
Zidan menuruti apa yang di minta oleh Laudya, termasuk Zidan tidak bisa memakainya untuk kepuasan nafsu nya. Laudya tidak mau di sentuh oleh lelaki mana pun di tempat itu, Laudya masih trauma mengingat akan satu malamnya dengan Wiliem dan itu membuatnya membekas di ingatannya.
Zidan merasa keberatan dengan tidak menjadikan Laudya pemuas nafsu nya lagi, namun jika tidak seperti itu dia akan kehilangan Laudya. Karena memang Zidan menyukai Laudya, tapi Zidan terlalu gengsi dengan dirinya sendiri dan memilih menyiksa Laudya agar tetap berada di sampingnya.
Sudah tiga hari setelah Laudya pindah kembali ke kamar lamanya, Laudya kembali dengan penampilan seksinya. Mewarnai rambutnya menjadi kuning keemasan, berdandan dengan sangat glamor.
“Baiklah, kau harus segera berakting menjadi wanita yang patuh dengan segala belenggu di balik topeng wajahmu,” ucap Laudya seraya keluar dari kamarnya.
Iren yang melihat Nonanya keluar pun segera mengikuti dari belakang, Laudya memang wanita yang elegan karena dia mantan seorang model.
“Nona kau sudah di tunggu di taman belakang oleh Tuan Zidan,” ucap Iren.
“Ya, aku tahu.” Laudya terus berjalan melewati lorong panjang yang berujung ke arah taman belakang.
Saat Laudya melangkah keluar terlihat Zidan sedang bersama dengan Roy, Laudya dan Roy saling berpandangan dan terlihat Roy merasa lega melihat Laudya yang baik-baik saja. Namun berbeda dengan Laudya yang terlihat cemas dan ketakutan saat melihat Roy.
“Ada apa dengan wanita itu, kenapa matanya melihatkan kecemasan dan begitu takut?" batin Roy.
Zidan yang memperhatikan raut wajah Laudya dan Roy pun menatap aneh pada keduanya, Roy yang tahu di perhatikan pun langsung menatap ke arah Zidan.
“Ya dia aku temukan bersama dengan seorang wanita di sebuah mansion yang aku kira hanya mansion tak berpenghuni. Tapi nyatanya wanita itu menyembunyikan Laudya di sana,” ucap Zidan.
“Wanita? Tahu dari mana paman tempat itu?” tanya Roy penasaran.
“Anak buahku yang menemukan itu. Tapi naas, dia terbunuh oleh wanita itu saat ingin memberitahukan siapa pemilik asli mansion tersebut,” jawab Zidan.
Laudya duduk di depan Roy dan Zidan, sebisa mungkin Laudya bersikap biasa di depan Roy. Zidan tersenyum menyambut Laudya yang malah di balas dengan memalingkan wajahnya.
“Apa kabar, Tuan Muda?” sapa Laudya pada Roy.
“Aku tidak baik, aku baru saja kehilangan sosok kakak. Ahh, maksudku seorang teman lama yang sudah seperti kakak tukku,” jawab Roy memandang Laudya dan Zidan bergantian.
DEG,,
Laudya yang mendengar itu merasa begitu sedih, namun sebisa mungkin air mata itu tidak keluar. Hatinya sakit mendengar Lauren telah tiada, Roy melihat Laudya yang terlihat sedih itu pun hanya memalingkan wajahnya.
“Baiklah, kalian lanjutkan saja pembicaraan kalian. Aku harus pergi,” ucap Laudya seraya beranjak pergi.
Zidan dan Roy hanya bisa menatapnya dari belakang, tanpa mereka tahu jika Laudya menangis di setiap langkahnya. Wanita itu ambruk setelah masuk ke dalam kamarnya, menangis dengan begitu menyayat hati karena kehilangan sang kakak.
“Tidak mungkin, Lauren telah tiada. Aku baru saja bertemu dengannya,” isak tangis Laudya begitu menyedihkan saat Roy mendengarkan dari balik pintu.
“Lauren, Lauren.” Isak Laudya sambil memeluk tubuhnya.
Roy semakin membenci Zidan, dia sudah berjanji akan membalas semua yang sudah Zidan dan anak buahnya lakukan. Roy masuk ke dalam ke kamar Laudya dan membuat yang mpunya kamar terkejut.
