
Laudya masih belum sadarkan diri karena obat bius, namun wanita itu tetap dalam keadaan baik-baik saja. Karena yang menculiknya adalah lelaki yang tidak mau memegang wanita kotor seperti dia, lelaki itu hanya menyentuh satu wanita yang sangat dia sayangi saja.
“Baiarkan dia tidur, janngan bangunkan dia selama dia tidur. Setelah bangun beri dia makan dan segera kabari aku!” perintahnya seraya pergi keluar.
“Baik, Tuan Muda.” Para bawahannya menunduk memberi hormat.
Lelaki itu berjalan santai ke dalam ruangan lainnya, ruangan pribadinya yang sangat dia sukai. Setiap dinding terdapat sebuah lukisan yang sangat besar yang bergambarkan gadis muda yang sedang tersenyum dengan memegang payung di tangannya.
“Siapa pun yang membuatmu menangis akan merasakan balasannya dariku, termasuk diriku pun,” ucapnya dengan memandang lukisan itu.
Roy, lelaki itu adalah dirinya. Lelaki yang tidak bisa
melupakan rasa cinta dan sayangnya pada Vanya, wanita yang ia lihat pertama kali di seuah halte bus sepuluh tahun silam. Roy lelaki yang baik dengan segala sikap dan sifatnya, akan tetapi akhir-akhir ini lelaki itu berubah menjadi kejam karena rasa ingin memilikinya dan rasa yang tak terbalaskan itu.
Roy sedang memikirkan siapa yang memotret dirinya dan Vanya saat malam itu, karena Roy sangat yakin jika yidak ada siapa pun di sana selain dirinya dan Vanya. Dan sopirnya saja, apakah mungkin jika sopirnya itu berkhianat?
TOK…TOK… TOK…
“Tuan, Laudya sudah bangun. Tapi, dia menolak tuk makan sebelum mengetahui siapa yang membawanya kemari.” Terdengar suara dari bawahannya.
Roy pun akhirnya membuka pintunya dan melangkah kembali ke ruangan Laudya, saat Roy masuk terlihat Laudya sedang duduk di sudut ruangannya dengan memeluk tubuhnya.
“Ro-Roy, jadi kau yang menculikku?” tanya Laudya menatap tajam Roy.
“Ada apa dengamu? Huh ... kau merasa takut, wanita liar sepertimu bisa merasa takut juga?” tanya Roy menyeringai.
“Mau apa kau menculikku, apa salahku?” tanya Laudya dengan nada bergetar.
Roy yang mendengar itu pun mengerutkan keningnya karena merasa ada yang aneh dengan Laudya. Akhirnya, Roy meminta semua anak buahnya tuk keluar dari kamar, Roy mendekati Laudya yang semakin terlihat ketakutan.
“Ada apa denganmu?” tanya Roy dengan nada rendah.
“Aku mohon lepaskan aku! Aku sudah tak ingin menjadi wanita ja**ng lagi,” isak Laudya begitu ketakutan.
Mata Roy membelalak saat mendengar ucapan dari Laudya. Yang dia tahu jika Laudya adalah wanita bayaran yang sangat menyukai tuk melakukan hubungan ranjang dan menipu pihak lawan dengan kecantikannya.
“Kau jangan berakting di depanku Laudya. Aku tidak akan mempan dengan air mata palsumu,” ucap Roy dengan nada dingin.
Laudya hanya menggeleng dengan masih beruraian air mata, tubuhnya bergetar dan Roy melihat sesuatu di daerah lehernya yang penuh dengan kissmark. Roy dengan cepat menarik tangan Laudya sampai wanita terbawa oleh tarikan Roy.
__ADS_1
“Lepaskan aku! Jangan sentuh aku, bukannya kau sangat jijik denganku?” tanya Laudya mencoba melepas tangan Roy.
Bugh, Roy melempar tubuh Laudya di atas ranjang, dengan perlahan Roy mendekatinya bahkan seakan ingin menindihnya. Roy menarik dress yang di gunakan Laudya sampai robek dan barulah terlihat betapa banyaknya kissmark di tubuhnya.
“Wanita jala** sepertimu sungguh tidak tahu malu. Baru saja berapa menit yan lalu kau bilang tidak mau menjadi wanita jala** lagi, lalu apa yang ada di seluruh tubuhmu ini?” tanya Roy tersenyum menghina Laudya.
“Lelaki mana yang memuaskan dirimu, malam kemarin? Apa kau sangat puas dan mendapat banyak uang?” tanya Roy kembali.
Laudya menggeleng karena sejak dulu sampai sekarang ucapan Roy tidak pernah berubah pada dirinya. Entah kenapa, Roy seakan sangat membencinya.
“Apa salahku selama ini padamu? Sejak awal bertemu kau sudah sangat membenci diriku, sedangkan aku tidak tahu apa salahku,” ucap Laudya masih menangis.
Roy menyeringai mendengar ucapan dari Laudya yang mungkinn sudah lupa dengan semua dosa-dosanya di masa lalu. Roy mencengkram pipi Laudya lalu menatapnya dengan tajam.
“Kau ingin tahu apa dosamu padaku? Apa kau sungguh lupa karena dosamu sudah sangat banyak, Laudya. Kau lupa siapa yang membuat bibiku meninggal, kau juga lupa siapa dalang yang membuat pamanku membunuh anaknya dengan sadis dan apa kau lupa siapa yang telah membuat adikku di perkosa, huh?”
teriak Roy penuh amarah.
