
Rafli termenung di ruang rawat Ana saat ini . Pikirannya melayang jauh kemana-mana. Sudah banyak dokter yang berkalaborasi untuk membantu membuat Ana melewati masa kritisnya namun belum berhasil juga .
'' Maaf tuan , anda memanggil kami '' ucap Joni dan Max disampingnya.
'' Katakan informasi apa saja selama aku koma " ucap Rafli .
Joni menceritakan apa saja yang terjadi termasuk salah seorang bodyguard Ana yang berkhianat dan Rafli telah tau itu dari Jimmy dan juga Devan . . .
'' Aku akan menghancurkan keluarga Takeda selanjutnya. Tunggu aku kembali dalam bisnis . Kau akan hancur Takeda , karena kau pria payah tak bisa menjaga putrimu itu . Bahkan putrimu bisa membunuh suaminya sendiri " gumam Rafli .
'' Lalu siapa saja yang membesuk istriku " tanya Rafli pada Max membuat Max menatap Joni yang kini memejamkan matanya .
'' Katakan siapa " ucap Rafli seketika membuat Max tak punya pilihan lain . Kesetiaan kepada Rafli lebih besar dari pada tuan Abdi sendiri . Toh ia bekerja kepada Rafli .
'' Sepupunya nona Ines tuan seorang pria " ucap Max tak mengetahui namanya.
'' Tapi pria itu datang bersama anak istrinya serta sahabat nona Ana lainnya " jelas Max.
'' Berapa kali pria itu membesuk istri ku " tanya Rafli menahan kekesalan hatinya .
'' Hanya sekali tuan dan hanya sebentar " jawab Max yakin.
'' Lalu pria mana lagi yang membesuk istriku " tanya Rafli.
'' Para sahabat tuan " ucap Max membuat Rafli menghela nafasnya .
'' Tapi tuan " ucap Max.
'' Apa " tanya Rafli bergerak mengambil gelas menuju teko air berada.
'' Keluarga Permana ada juga membesuk " ucap Max membuat langkah kaki Rafli terhenti namun ia tidak membalikkan badannya.
'' Siapa " ucap Rafli terdengar jelas tak suka.
'' Tuan Teguh dan Nyonya Sasa " ucap Max .
Hening .
'' Apa hanya mereka " tanya Rafli setelah satu menit suasana hening , masih setia pada posisinya .
'' Maksud tuan " ucap Max .
'' Kau tau apa maksudku , siapa " umpat Rafli melempar gelas kristal mengenai dengkul Max yang kenapa menjadi bodoh , membuat gelas kristal itu berhamburan ke lantai.
'' Apa Eric datang kemari " ucap Rafli mendekati Max.
'' I...iya tuan " ucap Max gugup.
'' Berapa kali , ia menemui istriku " ucap Rafli mencengkram kuat kerah kemeja Max , tenaga Rafli telah pulih seperti sebelumnya bahkan tatapannya makin mengerikan saat ini.
'' Lima kali di rumah sakit milik papa anda tuan dan tiga kali dirumah sakit ini " ucap Max jujur membuat Rafli mengendurkan cengkeramannya pada kerah kemeja bodyguard nya tersebut. Gemuruh amarah di hatinya tak bisa terkontrol rasanya saat ini , ingin sekali ia menghabisi bodyguard nya saat ini.
'' Kenapa kalian mengizinkannya " ucap Rafli , salah satu tangannya merayap mengambil benda yang terisi peluru tersebut.
'' Dia begitu lancang berani menemui istriku , apalagi sebanyak itu. Kenapa ia menemui istriku begitu leluasa " ucap Rafli , ntah ia tuju kesiapa pertanyaan itu.
'' Tu...tuan Wijaya dan Gunawan yang mengizinkannya tuan " ucap Joni menyadari ada yang tak beres dari gelagat tuan mudanya tersebut saat ini.
Mata Rafli menatap mereka dengan pandangan yang sulit di artikan , dan tatapannya beralih pada ketukan pintu yang ternyata ada dokter yang memeriksa Ana saat ini . Dokter laki-laki cukup pintar tentunya . Tak ada tatapan tak suka di matanya pada dokter tersebut meski dengan sengaja menyentuh kulit tangan milik istrinya , karena otaknya kini berjalan penuh harap untuk kesembuhan istrinya .
Dokter meminta waktu berbicara kepada Rafli dan membuat kedua bodyguard itu lolos dari mautnya saat ini atau dewa kematian sedikit sibuk untuk mencabut nyawanya . Terlibat pembicaraan serius antara Rafli dan dokter tersebut , mata Rafli sesekali melihat istrinya yang terbaring.
