Takdir Cinta

Takdir Cinta
Foto Keluarga


__ADS_3

Hari kian berlalu setelah sekian banyak kejadian dalam kehidupan Rafli dan Ana kini semua mulai membaik. Rafli kembali menerima Jimmy dan Alexa karena mencari sosok seperti mereka begitu langkah di dunia ini.


'' Ayah . Ini rumah siapa " tanya Dewa yang duduk di kursi belakang bersama bi Jum dan juga Arjuna .


'' Ini rumah kakek buyut mu Dewa '' jawab Rafli .


Ceklek


Para bodyguard bersenjata lengkap menyambut kedatangan mereka , bi Jum sedikit merasa ngeri akan hal itu .


" Kalian istirahat lah dulu " ucap Rafli ...


'' Tapi Dewa ingin ketemu buyut " ucap Dewa berbinar ...


'' Besok pagi ya sayang , hari ini telah malam. Lebih baik kita istirahat dulu . Oke '' ucap Ana lembut dan diangguki Dewa.


'' Mas mandilah dulu. Aku akan mengantar anak - anak kekamarnya " ucap Ana.


'' Jangan lama-lama " ucap Rafli .


'' Iya ... sudah sana mandi " ucap Ana dan diangguki Rafli.


Ketika sudah memastikan Dewa dan Arjuna tertidur kini Ana dikagetkan dengan bi Jum yang menatapnya.


'' Ada apa bi Jum " tanya Ana.


'' Kelihatannya nona begitu bahagia dengan tuan muda. Apalagi kelihatanya tuan cinta mati sama anda " ucap Bi Jum.


'' Iya bi . Aku begitu bahagia mempunyai suaminya nyaris sempurna sepertinya. Tapi bagiku Rafli sempurna meski sempurna itu hanya milik Tuhan kita. Rafli memegang begitu orangnya dari dulu , cintanya membuatku mencintainya. Dia tidak akan ku lepas bi, apapun yang terjadi " ucap Ana yakin.


'' Tapi bi . Apa saat aku melahirkan nanti aku bisa langsing lagi ya . Apalagi anakku empat bentar lagi . Apalagi banyak mata yang melihat suamiku seperti mendambakan suamiku " keluh Ana.


'' Nona pasti bisa langsing " ucap Bi Jum cepat , ia sangat tahu hal sensitif tentang Ana yaitu masalah berat badan.


'' Babat habis aja nyonya para pelakor . Jika pelakor itu salah " ucap Bi Jum lirih . Ia merasa dirinya sendiri termasuk pelakor meski awalnya sang suami membohongi dirinya lebih dulu.


'' Pasti bi..." ucapan Ana terhenti saat Rafli datang menghampirinya.


'' Bi sudah dulu ya. Bibi istirahatlah " ucap Ana dan di angguki ni Jum . Sedangkan Rafli menggendong Ana ala bridal style untuk memasuki kamar.


'' Mas tidak suka kau begitu mudah dekat dengan orang lain Ana. Meski itu pengasuh Arjuna sekalipun '' ucap Rafli dingin .


'' Maaf mas . Tapi tidak mungkin aku tidak dekat dengannya karena bagaimanapun Arjuna di asuh dengannya '' ucap Ana.


'' Tapi jaga batasanmu Ana . Mas tidak ingin ada Luna yang lain berada di sisimu " ucap Rafli.


'' Oh ya mas . Kok aku lupa ya...Luna apa kabarnya ya... Aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi " ucap Ana .


'' Buat apa memikirkan orang lain sayang . Kita pikir diri kita sendiri " ucap Rafli tenang.


'' Orang seperti itu tidak pantas berada di dekat mu " batin Rafli.


'' Ayo kita tidur , kalau tidak mas akan menjenguk anak kita " ucap Rafli dan seketika Ana segera naik ketempat tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut.


.


.


.


Benar saja pagi hari Dewa langsung mengetuk pintu kamar orang tuanya ... ia begitu bersemangat pagi ini . Dewa bahkan mandi sendiri dan sangat rapi saat ini . Sementara Rafli yang merasa terganggu dengan ketukan pintu segera membukanya .


'' Bunda , dimana yah " tanya Dewa .


'' Masih pagi Dewa . Bunda masih bobok " ucap Rafli masih menguap karena semalaman ia mengerjakan pekerjaan kantor.


