Takdir Cinta

Takdir Cinta
Mencintai Ana


__ADS_3

'' Aku sangat mencintaimu Ana " ucap Eric saat pelepasan terakhirnya dan mengecup bibir Vini sekilas yang terlihat lelah dibawah sana . Eric kemudian tertidur seraya memeluk istrinya karena merasa begitu lelah namun bahagia mendominasi dirinya saat ini .


Tepat pukul delapan pagi Eric terbangun dari tidur lelahnya karena tersentak kaget handphone nya yang berbunyi .


Eric terkejut bukan main saat melihat wanita yang tubuhnya polos terlelap di sampingnya . Kejadian semalam pun menghinggapi otaknya dan semua terlihat jelas secara nyata . Bercak merah terlihat kontras di seprai berwarna putih menyala . Eric segera kekamar mandi menenangkan kepalanya yang hampir memanas saat ini.


'' Sial . Kenapa begini . Aku ingat betul bukan melakukannya bersama Vini tapi bersama Ana . Astaga Tuhan , apa yang telah aku lakukan . Vini istriku tapi aku tak mencintainya " umpat Eric dan menghantam tembok kamar mandinya .


'' Arrggghhtt ... bagaimana jika Vini hamil . Tidak. Vini tidak boleh hamil . Aku akan segera membelikannya obat " ucap Eric begitu kalut atas apa yang ia alami semalam .


'' Bagaimanapun ini di luar kendali ku " gumam Eric .


'' Pasti ini ulah mama " imbuhnya segera secepat mungkin menemui sang mama meminta pertanggung jawaban..


Saat menuruni tangga terlihat nampak sepi mansion rumahnya . Hanya ada pelayan yang terlihat hilir mudik kesana kemari .


'' Bi , kenapa semua sepi . Dimana Mama " tanya Eric dengan nada tak bersahabat.


'' Nyonya dan yang lainnya pergi kerumah non Tasya tuan " ucap Bibi menunduk takut .


'' Sial , ini pasti ulah mama " ucap Eric dan berlalu keluar mansion memilih menenangkan dirinya .


Eric pergi tanpa memperdulikan Vini yang saat terbangun akan merasakan sakit di area intinya karena Eric melakukannya begitu lama . Bayangan Ana kini mulai memenuhi isi kepalanya , berandai jika itu Ana maka ia akan dengan senang hati menunggui wanita itu hingga terbangun .


Vini terbangun akibat ketukan pintu yang mengganggu tidurnya.


'' Astaga ini jam berapa " gumamnya saat sinar mentari masuk melewati celah kamarnya .


'' Auuuwww sakit sekali , ada apa denganku " rintih Vini saat menggerakkan sedikit tubuhnya dan terasa ngilu di area intinya.


Mata Vini terbelalak kaget saat melihat tubuhnya polos tanpa busana dan tanda kepemilikan Eric terlihat begitu banyak seperti strawberry yang siap panen .


'' Ya Tuhan apa yang terjadi . Kenapa begini . Pasti mas Eric membenciku . Betapa murahannya aku semalam mulai mencium nya lebih dahulu....hiks.... bukan seperti ini yang ku mau Tuhan . Suamiku tidak mencintai ku , bagaimana ini " Isak Vini tak peduli suara ketukan pintu sedari tadi . Melihat Eric yang menghilang begitu saja, Vini merasakan dirinya tak berarti apapun setelah kejadian semalam.


Vini memejamkan matanya menahan sakit luar biasa seluruh tubuhnya namun tak seberapa dengan sakit dihatinya saat ini , bagaimana jika Eric malah menceraikannya . Vini meringis menahan perih saat bagian tubuhnya terendam cairan antiseptik di campur harum mawar didalam bathtub. Perih dan sedikit membengkak Vini rasakan . Pergulatan semalam memenuhi pikirannya , bukan merasa senang namun Vini merasakan kesedihan . Padahal saat pesta Ericana berjalan , ia begitu senang saat suaminya akan belajar mencintainya dan Vini akan menunggu hari itu dan melakukan hal suami istri itu dengan cinta.


