
Sam terbangun dengan napas yang terengah, mimpi itu begitu nyata dia rasakan. Rumah besar itu gelap gulita tak nampak sinar sedikit pun. Sam turun dari ranjangnya menyalakan lampu dan keluar dari kamarnya. Sunyi, gelap, tak terlihat apa pun hanya ada warna hitam di semua arah.
“Kenapa aku begitu takut dengan kegelapan ini?” tanya Sam pada dirinya sendiri.
Sam melangkahkan kakinya tuk terus maju tapi baru saja satu langkah kakinya sudah menabrak sesuatu hingga dia terperanjat mundur kebelakang. Entah kenapa jantungnya berdegup sangat kencang, peluh sudah membasahi seluruh tubuhnya, Sam merasakan ketakutan yang luar biasa.
“Abigail,” teriak Sam dengan suara bergetar.
Sunyi tak ada sahutan dari siapa pun, hanya ada angin yang berhembus menambah rasa takut tuk Sam. Sam kembali mencoba melangkah maju kembali dan mencari istri dan anaknya.
“Abi, kau dimana? Kenapa, di sini sangat lah gelap. Abi kau di mana, aku sangat takut,” ucap Sam dengan sedikit berteriak.
Terlihat jendela diujung ruangan berbunyi karena angin dari luar, terlihat sambaran kilat dari balik jendela. Rupanya, cuaca di luar mendung dan mungkin saja akan ada badai karena angina dan kilat terus bersahutan satu sama lain. Sam menatap ke kamar sang anak membuka pintu tersebut tak terlihat siapa pun di sana, Sam semakin kecewa dan marah. Ke mana sebenarnya Abigail pergi membawa Yuan.
“Pergi kemana dia? Sampai lupa waktu dan tak ingat akan diriku di rumah,” gumam Sam.
Disisi lain, Abigail baru saja terbangun saat Jiso anak dari Zyan membangunkannya. Yuan menangis karena
kehausan, Abigail bergegas turun dari ranjang dan melihat Yuan menangis di pelukan Kiara.
“Yuan,” panggil Abigail seraya mengambil Yuan dari Kiara.
Yuan yang sudah sangat lelah menangis pun langsung menyusu pada sang ibu dan tak lama terlelap begitu saja dipelukan sang ibu.
“Abi, kau taka pa?” tanya Kiara cemas.
“Sam, dia pasti sudah sampai di rumah dan aku belum juga pulang. Bagaimana ini, Yuan sedang tidur dan aku tak bisa pulang dalam keadaan hujan seperti itu,” jawab Abigail.
“Abi, tenanglah! Zyan sedang ke rumahmu karena dia juga ingin bertemu dengan Sam. Jadi, Zyan pasti
memberitahukan Sam jika kau ada dirumah Kak Ara,” ucap Kiara.
“Kenapa kau tak membangunkanku saat Zyan akan pergi?” tanya Abigail.
“Maaf, Abi. Aku tak enak membangunkanmu, karena Kak Ken mengatakan kau sedang sangat lelah dan sedang beristirahat,” jawab Kiara merasa bersalah.
“Hem,, maafkan aku Kiara. Tak sepantasnya aku mengatakan itu padamu,” ucap Abigail.
“Sudahlah, tidak apa.”
Zyan terus mengemudikan mobilnya menuju rumah Sam, cuaca memang sedang tak bersahabat. Hujan dan petir terlihat, terlihat beberapa tempat menjadi gelap sepertinya ada pemadaman listrik sementara. Zyan memasuki halaman rumah Sam, di sana sangat gelap, dengan cepat Zyan turn dan bergegas masuk ke dalam rumah. Saat akan mengetuk ternyata, pintu itu tak terkunci.
“Tidak terkunci? Apakah Sam ada di dalam, atau jangan-jangan ada maling?” tanya Zyan pada dirinya sendiri.
Zyan berjalan pelan dengan membawa tongkat baseball yang berada di dekat pintu, terus masuk ke dalam tanpa ada penerangan sama sekali.
Sraakkkk,,,,
Terdengar seperti suara benda diseret, membuat Zyan semakin tegang dan waspada akan suara itu. Zyan menelan air liurnya dengan begitu susah. Saat sampai dirunag tengah, barulah terdengar suara rintihan dari sana dan membuat Zyan menyalakan senter pada ponselnya.
