
Wiliem membawa Zee kembali ke Finlandia, di dalam pesawat Wili begitu memperhatikan Zee. Apalagi semenjak Zee berucap akan menerima dirinya, Wili semakin berani tuk menggenggam tangan Zee dengan erat tanpa ingin melepasnya.
Zee hanya tersenyum mendapatkan perlakuan tersebut, tak di pungkiri jika sekarang Zee tak merasakan apa pun pada Wili. Dia hanya merasa nyaman sebagai teman, Zee merasa di lindungi oleh Wiliem.
"Maafkan aku, yang sudah membohingi dirimu Wil. Tuk sekarang aku akan bertahan sebagai temanmu, biarkan saja aku yang menderita. Asalkan aku bisa melihatmu dan Alya bahagia," batin Zee.
"Maafkan aku, Zee sudah berbohong tentang malam itu. Bukan aku, yang bersama denganmu. Dia itu Alex, tapi kau tahu Zee. Biarkan aku tuk mencintai dirimu tuk sebentar saja! Karena, aku tahu kau dan Alex sudah di takdirkan akan bersama," batin Wiliem.
Wiliem dan Zee menyimpan sendiri kebohongan itu masing-masing. Berharap akan semuanya berjalan dengan apa yang mereka inginkan. Tapi, tanpa mereka tahu jika kebohongan itu kan menjadi bumerang tuk mereka di kemudian hari.
Sama seperti hari ini, sudah ada yang tersakiti. Sudah ada yang begitu marah, hatinya sudah hancur dan terluka. Akan tetapi, semua itu masih bisa dia tahan dengan satu keyakinan. Hati tak akan bisa berbohong mana yang sesungguhnya yang menjadi miliknya.
Alya begitu gembira mendengar jika Mommy nya akan segera kembali. Alya menjemput Zee bersama dengan Sofia dan Alex.
Sofia sedari tadi sudah melihat Alex yang terus diam, tak banyak bicara, terlihat sedang menahan sesuatu.
"Uncle," panggil Alya seraya menarik-narik jasnya.
Alex yang sedang melamun pun tersadar dan langsung berjongkok agar bisa melihat wajah Alya.
"Ya, ada apa?" tanya Alex.
"Uncle, apakah mereka masih lama? Alya lelah menunggu," jawabnya dengan mata yang sudah sayu.
"Kau mengantuk?" tanya Alex.
"Heem," ucapnya singkat seraya memeluk Alex.
Alex terkejut dengan sikap Alya, dia berani memeluknya tanpa berbicara dulu. Alex langsung menggendong Alya. Sofia terkejut melihat Alex menjadi lembut seperti itu, karena memang pada dasarnya Alex tak menyukai anak-anak.
Alya mengigau memanggil nama sang Ayah. " Daddy, Al rindu Daddy," ucapnya.
Tiba-tiba jantung Alex seakan bereaksi saat mendengar ucapan dari Alya.
"Astaga, kenapa jantungku tiba-tiba sesak? Ada apa ini?" batin Alex.
Terlihat tubuhnya sedikit gemetar, keringat dingin susah membasahi tubuhnya. Alex masih menggendong Alya tapi sekarang dengan posisi duduk.
Sofia menghampiri Alex karena wajah sang putra yang sedikit memucat.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Sofia.
"Im fine, hanya jantungku sedikit sesak. Mom," jawab Alex.
"Kemarikan, Alya! Jika kau merasa berat," pinta Sofia.
"Jangan! Biarkan dia tertidur, Mom!" balas Alex.
Terlihat Alya tertidur pulas di dada bidang Alex. Dengan pelannya, Alex mengusap punggung Alya.
Terlihat Wiliem dan Zee keluar bersama, melambaikan tangan pada sang Mommy.
Zee melihat Alex yang terduduk dengan menggendong sosok anak kecil sembari menutup matanya.
"Al," lirih Zee seraya berjalan cepat menghampiri Alex.
Zee pun memegang bahu Alya, namun segera di tepis oleh Alex yang tak tahu itu Zee.
"Alex," panggil Zee.
Alex membuka matanya, melihat siapa yang menyentuh Alya.
"Zee, sore aku kira siapa," ucap Alex mengusap kasar wajahnya.
Tangan Alex masih melingkar pada tubuh Alya yang sama sekali tak terganggu dengan garapan yang di lakukan Alex.
