Takdir Cinta

Takdir Cinta
Selamat tidur sayang


__ADS_3

Ana dan Rafli memasuki kamar utama Lia dan Abdi... Terlihat Lia yang masih menangis terisak , ia takut Rafli akan memisahkannya dari anak dalam kandungan Ana. Namun rasa takutnya memudar saat Ana memeluknya dengan hangat.


" Ma , maafkan mas Rafli. Mas Rafli hanya emosi tadi ma " ucap Ana mencoba meyakinkan Lia.


" Maaf , tapi Rafli punya alasan untuk tidak menyukai Mario " sahut Rafli membuat orang lain terdiam , di penuhi rasa ingin tahu. Rina sangat yakin jika Rafli pasti mempunyai alasan.


" Apa alasannya Rafli " ucap Abdi meminta jawaban ,ia lebih baik mengalah dari pada membuat jarak dengan anak lelakinya ini.


Rafli menghela nafas panjang , ia mulai menceritakan semua dan kembali membuka cerita tentang masa lalunya mengenai Gladis dan juga Mario datang kekantornya mengatakan jika ia yang merencanakan kecelakaan Rafli membuat semua orang terkejut mendengarnya. Lia dan Abdi tak menyangka jika Mario membalas dendam kepada Rafli yang hampir saja membuat Rafli kehilangan nyawanya.


" Bukan hanya itu saja pa , Mario mencintai Ana juga " ucap Rafli sontak membuat Ana menoleh tak percaya. Sedangkan Abdi dan Joe segera menuju ruang kerja membahas masalah Mario dan anaknya , Abdi tak akan membiarkan anak lelakinya kembali kehilangan wanitanya .


" Maka dari itu , aku tak menyukainya ada disini dan mama , apa mama bisa membedakan mana menantu mama dan orang asing . Aku rasa mama tidak bisa membedakannya " imbuhnya melihat nanar arah wanitanya yang kini keadaannya sedikit berantakan.


" Rafli mama sungguh minta maaf , mama menerima Ana karena mama sadar . Tidak ada guna mama membenci Ana. Mama terlihat asyik mengobrol karena mama sedikit merasa bersalah karena menolak mengadopsi Maudy waktu itu sehingga ia menjalani kehidupan yang pahit. Jangan meminta mama menjauh dari kalian , mama tidak bisa. Apalagi cucu mama akan segera lahir juga " ucap Lia terisak dan Rafli dapat melihat tidak ada kebohongan dari mata mamamya . Mama nya jujur mengatakan itu semua.


" Maafkan Rafli yang begitu emosi ma " ucap Rafli memeluk Lia dan juga Ana.


.


.


.


Kini Rafli dan Ana sedang berada di mall terbesar di kota J. Rafli sudah mengosongkan mall tersebut dari pengunjung. Tidak mau rasanya ada seseorang yang mengetahui identitas mengenai wanita pujaan hatinya. Kini mereka menuju toko perlengkapan bayi , Rafli memilih pakaian bayi jenis kelamin laki-laki karena menurut ibu dan mama nya bayi Ana berjenis kelamin laki-laki jika di lihat dari bentuk perut Ana sedangkan Ana bingung ingin memilih jenis pakaian apa untuk bayinya membuat Ana memilih yang intinya saja..


" Mas kok kamu beli untuk bayi laki-laki semua " ucap Ana karena tiga troly besar penuh dengan aksesoris bayi laki-laki.


" Gak tau , mas ingin saja " jawab Rafli masih memilih kembali.


" Jika perempuan kan sayang mas " gerutu Ana.


" Jika perempuan kita beli lagi untuk bayi perempuan " jawab Rafli enteng.


" Pemborosan " ucap Ana kesal.


" Jika perempuan kita buat aja lagi anak laki-laki jadi gak mubazir " jawab Rafli sekenanya.