Sasa yang menggedor pintu kamar anaknya tak kunjung di buka begitu panik sehingga memerintahkan pelayan untuk mengambil kunci cadangan . Saat memasuki kamar anaknya terdengar tangis terisak dari kamar mandi .


'' Vini sayang , buka pintunya nak " ucap Sasa membuat Vini segera menghapus air matanya yang akan percuma saja .


'' Iya ma , tunggu . Vini lagi mandi " ucap Vini .


Sasa memperhatikan ranjang yang terlihat jejak merah dan beberapa cairan panas itu terlihat tercecer . Ia tersenyum puas meski terpaksa menyakiti menantu dan anaknya dengan cara seperti ini . Ia berharap Eric junior akan segera hadir . Sasa tersenyum miring saat menerima pil KB yang di kirim kurir menuju mansionnya . Beruntung ia yang menerima bukan Vini yang di tuju oleh Eric. Sasa sudah menduga hal itu dan ia menukar pil KB dengan obat penyubur kandungan yang begitu di percaya khasiatnya .


'' Aku akan membersihkan seprai mereka , terlihat sekali mereka begitu bersemangat semalam " ucap Sasa dengan riang mengganti seprai yang mengandung peristiwa sejarah itu.


'' Kita lihat Eric , ini saatnya kau bahagia " lirih Sasa


ceklek


'' Mama.... " tangis Vini pecah dan segera memeluk ibu mertuanya yang ia anggap ibu kandungnya sendiri.


'' Mas ... Eric ma.... Mas Eric pergi ma.... aku bukan wanita murahan ma.... bagaimana jika mas Eric menganggap ku wanita murahan ma . Sungguh ini semua aku tak tau kenapa ma. Mas Eric pasti membenciku ma " Isak Vini dan segera di tenangkan Sasa.


'' Maafkan mama sayang namun inilah caranya . Mama tau semuanya bahkan tentang Ericana " batin Sasa yang selama ini curiga akan pertumbuhan Ericana mulai dari fisik dan sifat begitu mirip dengan Ana yang telah menjungkir balikkan dunia anak kesayangannya . Ana bagai Dewi pembawa berkah dan musibah secara bersamaan baginya . Bahkan Sasa pun mengetahui jika Excel bukan cucu kandungnya , ia sempat marah besar kepada Laurent yang baginya menjadi dalang penghambat ke bahagian putra kesayangannya .


Andai Sasa tau dan percaya ucapan Eric yang terlihat meragu tak melakukan apapun dengan Laurent . Pasti saat ini anaknya telah bahagia bersama cintanya . Sasa akan melakukan apapun demi kebahagian anaknya meski harus mengorbankan hidup nya . Nasi telah menjadi bubur dan ia berulang kali memaksa Eric tanpa tau derita batin yang dialami anaknya . Hingga menyayangi cucu wanita lain selama bertahun -tahun dan parahnya Excel terlahir dari wanita yang penuh kebohongan meski kini Laurent telah bertaubat .

__ADS_1


" Eric tak akan membencimu nak " lirih Sasa , ia tau betul karakter anaknya yang meski terkadang sulit di tebak .


" Apa kau dalam masa subur bulan ini sayang " tanya Sasa dan diangguki Sasa .


" Jika ada , apa kau ingin mengandungnya " ucap Sasa seketika membuat Vini menegang .


" Tidak ... ma .... Mas Eric pasti tidak akan mau mengakuinya " Isak Vini mengiba .


" Baiklah . Minumlah ini " ucap Sasa membuat Vini menatapnya dengan penuh tanda tanya melalui mata sembabnya .


" Ini punya Tasya . Ia yang pesan tapi mama lupa memberikan nya tadi " bohong Sasa.


" Maafkan Vini ma . Bukan Vini tak ingin mengandung cucu mama . Tapi Vi..vini.... " ucap Vini terhenti saat Sasa memeluknya .


" Mama mengerti sayang . Dan untuk Eric tenanglah , semua akan baik-baik saja . Eric hanya butuh waktu saat ini . Mama akan melakukan apapun untuk kalian " lirih Sasa .


