Takdir Cinta

Takdir Cinta
Episode 345


__ADS_3

Keesokan paginya Ken menemui Alex dan Wiliem yang ternyata sedang berbicara dengan Laudya. Seketika itu juga, Ken langsung menghampirinya dan menarik paksa tangan Laudya sampai wanita itu berdiri dengan terkejut.


“Apa yang anda lakukan?” tanya Laudya menatap aneh Ken.


“Kak, ada apa?” tanya Wiliem menatap Ken.


“Apa yang sudah kau lakukan pada Zee dan Vanya. Dimana adik-adikku sekarang?” tanya Ken dengan berteriak.


Alex dan Wiliem menatap Laudya dengan tatapan yang penasaran karena melihat raut wajah Ken yang terlihat begitu marah. Laudya hanya bisa diam dengan menunduk.


“Katakan padaku atau kau akan Ku bunuh sekarang juga,” ucap Ken seraya mendekatkan pistol di perut Laudya.


Alex, Wiliem dan Laudya begitu terkejut karena seorang Ken yang terlihat sangat alim dan pendiam itu bisa membawa sebuah pistol.


“Lau, katakan yang sejujurnya pada kami! Apa yang terjadi pada Vanya dan Zee?” tanya Wiliem dengan nada rendah.


“Aku hanya tahu, Vanya yang berada bersama dengan Roy. Tapi, tolong Wil, kau jangan salah paham dengan mereka. Roy hanya ingin menolong Vanya saja, Zidan sudah mengetahui yang membantu kalian itu adalah Lexion yaitu kakak dari Zee,” jawab Laudya.


“Lalu dimana Zee, apa kau juga tahu dengan istriku?” tanya Alex mulai khawatir.


“Vanya hanya mengatakan jika Zee dalam bahaya, setelah itu telpon nya terputus,” jawab Ken.


Elina, Messi dan Arga yang mendengar itu pun merasa geram dan bersalah karena tidak bisa menjaga Vanya atau pun Zee.


“Baiklah, untuk sekarang tolong percaya denganku. Aku akan berusaha menemukan Zee,” ucap Laudya.


“Jika kau tidak bisa melakukan yang kau katakakn. Detik itu juga, aku akan membunuhmu!” seru Ken dengan tatapan yang tajam.


Semua orang terlihat takut dengan Ken yang seperti itu, bahkan Arga yang sangat menyukai Ken pun merasa merinding dengan tatapan Ken.


“Kau bisa membunuhku kapan pun Tuan Ken, karena memang sudah banyak dosa yang aku lakukan. Dan kematian adalah jalan terakhir tuk menebus segalanya,” balas Laudya seraya berjalan pergi.


Wiliem menatap Laudya dengan tatapan yang sedih, entah kenapa rasanya Wiliem begitu sedih melihat Laudya yang pergi dengan mengatakan perkataan itu. Berbeda dengan Messi yang sangat ingin membuat wanita itu celaka atau pun membuatnya terbunuh.


“Tuan Ken, Taun Wildan sudah berada di rumah dengan Nona Wendy. Kau diminta tuk segera menemuinya," ucap Elina.


“Kak, bolehkah aku ikut?” tanya Alex menatap Ken.


“Bagaimana dengan Wiliem,” jawab Ken.


“Aku juga akan ikut, aku sudah membaik dengan pengobatan darimu. Jadi aku mohon biarkan aku ikut membantu,” seru Wiliem.


Ken mengangguk dan membiarkan Wiliem dan Alex tuk ikut bersamanya. Wiliem masih mengingat apa yang sudah dia katakan sebelum Ken datang tentang Vanya dan Roy, begitu juga tentang dirinya dan Wil disaat malam itu.


-Satu jam lalu

__ADS_1


“Kau kemari setelah membuat hubunganku dengan Vanya hancur? Kau sudah membuat duniaku kembali berputar seperti dulu, huh!!” hardik Wiliem saat melihat Laudya yang berada di depannya.


“Kau mengadu domba diriku dengan istriku, kau bekerja sama dengan Roy yang sangat menyukai Vanya dan mencoba merebutnya dariku. Setelah itu, kau membuatku merasa bersalah karena sudah tidur denganmu wanita jala** yang seharusnya tidak aku percayai lagi,” sambung Wiliem dengan begitu marah.