" Mending mas pesan aja alat pencetak anak , di pikir melahirkan itu mudah " ucap Ana membuat Rafli bungkam. Rafli mendadak cemas membayangkan Ana melahirkan membuat dirinya takut.


" Mas akan berusaha agar kau tak merasakan sakit saat melahirkan , mungkin hanya membantu mengurangi rasa sakitmu sayang " ucap Rafli sendu dan Ana mengerti kecemasan suaminya.


Kini Rafli segera membayar belanjaan mereka dan segera menuju pulang kerumah mereka dimana berada orang tua Ana disana.


.


.


.


" Sayang kau yakin mengizinkan mas ke Amerika " tanya Rafli karena ia ingin menjaga Ana dan siaga saat Ana melahirkan.


" Ya ampun mas , kamu kan hanya empat hari disana . Lagian masih ada waktu satu bulan lebih lagi untuk melahirkan " jawab Ana kesal karena dua hari Rafli selalu menanyakan hal sama. Sebenarnya Rafli tidak ingin pergi namun jika bukan dirinya semua masalah tak akan selesai. Masalah yang di hadapi anak paman Joe bukan main disana , bahkan Rafli membawa Jimmy dan Devan agar masalah segera rampung dan ia cepat kembali.


" Lagian juga pernah keluar kota waktu aku hamil tiga bulan dua hari di keluar kota dan sewaktu hamil lima bulan selama dua hari juga sich " ucap Ana.


" Tapi ini beda Ana , selama empat hari dan ini luar negeri " ucap Rafli sejujurnya ia enggan sekali.


" Aku baik-baik saja mas , ada orang tua ku dan Rahma juga. Bukankah mas sudah mempersiapkan semua keperluan ku untuk melahirkan " imbuhnya menenangkan Rafli karena faktanya Lia telah menyiapkan yang terbaik untuk menantunya , bahkan dokter Rani yang tak lain kakak ipar Ana akan ikut bergabung saat Ana melahirkan nanti. Dokter Rani adalah dokter anak. Rani juga ingin menjadi orang pertama yang menggendong anak Ana agar bisa untuk menggoda sang adik yang tak terima jika menjadi momor dua.


"Mas , perusahaan di Amerika membutuhkanmu bahkan itu perusahaan indukmu. Aku dan anak kita menunggumu pulang dan aku berdoa semoga semua masalah cepat selesai. Jangan cemaskan kami " ucap Ana membuat Rafli pasrah dan untuk pergi keluar negeri. Ia juga sudah sangat kesal dengan rival bisnisnya disana..


" Tapi malam ini bisa kan mas meminta multi vitamin darimu " ucap Rafli dengan senyum nakalnya.


" Apapun untuk semangat mu mas " ucap Ana tersenyum.


" Bukankah kata dokter melakukannya juga bagus untuk jalan lahiran " ucap Rafli yang kini tangannya tak tinggal diam.


" Ya kau melakukannya rutin untuk membuat jalan keluar " ucap Ana lalu kegitan mereka berlanjut sesuai ke inginan Rafli. Rafli melakukannya dengan lembut dan terasa enggan untuk mengakhiri...


.


.


.


Kini semua keluarga Ana telah berkumpul di mansion Rafli dan mereka sedang sarapan pagi. Rafli terlihat nampak murung , enggan sekali ia meninggalkan Ana namun ada misi yang harus ia jalankan agar perusahaan di Amerika baik-baik saja. Jimmy telah menunggu Rafli yang kini enggan melepas pelukannya kepada Ana ,masih terus menciumi wajah istrinya.


" Baiklah mas pergi ya . Jaga diri baik-baik dan jangan keluar. Jika ada apa-apa segera hubungi mas atau Jimmy " ucap Rafli dan Ana mengangguk.


" Sayang , doa kan ayah semoga masalah perusahaan ayah cepat selesai. Jangan merepotkan bundamu , bantu lah menjaga bidadari tak bersayap kita. Ayah menyayangimu " ucap Rafli mencium perut buncit Ana dengan makna yang mendalam.


