
Seiring berjalannya waktu, semakin banyak yang kita lalui, kita hadapi dan kita lakukan sesuatu yang menakjubkan. Itu juga yang sekarang Zee dan kawan kawan lakukan.
Pantai
Semua keluarga besar memutuskan tuk berlibur bersama menghabiskan waktu bersama, mereka pergi ke pantai. Selama seminggu akan melepas semua kepenatan.
"Kamar anak anak ada di lantai atas! Silakan kalian pilih saja sendiri!" perintah Aldo.
Zee memilih ruangan yang paling ujung, sedangkan Zyvia sekamar dengan Vanya. Alfa dan Sam juga bersama.
"Aku sangat rindu sekali bermain air di laut lepas," ucap Zee sambil menatap lautan dari jendela kamarnya.
Di kamar Zyvia dia dan Vanya sedang tiduran melemaskan otot tubuh mereka yang terasa pegal karena perjalanan jauh.
"Zy, aku ingin sekali tidur. Jika ada yang mencariku, tolong katakan aku tidur yah!" pinta Vanya.
"Baiklah, tuan putri. Kau tidur saja yah!" perintah Zyvia.
Seketika Vanya sudah terlelap tidur, Zyvia memilih tuk keluar dari kamarnya berkumpul kembali dengan yang lain diruang tengah.
Matanya menangkap semua orang berpasangan, sedangkan dirinya selalu sendiri. Matanya melirik ke arah Alfa yang tak di temani oleh Zee, seketika senyum Zyvia mengembang.
"Al sendirian? Kemana Zee, tumben tak bersama?" tanya Zyvia.
"Via kemari nak!" ajak Cessi yang melihat putrinya berdiri di tangga.
Zyvia pun berjalan dan mendekati Mommy nya, yang ternyata sedang bermain dengan Rio.
"Hallo, boy. Kau tak tidur, hem?" tanya Zyvia seraya menoel pipi Rio.
Bayi itu hanya tersenyum saja, dan kembali bermain dengan makanannya.
Zyvia kembali melirik Alfa yang sibuk dengan ponselnya.
"Pangeran es itu kenapa begitu tampan? Dinginnya salju tak bisa menandingi dinginnya padaku, sama seperti rasaku padamu yang sudah membeku. Dan akan terus membeku dalam kedinginan hatiku yang sepi. Jangan salahkan hatiku! Jangan salahkan perasaan yang sudah terlanjur menjalar dalam nadiku! Jangan pula salahkan cinta yang datang pada pandangan pertama di musim dingin itu, aku dan kau harus menerimanya. Karena, ini takdir cintaku," ucap Zyvia dalam hati sambil masih menatap Alfa.
Zee, menyaksikan kejadian tersebut, matanya berkaca kaca menahan segala rasa panas dalam hatinya. Cemburu yang menjalar pada hatinya.
"Zyvia, apakah kau begitu menyukai lelakiku? Dan apakah kau tahu, kau juga telah melukai hatiku?" ucap Zee dalam hatinya.
Zee masih terpaku diajak tangga, Sam yang tak sengaja berbalik pun melihat Zee dan mengikuti arah tatapan itu.
"Astaga, apa yang harus ku lakukan padanya? Kenapa dia tetap menyimpan rasa yang akan menyakiti dirinya dan orang lain," ucap Sam dalam hati.
"Zee!" panggil Zyan yang berdiri tepat di bawah tangga.
Zee tersenyum melihat Zyan, entah kenapa semenjak Zyan kembali hatinya menjadi damai, tenang, dan merasa terlengkapi kembali.
Alfa menengok saat mendengar Zyan memanggil nama Zee, dan ternyata Zee berada di dekatnya. Alfa tersenyum seraya menghampiri mereka..
__ADS_1
"Kau darimana saja?" tanya Alfa.
"Aku, aku ada di kamarku. Apa kau tak tahu letak kamarku? Atau kau salah masuk kamar?" tanya Zee sinis.
Alfa dan Zyan menatap satu sama lain dengan mengangkat satu alisnya.
"Ekhem,,, bagaimana kalau kita jalan jalan ke pantai?" tanya Kiara yang tiba tiba datang dari belakang.
"Aahh, benar sekali. Senja di pantai ini sangat indah jika akan tenggelam," jawab Zyan.
Zee langsung mengandeng tangan Zyan dan berlalu meninggalkan Alfa dan Kiara disana. Sam hanya bisa menghela napas panjang, dia merasa bersalah karena sikap Zyvia.
Di pantai, Zee dan Zyan sudah seperti pasangan kekasih yang tak mau di pisahkan. Alfa kesal karena Zee mendiamkannya, sedangkan Kiara tersenyum melihat kedekatan mereka.
"Ada apa, katakan padaku!" pinta Zyan.
"Tidak ada! Aku hanya sedang merasakan, dingin dan panas di dalam sini," balas Zee dengan menekan dadanya.
