Takdir Cinta

Takdir Cinta
Kehadiran Ines


__ADS_3

Ting...Tong...


Bunyi suara bel membuat Ana menyerit heran .


'' Siapa yang bertamu di jam segini . Apa mas Rafli kembali lagi " gumam Ana .


'' Biar bibi saja non " ucap Susi.


ceklek


Terlihat wanita cantik yang tengah hamil menatap Ana dengan tatapan sedih begitu terlihat .


'' Ines " ucap Ana tersenyum menyambut sahabatnya yang kini ternyata benar seorang wanita asli , bukan seperti pemikiran Rafli yang aneh-aneh tentang Ines.


'' Kau hamil " ucap Ana.


'' Apa maksudmu " ucap Ines.


'' Wajar aku hamil . Aku punya suami dan aku wanita beneran Ana " gerutunya kesal sementara Darwin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal memberi isyarat pada Ana untuk berhenti bertanya aneh . Cukup Darwin yang di kerjai Ines habis-habis sewaktu mereka di Belanda.


'' Ayo duduk " tawar Ana pada pasangan suami istri tersebut , bagai kucing dan anj*ng namun berhasil menciptakan sebuah kehidupan di rahim Ines .


'' Kau berdiri saja , kenapa duduk " seloroh Ines.


" Pergi sana . Atau ketemu sama sahabat laknat mu itu " imbuhnya menatap tajam Darwin.


'' Siapa sahabat laknatnya " tanya Ana.


'' Siapa lagi kalau bukan suami mu serta Frans " umpat Ines.


" Kurang ajar " batin Ana .


" Sudah ayo kita ketaman belakang saja " ucap Ana dan diangguki Ines .


"Berapa bulan Nes " tanya Ana.


" Lima bulan " jawab Ines tersenyum namun awan mendung tiba-tiba menyapanya.


" Kau jahat Ana " ucapnya lirih.


" Aku jahat kenapa " tanya Ana .


" Aku kenapa Ines , salahku dimana " imbuhnya karena Ines tak menjawab.


" Hei , aku jahat gimana " menoyor bahu Ines pelan.


'' Nenek Fat meninggal tapi kau tak mengabariku. Jika tidak jahat itu apa namanya " ucap Ines lirih.


'' Kau tau dari mana " tanya Ana memalingkan wajahnya berusaha menyembunyikan rasa sedihnya.


'' Aku tau saat berkunjung kemari seminggu yang lalu " ucap Ines dengan mata berkaca-kaca .


'' Maaf. Aku minta maaf atas hal ini. Kami semua merasa kehilangannya Nes. Aku bahkan pingsan berkali-kali pada malam itu . Dewa juga begitu terpuruk saat itu. Dewa tidur disamping nenek dan melihat langsung detik-detik akhir kehidupan nenek. Aku sungguh tak berfikiran mengabari siapapun. Otakku buntu , bahkan bapak begitu terpuruk saat itu " ucap Ana menahan tangisnya .


'' Maaf membuat mu bersedih An . Tapi bukan maksud ku untuk marah , aku hanya kecewa kau tak memberitahuku . Aku cukup dekat dengan nenek Fat seperti kau dekat dengan nenek Rose " ucap Ines lirih .


" Kau tau . Aku merasa semenjak aku menikah , kita mempunyai jarak Ana . Aku merasa kau menjaga jarak dariku " ucap Ines..


'' Aku tidak menjaga jarak denganmu. Mungkin hanya perasaanmu saja " bantah Ana.


'' Lihatlah , kau mudah sekali sensitif " imbuhnya .


" Benar . Kenapa aku begitu sensitif dua Minggu ini " batin Ines.


" Aku juga merasa begitu. Apa ini karena bawaan kehamilanku ya " gumam Ines.


