidak salah sayang , dengan mau datang kemari , rindu nenek terobati " ucap nenek Rose sendu.
" Berapa usia kandunganmu " tanya nenek Rose mengelus perut Ana yang membuncit itu
" Mau memasuki enam bulan nek " jawab Ana tersenyum terlihat raut wajah yang bahagia.
" Kau kenapa tetap disitu " ucap nenek Rose kepada Rafli.
" Ana, kau tak boleh melupakan suamimu " nasihat nenek Rose.
__ADS_1
" Tidak apa nek , Ana rindu pada nenek " ucap Rafli legowo.
Para pelayan segera mengambil barang Ana dan Rafli , mereka berencana menginap disini semalam. Sebenarnya nenek Rose ingin menahannya lama , namun ia sadar tak mempunyai hak akan Ana , sedangkan sang cucu kandung payah untuk di aturnya. Terlintas niatan nenek Rose meminta bantuan Ana tanpa nenek Rose sadari , kedatangan Ana kemari selain rindu , Ana juga ingin membahas masalah perjodohan Ines. Ines kembali menolak perjodohan dan meminta bantuan Ana untuk membujuk nenek Rose agar membatalkan perjodohan itu. Ntah apa keputusan yang akan Ana pilih.
" Nek aku ingin istirahat dulu ya " ucap Rafli sopan karena dirinya sangat lelah. Rafli memberi kode pada Ana untuk ikut dengannya namun Ana tak menanggapi.
" Kau istirahatlah Rafli , nenek ada yang ingin di bahas dengan Ana " jawab nenek Rose membuat Ana tersenyum tak enak hati pada Rafli.
Nenek Rose dan Ana kini sedang berada di taman bunga Tulip dan berbagai bunga lainnya.
" Apa bibit bunga tulip itu hidup Ana " tanya nenek Rose saat melihat Ana tersenyum menatap ladang bunganya.
" Hidup nek bahkan sangat lebat. Rafli juga menanamnya di rumah kami " ucap Ana tersenyum menatap nenek Rose.
" Apa kabar nenekmu " tanya Nenek Rose.
" Sehat nek " jawab Ana.
" Nenek yakin , wajahmu mengambil dari wajah muda nenekmu dulu " ucap Rose.
" Iya nek , itu yang aku lihat saat di album nenek masih muda " jawab Ana.
" Astaga nek , nenek ada titip oleh-oleh untuk nenek Rose " imbuhnya terlupa.
" Nanti saja diambilkannya " ucap nenek Rose saat Ana hendak beranjak.
" Ana " ucap nenek Rose serius.
" Adam sebentar lagi akan menikah , tapi ia masih mencintaimu , bahkan jika menginap kemari ia memilih tidur dikamar mu Ana bukan dikamarnya " ucap nenek Rose sendu. Karena Adam menikah karena perjodohan orang tuanya , Adam mendadak kembali suka bermain wanita membuat orang tuanya bertindak dengan menjodohkannya sementara pertunangannya dulu ia putuskan karena memaksa membuat wanita itu menjadi diri Ana.
" Hhuufft... Jika itu yang terbaik untuk Adam nek. Maaf , aku tidak bisa membalas cintanya. Nenek juga tahu bukan jika saat aku kemari karena sedang ada masalah dengan Eric dan juga menghindari Rafli saat itu tapi malah Rafli datang kemari dan sekarang kami menikah . Mama Lia juga sudah merestui kami " ucap Ana berkaca-kaca , ada sesuatu berbeda di hatinya saat menyebut nama seseorang dimasa lalu. Tanpa Ana sadari setetes air mata mengalir di pipinya secepatnnya ia menghapus namun nenek Rose telah melihatnya.
" Masa lalu tidak harus di lupakan , baik itu kenangan baik atau buruk. Tapi di setiap masa lalu pasti ada pembelajarannya disana. Cinta akan kembali pada tempatnya meski akan jauh sekalipun Ana. Cinta Rafli kepadamu sangat besar meski nenek hanya mengetahui sedikit. Saat ia menolongmu dari penculikan wanita sialan itu , ia pun hampir kehilangan nyawanya dan nenek juga syok hingga nyaris pingsan saat melihatmu terjun dari atas gedung itu " ucap Nenek Rose berkaca-kaca.
" Iya nek , cinta Rafli sangat besar terhadapku dan aku sungguh merasakannya. Maka aku belajar mencintainya saat awal kami menikah " jawab Ana meyakinkan nenek Rose dan dirinya jika cintanya hanya untuk Rafli.
" Ana , kau bisa bantu nenek " tanya nenek Rose menatap Ana.
" Bantu apa nek " tanya Ana serius.