'' Tapi Dewa ada janji sama bunda pagi ini " ucap Dewa menerobos masuk .


'' Bunda " ucap Dewa namun Ana hanya menggeliat dan kini membelakanginya.

__ADS_1


'' Ih... bunda bangun " ucap Dewa .


'' Ayo bangun bunda . Dewa nungguin bunda dari tadi " imbuhnya pantang menyerah .


'' Dewa ... Bunda capek nak " ucap Rafli memperingati.


'' Bunda janjiin apa sama Dewa " tanya Rafli mengelus puncak kepala anaknya.


'' Untuk bertemu buyut pagi ini " ucap Dewa penuh harap.


'' Baiklah . Jangan menganggu bundamu. Ayah bersiap dulu nanti kita akan menemui buyutmu " ucap Rafli lirih.


'' Baik ayah " ucap Dewa kini duduk manis di sofa .


'' Apa kerbau itu kalau tidur seperti bunda " gumam Dewa karena ia mengingat perkataan sang ayah dan kakeknya serta bibi bar-bar nya itu jika Ana kalau tidur sama hal nya seperti kerbau yaitu susah untuk dibangunkan kalau rasa malas menyerang nya.


Dewa menyerit heran saat sang ayah membawanya ke sebuah makam di halaman belakang mansion milik buyutnya.


'' Kek " lirih Rafli , ia menahan air matanya yang mulai memanas namun ia kali ini tak akan menangis di hadapan Dewa disini .


'' Rafli membawa Dewa. Ia ingin bertemu dengan buyutnya " imbuhnya.


'' Ayah " ucap Dewa kini bocah itu menangis memeluk erat sang ayah . Sungguh pertemuan yang tak di inginkannya.


'' Ini tempat peristirahatan tearkhir buyutmu Dewa dan juga kakek kecilmu " ucap Rafli .


'' Apa yang terjadi dengan mereka ayah . Mereka sakit apa " tanya Dewa.


'' Ini semua telah takdir Dewa " ucap Rafli.


'' Bicaralah dan sapa mereka . Meksi mereka hanya melihat dari sana " ucap Rafli. Dewa segera menjalankan perintah Rafli . Bocah itu menyapa seolah penghuni gundukan itu dapat mendengar dan menjawabnya . Tanpa di perintah Dewa mengirimkan doa yang ia tau, doa yang ia pelajari. Sementara seseorang dari balik jendela kaca menatap kedua pria nya sedang bersedih , ia adalah Ana . Wanita itu sengaja tak menepati janjinya kepada Dewa karena ia tak mau Dewa menangis mengetahui fakta yang ada , ia memilih mengingkari janjinya saat ini.


'' Maafkan bunda , Dewa " gumam Ana . Ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan menghilangkan wajah sembabnya akibat menangis sedari tadi.


'' Maafkan ayah Dewa jika keadaan ini membuat mu kecewa " ucap Rafli memeluk anak kesayangannya.


'' Tidak apa ayah . Kata kakek seseorang yang hidup akan kembali kepada yang menciptakan. Kakek Gun juga bilang tak ada kehidupan yang abadi " ucap Dewa.


'' Kita akan kesana setelah sarapan . Bagaimana " tanya Rafli dan diangguki semangat oleh Dewa.


'' Tapi ayah , apa ayah tidak punya foto nenek dan kakek buyut serta foto kakek kecil " tanya Dewa.


'' Ada . Apa Dewa mau lihat foto mereka " tanya Rafli.


'' Iya ayah . Dewa mau " jawab Dewa semangat.


Mata Rafli dan Dewa teralihkan saat mendengar langkah kaki Ana dan juga Arjuna yang sedang menuruni tangga .


'' Tunggulah disitu sayang . Kami akan naik keatas lagi " ucap Rafli segera beranjak bersama Dewa.


'' Ayo ayah akan menunjukkan kalian sesuatu " ucap Rafli lalu menggendong Arjuna yang sedari tadi mengulurkan tangan.


'' Sayang maafin bunda ya ... tadi bunda ketiduran " ucap Ana berbohong.


'' Tidak apa bunda . Ayah sudah membawa Dewa ketempat nenek dan kakek buyut tidur " jawab Dewa lalu mendapat ciuman sayang dari sang bunda.


