
Hari itu menjadi hari yang menyenangkan tuk Alya, dia bisa melihat Mommy dan Daddy nya tersenyum padanya. Duduk bersama, berbincang layaknya keluarga yang sebenarnya.
Wili begitu perhatian dengan Alya, dia sering kali di buat cas karena tingkah Alya yang sedikit ceroboh jika main, di taman bunga itu hanya ada mereka bertiga.
Alya berlarian mengejar kupu-kupu yang berterbangan disana, sedangkan Zee masih tetap duduk di temani oleh Wil.
"Maaf, jika tadi aku menyentuhmu tanpa ijin terlebih dahulu!" seru Wili.
"Hemm, ya tidak apa-apa," jawab Zee.
Suasana begitu canggung antara Zee dan Wili, Zee menatap Alya dengan senyum manisnya. Mata Wili tak bisa berpaling saat menatap ciptaan Nya yang begitu sempurna.
"Oa, siapa namamu, aku Wiliem Alexander," ucap Wil sembari menyodorkan tangannya.
"Zee, panggil saja Zee. Salam, kenal Tuan Wili," sambut Zee sembari menerima tangan Wili.
Zee dan Wili saling tersenyum, saling menatap.
"Wanita ini, begitu kuat. Dalam situasi apapun dia bisa menempatkan diri," batin Wili.
"Dia bukanlah dirimu, Al. Dia Wili, orang asing tuk diriku!" batin Zee.
"Mommy, Daddy," teriak Alya dari kejauhan.
Wili dan Zee pun menengok bersamaan, seraya melepaskan tangan mereka.
"Ya, Al. Ada apa?" tanya Zee.
Alya tak menjawab, hanya senyuman khas anak kecil yang terlihat. Tangan Alya berada di belakang seperti membawa sesuatu.
"Apa yang kau bawa princess?" tanya Wili penasaran.
Zee merasa tak enak, dia berjalan mundur dengan perlahan. Alya, sudah tersenyum nakal pada sang Mommy.
"Al, stop it! Jangan, maju lagi!" perintah Zee.
"Hemm, Mommy. Come on! Ini sangat lucu, tak menggigit dan sangat lembut," pinta Alya.
"No! Cepat buang binatang itu! Mommy, tak suka, jangan buat Mommy, marah!" perintah Zee.
Wili yang sedari tadi bingung, hanya diam. Tapi dengan cepat menarik tangan Alya, sehingga ulat bunga itu terlempar.
"Mommy," teriak Alya.
Zee yang sudah mundur dengan cepat hampir jatuh karena menghindar dari ulat tersebut.
Bughhh.
Tubuh Zee sudah tertumpu pada tubuh kekar Wili, tak hanya tubuh mereka yang saling menempel. Tapi, bibir mereka pun saling berpaut.
Membuat Zee dan Wili sama-sama melebarkan matanya. Karena, mereka begitu terkejut. Mata mereka saling memandang, tanpa sadar tangan Wili menyibak anak rambut yang menghalangi wajah ayu Zee.
"Uph, sorry. Daddy, Mommy," ucap Alya sembari berbalik menutup wajahnya dengan tangan mungilnya.
Dengan cepat, Zee melepas cuma tersebut, lalu bergegas bangun. Zee terlihat salah tingkah dengan memalingkan wajahnya.
Sedangkan Wili menyentuh bibirnya, terlihat senyuman tipis. Hati Wili berdegup kencang. Entah kenapa, Wili begitu suka dengan kejadian tak di sengaja itu.
"Ehem, princess kau nakal. Membuat, Mommy mu ketakutan!" seru Wili sembari mengejar Alya.
Alya menghindar berlari cepat dengan gelak tawanya. Zee hanya bisa tersenyum menatap keduanya.
"Astaga, bibirku! Sudah sepuluh tahun, aku kembali merasakannya, lagi!" batin Zee seraya mengusap lembut bibirnya.
Wili bermain dengan Alya, dan saat sudah berada di tengah labirin bunga. Alya dan Wili sama-sama melambaikan tangannya pada Zee. Memintanya tuk ikut bersama mereka.
Zee mengangguk ia, dia pun berjalan dengan sedikit berlari ke arah mereka. Sesampainya di sana, tangan Zee di genggam oleh Alya dan Wili.
"Eh, kenapa bergandengan?" tanya Zee bingung.
"Karena, kita harus masuk bersamaan dan keluar pun bersamaan!" seru Alya.
Zee dan Wili hanya mengangguk patuh pada sang putri. Mereka tak ingin senyuman di wajah Alya cepat menghilang, membiarkan hari ini menjadi hari yang menyenangkan tuk Alya.
Mereka masuk dalam bunga, disana bermacam bunga yang indah, warna warni, genggaman tangan itu semakin erat saja.
"Mom, Dad, kita harus bisa masuk ke tengah labirin ini!" pinta Alya.
"Nak, itu akan susah. Lebih baik kita kembali saja yah!" pinta Zee.
Alya menatap wajah sang Mommy, lalu menatap Wili. Wili hanya mengangguk ia.
"Hemm, baiklah! Kita keluar saja!" seru Alya.
Zee merasa lega, karena Alya mau tuk keluar dari labirin tersebut.
Wili merasakan getaran di saku celananya. Ternyata, Sofia yang menelpon.
"Tunggu sebentar! Saya, akan mengangkat telpon dahulu," ucap Wili.
Alya dan Zee hanya diam sembari menatap bunga-bunga di samping mereka.