“Sam!!!” teriak Zyan saat melihat sang teman sudah terbaring dilantai dengan kepala penuh darah.
Zyan berlari dan memangku kepalanya, Sam masih sedikit tersadar. Namun dia terlihat begitu lemah karena sudah banyak darah yang keluar. Zyan memanggil ambulance tuk segera datang.
“Sam, kenapa kau bisa seperti ini? Sam, bertahanlah!” pinta Zyan mencoba tak menangis.
Sam memegang tangan Zyan yang berada di pipinya, napasnya sudah begitu lemah. Sam membisikkan sesuatu yang begitu lirih tapi masih bisa Zyan dengar,
“Tolong, jaga anak dan istriku! Aku harus bertemu dengan Via.”
“Tidak, aku tak mau melakukan itu. Kau harus bisa bertahan, kau harus bisa menjaga anak istrimu Sam! Kau harus bisa menjaga Abi dan Yuan seperti kau menjaga Zee dan Alya,” ucap Zyan dengan suara bergetar.
Sam teringat akan kejadian di mana Alfa menghembuskan napas terakhirnya, tangan Alfa menggenggam erat tangan Sam, membisikkan tuk menjaga Zee dan calon anaknya yang masih dalam perut. Sam tersenyum menatap Zyan.
“Al, kau disini? Apakah kau mau menjemputku, ya aku sudah melakukan tugasku menjaga kekasih hatimu itu dan sekarang dai sudah berbahagia dengan suaminya. Al, anakmu sangat cantik seperti ibunya,” ucap Sam dengan ter bata, matanya terpejam dengan perlahan.
“Diam kau, Sam! Jangan bicara lagi, jangan berbicara yang tidak-tidak. Tak ada Alfa di sini, bodoh!” hardik Zyan dengan ketakutan.
Terdengar suara ambulance dari luar, terlihat dua lelaki masuk membawa tandu dan mengangkat tubuh Sam masuk kedalam ambulance. Zyan menelpon Ken memberitahukan jika Sam terluka, Ken begitu kaget dan segera pergi dari rumahnya.
“Ken, kau mau kemana? Di luar sedang hujan lebat,” tanya Ara.
“Ada pasien darurat. Jadi, aku harus segera pergi,” jawab Ken.
Ara menatap wajah Ken yang begitu cemas dan tegang, tak biasa suaminya yang begitu mencemaskan seorang pasien. Ken menatap sang istri mencium kening Ara lalu bergegas pergi.
“Hati-hati, Ken!” pinta Ara.
Terlihat, Ken pergi menggunakan mobilnya dengan begitu cepat, Ken begitu khawatir dengan keadaan Sam. Ambulance sudah tiba di rumah sakit dan terlihat Dokter berlari menghampiri Sam, suster pun membawa Sam ke ruang UGD.
Zyan menunggu didepan ruang UGD, menunggu Ken yang sedang ada di perjalanan. Zyan begitu merasa takut akan terjadi sesuatu pada Sam, apalagi jika sampai temannya itu pergi meninggalkannya seperti Alfa.
“Tidak, Tuhan. Aku mohon, jangan ambil lagi temanku!” ucap lirih Zyan.
Lelaki itu kembali teringat akan kejadian Alfa dan sekarang tangannya penuh dengan darah Sam, jantungnya berdegup kencang, peluh sudah membasahi wajah dan tubuhnya. Tangan Zyan bergetar, terlihat air mata menetes di telapak tangannya.
“Tidak, aku tak mau mereka pergi meninggalkan aku sendiri,” gumam Zyan menangis.
Ken yang sudah datang berlari dari lobi ke ruang UGD, Ken melihat Zyan yang sedang tertunduk lesu menutup wajahnya.
“Zyan,,” panggil Ken.
Zyan menegok dan melihat ke arah Ken yang datang, Zyan berdiri dan memeluk sang kakak tertuanya itu. Ken, membalas pelukan dari Zyan.
“Tenanglah, aku akan memeriksanya. Kau tunggu di sini, tak akan terjadi apa pun pada Sam,” ucap Ken menenangkan Zyan.
“Tolong selamatkan, Sam, Kak!” pinta Zyan.