" Nenek menjodohkan Ines dengan rekan bisnis nenek. Dia pemuda yang baik. Ines menolaknya karena trauma masa lalu orang tuanya. Apa kau bisa membantu nenek untuk membujuk Ines. Nenek ingin ada yang melindunginya jika nenek telah tiada " ucap Nenek Rose tak dapat membendung air matanya.
" Nenek , jujur saja. Ines memintaku untuk membujuk nenek membatalkan perjodohannya " ucap Ana membuat nenek Rose terkejut.
" Ines menolak saat perusahaan pemuda itu mengajukan kerja sama " jawab Nenek Rose , Ines lebih dulu antisipasi.
" Usianya lebih tua darimu , tapi Ines belum menikah , pacarpun ia gak ada " imbuh nenek mengeluh.
" Berikan ia waktu untuk berfikir nek , siapa tahu perlahan Ines akan luluh juga dan membuka pintu hatinya untuk seseorang pria. Nenek harus menjaga kesehatan dan aku akan berusaha membujuk Ines " ucap Ana tersenyum.
" Baiklah , kalain istirahatlah . Temani suamimu " ucap Nenek Rose.
" Baiklah nek " ucap Ana berpamitan menuju kamarnya dirumah nenek Rose dan Rafli di dalamnya sedang terpejam karena lelahnya.
Ceklek.
Ana tersenyum melihat sang suami tengah tertidur pulas di tambah suasana kamar tak berubah sama sekali , disini juga Adam pernah tertidur sebagai penawar rindu di hatinya.
" Kau lelaki terbaik Adam yang pernah ku kenal . Kenang-kenanganmu masih tersimpan dengan aman Adam. Jika kita tak berjodoh , ku harap suatu saat nanti keturunan kita berjodoh. Ku harap jika laki-laki anakmu tidak menjadi casanova sepertimu . Intinya aku berharap kau bahagia " batin Ana.
Ana berjalan menuju tempat Rafli berbaring , ia mengamati wajah tampan suaminya.
" Aku yakin , bahwa aku benar - benar mencintaimu mas. Aku harap kita bersama hingga maut memisahkan mas " batin Ana dan tanpa sadar Ana mengecup sekilas bibir suaminya , Ana segera ke kamar mandi untuk merendam tubuhnya agar terasa segar. Rafli terbangun dari mimpi indahnya , ia bermimpi jika Ana datang dan menciumnya namun saat matanya meneliti Ana tak berada disana.
" Hanya mimpi " gumam Rafli lalu kembali melanjutkan tidurnya , membebaskan Ana untuk mengobrol dengan nenek Rose. Jika kurang untuk babbymoon , Rafli tinggal menambah hari liburannya saja tak peduli umpatan Dewi dan Jimmy.
Kini Ana dan Rafli tengah makan malam dengan nenek Rose. Sungguh nenek Rose memperlakukan mereka seperti cucunya sendiri. Setelah makan malam selesai mereka berbincang bersama. Nenek Rose berbincang dengan Rafli masalah bisnis membuat Ana memilih membuat kue untuk nenek Rose.
" Ana , apa jenis kelamin anak kalian " tanya nenek Rose antusias setelah Ana kembali duduk. Terlihat Rafli yang tersenyum.
" Aku dan mas Rafli menolak untuk mengetahuinya nek. Biar ini kejutan aja " ucap Ana.
" Iya nek biar kejutan " timpal Rafli.
" Nenek gak sabar ingin lihat cicit nenek "jawab nenek Rose.
Hingga obrolan kini membahas masalah Ines. Rafli hanya fokus mendengarkan saja , karena ia kurang tertarik dengan tema perjodohan. Namun beda Ines , jika Rafli mencintai Ana dan bertekat menjadikannya istri membuatnya menolak setiap wanita yang ingin di jodohkan dengannya , Ines sendiri tidak pernah mempunyai pacar apalagi calon suami membuat nenek Rose ingin menjodohkan cucunya. Nenek Rose khawatir jika Ines tidak akan menikah hingga tua.
" Beri waktu sekitar dua tahun nek , siapa tahu Ines mempunyai pria yang ia cintai namun tidak di ceritakannya " ucap Ana menenangkan nenek Rose. Ana juga bingung padahal banyak lelaki mendekati Ines namun Ines terkesan dingin dengan mereka.
__ADS_1
" Tapi dua tahun itu cukup lama Ana " sahut Rafli membuat Ana kesal karena susah payah membuat nenek Rose setuju sarannya, Rafli malah menghancurkannya.
" Kau ini , cerewet sekali mas. Dulu juga kau tak ingin di jodohkan " ucap Ana.
" Itu karena aku mencintaimu dari pertama hingga akhir hayat " ucap Rafli kesal karena Ana membahas dirinya yang dulu menolak perjodohan.
