Takdir Cinta

Takdir Cinta
Ketujuh


__ADS_3

Setelah keluar dari ruangan Zyvia dengan tanpa pamit, Sam pergi begitu saja bertolak ke Amerika, sedangkan Alex dan Zee menunggu Wil dan Vanya di area kantin rumah sakit. Di dalam kamar, Vanya masih saja memalingkan wajahnya dari Wil, Vanya tak tahu harus bagaimana dengan keadaan ini. Apakah dia harus senang atau kan marah pada Wil.


"An, bagaimana keadaanmu?" tanya Wil.


Vanya masih diam, tak bersuara. Wil begitu sabar menanti ucapan dari Vanya. Wil tahu, dia tak boleh membuat Vanya marah atau pun sampai stres. Karena akan buruk tuk kesehatan Vanya dan anaknya.


"An, aku mohon! Bicaralah padaku, kau boleh marah padaku, kau boleh memukulku, tapi aku mohon jangan pergi jauh dariku!" pinta Wil dengan memohon pada Vanya.


Wil berjalan mendekati Vanya, dengan bgitu sedih Wil berjongkok di hadapannya, menangkupkan kedua tangannya seraya memohon pada Vanya.


"An, anak itu adalah darah dagingku, jika kau tak percaya kita bisa lakukan tes DNA. An, percaya padaku, aku sungguh tak bermaksud menodaimu saat itu, aku tak sadar, An," jelas Wil pada Vanya.


Vanya diam mendengarkan semua perkataan dari Wil. Sungguh dia merasa tenang, karena anaknya mempunyai seorang ayah dan dia mau bertanggung jawab akan dirinya dan juga bayinya.


"Berhentilah memohon, Wil. Aku sudah mendengarkan semuanya," ucap Vanya.


Wiliem merasa lega karena, Vanya masih mau berbicara dengannya. Vanya mengingat sesuatu saat sebelum dia pergi, terlihat tato di tangan lelaki itu. Dengan cepat, Vanya meminta tangan Wil tuk melihatnya.


"Bisakah kau tunjukkan tato di tanganmu, Wil?" tanya Vanya.


"Tato, darimana kau tahu ada tato di tanganku?" tanya Wil.


"Hanya itu yang ku lihat, saat akan pergi meninggalkan mansion itu," jawab Vanya.


Dengan senang hati, Wil menunjukkan tato itu, dan benar saja tangan Wil terdapat tato yang sama seperti lelaki malam itu. Air mata Vanya turun begitu saja, sungguh dia begitu lega mendapatkan semua kebenaran ini.


"An, kenapa kau menangis? Apakah ada yang sakit?" tanya Wil begitu cemas.


Tapi, Vanya tak menjawab hanya tangisan saja yang terdengar, Wil memeluk tubuh Vanya tuk menenangkannya, mengusap lembut punggung sang gadis. Vanya tenggelam dalam tangis harunya. Tanpa, Vanya sadari tangannya sudah memeluk erat tubuh Wil.


"Kau benar ayah dari anakku, Wil. Aku, aku begitu lega mengetahui semua ini," ucap Vanya begitu lirih.


Wiliem tersenyum lalu mencium kening Vanya, mengusap lembut air mata yang keluar dari matanya. Wil tersenyum dan berkata, "Love you, Vanya. I love you my baby," bisik Wil.


Vanya tersenyum mengangguk dengan masih menitikkan air mata. Tapi, air mata itu adalah air mata kebahagiaan.


Wil mencium kening Vanya, lalu mencium perut rata Vanya serah berbisik pada bayinya


"Daddy ada disini, nak. Kau harus tumbuh dengan baik dan sehat. Daddy dan Mommy mu sayang menyayangi mu sayang," bisik Wil.


Vanya tersenyum seraya mengusap lembut rambut Wil, Wil mencium berkali-kali perut Vanya lalu memeluknya. Seakan anaknya yang berada di hadapannya. Vanya begitu bahagia melihat Wil begitu menyayangi bayinya.


Tanpa mereka tahu, terlihat sepasang mata menatap mereka dengan kesedihan yang mendalam, ya benar. Roy kembali ingin menemui Vanya dan meminta maaf karena telah membentaknya, marah padanya. Namun, saat melewati kamar Wil, Roy mendengar suara Vanya dari dalam. Ternyata Wil dan Vanya sedang berbicara.


"Kebahagiaan mu telah kau temui, An. Semoga kau selalu bersama dengan orang-orang yang kau cintai. Jadilah, wanita terbahagia di dunia ini. Selamat tinggal, maafkan aku tak bisa menemuimu," ucap Roy dengan hati yang begitu hancur.