'' Ayo kita ikut ayah " ucap Ana dan Dewa segera menyusul sang ayah dengan semangat.


'' Mas , itu ruangan apa " tanya Ana . Rafli menghela nafas karena melihat Ana berjalan.


" Apa bisa nanti kami kerumah nenek . Jika istri ku kini cepat sekali lelah " batin Rafli mulai gelisah , ia menatap Dewa sekilas.


" Lihat saja nanti " jawab Rafli segera menekan password pintu kamar tersebut .Awalnya pintu kamar ini sama seperti pintu kamar pada umumnya , tapi demi keamanan ia menggantinya dengan password .


Udara terasa sejuk sesaat pintu baru terbuka. Ruangan yang terang benderang itu terlihat begitu rapi. Banyak barang koleksi antik di dalamnya yang bernilai ratusan juta rupiah bahkan ada beberapa barang bernilai hampir satu milyar rupiah.


Rafli mendudukkan Arjuna di ranjang putih yang terlihat begitu rapi dan nyaman , lalu Ana ikut duduk disana mengamati sekitar. Entah kenapa bulu kuduknya sedikit meremang .


Sedangkan Dewa memperhatikan Rafli melangkah. Rafli membuka sebuah kain putih yang menutupi sesuatu dan terbukalah sebuah bingkai foto berukuran besar dan terlihat gambar seorang pria masih muda menikah dengan wanita yang begitu cantiknya alami dengan menggunakan adat Jawa dimana wanita itu berasal .

__ADS_1


Mata Dewa berbinar bahagia saat melihat foto kakek buyutnya dan juga nenek buyutnya begitu juga Ana , rasa penasarannya begitu terobati .


" Wauw ayah lihat . Kakek buyut begitu keren dan nenek buyut sangat cantik . Bunda saja kalah " ucap Dewa dengan polosnya membuat Rafli sedikit menahan senyum.


" Iya Dewa . Mereka ciptaan makhluk Tuhan yang sempurna " sahut Ana. Ia begitu kagum dengan apa yang ia lihat .


Rafli kembali membuka kain penutup satunya lagi memperlihatkan sebuah foto keluarga dimana seorang pria yang masih muda tadi menggendong seorang anak kecil yang hampir mirip seperti Dewa dan ditemani seorang wanita cantik dengan senyum bahagia mereka.


" Papa Abdi mirip Dewa ya mas " ucap Ana namun Rafli hanya diam karena fokus menahan kerinduan yang begitu kuat kepada dua orang yang kini telah tiada. Ana mengerti perasaan Rafli kini namun ia mencoba tenang dihadapan Dewa yang nampak begitu berbinar bahagia meski hanya mampu melihat fotonya saja.


Dan Rafli membuka bingkai foto terkahir yang disana terlihat seorang wanita cantik tengah mengandung dengan perut yang cukup besar dengan berpose begitu cantik dan elegan ditemani sang suami yang mengelus perut buncit sang istri yang diperkirakan satu atau dua bulan lagi melahirkan dan disisinya terdapat juga foto Abdi dan Wijaya Omar mencium pipi wanita yang tengah mengandung itu. . .


Hati Rafli berdesir hebat melihatnya kembali , terlihat begitu indah namun itu sebelum peristiwa naas itu terjadi .Rafli menangis dalam diam membalikkan tubuhnya menghadap sisi lain , ia tak ingin Dewa melihatnya menangis karena bocah itu kini tengah berkhayal tentang nenek dan kakek buyutnya .


Sementara Ana memegang perut buncitnya lalu ke kedua pipinya terlihat pose foto itu seperti yang mereka pernah lakukan saat ia sedang hamil Arjuna kala itu.


" Ayah . Dimana foto kakek kecil " tanya Dewa membuat Rafli segera tersadar untuk menghapus air matanya..


" Sayang nanti bunda jelaskan dibawah ya " bujuk Ana namun Dewa menggeleng tanda menolak bujukan Ana.


Rafli berjalan kearah mereka mencoba untuk menenangkan hati dan perasaannya.. Rafli menjelaskan secara detail dimana keberadaan kakek kecilnya Dewa itu membuat Dewa menangis tersedu dan langsung memeluk sang bunda yang kini tengah mengandung.


'' Bunda , jangan tinggalkan kami " isak Dewa membuat Ana meneteskan air matanya.