DEG,,,
Air mata Laudya mengalir deras, jantungnya berdetak sangat kencang bahkan Laudya sampai merasa begitu kesakitan, kini terdengar kembali rintihan orang-orang yang telah dia lukai. Bahkan setiap adegannya pun
“Kau menangis karena baru mengingat kembali apa yang sudah kau lakuakn di masa lalau? Adikku di perkosa oleh anak buah paman karena kau salah mebawa orang, paman membunuh Ruly karena kau menghasutnya dan bibiku kau bunuh dengan sangat kejam. Jangan kau kira aku tidak tahu semua itu,” ucap Roy dengan sangat dingin.
Roy kembali mendorong Laudya ke ranjang lalu bangun dan segera bangun menjauh darinya. Roy melihat telapak tangannya dengan rasa jijik karena sudah menyentuh Laudya.
“Sampai kau mati pun aku tidak akan percaya kau sudah berubah dan memaafkanmu. Dosa-dosamu akan menenggelamkanmu di dasar neraka, membelenggumu dengan sangat kuat,” umpat Roy dengan sangat keras.
Laudya menangis dengan sangat keras, sudah cukup dirinya merasa sakit karena masa lalu yang Roy buka kembali dan sekarang lelaki itu mengumpat dan menyumpahinya. Roy pergi keluar karena sudah tidak tahan melihat Laudya, bisa saja dia membunuhnya detik itu juga.
Roy menguyur tubuhnya besertajuga dengan pakaiannya, sungguh lelaki itu meras jijik karena memegang Laudya. Roy melepas semua pakaiannya
lalu membuangnya di tong sampah. Membersihkan seluruuh tubuhnya, terutama tangannya yang memegang Laudya.
“Maafkan, aku yang sudah melanggar janjiku pada kalian. Maafkan aku yang menyentuh wanita kotor itu,” isak Roy menatap telapak tangannya.
Roy duduk bersimpuh di atas lantai,membiarkan air menguyur seluruh tubuhnya. Tangisan Roy semakin hebat jika sudah mengingat akan adik, sepupunya dan juga bibinya. Lalu kenapa, Zidan bisa sangat menyayangi Roy? Itu karena, Roy seorang lelaki dan Zidan berharap bisa membuat Roy seperti dirinya.
Sedangkan tanpa Zidan tahu, di dalam Roy begitu membenci dirinya.
__ADS_1
Di dalam ruangan, seorang wanita masuk membawa kotak yang berisikan baju. Laudya menatapnya dengan mata yang membulat, wanita yang sangat
dia kenal.
“Ganti pakaianmu, lalu habiskan makananmu, jangan membuat Tuan muda semakin marah padamu!” perintahnya.
Laudya masih menatapnya, bibirnya bergetar seakan ingin mengatakan sesuatu. Namun suaranya seakan tertahan di kerongkongan. Wanita pun segera keluar setelah memberikan baju tanpa berbicara apa pun lagi.
“La-Lauren, itu kah kamu?” teriak Laudya yang berusaha berjalan dengan sisa tenaganya. Namun wanita itu malah terjatuh di atas lantai dengan menangis.
Lauren yang mendnegar teriakan Laudya hanya diam di balik pintu, tidak terlihat kesedihan atau pun keterkejutan seperti apa yang Laudya
perlihatkan. Wajahnya begitu datar tanpa ekspresi, seakan wanita itu tidak memiliki emosi dan perasaan.
“Namaku bukan Lauren. Aku Cecilia,” ucapnya dengan nada dingin.
Wanita itu pun pergi meninggalkan Laudya yang masih saja meraung memanggil namanya, banyak sekali hubungan yang tidak bisa di jelaskan di sini. Yang Cecil tahu, keluarganya hanyalah Roy. Pemuda baik yang telah menolongnya dan memberikannya kehidupan kedua sebagai tangan kanannya.
Cecil masuk ke dalam kamar Roy dan menyiapkan pakaian dari Roy. Sudah jadi pekerjaannya melakukan apa pun untuk Roy saat Tuan mudanya berada di rumah. Roy keluar dari kamar mandi dan melihat Cecil.
“Kau sudah menemui wanita itu?” tanya Roy.
“Sudah.”
Roy tersenyum tipis melihat ekspresi Cecil yang tetap diam dan seakan masa bodoh dengan keberadaan Laudya.
“Aku sudah menyiapkan bajumu, setelah ini segera makan! Jika tidak kau bisa demam,” ucap Cecil seraya keluar kamar.
“Huh, kau memang tidak pernah melihatkan ekspresimu. Tapi setiap tindakanmu padaku sudah lebih dari perhatian, Cecil,” ucap Roy tersenyum.
Cecil yang mendengar itu hanya menuduk, terlihat binary kebahagian di matanya. Cecil berjalan menjauh dari kamar Roy dan kembali ke ruangannya.
“Hanya kau yang aku punya. Hanya kau yang menjadi alasanku hidup dan hanya kau yang aku sayangi di dunia ini Roy,” gumam Cecil melihat foto lamanya dengan Roy saat masih remaja.
Laudya yang masih menangis pun teringat akan masa lalu dirinya dengan sang kakak Lauren, bagaimana dia yang sangat di sayangi oleh dia. Bahkan Lauren melakukan apapun demi dirinya, sampai Diana kejadian dirinya yang kejahatan dengan merebut calon suami dan membuatnya meninggalkan Lauren
dan memilih dengan dirinya. Hingga akhirnya, Lauren memilih bunuh diri dengan menenggelamkan dirinya dilaut.
“Kau masih hidup, La. Kau masih hidup di dunia ini,” ucap Laudya lirih menutup mulutnya.
__ADS_1
Bersambung🍂🍂🍂🍂