“Ro-Roy, sedang apa kau di sini?” tanya Laudya gugup.
“Apa kamar ini aman?” tanya Roy balik.
__ADS_1
Laudya mengangguk seraya menghapus air matanya. Roy duduk begitu saja duduk di sofa dan di ikuti oleh Laudya. Roy menatap sekeliling kamar mencari sesuatu yang janggal, namun tidak terlihat satu pun yang mencurigakan.
“Kamar ini sudah Ku ubah semuanya dan tidak ada yang perlu kau khawatirkan, kau bisa mengatakan semuanya,” ucap Laudya.
“Siapa yang sudah membunuh Cecilia?” tanya Roy the to point.
DEG,, jantung Laudya kembali berdegup kencang mendengar ucapan dari Roy. Air matanya mengalir kembali dari mata indahnya, Roy hanya bisa memalingkan wajahnya saja.
“Zidan, dia yang membunuh Lauren. Dia yang menarik rambut Lauren dengan sangat kasar dan membawanya menjauh dariku,” jawab Laudya dengan suara bergetar.
Roy mengepalkan tangannya dengan sangat kuat, mengingat bagaimana keadaan Lauren yang terikat di dasar kolam. Roy memejamkan matanya karena tidak sanggup membayangkan apa yang sudah Zidan lakukan terlebih dahulu pada Lauren sebelum membunuhnya.
“Kau harus membunuh siapa saja yang sudah membuat orang-orangku terbunuh! Dan aku sudah berjanji akan membunuh siapa yang telah membuat Cecilia meninggal,” ucap Roy dengan nada dingin.
Laudya menatap Roy lalu mengangguk, entah kenapa Laudya merasa sedikit tenang karena Roy ada di pihaknya. Roy memberikan sebuah kantong kecil pada Laudya.
“Campurkan sedikit demi sedikit serbuk itu pada semua makanan di rumah ini!” perintah Roy menatap tajam Laudya.
“Apa ini racun? Apa mereka akan langsung mati setelah meminum ini?” tanya balik Laudya.
“Tidak, merasa akan mati setelah tiga hari meminum ini. Tapi racun itu akan sedikit bertahan lebih lama pada Zidan, karena tubuhnya sudah sering meminum racun,” jawab Roy.
“Baiklah, aku akan menuruti apa yang kau pinta. Dan aku meminta satu hal padamu,” ucap Laudya.
“Apa itu?” tanya Roy.
“Kau mau menyakitinya lagi, tidak akan Ku biarkan itu. Karena kau dan suaminya, Vanya sampai harus di rawat di rumah sakit karena tertabrak sebuah mobil,” ucap Roy.
Laudya menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang Roy katakan, “ Jangan bercanda denganku, Roy!”.
“Tidak, semua itu apa adanya. Dan sekarang kau tahu, apa yang terjadi pada mereka? Vanya meminta berpisah dari Wiliem dan itu karena dirimu,” seru Roy.
Laudya semakin merasa bersalah, sungguh malam itu dia hanya berniat menolongnya saja tanpa memikirkan apa pun. Laudya membawa Wiliem keluar dari bar karena tidak ingin Wiliem dengan wanita lain. Namun sekarang dirinya lah yang membuat hubungan mereka menjadi hancur, karena satu malam itu.
“Anh, maafkan diriku!” gumam Laudya menangis.
Roy yang sudah pergi setelah mengatakan semuanya itu pun berpamitan dengan Zidan yang sedang bersuka ria dengan para wanitanya.
“Taun Muda, apakah Anda tidak ingin bermain dengan kami dahulu?” tanya salah satu wanita Zidan.
“Cih,, wanita kotor sepertimu tidak cocok denganku. Jangan bermimpi dengan angan-anganmu itu!” hardik Roy dengan penuh amarah.
Zidan yang melihat itu hanya bisa mendorong wanitanya itu karena sudah membuat keponakannya marah dan merasa di rendahkan.
“Kau pergilah!” pinta Zidan pada Roy.
Roy pergi dengan rasa amarah yang memenuhi dadanya. Matanya memancarkan kebencian yang teramat pada sang paman.