Ken mengangguk ia, menepuk bahu Zyan. Lalu pergi masuk ke dalam ruangan UGD, tapi baru saja beberapa menit Ken masuk. Terlihat Sam keluar ari ruangan itu dan para suster mendorongnya dengan cepat ke ruang operasi. Zyan semakin terkejut melihat itu, tubuhnya dengan refleks mengikuti mereka.
Malam itu, Zyan terus menunggu operasi Sam sendirian dengan segala pemikirannya. Ken sedang berusaha dengan rekan dokternya di dalam ruang operasi. Luka dari kepala Sam lumayan lebar, karena dia terjatuh dari lantai atas dan berguling di lantai.
Butuh waktu beberapa jam menyelesaikan operasi itu dan karena Sam mengalami pendarahan yang sangat
banyak membuat Ken melakukan transfusi darah pada Sam.
“Darah yang kita butuhkan masih kurang satu labu lagi, Dok,” ucap suster.
__ADS_1
“Apakah stok darahnya sudah habis?” tanya Ken.
“Ya, Dok.”
Ken pun keluar dari ruang operasi meminta Zyan tuk mendonorkan darahnya. Zyan mengangguk ia dan segera melakukan transfusi darah tuk Sam. Mentari di ufuk barat telah menampakkan sinarnya, Zyan tertidur di kursi tunggu sedangkan Ken baru saja menyelesaikan tugasnya dengan baik dengan para rekan Dokter lainnya.
Ara menghawatirkan Ken yang tak kunjung juga kembali, begitu juga Kiara yang mencemaskan Zyan yang tak kunjung juga kembali dari rumah Sam. Begitu pula dengan Abigail yang terus menunggu Zyan dan Sam datang.
“Kenapa mereka sangat lama? Apa mereka memutuskan tuk tidur di sana, karena semalam ada badai,” ucap Abigail.
Kiara menghubungi Zyan tapi tak bisa dihubungi, Ara yang mendapatkan tugas pagi hari di rumah sakit pun
bergegas pergi setelah memberitahukan Abi dan Kiara. Sesampainya dirumah sakit, Ara terkejut melihat Ken yang baru saja keluar dari ruang operasi.
“Ken,” panggil Ara.
Ken yang terlihat sangat lelah pun hanya bisa tersenyum melihat sang istri yang baru datang. Ara menatap tajam sang suami dan bertanya siapa pasien itu. Tak lama terlihat Zyan yang baru saja datang dari kantin membawakan makanan tuk Ken.
“Zyan, kau disini? Bukannnya kau di rumah Sam?” tanya Ara merasa heran.
“Kakak, ya aku semalam aku ada di rumah Sam,” jawab Zyan.
“Lantas sedang apa kau di sini? Jangan bilang pasien itu, Samudera?” tanya Ara menatap Ken.
Ken yang sudah sangat letih hanya mengangguk ia, tak ingin menutupi lagi apa yang terjadi pada Sam. Ara langsung masuk ke dalam setelah memaki jubah steril, melihat Sam yang tertidur dengan banyak alat ditubuhnya. Tangisan Ara pecah di dalam sana, kenapa dia harus menyaksikan semua adik-adiknya berada di ruang operasi?
“Apa lagi ini? Kenapa, Kau selalu menguji keluargaku Tuhan? Kenapa, tak habis-habisnya air mata kesedihan ini keluar dari mataku. Kenapa, kau selalu mengujiku dengan keadaan adik-adikku?” ucap lirih Ara menutup mulutnya dengan tangan.
Diusianya yang sudah tak lagi muda, Ara begitu lelah dengan semua kejadian yang terjadi pada keluarganya. Dia wanita yang sangat lemut tapi harus berubah menjadi keras dan tegas pada semua adiknya, menjaga mereka dari beberapa tahun lalu setelah para orang tua mereka telah tiada. Ara sebenarnya sangat lah rapuh, tapi dia tak ingin menunjukkan itu pada adik-adiknya.
Hanya Ken yang tahu seperti apa dirinya jika melepaskan topengnya itu, wanita yang rapuh dan sangat butuh perhatian. Aurora Kenzia Putri anak pertama dari Azura dan Bumi ini dahulu sangat disayangi dan dimanja oleh semua orang terdekatnya. Gadis yang manja dan sangat dekat dengan sang ayahnya, ponakan kesayangan dari Intan dan Aldo.