Roy kembali pergi keluar dari rumah sakit, sosok yang dia cintai sudah mendapatkan kebahagiannya. Roy harus bisa melepaskannya, mencoba rela akan semuanya. Akan tetapi, rasa cinta dan sayangnya entah sampai kapan akan terus berada di dalam hatinya.


Di perjalanan menuju bandara, Sam terus saja menangis karena dia baru tahu jika Cessi dan Leo telah tiada. Sungguh dia merasa menjadi anak durhaka pada mereka. Sam terlalu terbutakan oleh kebencian dan dendam di hatinya.


"Mom, Dad, maafkan Sam," batinnya.


Mobil itu terus melaju cepat ke bandara. Zyvia yang masih tenggelam dalam kesedihannya pun hanya bisa diam di dalam ruangannya.

__ADS_1


Di tengah kesedihan Sam, Zyvia juga Roy. Terlihat Vanya dan Wil sudah membaik, mereka membicarakan semua yang akan mereka lakukan setelah kembali ke Finlandia.


Tapi, saat Wil berdiri tuk mengambil ponselnya tuk mengabari Sofia. Tiba-tiba semuanya kembali gelap dan berputar, terlihat tubuh Wil ambruk begitu saja di lantai.


"Wil,, !!" teriak Vanya menghampiri Wil yang telah pingsan.


Vanya begitu panik melihat Wil yang tak juga bangun, Vanya pun keluar dan berteriak minta tolong. Saat itu juga Zyvia yang baru saja akan keluar dari ruangannya terkejut mendengar suara dari Vanya.


"Vanya, ada apa dengannya?" ucap Zyvia lantas berlari ke arah Vanya.


Terlihat, Vanya sedang bersimpuh menompamg seorang lelaki di pangkuannya.


"An, ada apa? Kenapa dengan lelaki itu?" tanya Zyvia.


"Tidak tahu, dia tiba-tiba saja pingsan. Tolong, selamatkan dia. Aku mohon, Via!" pinta Vanya sembari menangis.


Zyvia pun menekan tombol darurat yang berada di samping ranjang. Setelah itu, Zyvia memeriksa keadaan Wil. Vanya begitu takut terjadi sesuatu pada Wil.


"Tenanglah, An. Dia tidak apa-apa, dia hanya kekurangan gizi saja. Tak ada asupan makanan di dalam tubuhnya, oleh karena itu membuatnya tak sadarkan diri," ucap Zyvia.


Tak lama terlihat dua suster lelaki masuk dan mengangkat Wil kembali keranjang. Terlihat, Vanya terus menggenggam erat tangan Wil. Zy tersenyum tipis melihat itu.


"Suster akan memberikan obat tuk napsu makannya, aku permisi dahulu," ucap Zyvia.


"Via, tunggu!" pinta Vanya.


Zyvia membalikkan tubuhnya, lalu mencoba tersenyum pada Vanya. Vanya menatap ke arah Zyvia.


"Sudah jadi kewajibanku, sebagai seorang Dokter. Semoga lekas sembuh," balas Zyvia.


Setelah itu, Zyvia keluar dari sana. Dari kejauhan terlihat Zee dan Alex yang berjalan ke arahnya. Zyvia dengan cepat pergi dari sana.


"Tidak, Via. Kau harus bisa menahannya, kau sudah berjanji tuk tidak lagi berhubungan dengan keluarga mereka," batin Zyvia.


Zee dan Alex pun kembali masuk dan terkejut saat melihat Wil kembali terbaring di ranjangnya.


"Ada apa dengan, Wil? Kenapa dia?" tanya Alex.


"Kak, Wil tak bisa makan apapun bukan? Maka dari itu dia begitu lemas dan kembali pingsan," jawab Vanya.


"Kau yang hamil tapi, lihat Wil yang merasakan kesusahan itu. Wiliem mengidam, An. Ini akan berlangsung sampai dua atau empat bulan lamanya," jelas Zee.


"Astaga, jika seperti itu. Wil akan terus di rumah sakit, karena dia tak bisa makan?" tanya Vanya.


"Tentu, tidak. Kita harus membuatnya mau makan sayang. Maka dari itu, kita kembali ke Finlandia besok! Kau mau kan?" tanya Zee.


"Baiklah, kita kembali besok kak," jawab Vanya.


Zee dan Alex tersenyum senang karena Vanya bersedia kembali bersama mereka. Malam harinya, Vanya kembali ke ruangannya tak ada Roy disana. Vanya hanya menghembuskan napas panjangnya.


Vanya mencari ponselnya, terdapat banyak notifikasi dari Roy.


Pesan

__ADS_1


"An, aku sudah tahu semuanya. Kau dan Wil akan kembali bersama, jadi aku memutuskan tuk pergi jauh. An, maafkan aku yang tak pamit padamu. Tapi, sungguh aku tak sanggup jika harus melihatmu.


