Takdir Cinta

Takdir Cinta
Rencana makan malam


__ADS_3

" Ayo Ana , kita duduk di taman saja ada Dewa disana " ujar Lia dan Rafli menatap punggung wanitanya yang mulai menjauh dan suara bariton itu kembali menyadarkannya .


Abdi tersenyum kecut saat sang putra nya itu baru saja mendaratkan bokongnya.


" Papa dan mama akan menemani Ana ke Korea , untuk memenuhi ngidam menantu papa. Besok kami akan berangkat " ucap Abdi tanpa basa basi.


'' Ana istriku , jangan menuruti ngidam konyolnya " seloroh Rafli tak terima.


" Apa Ana yang meminta papa " tanya Rafli.


" Bukan, istrimu tak pernah bicara apapun tentang mengidamnya . Papa tau dari Rani " ujar Abdi.


" Lagian hanya makan malam yang Ana inginkan , kenapa kau begitu menolaknya " imbuhnya.


" Pa bukan hanya itu . Ana juga ingin ngedate satu hari bersama pria sok tampan itu. Aku mana bisa menahan cemburuku saat melihatnya bermesraan dengan pria lain. Dia istriku pa. Ana istriku " tegas Rafli.


" Apa kau mau , anakmu ileran " sahut Lia makin membuat suasana makin panas batin Rafli.


" Tapi aku.... ''ucap Rafli terhenti .


'' Jika kau cemburu biar papa dan mama yang menemaninya.. jadi kau tak perlu melihat. Mencobalah mengalah kali ini pada istrimu yang sedang hamil. Kontrol rasa cemburumu itu . Ingat pikirkan anakmu '' ucap Abdi dingin.


'' Okay , aku mengalah tapi hanya untuk ia makan malam bersama pria itu . Selebihnya tidak boleh'' ucap Rafli pasrah , tak ada seorangpun yang memihaknya.


Rafli memutuskan untuk membersihkan dirinya untuk segera makan malam bersama keluarganya . Baru malamnya ia akan membicarakannya dengan Ana.


'' Sayang '' ucap Rafli memeluk mesra Ana dengan sejuta rindu yang begitu dalam.


'' Maaf ''imbuhnya membuat Ana tersentak kaget saat setetes air mengenai kulitnya .


'' Mas '' ucap Ana menatap Rafli seolah bertanya kenapa suaminya menangis.


'' Mas akan menuruti ngidammu , tapi tolong jagalah hati mas Ana '' ucap Rafli sendu .


'' Tidak usah menurutinya mas , jika ini membuatmu terluka '' ucap Ana.


'' Demi anak kita mas ikhlas , tapi tolong jangan lebih dari makan malam '' pinta Rafli lirih .


Ana menangkup wajah suaminya yang kini basah dengan linangan air mata mencium kedua mata suaminya lalu hidung suaminya dan kedua pipi , lalu mencium kening dan segera mengecup singkat bibir suaminya.


'' Baiklah , aku mau mas. Lagian aku sudah tidak ingin ngedate dengannya ''jawab Ana jujur dengan binar bahagia dan itu membuat Rafli lega.


'' Mas merindukanmu '' ucapnya tanpa aba-aba menggendong tubuh Ana.


'' Mas turunin , aku berat '' ucap Ana .


'' Kapan lagi mas bisa menggendong dua orang sekaligus '' ucap Rafli segera memulai aksinya dengan hati-hati agar tak menyakiti sang anak yang ada dalam kandungan.


'' Mas mencintaimu '' ucap Rafli saat memasuki ruang milik istrinya.


.


.


.


Rafli dan Ana kini sedang berada di pesawat pribadi mereka , untuk berada di ibukota Korea Selatan yaitu Seoul membutuhkan waktu tujuh jam lamanya. Ana memilih istirahat agar besoknya ia bisa menikmati tiga hari di Korea .


Sementara Abdi Wijaya dengan bangga membawa cucu lelakinya menuju kantor miliknya di temani Lia yang mengekor di belakang pria beda generasi itu .


Semua karyawan menunduk hormat saat tuan besar yang baik hati itu masuk. Mereka terpana akan ketampanan cucu yang akan mewarisi kekuasaan Wijaya. Ada karyawan yang sedang hamil mengusap perutnya agar kelak ketampanan bocah cilik tersebut menular ke anaknya. Rafli sendiri sengaja meninggalkan sang anak agar tidak meminta yang aneh-aneh di korea . Saat Dewa dalam kandungan ia begitu damai dan tak banyak mau , berbeda dengan saat ini ia begitu banyak maunya apalagi saat bundanya hamil ia tak mau kalah banyak maunya.


'' Pak , ada tuan Permana ingin bertemu '' ucap sekretaris kantor.


'' Suruh ia masuk '' jawab Abdi.


Ceklek...


'' Maaf menganggu tuan Abdi '' ucap Teguh .

__ADS_1


'' Ah , seperti dengan siapa saja '' ujar Abdi.


