
Elina dan Laudya menenangkan Vanya sebelum mereka kembali pulang, masih teringat tatapan Roy yang begitu tajam dengan semua perilakunya membuat Vanya terus memejamkan matanya. Bukan pertemuan yang seperti itu yang di inginkan Vanya, dia begitu merindukan Roy temannya dan berharap bisa bertemu tuk mengucapkan terima kasih. Vanya menangis bukan karena dia lemah, wanita itu hanya merasa sedih karena Roy bisa berubah hanya karena kecewa dan rasa cintanya yang terus membuatnya menderita.
“Aku tak percaya kau telah berubah, aku tahu kau melakukannya karena kau mempunyai suatu alas an,” batin Vanya.
“El, kau bawa pulang saja, Vanya! Aku akn mengatakan pada Wild an yang lainnya jika kalian sudah kembali terlebih dahulu,” perintah Laudya pada Elina.
“Anh, apakah kau mau seperti itu? Kita kembali terlebih dahulu karena mereka akan menyadarinya jika menangis,” ucap Elina.
Vanya mengangguk ia, Elina membawanya keluar dari toko tersebut. Sedangkan Laudya masih terpaku melihat kedua wanita itu pergi, “Aku harus mengulur waktu agar mereka bisa cepat kembali ke hotel.”
Elina terus menggandeng tangan Vanya, terlihat wajah Elina cemas dengan keadaan Vanya yang terus diam dan masih menangis. Vanya yang sadar akan itu pun menelan ludahnya , sikap Elina begitu tegar dan mencoba selalu tenang.
“El, bisakah kita tak kembal ke hotel?” tanya Vanya.
Langkah kaki Elina terhenti saat medengar perintaan dari Vanya, wanita muda itu menatap kea rah Vanya. Mereka memiliki umur yang sama, mereka juga masih dalam masa-masa yang labil.
“Kau mau kemana?” tanya Elina lembut.
“Kemana saja, asal jangan kembali ke hotel. Kau bisa menemaniku, bukan?” tanya Vanya memandang Elina.
“Hemm,” Elina mengembuskan napas panjang dan melihat sekelilingnya mencari tahu tempat yang dekat di sana.
“Baiklah,ikut denganku! Ada tempat yang bagus di sini,” ajak Elina tersenyum sembari menarik tangan Vanya.
Tangan Elina terus menggandengnya dengan erat, bahkan sangat erat. Hangat, rasanya sangat hangat Vanya rasakan. Vanya tersenyum karena merasa memiliki teman kembali. Kedua wanita itu terus berlari dan terlihat sebuah taman kecil namun sangat indah, banyak sekali lampu kecil yang ber kelap kelip di bawah salju.
“Nah, kita sampai. Tak banyak orang yang tahu taman ini, jadi kau bisa melakukan apa pun yang kau mau,” ucap Elina seraya duduk dan di ikuti oleh Vanya.
“Disini sangat sepi? Apa taka da yang tahu tempat indah ini?” tanya Vanya melihat ke sekeliling.
“Semua orang akan mengira tak ada taman seperti ini. Karena kita harus memutari danau sebelum masuk kemari, semua orang tak akan mau bersusah payah hanya tuk kemari,” jawab Elina.
Vanya mendengarkan ucapan dari Elina, dia tidak tahu jika jalan ke taman ternyata harus memutari danau. Vanya yang menangis sampai tak memperhatikan jalan.
“Maaf sudah merepotkanmu,” ucap Vanya tak enak hati.
“Maaf tuk apa? Aku juga sudah sangat lama tidak kemari, ya sejak aku mengikuti Wildan aku selalu berpindah dari negara satu ke negara lain,” jawab Elina.
Vanya merasa Elina begitu bahagia sangat bercerita itu, binar di matanya pun terlihat jelas jika wanita di depannya itu memiliki rasa pada Wildan.
“El, apa kau sudah lama mengikuti Wildan?” tanya Vanya.
“Sekitar tujuh tahun. Aku mengikutinya,” jawab Elina.
“Pantas saja, aku melihat kalian sangat dekat. El, apa selama ini kau pernah melihat Wildan dengan wanita lain?" tanya Vanya berhati-hati.
“Dia mempunyai banyak wanita, tapi tak satu pun bertahan dalam satu hari. Lelaki seperti Wildan itu sangat susah tuk benar-benar mencintai seseorang,” jawab Elina seraya menatap Vanya.
Vanya menunduk, mendengar semua tentang Wildan. Lalu kenapa dia begitu kikuk saat bersamanya, bahkan hanya dengan ciuman saja.
“Hufh,, pantas saja,” gumam Vanya.
“Kau mengatakan apa, Anh?” tanya Elina penasaran.
Vanya hanya menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum pada Elina. Elina pun tak menganggap serius pun ikut tersenyum.
__ADS_1
Di sisi lain, Laudya kembali ke kedai kopi sendirian pun membuat ketiga lelaki itu heran dan terkejut. Dimana Elina dan Vanya pergi, Wiliem melihat ke arah belakang Laudya tapi tak terlihat sang istri di sana.