" Mas pasti merindukanmu sayang " ucap Rafli mencium kening Ana dan berlanjut ke bibir , m*lumatnya begitu dalam seakan mengingat rasa yang membuat ia selalu kecanduan.


" Hati-hati mas , cepat kembali karena kami pasti merindukanmu " ucap Ana mencoba tersenyum meski rasanya begitu sedih.

__ADS_1


.


.


.


Ana tidur dengan gelisah malam ini , ia merasa sangat gerah. Ana merubah posisinya menjadi bersandar memikirkan sebelah ranjangnya yang kosong. Ingin sekali ia menghubungi suaminya namun Ana tak ingin egois karena di pastikan Rafli sedang sibuk saat ini.


Sementara Rafli terlihat gusar di saat sedang melakukan meeting penting. Pikirannya tertuju pada Ana saat ini. Wanita hamil itu setiap malam selalu merengek padanya minta di elus punggungnya.


" Teleponlah dulu istrimu , biar kau fokus Rafli " ucap anak tertua paman Joe .


" Baiklah bang , aku permisi dulu " ucap Rafli dan pamit untuk beberapa menit.


Rafli segera menuju ruangannya dan menelepon istrinya yang ia yakini belum tertidur.


" Mas " sahut Ana girang saat panggilan video.


" Kenapa belum tidur sayang " tanya Rafli di penuhi rasa bersalah.


" Belum mengantuk mas " ucap Ana bohong .


" Apa kau tak merindukan mas " tanya Rafli.


" Ah tidak... karena aku tak sediri kan ada anak kita " ucap Ana mengelus perutnya dan anak dalam kandungannya ikut merespon , Rafli tersenyum saat matanya menangkap jelas gerakan perut Ana.


" Sayang , apa posisiku nanti akan di gantikan dengan anak kita di hatimu " tanya Rafli membuat Ana terkekeh.


" Kau dan anak kita ada di posisi berbeda. Kalian orang terpenting dalam hidupku " jawab Ana tersenyum.


" Tapi apa perhatianmu pada mas akan berkurang nantinya sayang " tanya Rafli.


" Iya itu pasti mas , perhatian akan tetap terbagi. Dan aku juga yakin kau akan membagi perhatian atas diriku dan anak kita " jawab Ana.


" Tidak , mas akan lebih tetap memperhatikanmu " ucap Rafli tak terima.


" Hei bayi besar , kenapa begitu. Ini anakmu , apa kau lupa jika dengan pengorbanan yang kau lalui selama kehamilanku dan jangan cemburu dengan anak sendiri. Yang penting suamiku tetap kamu mas " ucap Ana.


" Iya -iya " jawab Rafli namun matanya melihat sisi lain.


" Mas kelihatannya sibuk ya " tanya Ana.


" Gak kok sayang " jawab Rafli karena tadi barusan ia mengusir Jimmy yang memanggilnya.


" Mas aku mau tidur kamu lanjut aja kerjanya " jawab Ana bohong.


" Baiklah " ucap Ana.. Ana berniat ingin pura-pura tidur karena ia ingin memakan mie goreng malam ini namun Ana malah teridur sungguhan.


" Selamat tidur sayang " ucap Rafli lirih bersamaan dengan air matanya yang menetes.


" Aku tidak bisa begini , aku harus fokus dengan masalah di perusahaan ini agar aku cepat pulang " batin Rafli penuh tekat. Ia akan bekerja keras disini untuk menangani masalah di Amerika. Perusahaan Rafli banyak di usik orang karena banyak para klien berada di genggamannya.


.


.


.


Eric kini telah kembali ke Italia , ia di sambut amarah dari sang mama namun ia tak peduli karena ia merasa otak dan hatinya kini tengah bermasalah.


" Ya Allah , ada apa dengan diriku " batin Eric yang kini tengah mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


tok....tok....tok....