.
.
__ADS_1
.
'' Kenapa papa mengizinkan pria brengsek itu membesuk Ana " pertanyaan Rafli menyambut kedatangan sang papa pada pertemuan mereka saat ini.
'' Pria brengsek siapa '' tanya Gunawan , menurutnya sang menantu tak mengenal pria brengsek manapun.
'' Siapa lagi . Jika bukan Eric " ucap Rafli terasa susah mengucapkan nama pria itu.
'' Kita bicarakan dengan kepala dingin. Papa rasa kau malah berhutang budi padanya " ucap Abdi membuat Rafli menatapnya kesal.
'' Kenapa papa bicara seperti itu " ucap Rafli terlihat begitu tak suka dalam nada bicaranya.
'' Jangan lupa , jika bodyguard nya ikut berperan melindungi Ana dan menyelamatkan kalian saat itu. Bahkan beberapa bodyguard nya ikut tewas dalam kejadian itu " ucap Abdi .
'' Ia juga yang membantu kami mencari dokter terbaik untuk kalian dan dia akan terus membantu mencarinya. Dewa saat itu susah makan juga berhasil di bujuk makan oleh Eric dan mamanya. Asal kau tau , anakmu hampir pingsan saat itu karena tak ada selera makannya . Kau tau sendiri , Dewa begitu manja pada Ana. Untung saja bapak mertuamu datang cepat saat itu dan bisa membujuk Dewa setelah Eric pergi " ucap Abdi menjelaskan tentang Eric yang cukup dekat dengan Dewa saat mereka koma , sosok ayah itu terlihat ada bara api cemburu dimatanya tapi berbeda dengan sosok Abdi yang begitu dewasa . Abdi tak iri jika cucu tersayangnya yaitu Dewa dekat dengan besannya dari pada dirinya. Jika Abdi mengenalkan Dewa dengan kehidupan bisnis , berbeda dengan Gunawan yang mengenalkan ajaran agama pada Dewa. Meski demikian keluarga Wijaya tak melupakan kewajibannya sebagai umat muslim , Abdi jauh dari dunia kekerasan berbeda dengan sang anak yang kini di hadapan nya yang langsung menyerang lawan bila tak suka.
'' Dia melakukan itu , karena ia mencintai istriku pa '' jawab Rafli , yakin akan kepercayaannya sendiri.
'' Dia sudah menikah Rafli dan telah punya anak dari istrinya saat ini. Bahkan kata Teguh mereka bahagia sekarang . Itu hanya rasa cemburumu saja yang berlebihan . Berdamailah dengan keadaan , berteman dengan Eric tak cukup buruk '' ucap Abdi memberi saran .
'' Terserah papa . Yang jelas aku melarangnya membesuk Ana . Apapun alasannya . Bagiamana pun Ana itu istriku pa , akulah yang paling berhak atas istriku '' ucap Rafli.
" Jika papa berteman pada tuan Teguh , itu urusan papa tapi jangan memintaku berteman dengan si brengsek itu karena tidak ada dalam kamus hidupku sekalipun " imbuhnya lalu bangkit dari sisi Abdi , enggan membahas Eric. Ingin meluapkan kekesalannya pada sang papa namun juga tak ada gunanya , apalagi melihat sang papa begitu lelah ia jadi makin tak tega .
.
.
.
Sudah enam bulan berlalu namun keadaan Ana masih tetap seperti itu. Rafli juga sudah mulai menampakkan diri di kantor milik Wijaya saat ini meski hanya sekedar meeting . Masalah perusahaan RA group banyak orang terhebatnya yang bisa di andalkan , bahkan dari sisi paman Joe sang asisten pribadi Abdi mengutus salah satu anaknya untuk mengurus perusahaan RA group. Rafli sebenarnya enggan mengurus perusahaan papanya namun Abdi menawari penawaran yang cukup menarik . Cukup sulit usaha Abdi membawa Rafli kedalam perusahaannya , dengan alasan punya perusahaan sendiri dan perusahaannya bisa mengimbangi perusahaan sang papa meski suatu saat Abdi yakin apa yang di katakan Rafli bisa terwujud melihat kemampuan sang anak sejak awal mendirikan perusahaan di Amerika apalagi ada nama keluarga yang dibawanya. Tak ayal , nama keluarga bisa membawa sebuah usaha semakin jaya apalagi nama keluarga tersebut tanpa cela.