Laudya masih tetap diam tidak bersuara, membiarkan Wiliem menumpahkan kemarahannya pada dirinya. Laudya sudah memikirkan apa yang akan terjadi saat dirinya bertemu dengan Wiliem dan bagaimana dia akan menjelaskan semuanya.


“Katakan semuanya! Aku sudah muak denngan dirmu yang selalu memakai topeng tuk menutupi siapa kau yang sebenarnya,” ujar Alex dengan tatapan tajam.


Terlihat Iren dan dua anak buahnya yang ikut menemani Laudya menjaganya dari kejauhan. Laudya menatap wajah Wilem dan Alex dengan tatapan sendu, lalu menghembuskan napas panjangnya.


“Baiklah, aku akan memberithukan yang sebenarnya kenapa malam itu, Vanya keluar menemui Roy. Semua itu memang karena ancaman dari Roy yang mengatakan jika dia akan menyakiti Elina dan juga akan memaksaku kembali pada Zidan, istrimu itu terlalu naif yang begitu saja percaya dan sepertinya sudah menganggap aku wanita yang baik,” jelas Laudya dengan tersenyum tipis.


“Roy memang mengatakan itu hanya karena ingin bertemu dengan Vanya tuk terakhir kalinya, buktinya setelah itu Roy tidak melakukan apa pun padaku atau pun Elina,” sambung Laudya.


“Lalu tentang foto itu?” tanya Wiliem.


“Tidak ada yang aneh dengan foto itu, mereka hanya bercanda dan saling berpelukan perpisahan tanpa melakukan hal yang lebih. Istrimu memang sangat polos dan sangat menghargai setiap orang yang dia temui. Foto yang di kirimkan padamu itu sudah di lakukan pengeditan, mereka berharap kau dan Roy bisa saling membunuh karena Vanya dan membuat Vanya pun terbunuh karena rasa bersalahnya. Semua itu ide dari Zidan,” jawab Laudya.


“Lalu kenapa malam itu kau bisa bersama dengan Wiliem dalam satu kamar hotel?” tanya Alex.


“Itu hanya kesalahan, aku hanya menolong Wiliem yang terpengaruh obat. Setelah itu aku pergi, seperti biasanya aku ini kan wanita jala** yang sudah terbiasa melakukan itu,” jawab Laudya tersenyum.


Wanita itu sungguh pintar menyimpan perasaannya dan menutupi apa yang dia rasakan sebenarnya. Setiap ucapannya bertolak dengan apa yang hatinya rasakan.


“Kau harus segera menmui Vanya dan meinta maaf padanya, Vanya wanita yang sangat baik dan juga wanita yang sangat menyayangi dirimu,” ucap Laudya menatap Wiliem.


Wiliem masih mengingat akan smeua itu sampai dia tidak mendengar jika Alex memanggilnya tuk turun karena mereka sudah sampai di rumah Wildan.


“Apa yang kau pikirkan, Wil?” tanya Ken seraya menepuk bahu Wiliem dan menyadarkannya dari lamunannya.


“Maafkan aku, apa kita sudah sampai?” tanya Wiliem menatap ke luar jendela.


“Ya, mari kita masuk!” ajak Ken sambil mengangguk.


Semuanya masuk ke dalam sebuah rumah sangat unik dengan bangunan yang terbuat dari kayu namun tetap menawan, terdengar dari dalam suara Wildan yang sedang berteriak penuh kemarahan. Ken dan Alex merasa khawatir pun akhirnya berlari melihat apa yang terjadi.


Ken dan Alex terkejut dengan apa yang di lakukan Wildan pada Arga dan Messi yang sudah tersungkur di atas lantai, sedangkan Elina hanya diam berdiri menunduk melihat kedua adiknya yang terlihat kesakitan.


“Apa yang kau lakukan pada merka, huh?” tanya Ken dengan suara yang tak kalah kerasnya dengan Wildan.


Alex membantu Messi dan Arga tuk bangun, kedua pemuda itu meringis kesakitan di bagian perutnya. Terlihat bibir mereka pun sedikit robek mungkin  karena sebuah tamparan atau pukulan dari Wildan.


Wendy dan Elina terkejut karena teriakan dari Ken, Wildan hanya mengusap kasar wajahnya dan meremmas rambutnya dengan kasar.