Ceklek


" Mama " gumam Eric mempersilahkan Sasa untuk masuk kekamar pribadinya.


" Kenapa saat Excel sakit kau malah pergi Ric , tak peduli dengan anakmu " ucap Sasa sendu karena bicara emosi kepada Eric tak akan menanggapinya.


Eric tersenyum getir karena pada dasarnya Excel bukan anak kandungnya , Laurent menjebaknya namun Eric tidak ingin menceraikan Laurent pula , ada niat lain di balik semua ini.


" Ma , saat itu Eric sedang mengikuti pameran dan pada saat itu kondisi Excel sudah membaik " kilah Eric.


" Kamu pulang dari Belanda langsung kesini dan belum melihat anakmu " tanya Sasa.


" Belum ma , Eric berniat besok pagi melihatnya karena saat ini Eric benar-benar lelah " jawab Eric.


" Baiklah , mama akan antar makan malam ke kamarmu " ujar Sasa dan Eric mengangguk saja.


Sementara di apartemen milik Laurent kini sedang terjadi adu mulut antara Laurent dan Jul. Laurent memutuskan hubungan gelapnya dengan Jul namun Jul akan terima jika Excel jatuh ketangannya.


" Kau jangan gila Jul , Excel anakku dan Eric " ucap Laurent tegas.


" Kau lupa , jika tanpa aku Excel tidak akan ada di dunua ini dan Eric tidak akan menikahimu. Ingat , aku ayah biologisnya " ucap Jul tak terima.

__ADS_1


" Kau bodoh Luarent , apa kau tak berfikir. Eric mengetahui Excel bukan anaknya namun tak menceraikanmu bukan berarti ia mau menerima mu. Lebih baik kau ceraikan dia dan menikah denganku maka kita akan bahagia " imbuh Jul.


" Aku tida peduli apapun alasan Eric tetap bertahan. Yang jelas , aku ingin kita mengakhiri hubungan ini dan jangan pernah menggangguku lagi. Kita selesai " ucap Laurent lantang membuat emosi Jul memuncah. Ia menghempaskan tubuh Laurent ke atas ranjang dan memperk*sa Laurent , ia harus memberi pelajaran untuk Laurent agar tak bermain-main dengannya.


" Kau jangan sok suci Laurent , dulu kau datang kepadaku memintaku untuk memghamilimu dan kini aku memintamu untuk hamil anakku , agar Eric menceraikanmu dan kau menjadi istriku " ucap Jul mengejek Laurent yang terisak.


" Br***sek lau Jul. Aku membencimu " ucap Laurent menangis.


" Kau butuh belaian karena Eric tak pernah membelaimu " ucap Jul berlalu menuju kamar mandi.


" Jika bukan karena desakan untuk menikah , maka aku tak akan pernah mau menahanmu disisiku , ada Excel anakku di antara kita dan lagi pula aku yang mengambil kesucianmu saat itu " batin Jul.


Sementara Eric susah tidur malam ini , ia merutuki kebodohannya serta hatinya.


" Sial , kenapa wanita itu terus menghantui fikiranku. Ini benar-benar mustahil. Apa aku sudah mulai gila memikirkan istri orang yang sedang hamil itu. Tapi aku merasa pernah melihatnya " gumam Eric frustasi karena bayangan Ana selalu mengusik malamnya.


" Apa aku harus menceritakan ini dengan mama , tapi yang ada aku malah di kuliti dengan mama " imbuhnya bergedik ngeri.


" Baiklah , aku akan mencaritahu tentang mu " gumam Eric segera membuka laptop miliknya dan mencari nama Rafli Abdi Wijaya yang ia tahu sebagai suami wanita itu karena Eric sendiri tidak tahu jika wanita itu bernama Ana.



Nama : Rafli Abdi Wijaya.


TTL : Kota J , 31 Desember 1990 ( asal aja ).