'' Ayo duduk silahkan '' imbuhnya begitu ramah sementara Lia berpamitan untuk membuat minuman dan cemilan untuk tamunya , Lia tidak mau OB atau sekretaris kantor yang membuatnya .


'' Ah ya . Siapa bocah kecil ini '' tanya Teguh , di pandangan pertama bocah kecil itu berhasil menyentuh hatinya . Kedatangannya kesini juga hanya sekedar berkunjung dan membahas sedikit bisnis.


Abdi terdiam sesaat ada rasa tak enak hatinya jika menyebut ibu dari cucunya itu , namun ia menepisnya karena Ana hanya masa lalu bagi keluarga Permana dan masa depan bagi keluarga Wijaya terutama anaknya .


'' Hmmm ini anaknya Ana dan Rafli '' ujar Abdi setenang mungkin. Teguh yang mendengar sempat merasa sedikit ngilu hatinya.


'' Pantas , wajahnya tak asing . Mirip dengan Rafli '' ujar Teguh.


'' Siapa namamu '' tanya Teguh sementara Dewa melirik kakeknya dan Abdi mengangguk bertanda mengizinkan.


'' Namaku Dewa ka.... '' ucap Dewa meragu.


'' Kakek , panggil aku kakek '' ucap Teguh dengan mata berkaca-kaca sopan santunnya mengingatkan Ana kecil dulu.


'' Apa boleh '' tanya nya pada kakek Abdi.


'' Boleh sayang , dia juga kakekmu '' ucap Abdi.


'' Hore... akhirnya Dewa punya tiga kakek '' ucap Dewa begitu bahagia.


'' Terima kasih tuan Abdi '' seloroh Teguh haru lalu ia memeluk tubuh gempal Dewa dengan penuh kasih sayang .


'' Andai ini cucuku , anak Ana dan Eric pasti rasanya lebih bahagia , terutama kebahagian Eric terasa begitu nyata . Maafkan papa nak " batin Teguh . Ia juga terlibat sebagai penghalang kebahagian anaknya , kerena merasa berhutang nyawa istrinya saat Abdi berhasil menemukan donor jantung untuk sang istri tanpa ia sadari ia menukar kebahagian putranya .


Tepukan Abdi menyadarkan lamunan Teguh.


" Maafkan saya tuan Teguh " lirih Abdi dan di balas gelengan oleh Teguh.


'' Seharusnya sayalah yang minta maaf , karena terbawa suasana '' lirih Teguh.


'' Bagaimana kabar Eric , saya dengar ia sudah mempunyai kekasih bule '' ujar Abdi .


'' Ya , wanita itu terus mengejar Eric namun saya tidak tau karena cinta atau kasihan ia menerima Belle . Tapi. istri saya sepertinya tak menyukainya '' ujar Abdi.


" Apa kabar Ana dan Rafli , kemana mereka " tanya Teguh penasaran.


" Kabar mereka baik , Ana dan Rafli sedang pergi ke Korea karena Ana mengidam sesuatu disana dan saya melarang mereka membawa Dewa nanti bisa kerepotan , maklum Ana menolak punya baby sitter " jawab Abdi menjelaskan .


'' Ana hamil lagi " tanya Teguh memastikan dan di jawab senyum oleh Abdi.


'' Wah bibit unggul ya " seloroh Teguh dan Abdi terkekeh geli.


'' Apa kabar dengan istri anda ''tanya Abdi .


'' Sehat dan saat ini ia sedang mengurus restaurant nya selagi berkunjung ke sini '' jawab Teguh , seandainya Sasa jadi ikut dengannya mungkin Sasa menangis haru saat melihat anak Ana . Teguh selalu mencuri pandang , bahkan ia lebih nyaman berada di dekat Dewa dari pada Excel cucunya sendiri , itulah perasaan yang ia rasa.


'' Maaf lama '' ujar Lia tersenyum ia menyajikan kopi dan berbagai cemilan .


'' Nenek , Dewa mau kue buatan mama '' ujar Dewa padahal ada buah apel yang ditangannya belum habis ia makan.


'' Oh ya , nenek lupa sayang '' ujar Lia dan mengambilkan untuk Dewa sekaligus menyajikan untuk suami dan sahabat suaminya.


'' Silahkan dicicipi tuan Teguh '' ujar Lia ramah .


'' Terimakasih nyonya '' ujar Teguh dan ia tanpa ragu menikmati kue buatan wanita yang kini masih ia harapkan menjadi menantunya meski itu sangat mustahil .


'' Rasanya lebih enak saat dibuat oleh tangannya langsung " batin Teguh , kue ini terasa istimewah dari pada saat ia membeli dari toko kue rindu atau mungkin hanya perasaanya saja.


Dewa bocah gempal itu merasa kurang oleh kue yang ia makan , ia sangat menyukai kue itu namun kue di piringnya telah habis , matanya tertuju dengan kue yang tersaji untuk Teguh , ia menelan salivanya tanpa berani ingin meminta meski rasanya begitu ingin.