“Kemana, Vanya dan Elina pergi?” tanya Wiliem khawatir.
“Kenapa kau hanya sendirian, huh?” tanya Messi sedikit kesal, karena Laudya terlihat santai saja.
“Mereka pergi ke toko lain yuk membeli sesuatu. Kalian tenang saja, aku sudah terlalu lelah karena kakiku yang sakit. Jadi, aku memilih kembali terlebih dahulu,” jawab Laudya berbohong.
“Kau membawa semua barang belanjaan ini sendirian?” tanya Arga melihat ada beberapa paper bag yang Laudya bawa.
“Ya, aku memintanya pada mereka. Agar mereka tak repot saat berbelanja yang lainnya,” jawab Laudya tersenyum.
“Mana barang belanjaan El?” tanya Messi.
Laudya memberikan tiga paper bag yang berukuran besar pada Messi dan memberikan Empat paper bag kecil pada Wiliem. Kedua lelaki itu menerimanya dan melihat isi kantung tersebut.
“El akan selalu gila belanja setiap keluar dari Villa,” ucap Messi menggeleng.
“Terima kasih sudah membantu, Vanya,” ucap Wiliem.
Laudya mengangguk ia, lalu tersenyum menatap Wiliem sebagai jawaban. Arga melihat binar kebahagiaan dari Laudya pun merasa waspada pada Wiliem dan Laudya. Arga, sosok lelaki muda yang mempunyai kecerdasan di atas rata-rata dan bisa menganalisis dalam sekali lihat.
“Apa kau tahu, toko mana mereka pergi?” tanya Messi.
“Tidak, aku tak sampat menanyakan itu. Karena mereka terlebih dahulu berlari menjauh,” jawab Laudya.
“Ya sudah, kita tunggu saja mereka di sini!” pinta Wiliem seraya kembali meminum kopinya.
Malam itu, mereka berbicara banyak dengan segala bidang. Sampai waktu sudah berlalu dua jam kemudian, Vanya dan Elina yang sudah lelah pun akhirnya memilih pulang. Elina mengabari Messi, jika mereka sudah berada di hotel.
Wiliem dan yang lainnya pun mengangguk ia, mereka bergegas kembali ke hotel. Di perjalanan, Messi dan Arga berada di depan sedangkan Wiliem dan Laudya berada di belakang.
“Sudah sangat lama, kita tidak berbicara sambil berjalan seperti ini,” ucap Laudya mengingat kembali kenangan saat kuliah.
“Ya, kau benar. Dulu bisa setiap hari kita berjalan seperti in, masa-masa itu sangatlah indah karena kita bisa bercanda dan mengobrol dengan teman lainnya,” jawab Wiliem.
“Kau ingat saat dulu selalu memanggilku di depan rumah hanya tuk bisa berangkat bersama ke kampus?” tanya Laudya.
“Ya, aku ingat itu. Alex akan selalu memukul kepalaku karena terus berteriak namamu dari luar, menurutnya itu sangat berisik,” jawab Wiliem tertawa.
“Banyak teman wanita yang sangat iri padaku yang cupu itu, karena selalu bersama dengan dua pangeran kampus. Banyak sekali ancaman yang datang di dalam lokerku, namun dengan cepat aku membuangnya tanpa membacanya,” ucap Laudya dengan sedih.
Wiliem menghentikan langkahnya mendengar kejujuran dari Laudya yang baru saja dia ketahui, “Kenapa kau tak mengatakan apa pun, padaku atau Alex?”.
“Aku lebih takut jika mengatakannya pada kalian, karena aku tahu jika nanti kalian tak akan tinggal diam. Itu akan semakin membuat mereka membenciku,” jawab Laudya semakin sedih mengingat itu.
Wiliem terlihat sedih memikirkan Laudya saat itu, pastinya wanita itu mendapat kesusahan jika tak ada dirinya atau Alex berada di dekatnya.
“Lau, apakah kau akan kembali pada Zidan?” tanya Wiliem.
Laudya dengan cepat menggeleng denga air mata yang mengalir di wajahnya, “Aku memilih mati saja, jika harus di kembalikan pada Zidan.”
“Lalu kau kan ke mana? Di Milan, kau sudah tidak aman,” ucap Wiliem.
“Entahlah, aku akan memikirkan itu. Yang jelas, aku akan pergi dari Milan dan menjalani hidup baruku,” balas Laudya.
__ADS_1
Wiliem termenung seraya menatap Laudya, lelaki itu mengingat ucapan Vanya yang memintanya membawa Laudya pulang bersamanya. Namun, terkendala dengan Zee yang tak setuju dengan ide Vanya.
Arga dan Messi yang berjalan sudah jauh pun menyadari kalau tidak terdengar suara Wiliem dan Laudya pun terhenti dan berbalik ke belakang. Terlihat mereka berdiam tertinggal jauh.
“Tuan, Nona, kalian sedang apa? Cepat kemari!” teriak Messi begitu keras.