" Ayo sekarang minum obatnya dan ini sarapan untuk mu harus dimakan " ucap Sasa tersenyum bahagia .


" Mama suapi ya " ucap Sasa dan dijawab kekehan kecil dari Vini .


" Vini sudah besar ma " ucap Vini .


'' Tapi bagaimana pun . Mama telah menganggapmu putri mama sendiri bukan sekedar menantu " ucap Sasa hangat.


'' Terimakasih ma . Telah menerima Vini dengan apa adanya . Jika di bandingkan dengan keluarga Permana , Vini tak ada apa-apanya ma " lirih Vini menahan tangis.


'' Katanya sudah besar , berarti jangan cengeng " goda Sasa dan Vini tersenyum simpul.


'' Semua Baik-baik saja . Tenanglah , mama selalu mengawasi gerakan Eric kemanapun . Sekarang anak itu lagi butuh ketenangan " ucap Sasa jujur .


'' Terimakasih ma . Mama memang yang terbaik " ucap Vini .


'' Iya ma . Vini tak akan menyerah ma . Apalagi ada mama yang mendukung Vini " ucap Vini tersenyum .


'' Ma , dimana Ericana " tanya Vini seraya mengunyah makanannya yang terlihat jelas mengandung nilai gizi tinggi .


'' Ericana sedang bersama anaknya Tasya di bawah " ucap Sasa , berusaha melupakan jika Ericana adalah anak Ana. Ia pun sudah terlanjur menyayangi bocah cilik tersebut.


.


.


.


Tiga hari sudah Eric tak menampakkan batang hidungnya .... Bak di telan bumi . Mata-mata orang suruhan Sasa pun kehilangan jejak Eric membuat Sasa mulai khawatir ....


.


Rafli kini sedang mengahadiri acara koleganya di temani oleh Bianca serta tunangannya yang ikut serta.


'' Maaf saya tidak minum " tolak Rafli membuat seorang koleganya terkekeh , seorang bos besar yang terkenal kejam menolak meminum alkohol.


'' Oh maaf tuan , saya kira anda suka minum seperti ini " ucap klien Rafli seraya menengguk alkohol.


'' Ki , bawa saja Bianca pulang. Lihatlah dia mabuk " ucap Rafli pada Kirden tunangan Bianca .


'' Tapi bagaimana dengan anda tuan " ucap Kirden .

__ADS_1


'' Aku bisa sendiri . Aku jaga tak minum . Lebih baik antar kekasihmu dengan selamat jangan sampai kurang satu apapun. Dia sudah ku anggap sebagai adikku " ucap Rafli menatap Kirden tajam membuat Kirden tersenyum simpul .


'' Apa anda sendirian tidak apa-apa " ucap Kirden memastikan.


'' Sudahlah . Aku baik-baik saja. Pergilah ini sudah larut malam dan sebentar lagi aku pulang " ucap Rafli dan Kirden pamit undur diri membawa Bianca yang menurutnya payah dalam minum alkohol tapi memaksa.


'' Ini tuan , teh untuk anda " ucap seorang pelayan yang tiba-tiba memberikan nya secangkir teh . Rafli yang merasa haus tanpa ragu menengguk teh itu hingga tandas.


30 menit berlalu Rafli dan beberapa kliennya masih membahas masalah proyek besar-besaran mereka . Namun tiba-tiba , Bunga menelponnya mengatakan bahwa tubuh Jelita panas tinggi membuat Rafli segera mengakhiri obrolan bisnis mereka dan segera pamit undur diri .


Seorang yang berada di dalam mobil tersenyum senang meski baru 50% rencananya berjalan.


'' Ku harap wanita itu melakukannya dengan baik . Sangat sulit mendapatkan kesempatan seperti ini . Baiklah kini saatnya aku menonton kekacauan rumah tangga mu Ana. Kasihan sekali kau '' gumam seseorang seraya memotong foto Ana dengan ukuran kecil-kecil.


Rafli secara asal memakirkan mobilnya dan melempar kunci mobilnya kepada salah seorang bodyguard yang sedang berjaga . Kaki panjangnya menuju kamar dimana sang putri tersayang berada dan kebetulan bertemu Bunga yang sedang membawa kompres.