Rafli tetap memilih tidur dirumah sakit selama ini. Ia hanya sebentar di rumah saat anak-anaknya merindukannya , setelah anaknya tertidur pulas ia kembali kepada Ana . Tiap weekend anaknya pun tak menolak di ajak kerumah sakit. Bunga sendiri masih menghindar jika bertemu dengan Rafli membuat Rafli tak mengetahui keberadaan Bunga , gerakan Bunga juga sering di pantau oleh orang kepercayaan Lia..
'' Mas lelah sekali Ana . Kapan kau bangun '' ucap Rafli sesaat menidurkan dirinya disamping Ana yang masih enggan terbangun .
Tatapan Rafli berubah mendung saat melihat penuh kerinduan ke wajah sang istri , air matanya mengalir dalam diamnya . Dikecup beberapa kali jemari sang istri namun tak juga mendapat respon apapun , sama seperti sebelumnya .
'' Kapan kau bangun sayang . Kapan '' ucap Rafli dengan suara seraknya .
'' Mas membutuhkan dirimu Ana , sangat membutuhkan mu '' ucap Rafli lirih .
Cup Rafli mencium b*bir Ana perlahan , ini adalah ciuman pertama kali setelah ia sadar . Mencium nya dengan penuh perasaan dan setelah ia puas , Rafli melepaskannya .
'' Mas mencintai mu Ana , sangat '' ucap Rafli lalu dirinya menatap langit kamar rumah sakit dan perlahan matanya tertutup karena rasa ngantuk menerjangnya.
.
.
.
Nicko seorang dokter sekaligus sahabat Rafli kini membesuk Ana kembali bersama dengan keluarga kecilnya.
'' Nick , bisa kita bicara sebentar di luar '' ucap Rafli , melirik sekilas Tiara dan Intan yang ikut melihat Ana saat ini .
'' Baiklah '' ucap Nicko mengerti. Jika ini begitu privasi apalagi Rafli menanti kedatangannya sudah beberapa bulan yang lalu.
........
Taman
" Kau serius Rafli " ucap Nicko mengusap wajahnya kasar.
" Ya buat apa . Apalagi aku tak mungkin punya anak lagi dari Ana karena Ana tak punya rahim " ucap Rafli serius.
__ADS_1
" Tapi jika kau mau kita bisa melakukan cangkok rahim pada Ana " ucap Nicko .
" Tidak , tidak . Aku tidak ingin rahim wanita lain di tubuh istriku " ucap Rafli menolak mentah-mentah usulan Nicko .
" Aku juga masih merasa trauma dengan apa yang menimpa Ana , aku tak ingin itu terjadi kembali " imbuh Rafli , bayangan Ana tertembak saat hamil masih menghantuinya . Kehamilan Ana yang terakhir saat itu memang cukup berat bagi wanita itu jalani dan ternyata pengorbanan Ana tak bisa membuat anak mereka terlahir di dunia ini.
" Carikan aku dokter vasektomi terbaik di negeri ini " ucap Rafli tak ingin di bantah.
" Kau fikirkan kembali " ucap Nicko.
" Aku sudah berfikir saat aku mengetahui rahim Ana telah diangkat . Lagi pula aku telah mempunyai empat anak dan itu lebih dari cukup " jawab Rafli .
" Carikan dokter , aku ingin melakukannya yang permanen " ucap Rafli beranjak.
" Baiklah . Aku akan mencarikannya yang terbaik dan identitasmu tak di ketahui " ucap Nicko . Apa kata dunia bisnis jika mengetahui Rafli melakukan itu .
" Ya . Karena hanya kau yang tau tentang ini " ucap Rafli jujur . Ia tak perlu meminta pendapat siapapun tentang dirinya .
.
.
.
Sebulan , Nicko telah menemukan dokter yang akan menangani Rafli untuk vasektomi . Janji temu pun di buat dan Rafli setuju untuk melakukan secepatnya . Semua syarat serta efek sampingnya Rafli telah dicerna dengan baik olehnya dan Rafli tetap pada pendiriannya.
" Kita akan lakukan satu Minggu lagi setelah observasinya di lakukan " ucap sang dokter Wicak
" Baiklah . Saya tunggu secepat nya dok " ucap Rafli tanpa keraguan dan diangguki Wicak.
Waktu yang di nantikan Rafli pun tiba , terlihat tak ada keraguan di wajahnya . Ia pun akan membuat dirinya sama tak sempurna agar sang istri tak merasa tak sempurna sendirian saat terbangun nanti. Vasektomi pun di lakukan dan berjalan lancar.