Jenis kelamin : Laki-laki


Kebangsaan : Indonesia


Status : -


" Apa - apaan ini " umpat Eric karena seorang Rafli sangatlah tertutup.


" Lebih baik diriku melukis saja " gumam Eric segra menuju ruang lukisnya.


.


.


.


Kini Rafli begitu bersemangat karena urusan perusahaan sudah mulai terkendali dan itu berarti dirinya bisa menemui istri tercintanya. Jimmy sendiri masih di tugaskan untuk mengurus para pembuat masalah , kali ini Rafli tak ingin mengotori tangannya saat ucapan Ana selalu berputar di kepalanya.


" Mas selama kehamilanku , jangan berbuat kasar atau emosi. Aku tak mau kau kenapa-napa , jika kau masuk penjara , aku bagaimana dengan anak kita "


" Aku memegang janjiku Ana saat kehamilanmu " batin Rafli.


Kini Rafli telah berada di dalam pesawat pribadinya. Ia merebahkan tubuhnya karena lelah. Ia harua bersitirahat guna melepas rindu dengan istrinya nanti. Ia juga tak mengabari Ana agar menjadi kejutan untuk istrinya. Sedangkan Ana sendiri sedang senam pagi sesuai intruksi dari pelatih senam ibu hamil.


" Ahh sial si Rahma , aku jadi kepingin mie " gumam Ana karena indra penciumannya mengendus bau mie yang membuatnya selalu ngiler , Rahma sendiri berani memasak mie dirumah Rafli karena sang empunya gak berada di tempat . Jika ada , mana berani juga Rafli memarahinya selama ada mertuanya dengan syarat tidak boleh mencicipi Ana. Sedangkan Ana sendiri suka menjajah makanan Rahma secara sembunyi-sembunyi , Rahma sendiri bisa apa jika Ana mengancam akan memindahkan kuliah modenya dan akan menyuruhnya kuliah kedokteran saja.


" Baiklah bu Ana , masih ada satu kali pertemuan lagi ya bu " ucap pelatih senam dan tersenyum mengelus perut Ana...


" Ya " jawab Ana ketus karena pelatih tak kunjung pergi.


" Emosi bu Ana ini sungguh menyeramkan , padahal aslinya baik banget hanya karena hormon kehamilan saja " batin Pelatih..


" Saya permisi bu " ucapnya sopan.


" Ya pergilah sana " ucap Ana jutek dan segera mencegat Rahma yang membawa seporsi mie goreng lengkap dengan bakso dan juga telurnya.


" Eemmmppp " ucap Rahma tertahan saat mulutnya di bekap Ana.


" Astaga mbak Ana main bekap aja , kalau aku tefleks tadi bagaimana akhirnya " batin Rahma mengumpat tindakan Ana..


" Kau pakai sendok , biar mbak yang pakai garpu " ucap Ana tanpa dosa.


" Mbak gak boleh banyak makan mie , nanti kalau ketahuan tamat sudah riwayatku mbak " ucap Rahma memelas.


" Gak akan ketahuan selagi kau tidak mengadu " ucap Ana melahap mie buatan Rahma.


" Terserahlah " ucap Rahma pasrah.


" Ana kamu makan apa sayang " tanya bu Laras.


" Ini bu , makan apel " ucap Ana membuat Rahma melihat apel yang telah di tangan Ana.


" Kamu gak makan mie kan " tanya Laras memastikan.


" He... nyicip satu suapan aja bu , kasian dedek bayi nanti ileran " jawab Ana.


" Ada aja alasannya " batin Rahma , ia menduga jika keponakannya kelak akan melebihi kakak iparnya dalam hal apapun.


" Ya sudah , ayo kita nonton Tv " ucap Laras menggandeng Ana dan Ana hanya cemberut saja, sedangkan Rahma meledek Ana yang semakin cemberut saja.

__ADS_1


Jangan lupa like dan coment


__ADS_2