'' Kau juga begitu cerewet sekarang . Mungkin jiwa ibu-ibu rumpi mu tumbuh " ucap Ana tergelak. Ines yang notabennya wanita yang dingin tak tersentuh oleh laki-laki ternyata mau aja langsung menikah meski nenek Rose terpaksa membohonginya dan kini hamil merubah dirinya yang biasanya hanya diam dan menyimak kini begitu cerewet , yang biasanya tegar dan gak pernah cengeng kini menjadi lebih sensitif.


'' Ayo kita metik buah-buahan " ucap Ana dan diangguki Ines.


Ana dan Ines berjalan mendorong troli untuk mengambil buah-buahan yang siap di petik.


Ines dan Ana mengobrol tentang kandungan mereka dan sekali-kali mengomentari kebun buah Ana yang begitu banyak dan aneka macam buah .


'' Kau tau Ana , Tiara lagi program anak perempuan " ucap Ines .


'' Dia ingin sekali menjodohkan anaknya dengan Dewa atau Arjuna " imbuh Ines tergelak .


'' Aku cukup heran dengannya juga , saat anak kembarnya lahir laki-laki semua ia menyalahkan Nicko " ucap Ana mengingat Nicko curhat kepada Rafli .


'' Jika anak mu perempuan bagaimana . Apa mau di jodohkan dengan Dewa atau Arjuna " tanya Ana membuat Ines menatapnya sekali-kali mengunyah buah jeruk yang baru saja ia petik.


'' Aku tak berminat " ucap Ines.


'' Kenapa " tanya Ana.

__ADS_1


'' Jika dengan Arjuna mungkin akan aku pikirkan " jawab Ines .


'' Emang kenapa jika dengan Dewa " tanya Ana menyelidik.


'' Dewa begitu mirip dengan Rafli , bahkan ia juga begitu dingin jika bukan dengan keluarganya. Kau bayangkan saja Ana , anak kesayanganmu kecilnya aja begitu apalagi pas besarnya " ucap Ines.


'' Iya juga sich ". jawab Ana membenarkan.


'' Sebenarnya aku takut Ana , apa yang menimpa dirimu menimpa anakku. Betapa mengerikannya saat menemukanmu pingsan saat kehamilan Dewa. Bagaimana jika hal itu terjadi pada anakku, tidak menutup kemungkinan jika Dewa mempunyai sifat seperti Rafli " batin Ines .


" Lagian juga Adam dan istrinya berencana menjodohkan anaknya dengan salahlah satu anakmu , antara Dewa dan Arjuna namun berharap Arjuna " ucap Ines karena ia mendengar pembicaraan Adam dan Jennifer.


" Aku menyerahkan kepada Tuhan siapa jodoh anakku " jawab Ana.


" Oh ya. Kau sudah tau jenis kelamin anakmu " tanya Ana.


" Sengaja kejutan aja nantinya " ucap Ines berbohong. Sejujurnya ia dan Darwin sudah mengetahui jenis kelamin anak mereka. Bagi Ines dan Darwin cukup diri mereka yang tau.


Seharian ini Ines menghabiskan harinya hingga sore dirumah Ana , mengobrol dan memasak bersama Ana , bermain bersama Arjuna dan juga Dewa.


" Sayang jangan terlalu lelah " ucap Rafli tiba-tiba memeluk Ana yang kini sedang membuat manisan mangga untuk dirinya dan Ines.


" Mas kau mengagetkan ku saja " ucap Ana terkejut.


" Aku merindukanmu " ucap Rafli mencium pipi Ana.


"Hei...Hei...masih ada manusia disini " cibir Ines .


" Minta peluk sana sama Darwin " ucap Rafli tak suka.


" Apa kau tau . Ini rumah siapa " sindir Rafli.


" Kau lihat Darwin . Rafli modelnya beginian ingin kau jadikan besan kita. Kalau aku sich gak masalah berbesan dengan Ana namun tidak dirinya " ucap Ines ketus kepada Darwin sekaligus menyindir Rafli.