An, semoga kau bahagia. Aku pergi tuk bekerja dan entah kapan akan kembali" ~ Roy.


Vanya membaca chat dari Roy, dia begitu merasa bersalah dan sangatlah sedih. Vanya mencoba menelpon Roy tapi nomernya tak aktif. Ya, karena Roy sudah mengganti nomernya, Roy pergi ke Korea tuk bekerja disana selama tiga tahun. Roy sudah menanda tangani kontrak itu dengan perusahaannnya.


"Roy, ku mohon aktifkan ponselmu. Kenapa kita harus berpisah seperti ini?" ucap Vanya menangis mengingat Roy.


Roy adalah sosok lelaki yang begitu baik, sangatlah tampan dia lelaki yang hamble, begitu periang. Lelaki yang selalu ada bersama dengan Vanya di kala suka dan duka. Sebenarnya, Roy adalah anak orang kaya akan tetapi dia tak ingin nama keluarganya mengikuti dirinya. Maka dari itu, Roy bekerja keras dari nol dengan semua usahanya sendiri, semua itu adalah kerja kerasnya selama ini.


Malam hatinya, Wil barusan tersadar. Terlihat, Zee dan Alex tertidur di sofa. Sedangkan, Vanya tak terlihat dimana pun. Ternyata, Vanya sedang berada di taman menatap bintang di atas sana. Vanya baru saja mendapat pesan dari Sam, jika dirinya berada di Amerika mengunjungi makan Cessi dan Leo.


Terlihat, Zyvia berjalan ke arah Vanya. Mereka duduk berdampingan. Tak ada suara diantara mereka, hanya ada hembusan angin yang menyapu keduanya.


"Kau sudah bertemu dengan kak Sam?" tanya Vanya.


"Hem, aku sudah bertemu dengan kakak," jawab Zyvia lirih.


"Apa kau sudah mengatakan semuanya padanya?" tanya Vanya.


"Sudah, aku sudah melakukan semuanya. Tapi, kakak tetap saja tak bisa memaafkan aku," jawab Zyvia.


Vanya menatap Zyvia yang sedang menunduk menyembunyikan air matanya yang akan terjatuh. Vanya juga merasa iba dengan Zyvia, tapi dia juga tak bisa berkata apapun pada Sam. Karena, sifatnya yang memang keras.


"Bersabarlah, mungkin dalam hatinya kakak sudah memaafkan dirimu. Aku tahu itu, kau tetaplah adiknya, adik yang dulu sangat disayangi oleh kakak," ucap Vanya.


"Aku tahu, walaupun sudah sepuluh tahun berlalu. Aku akan tetap menunggu pintu maaf dari kak Sam, aku juga tahu apa yang sudah ku perbuat sangatlah fatal. Jadi, aku akan terus menunggu itu. Walaupun harus dalam kehidupan kedua nanti," balas Zyvia.


"Via, hidupmu dengan lembaran baru. Lupakan masa lalu itu, karena semuanya sudah memaafkan dirimu. Jadilah, Zyvia yang baru jangan terus terantai oleh kejadian itu," ucap Vanya menatap Zyvia.


Zyvia menatap Vanya dengan menangis, sungguh dia begitu senang karena Vanya mau berbicara dengannya. Seperti itu saja, sudah membuat Zyvia merasakan mempunyai keluarga kembali.


"An, apakah aku boleh memelukmu?" tanya Zyvia.


Vanya begitu terkejut mendengar permintaan Zyvia yang begitu formal padanya. Vanya tersenyum lalu mengangguk ia.


Zyvia memeluk Vanya begitu erat, air matanya kembali mengalir deras. Hatinya begitu bahagia bisa memeluk Vanya. Vanya membalas pelukan Zyvia, mengusap punggung Zyvia dengan lembut.


"Terimakasih, An. Terimakasih banyak sudah mau berbicara denganku, maafkan aku sudah membuat mu dan yang lain begitu terluka," isak Zyvia begitu lirih.


"Lupakan itu! Berbahagialah, Via dengan hidupmu yang baru. Besok aku akan kembali ke Finlandia," balas Vanya.


"Apakah kalian benar-benar sudah sembuh? Apakah kau akan menetap disana?" tanya Zyvia.


"Ya, kau benar. Aku akan menatap disana, karena semuanya berada disana," jawab Vanya.


"Baiklah, semoga suatu saat nanti aku bisa kembali bertemu denganmu lagi. Dan aku sangat berharap bisa kembali bersama dengan yang lainnya," ucap Zyvia.


"Berdoalah semoga Tuhan segera mengabulkan semua itu," balas Vanya.


Zyvia melepas pelukan itu dan mengangguk. Setelah berbicara, Zyvia dan Vanya berpisah.


Bersambung🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2