
Alya terbangun karena melihat sinar matahari yang masuk kedalam kamarnya. Alya menggeliatkan badannya. Mengucek matanya agar bisa melihat dengan jelas.
"Ini di kamar, Al? Mommy mana, Uncle juga kemana?" tanya Alya seraya duduk di ranjangnya.
Saat melihat ke belakang, Alya terkejut melihat Mommy dan Unclenya sedang tidur dengan berpelukan.
"Hihihi," Zee tertawa dengan sangat pelan, di lihatnya wajah Alex dengan seksama.
"Ya, dia bukan Daddy. Tapi, Uncle Alex," ucap Alya sembari mengangguk-angguk layaknya orang dewasa.
Alya pun turun dari ranjang dengan perlahan, tak ingin kedua orangtua itu terbangun.
"Al harus mandi, ini sudah siang. Setelah itu Alya ngapain yah? Mau sekolah juga sudah terlambat," gumam gadis kecil itu.
Alya pun keluar dan memilih mandi di kamar sang Mommy. Karena, Alya akan bisa berendam dengan puas disana, apalagi sang Mommy sedang tertidur pulas.
"Asyik,, aku bisa berendam dengan banyak busa," ucap Alya, seraya melepas semua bajunya, lalu menekan semua sabun kedalam bathup.
Selagi Alya berendam dengan ria, Zee baru saja membuka matanya. Merasakan tubuhnya pegal karena tertindih sesuatu.
Zee melihat ke arah samping sudah tidak ada Alya, Zee terkejut dan bingung kemana putry itu dan beranjak tuk bangun. Namun, tubuhnya tertahan oleh tangan kekar yang masih melingkar di perutnya.
Zee berbalik dan melihat Alex masih tertidur pulas.
"Astaga, kenapa dia tidur disini?" tanya Zee, dengan perlahan Zee memindahkan tangan Alex.
Alex yang merasa tangannya di pindahkan pun terbangun. Melihat Zee yang sedang duduk disana. Dengan jahilnya Alex menarik tubuh Zee hingga berada di bawah Alex.
"Aww," pekik Zee.
Namun langsung di tutup oleh Alex dengan tangannya.
"Jangan berteriak! Nanti, Alya bisa mendengarnya," seru Alex.
Zee mengangguk ia, Alex melihat wajah Zee yang masih begitu cantik walaupun itu bangun tidur.
Zee melepaskan tangan Alex, karena dia tak bisa bernapas. Tapi sialnya, saat tangan itu terlepas bibir Alex lah yang mengganti tangan tersebut.
Cup, Alex mencium bibir Zee kilas. Dan berhasil membuat Zee terkejut karena ulah Alex.
Alex yang takut kena marah pun beranjak turun dari tubuh Zee dengan senyum genitnya.
"Thank beby atas morning kiss nya," seru Alex seraya keluar dari kamar Alya.
Zee masih mematung, tak percaya dengan apa yang Alex lakukan. Dia menyentuh bibirnya yang basah karena bibir Alex pun hanya tersenyum.
Alex yang berlari dan masuk ke dalam kamar tamu pun tak hentinya tersenyum karena dia bisa melakukan itu pada Zee.
**************************
Pagi itu di rumah Zee begitu ramai hanya karena Alya dan Alex, mereka berebut sarapan sandwich isi daging yang di buat Zee.
"Berhenti berebut! Kalian ini baru saja makan bersama tapi adah rusuh!" bentak Zee.
Seketika, Alya dan Alex diam tak bersuara.
"Alya, ambil sandwich Mommy!" perintah Zee seraya menyodorkan padanya.
Namun, Alya menggeleng tak mau karena sandwich Zee berisi sayuran.
"Tuan Alex, tolong kembalikan sandwich milik Alya. Itu sandwich isi daging!" pinta Zee.
__ADS_1
Dengan kesal, akhirnya Alex memberikan sandwich itu pada Alya. Sedangkan Alya langsung memakannya dengan lahap, sambil menatap Alex seakan mengejeknya.
"Haish, kau....-" ucap Alex terpotong.