" Hei , wanita tulen. Ana ini istriku , jelas jika berbesan dengan Ana juga akan berbesan denganku " ucap Rafli darahnya mulai mendidih setiap berbicara dengan Ines .


" Apa benar " tanya Rafli menatap tajam Darwin yang kini tersenyum kikuk padanya.


" Aku hanya menggoda Ines saja saat itu " ucap Darwin berbohong.


" Sudahlah mas . Jangan ribut masalah seperti ini aja. Kepalaku pusing dengarnya " ucap Ana sewot.


" Mandi dulu sana atau temani Darwin ngobrol.


" Ayo temani mas mandi " bisik Rafli penuh harap.


" Tapi aku masih membuat manisan " jawab Ana.


" Ana biar aku aja yang melanjutkan nya " sahut Ines yang geli melihat Rafli yang seperti perangko saat ini.


" Tu , dengarkan " ucap Rafli.


" Baiklah . Tunggu sebentar ya Nes " jawab Ana tak enak hati ...


" Iya gak apa Ana " ucap Ines tersenyum.


" Kenapa . Kau minta mandikan saja sama istrimu " ucap Rafli saat melihat Darwin menatapnya aneh .


" Kapan kita pulang sayang " tanya Darwin , setelah pasangan puber itu pergi.


" Nanti ya , setelah makan malam " jawab Ines.


" Kita makan malam di luar saja " cegah Darwin tak enak hati.


" Diamlah. Rendang buatan Ana begitu enak " ucap Ines.


" Bukan seperti rendang yang kau buat seperti sandal jepit " cibir Ines . Saat itu ia mengidam ingin rendang yang dibuat Dariwn , namun daging sapi itu terasa seperti sandal jepit karena Darwin memasaknya kurang lama.


" Ini apa . Salad " tanya Darwin mengalihkan topik yang membuatnya malu jika di dengar orang lain tentang pembahasan rendang.


" Itu urap namanya " ucap Ines.


" Kurap " ucap Darwin.


" Itu urap tuan bukan kurap " sahut bi Susi membawakan jus apel untuk Darwin.


" Silahkan tuan minum dulu " imbuhnya dan beranjak pergi .


" Kau harus pintar-pintar belajar tentang kuliner Indonesia " saran Ines karena kehamilannya saat ini mengidam ingin makanan Indonesia .


" Iya - iya nanti aku akan belajar dengan koki kita " ucap Darwin yang rencananya ia akan meminjam koki dirumah Rafli selama beberapa bulan kedepan untuk dibawanya ke Belanda dan belajar memasak disana.


Kini meja makan itu tengah terisi penuh . Hidangan begitu menggugah selera. Darwin dengan terpaksa mencicipi salad sayur ala Indonesia menurut nya , yaitu urap .


Ines segera menerima apa yang di berikan Ana untuknya dengan wajah yang begitu bahagia sementara Rafli hanya mengamati sepasang pengusaha yang tadi menumpang makan dirumahnya dan kini membawa pulang rendang buatan istrinya serta berbagai jenis manisan dari berbagai buah .

__ADS_1


'' Kenapa " tanya Ines saat Darwin hendak protes.


'' Jika kau ingin protes . Aku minta kau buatkan ini semua. Apa bisa " imbuhya dan Darwin hanya tersenyum kikuk.


'' Hei. Itu semua tidak gratis. BAYAR " sahut Rafli.


'' Nanti aku transfer sekalian untuk makan dirimu selama satu bulan " ucap Ines sewot.


'' Pantas saja hartamu dimana-mana. Segini saja pergitungan " imbuhnya.


'' Kebun buah lengkap , kebun sayur juga. Kau hanya perlu merawat beberapa hewan disini agar lebih banyak uang mu " ucap Ines mengomeli Rafli.


'' Sudah mas, Diamlah . Apa perlu aku kuncir mulut mu mas " desis Ana melihat Rafli hendak meladeni ucapan Ines .


'' Apa ia pikir taman mansionku ini ragunan " bisik Rafli protes.