" Sudahlah kalian tidak perlu berdebat " ucap nenek Rose, meski perdebatan kecil Ana dan Rafli menghiburnya tetapi nenek Rose tidak ingin itu menjadi besar..
" Nek apa ada foto pria yang ingin di jodohkan Ines " ucap Ana mendadak penasaran membuat jiwa cemburu Rafli mulai menyelimutinya.
" Oh ya ada , tunggu sebentar ya " ucap nenek Rose dan memerintahkan pelayan untuk mengambil handphonennya.
" Waiiii . Ini sangat tampan dan muda nek . Ciptaan makhluk Tuhan yang sempurna " ucap Ana kagum melihat pria yang di jodohkan dengan Ines , sementara wajah Rafli berubah masam. Ana lupa jika jiwa pencemburu Rafli begitu kuat apalagi wanitanya memuji pria lain dan parahnya itu berlebihan.
" Bahkan Rafli kalah nek " ucap Ana geleng-geleng . Bodoh sekali Ines menolak pesona pria di foto ini. Tapi Ana tak menyadari kebodohannya sendiri. Nenek melirik Rafli yang terlihat wajahnya merah padam.
" Kau melupakan suamimu Ana. Aduh " batin nenek Rose.
" Ana " ucap Rafli dengan suara dingin.
" *Ya ampun , aku melupakan pria pencemburu ini* " batin Ana.
" Mas " ucap Ana tersenyum kikuk dan Rafli berlalu pergi.
" Nek aku nyusul Rafli ya nek , sudah malam " ucap Ana.
" Apa tak apa , biar nenek temani " ucap nenek Rose mendadak cemas.
" Nenek tenang saja , mas Rafli gak mungkin menyakitiku. Apalagi aku lagi hamil nek " ucap Ana.
" Baiklah , jika ada apa-apa berteriaklah " ucap nenek Rose dan Ana mengangguk.
Ceklek....
Ana melihat Rafli yang sedang tertidur. Tak mungkin baginya karena hanya beberapa menit saja.
" Mas " ucap Ana lembut memiringkan tubuhnya menatap Rafli.
" Aku tahu , kau pura-pura tidur mas " imbuhnya dan sontak Rafli membuka matanya membuat Ana menahan senyum.
" Jangan marah ya " imbuhnya tersenyum.
" Siapapun akan marah , jika wanitanya memuji pria lain " ucapnya dingin.
" Meski itu faktanya " batin Ana.
" Aku hanya menggodamu mas " elak Ana mencari aman.
" Tapi jangan menggoda mas begitu , mas tidak suka " ucap Rafli melunak.
" Mungkin bawaan bayi mas " ucap Ana mencari alasan.
" Benarkah " tanya Rafli dan Ana mengangguk.
" Kenapa anakku hobi sekali menggodaku. Setiap aku sentuh tidak mau bergerak tapi saat mama atau yang lain dia segera merespon " gerutu Rafli.
" Kau seharusnya sadar mas , kau hobi berkata aku pinjamkan istriku selama 9 bulan dan dua tahunnya kita bersama sisanya aku yang memilikinya " ucap Ana mengulang kalimat Rafli.
" Itukan faktanya sayang " jawab Rafli merasa Ana hanya miliknya bahkan anaknya kelak hanya meminjam istrinya.
" Kau i.... " ucapan Ana terpotong saat Rafli mencium bibirnya. Ana tenggelam dalam buaian sang suami.
" Kau harus membayar mahal karena menggodaku Ana. Ayo kita buat kenangan indah di kamar ini " ucap Rafli cemburu dan hasratnya melebur menjadi satu.
" Mas pelan... ahhhh " ucap Ana karena Rafli segera memulai aksinya.
" Aaakkhhh mas " desah Ana dan segera menutup mulutnya teringat kamar ini tak kedap suara.
" Jangan di tahan sayang " ucap Rafli dengan kegiatan panasnya dan mencoba menjauhkan tangan Ana.
" Nanti ke dengaran mas....ahhh " ucap Ana tertahan.
" Kau hanya milikku Ana " batin Rafli dengan semangat yang menggelora , Ana harus ingat bahwa ia milik Rafli seutuhnya , kepuasan Ana nomor satu baginya. Dan terjadilah sejarah di salah satu kamar milik nenek Rose malam ini.
Ana terlelap usai melayani kegiatan suaminya. Rafli menutup tubuh polos Ana dengan selimut , membawa istrinya dalam dekapannya , mengecup setiap wajah Ana.
" Aku tahu jika kau benar mengagumi pria itu. Akan ku buat Ines segera menikah dengan pria itu . Aku akan membantu mu nenek Rose dengan caraku " ucap Rafli tersenyum devil. Ia ingin menjadi dunia Ana sama seperti dirinya kini.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentarnya.
Selamat Membaca