Zyan merangkul tubuh Zee, dan membisikkan sesuatu pada sang adik.
"Jika terasa dingin kau bisa panaskan bukan, dan jika kau panas bisa kau dinginkan!" perintah Zyan.
"Hubungan mu dengan Alfa sedang berada di tengah tengahnya sayang, dan kau bisa melewati semua itu tanpa memalingkan wajahmu dari Alfa," sambung Zyan.
"Aku sudah mencoba menahannya, tapi rasanya begitu sakit, amarahku memenuhi hati ini, dan setiap aku ingin percaya, dia selalu datang dengan cara lain yang menyakitkan diriku," jelas Zee menahan tangisnya.
Zyan dan Zee berhenti. Zyan memeluk tubuh sang adik dengan erat, Alfa dan Kiara terkejut dan cemas. Akhirnya mereka berjalan cepat menghampiri mereka.
Zee tak menjawab, Zee semakin menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang kakak.
"Princess, mau pergi denganku?" tanya Kiara sembari memebelai rambut panjang Zee.
Zee menatap Kiara yang berdiri di belakang Zyan, dan langsung memeluk kakak iparnya tersebut.
"Zee, ada apa sayang?" tanya Alfa cemas. Dan melihat Zee malah pergi bersama Kiara.
"Al, kita bicara sebentar!" pinta Zyan.
Zyan dan Alfa pun duduk di atas pasir, dua pemuda itu terlihat serius. Hembusan angin laut dan deburan ombak mengisi kesunyian pada kedua nya.
"Katakan, ada apa dengan Zee?" tanya Alfa singkat.
"Tak ada! Gadis mu hanya sedikit goyah, dan ku rasa perahu yang kalian tumpangi terdapat lubang disana," jelas Zyan.
Alfa yang mengerti apa yang di maksud Zyan pun hanya menunduk, Alfa berpikir sangat jauh pada Zee.
"Tak ada gadis, selain dia hatiku!" seru Alfa.
Zyan tersenyum puas sembari menepuk bahu Alfa. Sudah Zyan tebak, Alfa sungguh mencintai dan menyayangi Zee dengan seluruh jiwanya.
__ADS_1
"Pergilah, temui dia! Dan katakan segalanya agar gadis mu itu bisa tenang," ucap Zyan.
Kiara membawa Zee, ke atas mercisuar. Terlihat begitu indahnya sunset dari atas sini. Zee masih terpaku akan keindahan sang pencipta yang begitu luar biasa.
*Kau dan Aku
Senja, tetaplah diam disana...
Biarkan, bulan menemuimu sebentar saja..
Angin, satukanlah kerinduan tuk nya...
Kau dan Aku
Ombak, janganlah pernah tinggalkan pantai...
Deburanmu, bagaikan nyanyian..
Seperti itulah kau di mataku...
Sebanyak ombak di seluruh lautan dan samudera..
Sebanyak itu pula rasa sayang dan cintaku, padamu*
Tak terasa bibir pink itu berucap dengan sendirinya, Zee meneteskan air matanya. Menenangkan pikirannya dan juga hatinya, mencoba tegar dan tersenyum kembali seperti semula.
"Apakah, kau masih meragukan diriku. Zee?" tanya Alfa yang sudah berdiri tepat di belakangnya dengan tatapan sendu.
Zee membalikkan tubuhnya, dan terlihat bulir bening dari mata Alfa, Zee diam mematung, bibirnya keluh, tubuhnya gemetar menahan gejolak rasa di hatinya.
"Aku katakan padamu, tak ada selain dirimu. Dan selamanya tak ada yang bisa memiliki hati dan seluruh perasaanku selain dirimu," jelas Alfa.
Tangisan Zee semakin menjadi, di bekapnya mulutnya itu dengan tangannya. Alfa berjalan maju pada Zee.
"Bunuh saja aku! Jika aku hanya bisa membuatmu menderita dan bahagia dalam waktu yang bersamaan!" seru Alfa.
Zee menggeleng dengan cepat, hatinya semakin sesak dan begitu sakit. Seperti puluhan pisau menancap di relung hatinya.
"Aa-aaku, aku tak bisa jika tidak denganmu. Kau segalanya bagiku," ucap Zee dengan suara yang bergetar.
Alfa menarik tubuh gadis itu, di satukanlah bibir itu dengan begitu cepat, menyalurkan segala rasa sedih, senang, kecewa, dan sakit dengan bersamaan.
Senja menjadi saksi bisu antara dua insan tersebut. Mengecap kenikmatan dan kebahagiaan yang membuatnya akan terbang kelangit ke tujuh.
"Hanya ada kau dan aku!" seru Alfa disela ciumannya.
"Hanya ada cinta dan sayang selamanya," balas Zee.
Zee tersenyum saat Alfa mencium kilas bibirnya dan berlanjut pada keningnya. Hembusan angin seakan menyelimuti keduanya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Bersambung💞💞💞