'' Bagaimana keadaan putriku . Bagaimana ia bisa demam . Kau ini tidak becus mengurusnya '' cecar Rafli .


'' Tapi demam Jelita sudah mulai mereda tuan '' ucap Bunga gugup , segera Rafli melihat Jelita dan memastikannya sendiri .


'' Syukurlah anak ayah demamnya meredah '' lirih Rafli setelah memeriksa kondisi Jelita dan terlihat obat penurun panas yang di pastikan baru di gunakan .


'' Tuan . Tuan istirahatlah . Biar saya yang menjaga Jelita '' cicit Bunga.


'' Jaga anakku dengan benar. Ada apa-apa sedikit saja maka tamat riwayat mu '' ucap Rafli menatap Bunga tajam .


'' Jika ada sesuatu panggil aku di kamar istriku '' ucap Rafli karena ia terbiasa tidur di sisi Ana yang masih koma.


Sementara Bunga semakin gusar karena semakin di desak oleh seseorang yang dua hari ini selalu mengancamnya . Penuh umpatan yang di berikan si peneror kepada Bunga karena begitu lelet menjalankan rencananya . Hingga akhirnya bunga setuju saat melihat jerit anak semata wayangnya saat itu .


''Baik. Untuk kali ini aku akan menurutimu dan besok kau bebaskan anakku. Aku pegang janjimu '' ucap Bunga dengan derai air matanya .


Seseorang tersenyum senang saat ini . Membayangkan Ana sosok wanita yang disayangi banyak orang akan merasakan sebuah pengkhianatan besar yang di lakukan oleh sang suami tercinta serta Bunga yang telah Ana anggap sebagai adiknya.


'' Jika pelayan kurang ajar tadi membohongiku maka jangan sampai Bunga '' ucap Viona tersenyum licik .


Bunga yang berusaha menenangkan hatinya kini mau tak mau mengikuti rencana dari Viona . Bayangan kesakitan anaknya selalu terbayang dalam fikirannya membuatnya terpaksa nekat.


Bunga sengaja menyiapkan teh tiga gelas dan dua gelas kopi hitam pekat menuju ruang dimana Rafli dan para dokter masih berkumpul. Rafli tak peduli akan Bunga yang datang menyerahkan teh serta kopi untuk dokter yang berjaga.


'' Tuan ini teh nya " ucap Bunga berharap Rafli mengambilnya dan Rafli menyeruputnya karena aroma teh ini yang selalu menjadi candunya . Teh yang hanya di dapat karena Ana selalu menyimpan stok banyak di dapur. Rafli sempat berfikir jika istrinya mempunyai perkebunan teh namun Rafli membuang jauh fikiran itu , bukan tak mungkin bagi Ana membelinya namun Ana pasti akan sering keluar memeriksa perkebunan sedangkan Rafli selalu mengawasi gerak gerik istrinya . Mustahil .


'' Aku permisi membersihkan diri dulu dan ingin istirahat sejenak . Tolong jaga istriku " ucap Rafli dan diangguki seorang dokter wanita karena mengerti bagaimana lelahnya suami dari pasien yang ia tangani .


'' Iya tuan , istirahatlah " ucap Dokter ramah.


Rafli segera membersihkan dirinya dikamar mandi tiba-tiba bayangan Ana yang tersenyum padanya menari-nari saat ini .


'' Mas begitu merindukanmu sayang " lirih Rafli mengusap cairan bening yang membasahi rahang tegasnya .


Ceklek


Rafli tertegun melihat sosok wanita cantik yang begitu familiar baginya . Sosok yang begitu dirindukan kini hadir di hadapannya bahkan menggunakan lingerie seksi hitam yang kontras akan kulit sebening porselin.


'' Sayang ini mas gak salah lihat kan " ucap Rafli segera memeluk dan menghirup aroma yang selama ini ia rindukan.


'' Iya mas . Ini aku " jawabnya dan segera mengecup bibir suaminya yang kini Rafli dengan semangat membalas luma*annya .

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya


Selamat membaca 😊


__ADS_2