Takdir Cinta

Takdir Cinta
See you good bye


__ADS_3

Zee masih menangis meraung di di pelukan sang ayah, Bumi sampai menitikan air matanya, sungguh hatinya begitu lemah jika sudah menyangkut masalah keluarga.


"Princess, ayah mohon sayang berhenti menangis nak!" pinta Bumi sembari mencium kening Zee.


Zee seakan tuli dan terus menangis, betapa hatinya sakit saat Xion mengatakan dia tak mengenalnya. Hatinya sangat menyakini jika itu memang Zyan.


"Ayah, aku kembarannya. Aku merasakan jika fia itu Zyan, kenapa ayah tak percaya padaku?" tanya Zee.


"Sayang, dengarkan ayah. Dia Xion Liu rekan bisnis ayah, dan ayah sudah sangat sering mendengar suaranya," jelas Bumi.


Zee menutup matanya, air mata itu terus saja menetes deras. Bumi masih terus memeluk tubuh Zee, sampai sang anak tak sadarkan diri.


"Zee, princess bangun nak!" ucap Bumi sambil menepuk pelan pipi Zee.


"Elina, Elina!" teriak Bumi memanggil sekretarisnya.


Dan dengan bersamaan Alfa sedang disana mencari sang ayah, tiba tiba mendengar tetiakan Bumi, sobtak Alfa berlari cepat keruangan sang paman.


Ceklek,


"Paman, ada apa?" tanya Alfa cemas.


Bumi menengok kearah Alfa, Alfa pun menatap kearah Bumi, dan matanya melihat sosok yang sangat dia rindukan sedang tergeletak lemas disana.


"Princess," panggil Alfa seraya menghampiri Zee.


"Paman, ada apa? Zee kenapa?" tanya Alfa.


"Tolong angkat dia, dan bawalah keruang buku sana!" perintah Bumi.


Dengan sekali angkat, Zee sudah berada dalam gendongan Alfa, dengan sangat hati hati Alfa merebahkan tubuh Zee. Menyelimuti tubuh sang gadis dengan selimut, tangan Alfa tak lepas dari tangan Zee.


"Princess, tolong buka matamu sayang!" pinta Alfa sembari menangis.


Bumi kembali bersama dengan Dokter, Zee pun diperiksa dengan teliti. Terlihat Zee begitu pucat, tubuhnya begitu dingin.


"Anda harus membawanya kerumah sakit! Karena ini sedikit membahayakan. Harus segera di tangani oleh Dokter ahlinya" ucap Dokter.


Bumi menatap ke arah Alfa, dengan cepat Alfa mengerti dan menggendong kembali Zee, dengan menutupi tubuh sang gadis dengan selimut.


"Paman, biar Al saja yang mengemudikan. Paman bisa duduk dibelakang bersama Zee!" pinta Alfa.


"Baiklah, tolong sedikit cepat Al. Paman tak ingin terjadi sesuatu pada Zee," balas Bumi.


Alfa mengangguk mengerti, Azura sudah di kabari oleh Ars yang sama mengikuti mobil Bumi.


Zee sudah dalam perawatan kembali di ICU, selang infus dan selang oksigen sudah berada di tubuhnya.


Alfa diam mematung melihat Zee dari pintu kaca. Azura memeluk erat tubuh sang suami, sedangkan Ars merasa begitu kasihan pada sang putra. Ars bisa merasakan apa yang Alfa alami, begitu sedih melihat Alfa yang semakin dingin, diam dan tak memperhatikan dirinya sendiri.


Malam hari Zee sudah dipindahkan keruang inap, semuanya tertidur. Hanya ada Alfa yang terjaga setia, menatap wajah sang gadis yang dia rindukan, memegang tangan sang gadis yang biasa dia cium, tangan yang biasa merapihkan rambutnya, membelai dirinya, tangan yang selalu bergelayut pada tubuhnya dan tangan yang senantiasa menggenggamnya.


"Sayang, maafkan aku! Aku mohon jangan siksa aku lagi, aku begitu mati jauh darimu," ucap Alfa lirih dengan isak tangisnya.


Alfa memiringkan wajahnya tepat di sebelah Zee, di belainya wajah ayu itu,Alfa mencium aroma rambut khas Zee.


"Princess, aku berjanji. Aku mohon bangunlah, ada apa denganmu sayang?" tanya Alfa.