"Maaf, kau pasti repot karena Alya tertidur," ucap Zee tak enak hati.
"Is ok. Biarkan dia tidur! Lebih baik kita segera pulang!" perintah Alex.
Sofia dan Wiliem pun berbicara banyak tentang apa yang dia lihat di Indonesia. Alex dan Zee berjalan berdampingan dengan Alya yang masih berada di gendongan Alex.
"Bagaimana perjalanan bisnis mu dan Wiliem?" tanya Alex.
"Ah, eh, ya. Semuanya lancar," jawab Zee gugup.
Alex melihat jika Zee sama sekali tak gugup atau salah tingkah dengannya. Apa dia benar-benar melupakan malam bercinta mereka?
Alex dan Zee duduk di kursi penumpang, Sofia dan Wiliem di depan karena harus menyetir.
Alya yang akan di pindahan pada Zee, menolak dengan terus memeluk Alex. Mengencangkan tangannya di leher Alex.
__ADS_1
"Aww, dia mencekik ku!" seru Alex.
Sofia dan Wiliem tertawa kecil melihat Alex yang begitu sulit melepas Alya.
"Astaga, anak ini menyusahkan saja!" seru Zee seraya ingin melepas paksa Alya.
"Daddy, no, Alya ingin sama Daddy," ucap Alya yang mengigau.
Zee menatap Alex, Alex hanya bisa menganggukan kepalanya tuk membiarkan Alya bersamanya.
Dengan tak enak hati, Zee membiarkan Alya bersama dengan Alex.
Ada senyuman yang berarti saat Wiliem melihat kedekatan Alex dan Alya. Sofia menatap Wili dan sekilas menatap Alex.
"Aku tak tahu apa yang akan kalian lakukan, kalian sudah dewasa dan bisa saling menjaga dan berbuat baik," batin Sofia.
Wiliem mengantar Zee pulang kerumahnya, Alex meminta ijin tuk ke kamar Alya tuk menidurkannya.
"Kau harus tidur di ranjangmu! Dengan begitu kau akan semakin nyenyak," ucap Alex, menidurkan Alya dengan perlahan.
Zee melihat sikap Alex yang begitu lembut pada Alya. Dirinya begitu heran, bukannya Alex tak menyukai anak-anak.
Setelah menidurkan Alya, Alex meregangkan tubuhnya yang begitu pegal karena menggendong Alya sejak tadi.
"Ahh,, malam itu saja aku begitu lelah dengan Mommy nya. Dan sekarang harus mengendong anaknya," ucap Alex.
Alex begitu saja berbicara tanpa dia tahu jika ada Zee di balik pintu dan mendengarkan apa yang dia katakan.
"Apa yang dia katakan? Malam itu, bukannya malam itu aku bersama dengan Wili? Lantas apa maksud dari ucapan Alex?" batin Zee, air matanya sudah mengalir tak tahu siapa yang benar.
Zee berjalan pergi menjauh dan masuk ke dalam kamarnya, dadanya begitu sesak. Siapa yang harus dia percaya, siapa di antara mereka yang berbohong?
Tap....
Tiba-tiba lampu di rumah Zee mati, Zee terkejut dan langsung berjalan keluar dengan mengendap-endap. Zee berpegangan di dinding, terdengar suara Alex, Wili dan Sofia di ruang tamu.
Zee tak bisa kesana, karena dirinya ada di lantai atas dan mereka di lantas bawah. Terlihat mobil Sofia pergi menjauh.
"Apakah mereka pergi?" ucap Zee yang masih berjalan pelan memegang dinding.
Zee berjalan menuju kamar Alya yang berada di samping kamarnya.
"Siapa kau? Wil, apakah itu kau?" tanya Zee.
Seketika suara itu terdiam dan tak menyahut, lalu dengan pelan lelaki itu mendekati Zee.
"Ya, ini aku!" serunya.
Zee bernapas lega karena ada temannya saat mati lampu seperti ini.
"Aku kira kau pulang?" tanya Zee.
"Bagaimana bisa aku pulang, disini sangat gelap dan sebentar lagi akan turun hujan," jelasnya.
Akhirnya mereka pun sampai di kamar Alya, disana ada sofa malas yang besar, jadi bisa tuk tempat duduk Zee dan Alex.
Ditemani sebuah lilin aroma terapi milik Alya, Zee dan Alex pub duduk berdampingan.