“Akan ku bunuh kau dengan perlahan, neraka akan segera menyambutmu paman,” ucap Roy begitu dingin.
__ADS_1
RUMAH SAKIT
Ken memberikan obat penenang pada Wiliiem yang terus menangis dan terus mencoba menyakiti dirinya. Alex semakin tidak bisa menahan kesedihannya saat melihat Wiliem menjadi seperti dahulu.
“Kak, aku mohon tolong adikku!” pinta Alex seraya menangis memohon pada Ken.
“Kau adalah adikku, begitu juga Wil. Kau tenanglah, aku akan mencoba menolongnya,” balas Ken seraya menepuk bahu sag adik.
Alex mendekati Wiliem yang tertidur setelah di suntik obat tidur oleh Ken, Alex menggenggam tangan Wiliem dengan erat. Air matanya mengalir begitu saja, terlihat Zee masuk ke dalam menemui suaminya.
“Alex,” panggil Zee lirih.
Alex menengok dengan menangis, Zee berjalan cepat mendekati Alex lalu segera memeluknya denga erat. Alex menangis di pelukan sang istri, meluapkan segala perasaannya yang khawatir pada sang adik.
“Dia akan sembuh, kita harus yakin itu. Aku akan menemanimu dan Wiliem,” ucap Zee mengusap lembut kepala sang suami.
Vanya mengetahui akan keadaan Wiliem yang semakin memburuk, hatinya begitu sedih. Ada rasa rindu pada lelaki yang masih menjadi suaminya itu, tapi juga ada rasa benci dan marah padanya karena mengingat semua perkataannya.
“Aku rindu kau, Wil,” batin Vanya meronta ingin sekali melihatnya.
Elina yang melihat itu mengerti akan apa yang di rasakan oleh Vanya, karena sampai sekarang pun wanita itu masih menyukai Wildan. Tapi kenyataannya sangat perih, karena Elina tahu jika Wildan menyukai Vanya.
“Aku pun bertahan dengan semua rasa sakitku hanya karena ingin terus melihat Wildan. Setiap detiknya, aku harus merasakan sakit seperti tertusuk ribuan pedang saat melihat Wildan dan kau tersenyum bersama,” batin Elina merana.
“El,” panggil Vanya melihat sang teman melamun tapi mengeluarkan air mata.
Vanya semakin khawatir saat melihat Elina tidak merespon akan panggilannya, Vanya pun menarik tangan Elina sehingga membuat wanita itu tersentak kaget.
“Ahh, what?’ tanya Elina yang terkejut.
“Apa yang kau pikirkan sampai menangis?” tanya Vanya penasaran.
“Menangis?” tanya Elina seraya menyentuh pipinya yang memang basah oleh air mata.
Elina mencoba tersenyum lalu menatap Vanya, “Maaf sudah membuatmu khawatir. Aku tidak apa-apa, hanya rindu dengan rumahku saja.”
Laudya mencoba berbohong pada Vanya, Elina tidak mau jika Vanya merasa sedih karena dirinya dan juga karena perasaannya pada Wildan.
Vanya merentangkan tangannya, Elina yang melihat itu pun tersenyum dan segera memeluk temannya itu. Vanya memeluk Elina dengan erat, mengusap punggungnya dengan lembut dan pelan.
“Aku juga merindukan keluargaku dan juga rumahku, kau bersabarlah! Kita sekarang satu keluarga, bahkan aku sangat berterima kasih padamu dan juga Arga, Messi karena sudah menjagaku,” ucap Vanya.
“Inilah sifat naifmu yang membuat semua orang menyukai dirimu, Vanya,” batin Elina.
“Ya, terima kasih kembali karena kau dan kedua kakakmu begitu baik padaku dan kedua adikku,” balas Elina.
Hari ini, Vanya sudah di perbolehkan pulang. Wildan sudah membeli sebuah rumah yang sangat besar tuk melindungi semuanya, Ken terus berada di rumah sakit tuk membantu Wiliem. Zee dan Alex terus mencoba membuat Wiliem kembali seperti semula dan bisa menerima semua kenyataan yang sudah terjadi padanya dan juga semua kehidupannya.
Bersambung🍂🍂🍂
__ADS_1