**********


Bandara Soekarno - Hatta

__ADS_1


Kenzio kembali menginjakkan kakinya di tanah kelahiran sang istri. Dengan langkah cepat, Ken berlalu dari sana dan langsung masuk kedalam mobil.


"Kita langsung kerumah sakit, saya ingin mengetahui keadaan Abi," ucap Kenzio.


"Baik tuan" balas snah supir.


Sekitar satu jam, akhirnya mobil Kenzio berhenti tepat di depan loby rumah sakit yang besar dan begitu mewah.


"Dr. Zio anda sudah datang. Maaf, maksud saya selamat datang. Abi berada di ruang observasi" jelas Dr. Ari.


Kenzio berjalan cepat dan memasuki ruangan itu. Ruangan itu sangat gelap gulita, Kenzio sampai tak bisa melihat apa pun disana.


"Abi, apa kau dengarkan aku?" tanya Kenzio.


Tak ada suara disana, hanya ada suara angin yang berhembus kencang, sedangkan ruangan itu begitu rapat.


"Naru, dimana Abi?" tanya Kenzio sangat dingin.


Hembusan angin lagi yang Kenzio rasakan. Dan sepertinya Abigail tidak ada disana.


"Ok, baiklah. Cepat keluar dan saya ingin tahu kau mau apa" ucap Kenzio.


Tak, tik, tak, tik, tombol lampu seakan di tekan berulang kali, lampu diruangn itu pun sudah seperti lampu disko.


"Ken," terdengar suara yang sangat lirih dari sudut kamar itu.


Kenzio berjalan pelan, dan tangannya mencoba mencari tombol lampu itu. Dan akhirnya ketemu.


Ceklak, Lampu diruangan itu menyala. Terlihat Abigail sedang duduk di ranjangnya dengan memeluk kakinya.


"Naru," panggil Kenzio.


Abigail mengangkat wajahnya menatap sang paman dengan mata sayu, seakan menyiratkan kerinduan yang mendalam disana. Kenzio hanya bisa membuang wajahnya, karena Kenzio tau tatapan siapa itu.


"Ada apa? Kenapa kau sampai memasuki tubuh Abi," jawab Kenzio.


"Ken, aku harus pergi! Aku sudah menunggumu, sudah waktunya aku pergi, jaga Abigail untukku!" pintanya.


"Bukannya, kau tak bisa pergi Naru?" tanya Kenzio.


"Kau kini telah bersamanya Ken, aku bahagia. Aku juga melihat dua pangeran kecilmu itu, sangat menggemaskan," jawabnya dengan tersenyum.


"Alienaru," panggil Ken.


"Ken, selamat tinggal, aku menyayangimu" ucapnya.


Kenzio menatapnya dengan sedih, entah kenapa? Karena hatinya begitu sedih, mendengar kata perpisahan dari Naru. Hantu wanita itu sudah sangat lama ikut bersamanya, dan sekarang dia pergi.


Tubuh Abgial lemas, dan tak sadarkan diri. Kenzio mengangkat tubuh gadis kecilnya dan merebahkannya di ranjang.


"Abigail, bangun!!" seru Kenzio sambil menepuk pelan pipi sang gadis.


"Emmm, paman," ucapnya lirih.


"Kau tidak apa?" tanya Kenzio.


"Paman, Naru. Dimana dia, dimana Naru paman? Hantu wanita itu, dia bilang mau pergi. Aku tak mencegahnya lama!" jelas Abigail.


Kenzio memeluk tubuh Abigail, menenangkannya.


"Naru sudah pergi, dan dia pergi tuk selamanya!" balas Kenzio.

__ADS_1


Abigail terdiam, air matanya menetes deras. Naru sudah sepertinya ibu untuk Abigail, karena sejak kecil Narulah yang menemaninya, menjaganya, dan setiap hari Narulah yang ada bersamanya.


"Jika Naru sudah pergi, berarti keluarganya sudah menemukan tubuhnya, Abi" ucap Kenzio.


"Dimana paman? Aku ingin tahu dimana makamnya, aku mohon, bawa aku menemuinya. Naru itu ibuku paman," ucap Abigail memohon.


Kenzio menangangguk ia, dan membiarkan Abigail tuk istirahat. Kesehatan Abigail semakin membaik, dan Kenzio kembali mencari siapa Alienaru itu.