'' Kau hamil tidak menyusahkan seperti nya. Bagaimana Darwin menghadapinya setiap saat " imbuhnya.


'' Sudahlah Darwin . Aku memberinya untuk Ines dan anaknya " ucap Ana melihat Darwin tak enak hati.


'' Kau dengar ... Aku hanya merampok segini tidak membuat mereka jatuh miskin. Awas jika kau mencicipinya nanti " ucap Ines .


'' Hei nona . Rampoklah lebih banyak lagi " sahut Rahma yang sejak tadi mendengar Ines yang menggerutu dan itu hal langkah baginya .


'' Hei kau Rahma ... Kemari " ucap Ines tersenyum.


'' Kau hamil kak " tanya Rahma bahagia.


" Kau ingin meledekku " tanya Ines sinis membuat dahi Rahma berkerut .


'' Rahma ... Kau dicari oleh Arjuna sedari tadi " kelit Ana dan memberi isyarat agar Rahma segera pergi.


'' Maaf kak Ines bukan maksudku .. Semua , aku permisi dulu ya " ucap Rahma segera ingat alasan utamanya kemari.


'' Ana , Aku pulang ya . Besok aku kesini lagi " ucap Ines tersenyum.


'' Darwin berapa lama kalian di Indonesia " tanya Rafli.


'' Satu Minggu " jawab Darwin membuat Rafli memijit pelipisnya.


'' Sudah , kau jangan kesini lagi " tolak Rafli membuat Ines menatapnya sinis.


'' Kau kemansionku saja Ana " ucap Ines.


'' Hei .... Ana tidak boleh kamana-mana . Diluar berbahaya " tolak Rafli.


'' Sudahlah Ines . Kau kemari saja besok " ucap Ana mendapat tatapan tajam Rafli.


'' Baiklah Rafli , Ana dan Jim. Aku dan Ines pamit pulang " ucap Darwin.


'' Ana Terimakasih atas makanannmu " imbuhnya.


'' Tidak apa-apa aku ikhlas " jawab Ana.


'' Maafkan aku atas kelakuan Ines. Ku harap kau mengerti " ucap Darwin berbisik kepada Rafli.


'' Tidak masalah. Semoga kau kuat menghadapi ngidamnya . Terlihat sedikit aneh " jawab Rafli.


'' Ya kau benar " ucap Darwin tergelak.


Setelah Darwin dan Ines berpamitan pergi. Segera Ana menyusul Rahma di kamar Arjuna , katanya ada sesuatu yang ingin ia bicarakan.


'' Kita ke ruanganku Jim " ucap Rafli.


Di ruang kerja Rafli dan Jimmy membahas tentang berbagai proyek dan akan di lakukan pembangunan di Inggris . Rafli kembali mengutus Jimmy untuk kesana yang seharusnya tugas Devan.


" Devan ,entah mengapa aku hubungi belakangan ini begitu susah " keluh Rafli.


'' Aku hanya tidak mau , anak itu menghadapi masalah seorang diri . Kau tau , arti Devan dan dirimu bagi hidupku " imbuhnya . Perasaannya begitu mencemaskan Devan saat ini...


'' Baiklah . Aku akan mencari taunya. Bila perlu ikat anak itu sesekali di kandang buaya " ucap Jimmy dan mereka melanjutkan obrolan lainnya.


tok..tok....


ceklek


'' Tuan minumannya " ujar Alexa.


'' Tumben sekali kau yang mengantar Alexa " ujar Rafli .


'' Iya tuan , saya berencana menemui nona Ana " jawab Alexa dan diangguki Rafli . Ia segera beranjak dari ruang kerja itu dan segera menghubungi seseorang untuk menanyakan kabar pasti tentang Devan.


" Ku harap kau baik-baik saja " batin Alexa , sudah dua hari Devan sulit di hubungi .


Jangan lupa like dan komentarnya..

__ADS_1


__ADS_2