
Zee memeluk tubuh sang adik yang bergetar hebat, terdengar suara pintu terbuka dan terlihat sosok lelaki yang keluar dari ruangan. Matanya melebar sempurna minat siapa yang dia lihat. Langkah kaki Sam, lun terhneti melihat Zee yang sedang memeluk erat tubuh seorang gadis.
"Vanya," ucap Sam dan Wil bersamaan.
Zee menatap ke arah Sam, sedangkan Vanya menatap ke arah Wil. Zee melepaskan pelukan itu dan membuat Vanya langsung memingkan wajahnya dari Wil seraya menatap wajah Sam dan berlari berhambur ke pelukan sang kakak.
Sam mendekap tubuh Vanya begitu erat, sedangkan tangan Wil hanya diam di atas udara, entah kenapa dirinya begitu sedih saat melihat tatapan Vanya padanya.
"Kakak," isak Vanya emenumpahkan smeua tangisnya pada sang kakak.
Sam tak henti-hentinya menciumi pucuk kepala sang adik. Hatinya begitu lega mendapatkan Vanya kembali. Adegan itu sangatlah, menyakitkan bagi seorang yang masih bersembunyi di balik pintu.
"Kak Sam, aku juga ingin mendapatkan pelukan itu, kak!" pintanya dengan sepenuh hatinya. Air matanya sudah mengalir deras, hatinya begitu sakit.
Disisi lain, seakan ada yang menggetarkan hati Sam, hatinya seakan tertusuk oleh panas begitu sakit.
"Zyvia," batinnya seakan hatinya mendengar jika sang adik memanggilnya dengan isakan air mata.
"Kemana saja, kau, An?" tanya Sam.
"Aku ada disini, kak," jawab Vanya.
Sam menatap Wil, yang masih terpaku melihat Vanya. Terlihat lelaki itu begitu sedih, matanya memang menunjukkan dia begitu senang karena bisa bertemu dengan Vanya.
"Kembalilah dengan kakak. Apapun yang terjadi padamu, kau masih milik kakak!" pinta Sam sembari menangkup wajah Vanya.
Vanya hanya bisa mengangguk ia, air matanya masih saja mengalir deras di wajah cantiknya. Sam merangkul tubuh Vanya dan masuk ke dalam ruangan Wil.
Vanya dan Sam melewati, Wil begitu saja tanpa berbicara apapun. Wil hanya pasrah, mungkin Vanya masih marah padanya. Zee mengusap lengan Wil lalu mengajaknya tuk masuk.
Vanya melihat Alex yang sedang berdiri disana, lalu dengan cepat Vanya memeluk memeluk. Alex mencium pucuk kepala snah adik gadisnya.
"Kau kembali, sayang. Lelah kami mencarimu," bisik Alex.
Vanya hanya mengangguk dengan air mata yang mengalir di wajahnya. Alex menatap tajam Wil karena apa yang telah dia lakukan telah membuat keadaan Vanya terguncang.
Wil hanya pasrah, mendapatkan kemarahan dari Alex dan Sam. Sama seperti, pertama dia menceritakan semuanya.
Alex dan Vanya duduk bersama dengan Sam, sedangkan Wil duduk di samping Zee. Vanya tak berani menatap wajah, Wil. Tangannya masih menggenggam tangan Sam.
"An, aku mencarimu sejak kau pulang malam itu. Kau kemana? Ada kesalahan pahaman yang harus ku katakan," ucap Wil.
"An, apakah kau hamil?" tanya Wil kembali.
Deg,,, Deg,,, Deg,,,
__ADS_1
Hati Vanya bersetak sangat cepat. Seakan di sambar petir di siang bolong. Darimana, Wil tahu jika dirinya sedang hamil? Vanya hanya bisa mengangguk ia.
Wil menatap, semuanya lalu menarik napas panjangnya. Lalu mengatakan semuanya pada Vanya dan membuat Vanya menatap tajam Wil.
"Jadi, jadi kau lelaki yang bersamaku malam itu?" tanya Vanya dengan bibir bergetar.