Ya, lelaki itu bukanlah Wiliem. Melainkan Alex, karena Wiliem sangat begitu lelah jadi Sofia meminta Alex tuk menemani Zee dan Alya.
"Kau masih belum tahu siapa Wili dan Alex, Zee?" batin Alex sedikit kecewa.
"Jika kau lelah tidurlah disamping Alya! Aku akan menunggu disini!" perintah Alex.
"Baiklah, aku sangat lelah. Kau juga beristirahatlah, karena perjalanan tadi sangat melelahkan," ucap Zee.
Alex hanya diam tak menjawab, dengan segera Alex merebahkan tubuhnya di sofa itu yang sedikit kecil tuk tubuh besar Alex.
Zee pun merebahkan tubuhnya di samping Alya. Malam itu Alex tak bisa memejamkan matanya sama sekali. Dia begitu kesal karena Zee tak bisa mengenali dirinya.
Zee yang terbangun karena ingin minum pun beranjak turun ke dapur dengan membawa lilin. Di sofa tak ada Alex disana, akhirnya Zee turun ke bawah. Disana ada Alex yang juga sedang minum.
"Kau ada disini?" tanya Zee.
Membuat Alex yang sedang minum terserah kaget dan hampir saja memuncratkan air itu.
"Haish, kau mengejutkanku! Bagaimana jika jantungku bermasalah, huh?" tanya Alex.
Zee tak menanggapi dengan serius, dia hanya tersenyum tipis seraya menuangkan air tuk dirinya minum.
"Bukannya jantungku sangat baik, normal, Wil? Apa yang kau takutkan dengan jantung sehat itu?" tanya Zee.
__ADS_1
Glek, Alex tertegun menelan saliva nya dengan susah, karena hampir saja dia kelepasan.
"Ahh, maksudku jika aku terkena serangan jantung bagaimana?" tanya Alex.
"Kau bisa bergurau juga ya, Wil," jawab Zee.
Alex kesal karena Zee terus-terusan memanggilnya Wil. Dan kesal karena Zee menertawakan dirinya.
Tawa Zee masih terdengar, wajahnya semakin cantik saat mihatnya tersenyum. Alex tak bisa lagi menahannya pun langsung menarik Zee kepelukannya.
Zee begitu terkejut, saat Alex melummat bibirnya dengan ganas. Alex mendekap tubuh Zee dengan begitu erat. Alex tak bisa lagi menahan hasratnya yang begitu menginginkan Zee.
"Tidak, ini tidak benar! Ciuman ini kenapa sama dengan ciuman malam itu?" batin Zee.
Zee mendorong tubuh Alex sampai ciuman itu lepas. Alex menatap Zee dengan napas naik turun begitu juga dengan Zee.
"Kau, kau siapa? Kalian kakak beradik kenapa membohongi diriku!" seru Zee dengan emosi.
Alex membulatkan matanya, melihat Zee yang sudah emosi. Alex mendekati Zee tuk mencoba menjelaskan.
"Stop jangan mendekat! Aku tanya siapa kau?" tanya Zee dengan sedikit membentak.
Alex pun kesana dengan sikap Zee yang tak mau di dekati oleh dirinya.
"Ok, fine. Lelaki malam itu aku, Alexander!" seru Alex dengan nada keras.
Zee menutup mulutnya tak percaya, dan tak menyangka jika Wiliem berbohong pada dirinya.
"Apa kau berharap, jika Wiliem yang bersamamu malam itu?" tanya Alex.
"Kenapa, kenapa kalian mempermainkan diriku?" hardik Zee, menatap tajam pada Alex.
"Mempermainkan dirimu? Jangan salahkan aku Nona Zee yang terhormat. Karena aku hanya menolongmu dari lelaki brengsekk seperti Charlie. Dan soal malam itu, aku tak mempunyai pilihan lain selain bercinta denganmu," balas Alex dengan begitu geram.
Zee mendengar dengan jelas apa yang semua Alex katakan. Zee juga telah menyadari dari ciuman tadi. Sungguh dirinya bodoh yang telah menyalahkan Alex atas ke tidak tahuan dirinya yang tak bisa mengenali mereka berdua.
Alex yang sangat kecewa pada Zee, menyalahkan dirinya atas apa yang Wili katakan padanya. Membuat Alex beranjak pergi dengan kesana meninggalkan Zee dan berencana pergi dari rumah itu.