Teguh melirik Dewa sekilas saat obrolan mulai membahas bisnis , sementara bocah itu menunduk.


" Dewa , apa mau kue ini.. Ambilah nak "ujar Teguh lembut namun Dewa menggeleng ia tak menjadi seorang yang mengambil bukan miliknya.


" Ambilah " imbuhnya .

__ADS_1


" Terimalah nak " ujar Abdi , sebenarnya ia ingin melarang namun ia mengetahui kalau cucunya begitu ingin .


" Terima kasih kek " ujar Dewa dan tanpa di duga jika Dewa mencium pipi Teguh dengan sayang membuat orang dewasa disana kaget.


" Kau memang anak yang menggemaskan " ujar Teguh terkekeh.


" Ini untuk kakek dan ini untukku "ujar Dewa ia membagi dua kue itu.


" Ambilah untuk Dewa semua " ujar Teguh tersenyum , ingin sekali ia membungkus Dewa lalu membawanya pulang .


" No kek " jawabnya Tegas.


" Aakkk " imbuhnya menyuapi Teguh membuat Teguh begitu saja membuka mulutnya dan menerima suapan dari Dewa. Padahal usia Dewa masih muda dari pada cucunya namun Dewa orangnya begitu penyayang.


Abdi yang melihatnya memejamkan matanya sejenak menahan gejolak kecemburuan saat cucunya menyuapi orang di hadapannya namun ia cukup mengerti dan tidak ingin egois. Sementara Lia berusaha menepis perasaan tak enaknya pada layar laptop , kembali mengecek perusahaan miliknya yang diurus orang kepercayaannya.


.


.


.


Seoul



Di hotel inilah tempat Rafli dan Ana serta beberapa orangnya menginap. Ana begitu takjub akan ke indahan kota Seoul saat ini.



Ini pula fasilitas yang ada di dalam kamar yang mereka tempati....


Ana tersenyum melihat ke pemandangan dari balik jendela kaca , sedangkan Rafli segera mandi menyegarkan tubuhnya.


" Indah sekali ya mas . Apalagi sebentar lagi, aduh senangnya " ucap Ana tak sabar menunggu hari esok tepatnya malam esok.


" Mas " panggil manja Ana.


" Emmmm " jawab Rafli dengan sangat dingin , pria itu berubah menjadi sosok pendiam saat ini.


" Siapkan meja makan malam untuk besok ya mas " ujar Ana tanpa dosa membuat Rafli menatapnya tajam namun tatapannya segera berubah menjadi tatapan lembut saat melihat manik mata Ana.


" Iya " jawabnya menampilkan senyum getir.


"Dasar istri gak ada peka , suami lagi berusaha menata hati agar tidak cemburu malah kini memintaku menyiapkan meja makan malamnya.. Enak saja , dasar istri gak ada akhlak " batin Rafli , kali ini ia mengumpat Ana.


Rafli segera mengirim pesan kepada orang papanya yang menyiapkan acara makan malam Ana.


" Siapkan meja yang begitu sederhana saja untuk makan malam istriku besok malam , jika bisa kasih untuk lelaki itu kopi sianida " pesan terkirim oleh Rafli , sementara orang yang membaca itu tertawa geli atas perintah tuan mudanya.


Hari yang dinanti Ana pun tiba , pada pagi hari Ana pergi ke salon untuk melakukan perawatan dan kini siangnya ia memerintahkan para bodyguard wanitanya untuk membuat kue untuk sang idolanya nanti malam . Para bodyguard yang biasa memegang senjata kini menggunakan celemek lengkap dengan barang-barang dapur , Ana tersenyum geli melihatnya apalagi gerakan mereka cukup kaku.


'' Jangan terlalu lelah. Apa hebatnya ia dari pada aku " ucap Rafli mulai kesal karena di mulai bangun tidur Ana tak menghiraukannya.


'' Kenapa kau begitu menyebalkan mas " ucap Ana sinis , ia sedang milih gaunnya namun mulut Rafli kini bagaikan beo. Sementara Rafli mendengus kesal .


Malam harinya Ana telah tampil dengan begitu sempurna , perut buncitnya tak menghilangkan pesonanya.


'' Tahan Rafli , tahan . Ini hanya malam ini , huuffttt " gumam Rafli menyemangati dirinya.


Sementara para 6 bodyguard wanita itu tersenyum bahagia saat nasi goreng buatan mereka rasanya enak luar biasa dan ada rendang serta sate kacang lengkap dengan lontongnya. Itu lah menu makan malam Ana bersama sang idola. Ana mengetahui jika Lee min ho begitu menyukai nasi goreng dan makanan yang menggunakan daging hingga rendang serta sate ikut dihidangkan , anggap saja sebagai mengenalkan makanan khas Indonesia .


Ting tong....


'' Siapa sich , berisik " gerutu Rafli mendengar suara bel beruntun .


'' Biar aku saja mas '' ketus Ana ...


'' Oh tidak..... '' teriak Ana histeris

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya....


untuk Up dua hari sekali ya....


__ADS_2