"Ini aku sudah buatkan sandwich isi telur dan keju tuk mu!" seru Zee menyodorkan makan itu pada Alex.
Tapi, Alex tak mau menyentuhnya. Dia masih melihat sandwich yang ada apa Alya.
"Hemm," desah Alya, seraya memberikan setengah sandwich nya pada Alex.
"Ini, Uncle boleh memakannya! Tapi, nanti temani aku bermain!" pinta Alya.
"Ok," jawab Alex tanpa mendengar apa yang di katakan Alya. Yang dia mau itu hanya sandwich nya.
Alex memang sangat suka sandwich isi daging. Dia akan bisa memakan banyak roti isi tersebut. Apalagi bersama dengan omlete yang di buat langsung oleh Sofia.
Zee hanya bisa menganga tak percaya melihat Alex mau memakan makanan yang sama bekas Alya.
"Astaga, kenapa Alex bisa seperti itu? Akuntak percaya dia memiliki sifat sepeti itu tentang makanan," gumam Zee.
Setelah makan, Alex berencana tuk pamit pada Zee dan Alya. Karena dia tak enak jika terus disana. Apalagi setelah apa yang terjadi pada dirinya dan Zee.
"Aku pamit pulang, terimakasih atas sarapannya," ucap Alex.
"Ya, terimakasih kembali sudah menemani kami semalam," balas Zee.
Mereka begitu canggung, Zee hanya bisa tersenyum tipis. Sedangkan Alex terus menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Salam tuk Alya, aku pulang!" seru Alex seraya berjalan ke arah taxi yang sudah menunggunya.
"Uncle," teriak Alya dari dalam rumah dengan berlari menghampiri Alex.
"Kau mau kemana?" tanya Alya menatap Alex.
"Pulang? No, kau sudah berkata ia tuk menemani aku bermain," jawab Alya dengan tatapan kesal.
"Bermain? Kapan aku mengatakan itu?" tanya Alex bingung.
"Haish, kau mau membohongiku? Kau sendiri ya berkata, Ok saat sarapan tadi," jelas Alya mulai marah.
"Astaga," pekik Alex seraya menepuk keningnya.
Lalu Alex menatap Alya dengan tersenyum kuda. Tapi, juga bimbang karena ada kerjaan dikantor.
"Im so sorry, Al. Uncle harus segera ke kantor. Karena, ada pekerjaan yang penting disana," ucap Alex menyesal.
"Uncle berbohong pada, Alya?" tanya Alya dengan mata berkas-kaca.
"Ahh, baiklah. Aku akan menyuruh Daddy mu itu kemari tuk menggantikan diriku, yah?" tanya Alex.
Alya semakin tak bisa menahan air matanya, dia begitu sedih karena Alex tak memilih dia dan lebih memilih pergi.
Alya tak menjawab dia berlari masuk ke dalam rumahnya dengan menangis. Zee begitu sedih melihat Alya yang seperti itu, lalu memandang Alex dengan perasaan sedikit kecewa.
Zee menyusul Alya ke kamarnya. Gadis itu menangis sambil tengkurap menyembunyikan wajahnya.
"Al, jangan menangis! Kau tahu, bukan kalau Uncle Alex itu sangat sibuk. Dia tak sama dengan Daddy Wil. Nak," ucap Zee memberikan pengertian pada Alya.
Namun tak ada jawaban dari Alya, yang ada suara isak tangisnya saja yang tertahan oleh bantal.
Di luar, Alex meremmas rambutnya karena begitu frustasi. Jadi seperti ini menjadi sosok Daddy jika harus memilih antara anak atau pekerjaan?
__ADS_1
"Kenapa anak itu menangis? Apa aku membuatmu sedih," gumam Alex.
Drrtt,,, drrt,, ponsel Alex bergetar, terlihat nama Wiliem yang ada.
"Ya, hallo,"
"Kau, dimana? Ini sudah waktunya meeting penting. Kau tak lupa bukan?"
"Aku, aku masih ada di rumah Zee. Dan sekarang, aku sedang bingung karena tiba-tiba gadis kecilmu itu menangis!"
"Hey, kau apakan dia?"