Wiliem dan Laudya yang mendengar itu pun terkejut karena suara bariton Messi yang terdengar sangat keras. Semua orang sampai menatapnya dan juga menatap Wiliem dan Laudya denga tatapan penuh tanya.
“Sedang apa mereka, bernostalgia? Tidak ingat istri yang sedang menunggunya, apa?” tanya Messi kesal.
Arga tersenyum melihat Messi yang biasanya tak pernak kesal pun, menjadi sangat kesal dan begitu perhatian pada Vanya. Namun, Arga salah menduga itu pada Messi. Messi merasa khawatir pada Elina yang tidak biasanya pergi begitu saja tanpa mengabarinya terlebih dahulu.
“Kenapa dengan Messi, suara baritonnya sangat keras sekali, aku sampai terkejut,” gerutu Wiliem.
“Sudahkah, mungkin di lelah. Tak sadarkah kalau kita sangat lama hanya tuk berjalan saja?” tanya Laudya tersenyum menatap Wiliem.
Wiliem dan Laudya pun mempercepat langkah mereka sampai kembali ke belakang Messi dan Arga. Terlihat keduanya terus menebar senyum satu sama lainnya, entah kenapa Messi merasa kesal melihat itu. Messi merasa jika Wiliem tak sadar telah membuat orang-orang yang tak tahu mereka mantan kekasih pun pasti mengira mereka sepasang kekasih yang romantis.
“Kenapa, lelaki itu sangat mudah dekat dengan mantan kekasihnya. Bahkan, pernah menyakitinya dan meninggalkannya,” gumam Messi merasa kesal dan jijik dengan tingkah Wiliem dan Laudya.
Arga yang mendengar itu hanya menghela napas panjang, pemuda itu merasa sedih karena menyukai Laudya hanya membuatnya terbakar api cemburu saja. Di tambah lagi, mantan kekasihnya Wiliem seorang lebih hebat, tidak seperti dirinya yang mantan pembunuh.
“Apa yang membuatmu begitu percaya diri, Ar. Lihatlah, bagaimana Laudya begitu bahagia hanya dengan berbicara dengan Wiliem saja,” batin Arga.
Di hotel, Vanya tertawa riang dengan Elina. Wildan dan Ken yang baru saja sampai setelah menyelesaikan bisnisnya pun terhenti karena mendengar suara gelak tawa dari Vanya dan Elina.
“Apa yang membuat mereka begitu senang?” tanya Ken.
“Entahlah, aku lebih senang mendengar suara tawanya dari pada suara tangisnya,” jawab Wildan tanpa sadar.
Ken yang mendengar ucapan Wildan yang terdengar ambigu pun menatap sang teman dengan dahi yang mengerut dan tatapan yang penuh selidik.
“Jangan menatapku seperti itu, aku hanya suka saja dengan kebahagiaan mereka,” ucap Wildan tanpa melihat Ken. Karena matanya masih menatap kedua wanita itu, tidak lebih tepatnya pada Vanya.
Ken yang merasa aneh pada Wildan pun berjalan menghampiri mereka dan menyapa mereka. Vanya yang melihat Ken pun tersenyum lalu berlari memeluknya, Ken membalas pelukan Vanya bahkan mencium kening Vanya.
“Kakak dari mana saja?” tanya Vanya.
“Aku yang harusnya bertanya padamu dan Elina. Kalian dari mana saja, kenapa hanya berdua saja? Ke mana suamimu?” tanya Ken mencari keberadaan Wiliem.
“Emm, kami pulang terlebih dahulu dan meninggalkan Wiliem bersama dengan Laudya dan kedua aduk Elina,” jawab Vanya santai.
“Kalian mendapat apa saja, malam sekali baru kembali?” tanya Wilda yang berjalan ke arah mereka.
“Astaga, belanjaanku! Aku sampai lupa akan barangku,” pekik Elina dengan heboh.
Wildan dan Vanya saling bertatapan, namun Vanya sudah bisa bersikap biasa dengan Wildan karena sudah sepakat tuk melupakan kejadian itu. Vanya mengangguk dengan tersenyum,Wildan pun membalas dengan mengedipkan matanya dan juga tersenyum.
“Elina!!” panggil Messi dari kejauhan saat melihat saudarinya baik-baik saja.
Elina yang melihat Messi datang dengan menenteng paper bag pun tersenyum dan menghampiri sang adik.
“Ahh, terima kasih kau sudah membawakan pulang belanjaanku,” ucap Elina yang merebut paksa barang tersebut dan memeluknya.
Semua orang tertawa melihat tingkah konyol dari wanita muda itu, bahkan Ken sangat terkejut dengan sikap alami Elina yang menurutnya sangat lucu. Elina bisa sangat tegas jika sudah menyangkut ilmu kedokteran dan juga tentang kedisiplinan pada adik-adiknya. Namun, tanpa di sangkah Elina juga bisa menjadi imut seperti anak kecil.
__ADS_1
Bersambung🍂🍂🍂