Duarr, terdengar suara petir yang begitu keras di luar sana, banyak kilat terlihat dari luar. Zee baru menyadari jika Alex tak ada. Akhirnya mengejar Alex yang sudah pergi keluar dari rumahnya dengan hujan-hujanan.
"Alex, kembali! Kau akan sakit," teriak Zee, pada Alex.
Namun bukan Alex namanya jika tidak keras kepala, dia tak menghiraukan ucapan Zee. Alex terus berjalan di bawah derasnya hujan, beserta dengan banyaknya petir yang terus menggelegar.
"Dasar sial! Aku memang bukan lelaki baik seperti Wiliem yang masih mempertahankan perjakanya. Aku memang lelaki brengsekk yang mempunyai banyak wanita. Tapi apakah aku tak bisa berbuat baik," gumam Alex.
Tanpa Alex tau, jika.Zee berlari di belakangnya dan saat sudah dekat Zee memeluk erat tubuh Alex dari belakang. Alex begitu terkejut saat merasakan dekapan tersebut.
"Jangan pergi ku mohon! Jangan pergi," isak Zee, Zee sudah tak perduli akan dikatakan wanita seperti apa.
Yang jelas sekarang yang dia rasakan adalah tak ingin melihat Alex pergi dari sisinya. Zee menangis saat melihat punggung Alex yang semakin tak terlihat di telan oleh gelapnya malam dan hilang oleh rintikan air hujan.
"Lepaskan! Kenapa kau berlari dan menyusulku kemari, huh?" hardik Alex seraya berbalik menatap wajah Zee.
Zee hanya bisa diam, dia hanya bisa menangis tapi air matanya sudah bercampur dengan air hujan. Alex begitu kesana melihat Zee yang seperti itu pun kembali menciumnya.
Alex menarik tubuh Zee semakin dekat, Alex dan Zee sama-sama bercumbu menyatukan perasaan yang entah apa yang mereka rasakan. Ciuman kali ini, bukan hanya Alex yang bermain, melainkan Zee pun membalas ciuman dari Alex.
Malam itu hujan menjadi saksi bisu atas penyatuan cinta atau sayang dari dua insan anak adam hawa tersebut.
Tidak, masih ada satu pasang mata yang melihat kejadian itu dari dalam mobil. Hatinya begitu sakit melihat itu, tapi ada rasa bahagia juga yang dia rasakan. Karena bisa membantu mereka tuk bersatu.
Ya, dia adalah Wiliem. Dia merelakan Zee tuk Alex, sang kakak kembarannya yang menjadi palyboy agar bisa mendapatkan sosok wanita baik. Karena sebenarnya Wiliem tak bisa mencintai Zee, bahkan jika dia memaksa hatinya pun sama sekali tak bisa.
Karena di hati Wiliem hanya terus oleh sosok wanita cantik bule yang membuat jantungnya berdebar-deva jika melihatnya.
Di dalam kamar tamu Alex sudah berganti baju dengan memakai baju Sya yang selalu ada di kamar tamu. Sedangkan Zee berada di kamar Alya.
Zee menutup matanya, tapi setiap matanya tertutup dia akan teringat kejadian itu. Dia dan Alex kembali berciuman dan dia membalasnya.
"Astaga apa yang sudah aku lakukan?" batin Zee, dadanya begitu berdebar-debar sangat kencang.
Zee hanya bisa memeluk tubuh Alya, dan mencoba tuk tidur. Sedangkan Alex pun merasakan hal yang sama. Sepertinya playboy itu sudah benar-benar menyukai Zee, jantungnya brdegup kencang tak bisa di kendalikan.
Alex berjalan mendatangi kamar Alya, berharap bisa tidur tenang dengan memegang tangan Alya. Tapi saat Alex masuk terlihat ada Zee yang tidur di samping Alya.
"Haish, kenapa dia tidur disini?" lirih Alex, dia begitu frustasi karena tak akan bisa tidur tenang malam ini.
Alex pun mendekati ranjang, melihat wajah Alya yang begitu polos tertidur dengan pulas. Alex berpaling melihat wajah Zee, wanita cantik yang sudah berhasil mengambil hatinya, membuat harga dirinya hancur karena mencintai dirinya.
Tanpa sadar, Alex merebahkan tubuhnya di samping Zee. Memeluknya dari belakang, mencium wangi tubuh Zee yang membuat dirinya rilex dan bisa tertidur dengan cepat.
__ADS_1