"Aku hanya bilang harus segera kekantor dan tak bisa menemani dia bermain. Dan bodohnya aku sudah berjanji mengatakan ia, Ok,"
"Kau itu bagaimana, ya sudah kau temani saja Alya. Biar aku yang menggantikan dirimu! Dan ingat, jangan buat gadisku menangis lagi!" ancam Wiliem.
Setelah itu Wiliem langsung menutup ponselnya. Dia tertawa karena puas mengancam Alex. Melihat sang kembaran yang menjadi bodoh karena tak bisa menenangkan seorang putri kecil.
Wiliem terus memantau Alex dari jauh, seperti sekarang Wili sedang melihat dari dalam mobil. Melihat ekpresi Alex yang bingung antara pergi atau masuk kembali.
Tanpa di sangka, Alex berlari masuk ke dalam rumah. Mencari Alya kek kamarnya. Zee sedang menenangkan sang putri, dengan sangat pelan Alex mendekati Zee.
"Bangunlah! Bukannya kau mau bermain denganku?" tanya Alex.
Alya yang mendengar suara Alex langsung menghapus air matanya dan beranjak berdiri di atas ranjang. Alya merentangkan tanganya sambil tersenyum.
"Apa? Kau mau apa?" tanya Alex tak mengerti apa maksud dari Alya.
Alya cemberut, sedangkan Zee tersenyum sambil menatap Alex.
"Kenapa kalian membuatku pusing? Kau tertawa dan anakmu cemberut?" sewot Alex.
"Uncle, gendong aku!" pinta Alya dengan nada manja.
"Haish, kenapa kau malah merentangkan tanganmu? Bukannya bicara minta gendong!" seru Alex dengan nada marah.
Tanpa mau menjawab Alex, Alya sudah maju dan melilitkan tangannya di leher Alex.
Alex menggendong Alya dan membawanha keluar di ikuti Zee di belakangnya. Terlihat mereka berjalan ke arah taman yang biasa tuk bermain.
"Kau memang sudah seharusnya melakukan itu sejak dulu, Lex. Mereka sudah menantikan dirimu sepuluh tahun yang lalu," batin Wiliem, yang masih mengikuti mereka.
Bukan tanpa sebab, Wiliem terus mengikuti Alex dan Zee. Karena dia tahu, pasti akan ada menganggu mereka. Ya, kalian tahu sendiri Alex kan playboy. Dan Wiliem tak mau sampai Alya atau pun Zee di ganggu oleh wanita-wanita Alex di luar sana.
Alya menatap Zee dan Alex yang sedang duduk bersama. Dia teringat akan saat itu, saat dia ke taman bersama dengan Wiliem dan Zee. Entah kenapa, Alya merasa sedih, karena tak bisa lagi bertemu dengan Wiliem.
"Al, rindu Daddy Wil. Tapi Mommy sudah bersama dengan Uncle Alex," batinnya.
Wiliem melihat wajah Alya berubah pun menjadi khawatir. Dan turun mencoba mendekati tapi tetap bersembunyi.
"Kau merindukan, Daddy honey?" tanya Wiliem.
Alya yang tiba-tiba pun mendapat perhatian dari Alex. Alex dengan segera mendekati Alya dan langsung memeluknya dari belakang.
"Dooorrr," ucap Alex mengagetkan Alya.
Alya begitu terkejut dan memukul tangan Alex, mereka saling berlari mengejar satu sama lain. Zee hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kenapa hatiku sangat berbeda saat bersama dengan Alex? Hatiku begitu tenang jika berada di dekatnya. Sedangkan jika dengan Wili, aku tak merasakan apapun, hanya ada rasa nyaman saja," batin Zee.
"Kau harus segera menerimanya, Zee. Karena, hatimu ada bersama dengan Alex. Aku hanya menjadi perantara antara kalian saja," gumam Wiliem.
__ADS_1
Wiliem pun pergi dengan pelan-pelan dari sana membiarkan Alex dan Alya bersama dan semakin dekat.
Mana LIKE nya ðŸ˜ðŸ˜ jangan malas kan gratis !!! jangan amnesia buat menekan LIKE dulu...