Saat Kenzio berjalan keruangannya, terlihat Alfa yang sedang berdiri di depan pintu rawat inap. Kenzio pun berjalan cepat kearahnya, betapa terkejutnya melihat semua keluarga Putra ada disana.


"Siapa yang sakit?" tanya Kenzio menatap semua orang disana.


Alfa dan yang lainnya menatap ke arah Kenzio, mereka pun sama terkejutnya. Melihat siapa yang berdiri disana.


Kenzio langsung mendekati pintu kamar tersebut, dan melihat ada Zee yang sedang terbaring disana. Tanpa permisi Kenzio langsung masuk kedalam, dan kembali menutup pintu itu.


"Dr. Zio anda kembali?" tanya Dr. Ari.


"Kapan dia dirawat?" tanya Ken sambil memeriksa denyut nadi Zee. Suster memasang baju steril di tubuhnya.


"Kemarin malam Dok, dan pemeriksaannya masih sama seperti dulu" jawab Dr. Ari.


Kenzio menatap Zee, menyentuh tangan sang adik ipar. Hatinya begitu sedih, melihat Zee selalu dalam keadaan seperti ini.


" Bangun, princess! Kakak kakaku akan segera kembali, sambutlah mereka sayang!" pinta Kenzio dalam hatinya.


Dr. Ari pun permisi keluar, meninggalkan Kenzio dan Zee di dalam sana. Alfa masih memperhatikan mereka dari luar ruangan.


Selang berapa menit, Kenzio pun keluar dan berdiri di depan mereka semua.


"Zee, apakah dia belakangan ini mendapat menekanan? Otaknya tak kuat untuk memikirkan semua itu," ucap Kenzio menatap semuanya.


"Sudah sebulan dia menjadi diam, dan mungkin saja memendam semua kesulitannya sendiri," jawab Azura.


"Apa itu parah Dok? Ini semua salahku, aku yang membuatnya seperti ini," ucap Alfa menunduk sedih.


"Zee, baik baik saja! Hanya tertekan, dan sedikit stres. Buatlah dia tenang dan melupakan sedikit masalahnya" balas Kenzio.


Kenzio pun permisi pergi keruangannya, duduk di singgasanya. Disana tak ada foto istri dan anaknya, berbeda sekali di ruang kerjanya yang ada di Korea.


"Baru saja sampai, aku sudah sangat merindukanmu sayang dan juga twins," ucap Ken sambil melihat foto mereka di layar ponsel.


"Kenzia, kasihan adikmu. Dia menanggung rindu pada kalian sampai sakit, ku harap saat kau pulang. Kau bisa segera menemui mereka, keluargamu menantikan dirimu dan Xion" ucap Kenzio.


Tanpa Kenzio ketahui, Kenzia dan yang lainnya sedang bersiap siap disana. Entah kenapa Kenzia ingin segera bertemu dengannya.


"Besok kita sudah bisa pulang! Lihat lagi apa ada yang masih tertinggi?" tanya Xion.


"Tidak ada, mungkin hanya kenangan yang tertinggal disini, semua kenangan burukku, sedihku, dan juga kenangan indahh bersama Ken," jawab Kenzia


"Ini rumahmu juga, kapan pun kau bisa datang kemari. Dan ini sudah waktunya kau kembali, kembali menemui keluargamu disana" ucap Kiara.


"Kiara, terimakasih kau sudah melakukan segalanya untukku, untuk Xion," ucap Kenzia.


"Ini semua sudah takdir, dan takdir cintaku bersama kalian, aku bisa memiliki Xion di hidupku. Memiliki dirimu sebagai temanku," balas Kiara.


Lexion memeluk tubuh Kiara dan Kenzia bersamaan. Wanita yang begitu dia sayangi, tentunya juga dengan Zee dan Azura bundanya.


**Bersambung💞💞💞


Hallo semuanya,,, Tolong LIKE, KOMEN, DAN VOTE RATE nya Donggg !!! View Ku menurun pemirsa 😭😭 sedihnya Hati ku,,, tak bersemangat aku.

__ADS_1


"Jangan LUPA tekan ❤ yah,, jadikan FAV novel ku,,, Ingat yah, Ingat !!!


TERIMAKASIH dan Selamat membaca**


__ADS_2