Maka dari itu, Ara bisa menyayangi Sam dan Vanya seperti dia menyayangi Zee dan Zyan. Ara tak pernah
pilih kasih dengan semua adik-adiknya, kana kasih sayang Ara begitu tulus dan murni.
**********🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Disisi lain, Zee dan Alex pergi kerumah Sofia, Vanya dan Wil mereka menghabiskan akhir pekannya tuk berkumpul di rumah sang mertua. Alya begitu senang bisa menemui grandma nya, gadis kecil itu akan sangat bahagia jika berada disana.
"Akan bagaimana kita mengatakan yang sebenarnya pada Vanya?" tanya Alex.
"Entahlah, aku pun masih merancang kata-kataku. Masalah ini sangatlah sensitif, karena akan membawa nama Sam juga," jawab Zee.
"Ya, aku tahu. Apakah kau tahu, sayang? Jika, Sam menjadi pemurung setelah kematian Zyvia. Abigail dan Tuan acap kali bermalam dirumah kakak," ucap Alex.
"Maksudmu, Abigail dan Sam pisah rumah?" tanya Zee.
"Tidak, Abigail hanya main dan kadang tak pulang saja. Mungkin, Abi sudah lelah dengan sikap Sam yang tak menghiraukan dirinya dan Yuan," jawab Alex.
Zee terdiam mengingat seperti itu lah dirinya saat ditinggal pergi oleh Alfa. Dunianya runtuh, tak ada suara tawa yang ada suara tangisan, seakan tak perduli dengan hidup sendiri dan tenggelam dalam kesedihan.
"Aku tahu bagaimana perasaan Sam, bagaimana dia sekarang menjalani kehidupannya. Hanya penyesalan yang ada," ucap Zee menjadi murung.
Alex mengusap lembut kepala sang istri, mencoba mengerti apa yang dia maksud. Ya, Alex akui dia begitu kagum dengan sikap dan sifat Zee yang bertahan dengan rasa cintanya selama sepuluh tahun dan setia pada kekasihnya.
"Ya, kau benar. Maaf, aku menjadi sensitif jika mengenai kematian," ujar Zee menatap ke arah Alex.
Alex menarik tubuh sang istri kepelukannya, mencium keningnya sekilas. Alya hanya bisa tersenyum jika melihat Daddy dan Mommy nya itu bermesraan.
Mobil Alex terus membelah jalanan kota itu, menuju ke mansion sang Mommy. Pagi itu, Vanya dan Sofia menyiapkan makanan yang sangat banyak terutama omlete tuk Alex dan spageti tuk Alya.
"Aku sangat senang karena, kalian akan berkumpul dirumah," ucap Sofia tersenyum.
"Ya, sudah sangat lama semenjak hari pernikahan ku. Dan, sekarang waktunya kita berkumpul lagi," balas Vanya tak kalah senangnya.
Wil sedang olah raga dengan mengelilingi taman dekat mansion Sofia. Tak lama kemudian terlihat mobil Alex memasuki halaman rumah besar itu.
Alya turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah dengan berteriak memanggil Sofia dan Vanya.
"Grandma, Kak Anya," teriak Alya berali keruang tengah.
Vanya dan Sofia bergegas pergi dari dapur dan menemui gadis kecil cantik itu, Alya berhambur kepelukan sang nenek.
"Ah, cucuku cantik. Aku sangat merindukan dirimu," ucap Sofia sembari menciumi pipi Alya.
"Al juga rindu, Grandma."
Zee dan Alex pun masuk di bersama dengan Wil yang bertemu di depan rumah. Wil memilih tuk mandi, sedangkan yang lainnya beras di ruang makan. Alya sudah melahap spageti kesukaannya.
"Apakah enak, sayang?" tanya Sofia.
"Ehem, ini sangat nikmat. Terimakasih, Grandma, kaka Anya," jawab Alya.
"Ya sayang."
Wil yang sudah kembali setelah mandi pun menghampiri Alya yang sedang makan, menciumnya dari belakang membuat gadis kecil itu terkejut lalu tertawa geli mendapat pelukan dan cuma dari Wil.
"Daddy," panggil Wil.