“Jangan menyalahkan mereka dengan semua yang terjadi pada Vanya atau Zee, karena semua ini adalah masalah keluargaku dan aku hanya meminta bantuan padamu. Atau kau terbawa dengan suasana hatimu?” tanya Ken menyindir Wildan.

__ADS_1


“Jangan menyindir diriku! Kau urusi saja adik-adikmu itu,” seru Wildan seraya berjalan pergi.


“Kalian tidak apa-apa?” tanya Alex menatap Messi dan Arga.


“Terima kasih, Tuan. Kami tidak apa-apa,” jawab mereka bersamaan.


Wendy menepuk bahu Elina, “Bawa adikmu itu dan obati mereka!”.


Elina pun berjalan mendekati Messi dan Arga dan menarik tangan keduanya tuk pergi dari ruangan itu dengan berjalan pelan.


“Hati-hati! Rasanya pasti sangat tidak enak,” ledek Elina menatap kedua adiknya.


“Cih,” jawab Messi dan Arga bersamaan dengan memalingkan wajah mereka.


Elina merangkul kedua adiknya dengan tersenyum tipis, Wiliem yang melihat itu hanya bisa memandang dengan tatapan kosong. Alex dan Ken menemui Wildan yang sedang meminum alkohol langsung dari botolnya.


“Kau bersennag-sennag hari ini?” tanya Kenn merebut paksa botol tersebut.


Sedangkan Alex memilih meminum beer kaleng yang berada di atas meja, Wildan hanya bisa memutar matanya malas karena melihat tingkah Ken dan Alex yang seakan tidak ada masalah.


Wiliem masuk dan duduk di dekat Alex tanpa mengambil apa pun, entah apa yang lelaki itu pikirkan. Wildan hanya menatapnya sekilas dan memilih duduk di seberang mereka.


“Apa yang sekarang kita lakukan tuk menemukan Zee yang tidak kita ketahui dimana tempatnya,” ucap Wiliem tiba-tiba saja dan membuat ketiga lelaki itu saling berpandangan.


“Kita segera menemukannya, aku sudah tahu dimana Zidan membawa Zee,” ujar Wendy dengan santainya masuk dengan membawa tablet di tangannya.


Wildan menarik tablet itu dan melihat titik tempat Zidan membawa Zee, Ken dan Alex pun ikut melihat dimana tempat itu.


“Kita berangkat sekarang, tempat itu lumayan jauh karena di balik tebing. Jangan sampai Zidan melakukan hal yang tidak-tidak pada Zee,” ucap Wendy.


Elina, Arga dan Messi masuk dengan menggunakan baju lengkap anti peluru dengan membawa beberapa rompi tuk di gunakan semuanya.


“Semua sudah siap, semuanya sudah menuju alanta. Kita akan menggunakan helikopter,” ucap Elina.


Alex dan Ken terlihat terkesima dengan persiapan ketiga anak buah Wildan itu, Wiliem pun sampai terbengong melihat Elina yang terlihat keren dengan setelan baju lengkapnya.


Tak lama kemudian terdengar suara dering ponsel dari saku celana Ken yang ternyata Laudya yang menghubunginya. Ken mengangkat panggilan itu dan terlihat wajahnya menjadi merah padam karena marah,.


“Baiklah, kami juga akan segera ke sana, kau harus menepati janjimu. Kau harus menjaga kedua adikku tuk tetap selamat!” seru Ken dengan nada dingin.


Setelah mengucapkan itu, Ken dan yang lainnya masuk ke dalam helikopter yang sudah siap lepas landas. Wendy yang memang putri kerajaan pun terlihat garang saat sudah menggunakan baju lengkapnya, menguncir kuda rambut pirang panjangnya.


“Ahh, sudah lama aku tidak olah raga tembak. Bagian luar serahkan padaku, kalian bisa langsung pergi masuk ke dalam dan melihat keadaan Zee dan Vanya,” ucap Wendy.


“Yes, Mam!” seru Elina dan kedua adiknya bersamaan.

__ADS_1


Wildan hanya tersenyum tipis melihat sang kakak yang terlihat bahagia karena bisa ikut baku tembak. Wendy adalah putri dari kerajaan Amerika tapi dia juga seorang tunangan dari seorang mafia yang terkenal.


Bersambung...


__ADS_2