'' Ayah tidak akan membiarkan itu terjadi Dewa . Tidak akan pernah . Ayah akan tetap menjamin bundamu dan adik-adikmu akan berada di sisi kita " ucap Rafli memeluk Ana yang kini juga menangis.


" Apa yang ada di fikiranmu Dewa '' ucap Ana mengusap lembut surai indah dua pria yang memeluknya.


'' Dewa takut saja bunda '' jawabnya terisak.


'' Kalian tenanglah ... Semoga takdir itu tidak terjadi pada kita '' ucap Ana menenangkan , sebenarnya hatinya juga cemas mengingat para rival suaminya yang cukup kejam itu .


'' Berjanjilah untuk tetap disisi kami. Di sisi mas '' pinta Rafli.


'' Aku mencintai mu Ana '' bisiknya.


'' Aku juga mencintaimu mas '' ucap Ana mengecup pipi Rafli dan juga Dewa..


Sementara Arjuna tengah asyik dengan dunianya . Ketika keluarganya tengah menangis namun dirinya tengah menahan tertawa seakan melihat seseorang sedang membuat hal lucu untuknya .


'' Unda lihat .... Ada yang mau peluk unda dan juga Abang '' ucap Arjuna yang terkadang memanggil mas , kakak dan juga Abang untuk Dewa . Ucapan Arjuna membuat Ana dan Rafli sedikit mematung .


Harum semerbak bunga mulai memenuhi ruangan tersebut , Ana segera memangku Arjuna dan Rafli mengambil alih Arjuna agar duduk di pangkuannya saja lalu memeluk keluarganya .


'' Kalian pasti melihat keluargaku bukan . Rafli mohon , bantulah jaga keluarga Rafli dari jauh. Semoga kalian tenang disisi Nya dan berada di surga Nya '' gumam Rafli .


Dan setelah Rafli mengucapkan permintaannya kini wangi bunga itu sedikit memudar dan Ana menyadari kedatangan mereka mungkin hanya ingin sekedar mengenal mereka yang berkunjung ke kamar pribadi Wijaya Omar dan Astuti Wijaya .


'' Ayo kita keluar '' perintah Rafli kepada keluarganya.


Dewa mengandeng tangan Arjuna meski ia masih ingin berada disitu dan Rafli juga beranjak .


Ana mematung terlihat bagitu syok saat di pangkuannya terdapat dua tangkai bunga mawar yang satu berwarna merah dan berwarna putih.


'' Mas '' lirih Ana ... Ana yang takut dengan hal seperti itu kini wajahnya memucat saat melihat bunga yang tiba-tiba di pangkuannya .


Rafli segera mengajak Ana berdiri dan memeluknya .


'' Ambilah bunga ini ... Mungkin nenek begitu menyukaimu hingga ia memberi mu bunga kesukaanya yaitu mawar merah dan bunga mawar putih yang kau sukai '' ucap Rafli , meski ia tak mempercayai hal mistis melihat kejadian ini membuat nya cukup memahami sebagaimana mestinya.


Rafli dan Ana melafazkan doa lalu segera mengucapkan salam .


'' Terima kasih atas bunganya .. Indah sekali '' gumam Ana dan Rafli segera menutup pintu kamar yang begitu terlarang bagi siapapun untuk memasukinya kecuali ketua pelayan yang bertugas menjaga kebersihan serta kerapian kamar tersebut hingga secuil debu pun tak terasa disana.


'' Sudah jangan di fikirkan ya... Nanti malah gak bisa tidur '' ucap Rafli .


'' Ayo kita saraapan sampai lupa untuk sarapan , dedek bayinya pasti lapar '' imbuhnya mengusap perut Ana.


Ana mulai mengambilkan nasi goreng dan lauk untuk suaminya lalu beralih kepada Dewa dan kemudian Arjuna lalu ia mengambil jatah sarapan nya yang paling terkahir .

__ADS_1


'' Makan yang banyak sayang '' ucap Rafli lalu menukar piringnya karena Rafli enggan menghabiskan nasi goreng yang seperti gunung itu apalagi yang membuat bukan sang istri. Ana menerimanya saja tanpa ada komentar sedikitpun lalu melahapnya karena begitu lapar ia saat ini , satu gelas susu tak berarti apapun baginya yang kini mengandung anak kembar.


Jangan lupa like dan komentar nya .


__ADS_2