"Ya, honey," sahut Wil.
"Sudah kita makan dahulu! Nanti keburu dingin," pinta Vanya.
Mereka pun makan dengan sangat lahap tak ada obrolan yang terdengar. Hanya ada dentingan sendok dan garpu saja yang terdengar. Alya yang sudah selesai terlebih dahulu pun memilih pergi keruang baca.
"Terimakasih hidangannya, ini sangat lezat. Maaf, aku tak membantu," ucap Zee.
"Tidak, apa. Kau kan tamu, jadi biarkan aki dan Mommy yang membuatnya," balas Vanya.
Alex dan Wil beranjak kegagalan belakang yang letaknya tak jauh dari ruang makan. Sofia pergi keruang baca menemani Alya, Zee dan Vanya membersihkan sisa makanan.
"Kak, apa aku boleh menanyakan sesuatu?" tanya Vanya.
Zee mengangguk dan tersenyum menatap sang adik.
"Ya, kau mau menanyakan apa?" tanya Zee kembali.
__ADS_1
"Kak, Zyvia. Emm, maksudku apakah kau tahu dimana Zyvia saat aku terluka saat hari itu?" tanya Vanya terlihat ragu.
"Zyvia, dia ada saat kau ada disana sayang. Kau tahu, dia juga menyelamatkan dirimu dengan mendonorkan darahnya tuk mu," jawab Zee.
"Jadi maksudmu dia ada disana menemani aku. Bahkan sampai mendonorkan darahnya tuk ku? Tapi, kenapa dia pergi sebelum aku sadar?" tanya Vanya.
Zee menarik tangan Vanya mereka duduk di ruang tengah. Vanya semakin yakin ada yang mereka sembunyikan darinya. Hanya saja, Zee tak terlihat begitu gugup.
"Kak, tolong katakan padaku! Ada apa dengan Zyvia," pinta Vanya.
"Aku akan mengatakan semuanya, tapi kau harus berjanji tak akan menyalahkan siapapun!" perintah Zee.
"Apa maksudnya, tak menyalahkan siapapun? Kak, apakah ada hubungannya dengan kak Sam?" tanya Vanya mulai kesal.
"Jangan salahkan, kakakmu! Semuanya itu tidak benar," jawab Zee.
Vanya memalingkan wajahnya, menahan rasa kesal dan penasaran yang bersamaan.
"An, kau tahu jika Zyvia memang sudah berubah. Dia begitu menyedihkan, Anh. Selama hidupnya dia terasing tanpa memiliki keluarga, dan kau orang pertama yang menerimanya kembali. Mengundangnya tuk kembali ke keluarga kita, tapi takfir berkata lain. Tuhan, lebih sayang padanya yang terus tersiksa oleh masa lalunya," jelas Zee mulai bergetar.
Vanya menatap Zee dengan sangat penasaran. Sedangkan, Zee sudah menangis mengingat kembali pertemuannya yang terakhir dengan Zyvia.
"Kak, apa arti dari Tuhan lebih sayang dirinya? Apa yang terjadi pada Zyvia?" tanya Vanya cemas.
Wil dan Alex masuk dan menghampiri istri-istri mereka. Alex memegang bahu Zee, Wil berada di depan Vanya menatap sang istri dengan wajah sedih.
"Anh, Zyvia sudah tiada. Dia mengalami kecelakaan pesawat saat akan pulang keluarganya," jawab Wil.
Deg, air mata Vanya mengalir begitu saja. Vanya menutup mulutmu dengan tangan karena tak percaya dengan ucapan dari Wil.
"Ka-kau jangan bercanda, Wil!" seru Vanya seraya menggeleng tak percaya.
Wil memeluk Vanya, namun dengan cepat Vanya menolaknya. Vanya menatap Wil dengan tajam terlihat kekecewaan di mata Vanya.
"Kau, membohongi aku. Kau bilang, Zyvia baik-baik saja," ucap Vanya.
"Anh, kenapa kita tak mengatakan padamu. Karena, kak Ara dan kak Ken yang memintanya. Saat itu, kondisimu belum sembuh dan masih labil," ujar Zee.
"Anh, jangan salahkan Wil. Kita semua hanya ingin kau sembuh, apalagi kau terpuruk karena kehilangan bagimu," ucap Alex.