Wil mengangguk ia, ada rasa lega di hati Vanya, akan tetapi ada rasa marah juga pada dirinya kepada Wil. Sungguh, ayah dari anaknya adalah lelaki yang dia cintai. Tapi, kenapa Wil begitu tega melakukan itu padang?.
"Jangan menyalahkan, Wil sepenuhnya. Karena, dia juga korban. Semua ini, rencana dari Erika," jawab Sam.
Vanya mengingat akan nama itu, Sam menjelaskan semuanya agar Vanya percaya. Vanya benar-benar tak tahu harus berkata apa lagi.
"Sayang, kau pikirkan baik-baik dengan Wil. Ini bukan tuk kalian, tapi pikirkan anak yang berada didalam perutmu! Jangan, ada lagi Alya kedua yang harus terpisah dari Daddynya," ucap Zee.
Vanya menyentuh perut ratanya, mata Wil mengikuti tangan Vanya. Sungguh, dia ingin sekali memeluk Vanya juga dengan anaknya. Namun, Vanya masih tak ingin disentuh olehnya. Wil hanya bisa meremmas tangannya dengan kuat.
Zee menatap Alex dan Sam, mereka memilih keluar kamar. Memberikan mereka kesempatan berdua tuk mengatasi masalah mereka sendiri.
"Zee, bagaimana jika Vanya menolak?" tanya Sam.
"Vanya masih begitu labil, Sam. Berdoalah mereka bisa menemukan jalan yang terbaik. Wil sudah berjanji akan menikahi, Vanya," jawab Zee.
"Sam, tenangkan dirimu! Jika memang mereka di takdirkan bersama, semuanya akan baik-baik saja," balas Alex.
Tanpa disengaja, Zee melihat seseorang yang sedang bersembunyi di balik pintu ruangan, seorang wanita dengan jas Dokternya. Sedang menatap lurus ke arah Sam, matanya indahnya masih basah oleh air mata.
Sam yang mendengar itu mengerutkan dahinya seraya menatap Zee, lalu Sam berbalik dan matanya menangkap sosok gadis yang selama ini berada di dalam hatinya.
"Kak Sam," ucap Zy lirih seraya menutup pintu itu.
Mata Sam melebar tak percaya siapa yang dia lihat. Itu adalah adiknya, Zyvia, jantung Sam berdetak kencang setelah sepuluh tahun lamanya dia baru saja melihat Zyvia.
Entah kenapa, hati Sam begitu bangga melihat Zyvia memakai jubah putih kebesarannya.
"Kau sekarang menjadi, seorang Dokter, Via?" batin Sam, tatapannya masih terpaku pada pintu yang tertutup itu.
"Sam, dia, Via bukan? Dia, Zyvia kan?" tanya Zee seraya menarik tangan Sam.
Air mata Zee mengalir deras, mendapati Sam yang bisa bertemu dengan Zyvia. Sedangkan, Sam hanya diam mematung tanpa suara.
"Sam, kau tak ingin menemuinya? Apakah benar, sudah tak ada lagi namanya di dalam hatimu?" tanya Alex.
Sam menatap ke arah, Alex. Sungguh, perkata Alex sedikit menyentil hatinya. Karena, bagaimana pun bencinya Sam pada Zyvia. Didalam hatinya yang paling dalam, nama itu masih tersimpan disana.
"Sam, berikanlah kesempatan padanya. Berikanlah haknya, Alfa akan memaafkan segalanya. Aku, aku juga tak akan terus-teruss menyimpan dendam itu," ucap Zee.
__ADS_1
Dengan cepat, Sam berjalan ke arah ruangan Zyvia. Saat berada tepat di depan itu, tubuh Sam berhenti dan terpaku. Sam kembali mengingat akan kejadian sepuluh tahun itu kembali.
Dimana, tangannya yang menompang Alfa, masih teringat jelas darah itu mengalir di tangannya. Dengan tangannya juga, Sam menampar wajah Zyvia sampai sang adik emngeluarkan darah dari sudut bibirnya.
