Takdir Cinta

Takdir Cinta
Episode 302


__ADS_3

Malam itu, Alex dan Wil bertemu dengan Zidan di sebuah restoran bintang lima. Terlihat kedua lelaki itu menjadi pusat perhatian dari pengunjung di sana. Restoran itu sepertinya sangat elit karena tak terlihat banyak pengunjung disana. Pengunjung disana juga memakai pakaian yang formal.


“Kenapa harus di tempat ini,” gumam Wiliem.


“Bernostalgialah, Wil,” ucap Alex meledek sang adik.


Wiliem hanya memalingkan wajahnya dari Alex, sungguh Wil semakin waspada dengan Zidan dan Laudya. Tanpa mereka ketahui, jika Zee memberitahukan kepergian mereka pada Sofia. Zee meminta bantuan darinya tuk terus memantau anak-anaknya.


“Jangan cemas, boy. Kita akan bisa menghadapi dia,” bisik Alex.


Wiliem hanya mengangguk dan berusaha tetap santai, terlihat Zidan berada di sebuah meja bundar besar dengan di temani  beberapa wanita di sampingnya. Zidan melambaikan tangannya pada Alex dan Wil, akhirnya mereka pun duduk didepannya.


“Selamat datang Tuan Alexander dan Tuan Wiliem,” sapa Zidan.


“Selamat malan Tuan Zidan,” sahut mereka bersamaan.


Zidan memepersilakan mereka tuk duduk dengan di temani para wanita di sampingnya. Alex  hanya tersenyum tipis dengan taktik Zidan.


“Kenapa mereka di sini? Bukankah ini masalah perusahaan?” tanya Wiliem.


“Oh, anda tak perlu hiraukan mereka, wanita-wanita ini hanya tuk mendampingi saja,” jawab Zidan.


“Biaklah, jika seperti itu. Kita mulai saja pembicaraan kita, tk perduli dengan wanita-wanita cantik ini,” ucap Alex.


Zidan tersenyum puas karena menurutnya Alex lebih cepat menyesuaikan diri dengan dirinya dari pada Wiliem. Apalagi, memang Zidan mengincar Alex tuk bisa mengalahkannya.


“Jadi saya akan membangun hotel di dekat laut di Venezia, saya ingin anda bisa memberikan semua property yang sangat bagus tuk itu semua!” pinta Zidan.


“Tentu, anda akan mendapatkan semua  yang terbaik dari perusahaan kami, apalagi ini menjadi bisnis internasional,” balas Alex.


“Kami akan pastika anda puas dengan hasilnya dan bisa senang bekerja sama dengan  Sanders Company,” sambung Wiliem.


Zidan mengangguk sembari membaca semua yang tertulis di dokumen, matanya dengan jeli  membaca setiap kontrak itu, Zidan tak akan tahu ada sesuatu  dalam tulisan yang Zee buat. Wanita itu memang sangatlah ahli membuat sebuah surat  perjanjian  kontrak.


“Ya baiklah, saya setuju dengan semua isi kontrak ini. Dan saya sudah memperbaiki kontrak yang sebelumnya tak kau setujui itu,” ucap Zidan seraya menyerahkan dokumen itu.

__ADS_1


Wiliem membaca kembali surat kontrak itu dan sudah bisa di terima, akhirnya mereka pun mengakhiri pertemuan itu dengan makan malam bersama.


“Nikmatilah malam-malam di sini! Sebelum itu, saya akan menyiapkan hidangan malam tuk merayakan kerja sama perusahaan kita,” ucap Zidan.


Alex dan Wil hanya bisamenyetujui itu dan menerima semua fasilitas yang telah Zidan berikan pada mereka berdua. Terlihat Laudya masuk bersama para pelayan, wanita itu memang sangat pandai membuat para mata lelaki terpesona dengan seluruh yang ada pada dirinya.


Malam itu, Laudya begitu cantik dan begitu elegan denga gaun belah samping yang sangat melekat pada tubuh, melihatkan kaki mulus jenjangnya. Belahan dada yang sangat rendah.


“Hallo, honey. Kau hampir terlambat datang, karena kami baru saja selesai membicarakan rapatnya,” ucap Zidan seraya mencium pipi Laudya.


“Maafkan aku, aku baru saja selesai pemotretan. Oleh karena, maafkan bajuku yang terlihat tak sopan ini,” balas Laudya menunduk malu.


“Cih,” lirih Wil sembari memalingkan wajahnya.