.
.
.
Tak terasa hampir satu tahun Ana tak sadar dari komanya . Banyak perubahan dari sisi keluarga Wijaya dan keluarga Gunawan saat ini , keluar Wijaya terlihat makin dingin saat ini terutama Rafli makin kejam sudah terhadap lawan bisnisnya . Berdamai yang di sarankan Abdi tak digubris oleh Rafli . Bahkan keluarga Takeda terjatuh terkena imbas karena perbuatan Asuka .
'' Sayang. Besok mas harus pergi keluar kota . Apa kau akan baik-baik saja mas tinggal dua hari " lirih Rafli menatap wanita yang masih terbangun lemah tersebut.
'' Bangunlah sayang . Mas telah menyiapkan kado anniversary kita yang telah lewat dua Minggu yang lalu . Bangunlah. Kau mau apa pasti mas turuti " ucap Rafli , menangis tanpa suara nya . Itulah setiap malam , harinya selalu di isi tangis menjelang tidurnya.
Mau tak mau Rafli pun terpaksa pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaannya berharap setelah kembali sang istri telah membuka matanya. Ini pertama kalinya Rafli harus meninggalkan Ana untuk perjalanan keluar kota selama Ana koma , berat tentunya namun berharap semua baik-baik saja.
'' Mas pergi . Selalu baik-baik disini . Tunggu mas pulang dan jangan nakal " ucap Rafli berusaha tersenyum untuk membuatnya tersenyum sendiri .
Selama Rafli di luar kota , pihak keluarga selalu bergantian menjaga Ana . Hingga suatu kejadian terjadi pembicaraan cukup serius oleh Gunawan dan Abdi , terlihat Abdi begitu syok mendengar keputusan Gunawan tentang Ana.
'' Aku hanya tak ingin mas , disini kita membiarkan Rafli tersiksa dan juga putriku tersiksa '' ucap Gunawan air matanya luluh lantah saat ini.
'' Ana hadir dalam mimpiku . Ia minta untuk di lepas alat di tubuhnya " ujar Gunawan , bukan hanya Gunawan yang meneteskan air mata namun Abdi juga.
'' Bapak tolong minta mas Rafli untuk melepas alat di tubuhku pak. Itu sangat sakit , aku ingin tenang disini " ucapan Ana yang selalu terniang di kepalanya Gunawan akhir-akhir ini , ingin bicara dengan Rafli tapi Gunawan mendadak tak berani saat ini.
" Apalagi selama ini Ana tak ada perkembangan meksipun hanya 0 ,0001 % saja. Kita telah menunggunya hampir setahun . Aku juga tak tega melihat Rafli yang selalu menangis tiap malam nya . Mimik wajahnya selalu murung hanya akan pura-pura tersenyum di hadapan kita semua " ucap Gunawan dan Abdi juga merasakan sikap pura-pura bahagia sang anak , jika Gunawan begitu memperhatikan Rafli sedetail itu apalagi dirinya.
" Tapi mas. Aku yakin Rafli tak akan setuju " ucap Abdi menolak keinginan Gunawan..
" Baiklah mas kalau begitu . Aku akan berusaha untuk bicara pada mantu ku . Bagaimana pun Rafli berhak melanjutkan hidupnya kembali dan Ana juga tak merasa kesakitan lagi " ucap Gunawan yang hanya memikirkan mimpi yang mengusiknya , ia pun berharap Ana segera sadar selama penantian mereka ini tapi Ana sepertinya enggan bangun dan malah datang kemimpinya untuk melepas alat medis tersebut. Abdi beranjak pergi tanpa ingin menjawab , ia pun galau saat ini . Ucapan dokter saat itu masih terekam jelas di otaknya , jika kemungkinan Ana untuk sadar sangat lah begitu kecil namun saat itu juga terlihat jika Rafli sangat menolaknya dengan keras.
''Aku akan tetap mempertahankan Ana pa , meski harus seumur hidup pun dengan alat medis tersebut . Selama aku masih bernafas tak ada satupun yang boleh untuk melepaskan alat tersebut . Siapapun orangnya , sebab aku tak mentolelir hal ini " ucapan Rafli yang kala itu sangat enggan membiarkan Ana pergi .
" Ku harap berilah harapan kebahagiaan baru untuk kami ya Allah " batin Abdi.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar nya.
Selamat membaca 😊