Air mata, Sam sudah tak bisa lagi dia tahan. Sam mengetuk pintu itu, sedangkan Zyvia begitu terkejut karena ada seseorang diluar ruangannya. Dengan cepat, Zy menghapus air matanya, saat membuka pintu itu terlihat sosok lelaki yang berdiri tegap disana.
"Kakak," panggil Zyvia lirih.
Sam menatap Zyvia, sungguh gejolak dalam hatinya seakan bertarung antara rindu dan benci menjadi satu. Sam melangkah masuk, dan dirinya begitu terkejut saat melihat foto besar yang tergantung di atas dinding.
"Kak," panggil Zyvia kembali.
Sam masih diam tak berbicara apalagi menyahut panggilan dari Zy. Mata elangnya menatap Zyvia begitu tajam.
Entah kenapa, Sam seakan terjerat rantai saat ingin memeluk tubuh sang adik. Tapi, dalam hatinya dai begitu bersyukur karena Zyvia bisa hidup dengan baik. Tanpa berkata apa-apa lagi. Sam membalikkan tubuhnya, namun tertahan oleh pelukan dari Zyvia.
Zyvia memeluk erat tubuh Sam dari belakang, dia begitu merindukan sang kakak, dia menangis hebat di belakang Sam, hati Sam seakan teriris saat mendengar tangisan Zyvia. Tapi, ego nya begitu kuat tuk tak menghiraukan dirinya.
"Kak, maafkan, Via. Via mohon, maafkan Via kak. Kak, Via rindu kakak, Via rindu kasih sayang akak, Via rindu kakak khawatir pada Via, kak, Via rindu di peluk kakak. Kak, Via mohon maafkan Via!" pinta Zyvia dengan isak tangisnya.
Hati Sam semakin menjadi hancur, mendengar semua ucapan dari Zyvia. Hatinya mungkin terluka sangat dalam. Sam tak menjawab, hanya ada hembusan napasnya yang naik turun menahan segala perasaannya.
Zyvia masih mendekap erat tubuh Sam, sungguh Zyvia tak ingin melepaskan pelukannya. Dia tumpahkan semua perasaannya selama ini, tentang kedua orangtua mereka yang telah tiada, tentang dirinya yang kini hanya hidup seorang diri.
"Kak, Mommy dan Daddy memintaku tuk menemui, kakak. Tapi, Via terlalu takut tuk bertemu kakak, pesan terakhir dari Mommy, hanya ingin kakak memaafkan mereka dan mengunjungi mereka kak," ucap Zyvia.
"Dimana mereka di kuburkan?" tanya Sam.
"Sandiego Higls, mereka berada di Amerika kak," jawab Zyvia.
Sam melepaskan pelukan Zy, namun tangan Zy menggenggam erat tangan Sam. Seakan tak ingin melepasnya.
"Jangan halangi diriku! Bukannya kau ingin aku menepati janjiku pada mereka bukan? Aku akan menemui mereka sekarang juga. Jadi, lepaskan tanganku!" pinta Sam.
"Kak, rasa benci mu masih begitu kuatkah padaku? Sampai kau tak mau melihatku?" tanya Zyvia.
"Aku sudah melihatmu dengan jelas. Kau hidup dengan baik, jadi tuk apa aku terus melihatmu?" tanya Sam.
"Kak, setidaknya aku mohon lihat aku! Aku ingin kau memelukku seperti kau memeluk Vanya tadi? Kau begitu menghawatirkan dia kak, tapi kenapa tidak denganku?" tanya Zyvia.
"Vanya adikku, sudah swoantasnya aku khawatir padanya," jawab Sam seraya berlalu pergi meninggalkan Zyvia.
Zyvia menangis melihat Sam yang pergi begitu saja. Hatinya begitu sakit mendapatkan perilaku seperti itu.
"Kak, akan sampai kapan kau membenciku? Sampai kapan aku harus menebus semua dosa ini kak?" isak Zyvia duduk di atas lantai.
__ADS_1
Bersambung🌺🌺🌺