Sedangkan Alex hanya diam sembari menatapnya dengan senyuman tipis lalu meminum anggur yang berada di dalam gelasnya. Laudya berpikir jika dia sudah bisa menarik perhatian dari  Alex.


“Hallo Tuan Wiliem dan Tuan Alexander, apa kabar anda sekalian? Kita bertemu lagi,” sapa Laudya.


“Ya,kami baik,” jawab Alex.


Laudya melirik kearah Wiliem yang memilih menatap ke luar jendela melihat langit yang berkelap kelip di langit Italy.


Para wanita-wanita yang sedari tadi berada di dekat Wiliem dan Alex pun mengundurkan diri dan menyisakan mereka berempat saja . Tak ada obrolan yang keluar, hanya da dentungan sednok dan pisau saja, Laudya menatap ke arah Alex dan sekilas menatap Wiliem yang hanya fokus pada makanannya saja.


“Kau masih saja seperti dulu, Wil.Tak ada yang berubah pda sikapmu itu,”batin Laudya terlihat senyuman tipis di bibirnya.


Alex terus memperhatikan Laudya yang terus melirik ke arah Wiliem, Wiliem  permisi tuk pergi ke toilet sebentar karena merasa tak enak pada perutnya.


“Kau tidak apa-apa Wil?” tanya Alex cemas namun matanya menatap tajam pada Zidan.


“Is ok, aku tak apa,”  jawab Wil dengan menepuk bahu Alex.


Wiliem bergegas menuju toilet dan mengeluarkan semua isi perutnya yang sudah dia tahan sejak tadi. Terasa pahit di lidahnya, napsnya naik uturn karena terus menahan rasa muak di perutnya.


“Kenapa aku begitu mual saat melihat Laudya? Sungguh aku merasa sangat  jijik dengan wanita itu,” ucap Williem mengusap mulutnya dengan tisu.

__ADS_1


Wiiem menatap wajahnya dalam cermin, semua bayangan antara dia dan Laudya saat dulu tiba-tiba saja berputar kembali di kepalanya. Bahkan di setiap kedipan  matanya semua kenangan itu berputar seperti gulungan kaset.


“Huuh, benar kata pepatah jika cinta pertama itu akan sangat sulit di lupakan. Walaupun perasaanku tak seperti dulu tapi kenangan manis dan pahit itu akan tetap menjadi history dalam hidupku,” gumam Wiliem.


Laudya yang melihat kepergian Wil merasa  sedikit  cemas, mata elang Alex terus saja memperhatikan wanita itu. Sedangkan Zidan sedang menerima sebuah telpon entah dari siapa.


“Apa yang kau lihat?” tanya Alex.


“Tak ada, sepertinya kau ingin sekali tau itu,” jawab Laudya.


“Jangan bercanda, Lau. Kau itu hanya barang biasa saja, taka da daya tariknya sama sekali,”  ucap Alex sinis dengan meminum anggurnya.


Laudya menatap tajam ke arah Alex dengan begitu kesal, tak hanya karena ucapannya saja. Namun, Alex juga menghinanya yang seakan-akan hanya barang rongsokan yang begitu menyedihkan.


“Huh, ucapanmu masih sama saja, Alexander, sama seperti sepuluh tahun lalu. Oh, apa kau juga mengingat akan kejadian malam itu?” tanya Laudya degan seringainya.


“Apa yang harus ku ingat, tentang wanita seperti dirimu? Jawab Alex begitu dingin.


Deg,,,


Laudya merasa begitu terkejuit dengan tatapan mata Alex yang seakan ingin membunuhnya. Laudya dengan sangat susah menahan rasa takutnya dan mencoba tenang dengan meminum anggurnya.


“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Wiliem yang baru saja datang.


“Tidak ada, hanya omong kosong saja,” Jawab Alex.


“Tuan Wil, Alex apakah kalian ingin ikut denganku ke pesta?” tanya Zidan.


“Pesta? Dimana itu da pesta miliksiapa itu?” tanya Alex.


“Pesta dari ponakanku, dia baru saja pulang dari Amerika,” jawab Zidan.


“Aku ikut, tapi tidak tahu dengan Wiliem. Bagaimana, Wil apa kau ingin ikut?” tanya Alex.


“No, thank. Kalian saja yang pergi, aku akan kembali ke kamarku saja,” jawab Wil.

__ADS_1


Tanpa di sengaja, Laudya menatap Wil yang tak ikut pergi ke pesta. Alex terus mengawasi  Laudya, melihat gerak gerik dari wanita itu dan terus waspada pada Laudya karena takut melakukan sesuatu pada sang adik.


Bersambung 🍂🍂🍂


__ADS_2