"Hiks,,, hiks,,, hiks,,, Via. Kenapa, kenapa kau pergi setelah menyelamatkan aku. Aku sudah berjanji tak menyatukan kau dengan kakak lagi," isak Vanya.
Tubuhnya terjatuh di atas lantai, Wil memeluk tubuh Vanya menenangkan sang istri. Vanya hanya bisa menangis memukul dada bidang sang suami, Zee tak bisa menahan air matanya.
Siang itu, Vanya masih terdiam memeluk tubuh sang suami di dalam kamar. Sudah tak terdengar suara tangisan nya, hanya lelehan air matanya saja yang masih keluar.
Wil dengan begitu setia dan sabar menemani Vanya, tangannya terus mengusap lembut rambut dan punggung dari sang istri.
"Wil, apakah Zyvia ditemukan?" tanya Vanya lirih.
"Tidak, sayang. Selama sebulan Alex mengerahkan anak buahnya tuk ikut mencarinya. Tapi, hasilnya nihil. Zyvia tak ditemukan," jawab Wil.
Vanya menutup matanya, memeluk erat tubuh Wil. Vanya merasa berhutang budi pada Zyvia karena telah meyelamatkan dirinya, Vanya teringat akan Sam.
"Bagaimana keadaan kakak sekarang? Apakah dia sedih mengetahui, Zyvia tiada?" batin Vanya.
Setelah lelah menangis, Vanya merasa tubuhnya begitu lemas dan pusing. Vanya menutup matanya, membiarkan Wil yang terus memeluk tubuhnya.
Wil menatap wajah Vanya yang tertidur, merebahkan tubuhnya dengan perlahan. Membiarkan, sang istri tuk beristirahat sejenak setelah menangis.
"Istirahatlah sayang!" pinta Wil, mencium kening Vanya.
Wiliem memilih keluar dari kamarnya, terlihat Alex dan Zee yang masih menunggu diluar dengan cemas.
"Vanya, bagaimana dia?" tanya Zee.
"Sudah lebih tenang. Sekarang, dia sedang istirahat," jawab Wil.
"Kenapa, kisah keluarga mereka begitu menyedihkan," ucap Alex.
"Ya, sejak dulu persaudaraan mereka selalu di uji. Sampai, Zyvia tiada pun hubungan mereka belum membaik," balas Zee.
"Zee, apakah kau ingin menemui Sam? Sudah lama kita tak melihatmu," tanya Alex.
"Apakah kau mau menemaniku?" tanya Zee kembali.
"Baiklah, kita kerumahnya sekarang. Biarkan, Alya disini bersama Mommy," jawab Alex.
Zee mengangguk ia, dia menemui Alya di ruang baca. Memberitahukan sang anak, jika dia akan pergi ke rumah Sam.
"Mom, Al boleh ikut? Al rindu Yuan," tanya Alya.
Zee menatap ke arah Sofia dan mendapat anggukan dari sang mertua. Barulah, Zee membolehkan sang anak tuk ikut dengannya.
"Lex, ayo kita berangkat!" pinta Zee.
Terlihat, Alya yang mengandeng tangan Zee. Alya tersenyum dan memberitahu jika dia ingin ikut.
"Jadi, Alya ingin ikut?" tanya Alex.
"Ya, boleh ya, Dad?" tanya Alya kembali.
"Baiklah, honey. Mari, kita pergi sekarang!" seru Alex.
Alya berlari memeluk tubuh Wil terlebih dahulu sebelum pergi, mencium pipi sang Daddy.
"Hati-hati princess!" pinta Wil.
"Yes, Dad."
Mereka pun pergi kerumah Sam, terlihat mobil itu semakin menjauh. Vanya melihat dari balik tirai kamarnya, air matanya kembali mengalir. Sungguh dia ingin sekali menemui Sam, tapi hatinya tak kuat.
"Via, apakah kau masih hidup? Kau dimana, bagaimana aku bisa menepati janjiku padamu. Aku sudah berhutang nyawa padamu, Via," isak Vanya begitu lirih.
Bersambung🍂🍂🍂
Jangan lupa tuk memberi vote nya sayang sayang nya aku... tinggalkan jejak ya like dan komen..
__ADS_1
Terimakasih 🙏😁