"Mom, kenapa bunga-bunga ini sangat Indah? Berwarna warni. Al suka," serunya sembari tersenyum.
Zee menjadi teringat akan sosok Azura sang ibunda. Air mata mengalir di sudut matanya.
Dulu Azura begitu menyukai bunga-bunga. Ayahnya, Bumi sampai membuat taman bunga tuk Azura di sebuah desa. Namun, sayang karena adanya kekeringan disana membuat taman bunga itu rusak dan sekarang semua bunga itu mungkin sudah mati.
"Ehemm, Al, Zee bisakah kalian ikut denganku!" pinta Wili.
__ADS_1
Zee yang sedari tadi melamun pun di buat kaget, segera menghapus air matanya.
"Mau kemana, kau meminta kami tuk ikut?" tanya Zee.
"Kerumah, Ibuku! Dia sepertinya sangat marah, karena aku memperhentikan donasi di sekolah, Alya," jelas Wili.
"Sepertinya, masalah ini menjadi serius. Semuanya karena aku dan Alya, Tuan," ucap Zee tak enak hati.
"Tidak, jangan bicara seperti itu! Mommy, masih belum tahu kenapa alasanku melakukan itu," balas Wili.
Akhirnya Zee dan Alya pun mengikuti Wili pergi ke rumahnya. Di dalam rumah Sofia sudah sangat marah, dirinya begitu murka mendengar penjelasan dari Erika. Tentunya, memberikan alasan yang berbeda dengan Wili.
"Mommy, akan bertemu dengan Grandma. Dia sangat baik, dan juga penyayang," ucap Alya polos.
Zee hanya tersenyum mendengar penuturan sang putri dengan sekali mengusap kepala sang anak.
Mobil mewah itu pun memasuki sebuah halaman rumah yang begitu besar. Mungkin, lebih pantas di katakan istana.
Wili pun turun dari mobilnya, membukakan pintu mobil tuk Zee. Itu suatu perbuatan yang sangat di sukai semua wanita.
"Terimakasih, Tuan," ucap Zee seraya menunduk.
Wili berjalan terlebih dahulu di depan, Alya menggenggam tangan Zee berjalan disamping sang Mommy.
"Astaga, kenapa rumah ini begitu besar? Siapa sebenarnya, Tuan Wili itu?" batin Zee penuh tanya.
Tanpa Zee sadari, dia pernah bertemu dengan Wili.di sebuah Caffe, membahas masalah kontrak.
Dari dalam ruangan terdengar suara bentakan dari seorang wanita. Suaranya begitu menggema, membuat Alya dan Zee berhenti seketika.
"Please, Mom! Berhentilah, tuk marah. Iti tidak baik, tuk jantungmu!" pinta Wili.
Mendengar percakapan tersebut, Alya melepaskan tangan sang Mommy. Langsung berlari menuju ruangan tersebut, dan begitu saja masuk
"Alya, stop!" perintah Zee seraya ikut berlari.
Sofia begitu terkejut, melihat Alya yang berlari masuk dan langsung memeluk dirinya.
"Grandma, tidak boleh marah-marah! Nanti, bisa sakit," ucap Alya polos.
"Alya, kau ada disini nak?" tanya Sofia begitu senang.
"Alya," panggil Zee saat memasuki ruangan tersebut.
Membuat Sofia menengok ke arahnya, Zee seketika diam mematung. Alya dan Wili pun menatapnya.
"M-maaf, Nyonya. Saya tak bermaksud-" ucap Zee.
"Mom, dia Zee. Mommy nya Alya," ucap Wili memotong ucapan Zee.
Sofia menatap Zee dan Alya berganti, Sofia melepas pelukannya dari Alya. Mendekati Zee, menatap wajahnya seakan tak percaya.
"You, Ok, Mam?" tanya Zee cemas.
Sofia hanya mengangguk, bibirnya tersenyum menatap Zee. Membelai rambut panjang Zee yang sekarang menjadi pirang.
"Siapa namamu, tadi nak?" tanya Sofia.
"Zee, namaku Zee-" jawab Zee.
"Zee Levina Putri," sebut Sofia dengan bibir yang gemetar.
Zee melebarkan matanya, menatap Sofia. Bagaimana dia bisa tahu, dengan nama kebesarannya?
"Kau, kau anak Azura dan Raya, bukan?" tanya Sofia terbata. Air matanya semakin deras membasahi wajah.
"Mommy, ada apa?" tanya Wili sembari mendekati Sofia dan Zee.
Tiba-tiba tubuh Sofia melemas, untungnya ada Wili yang cepat mendekapnya. Tangan Sofia begitu erat memegang tangan Zee.
"Grandma," teriak Alya. Saat melihat Sofia lemas dan sedikit tak sadarkan diri.
Wili menggendong Sofia ke sofa besar di ruangan tersebut.
"Nyonya, bangunlah! Kau kenapa?" tanya Zee sembari mengosok tangan Sofia.
"Zee, tolong jaga dulu Mommy! Aku akan menelpon dokter, sebentar!" seru Wili.
"Baiklah, Tuan. Cepatlah!" pinta Zee.
Alya menangis di samping Sofia, gadis kecil itu begitu takut terjadi sesuatu pada Grandma nya.
"Mommy, ada apa dengan Grandma?" tanya Alya yang masih menangis.
"Tidak, apa-apa sayang! Grandma, hanya kelelahan," jawab Zee berbohong.
Zee mencoba melepas tangan Sofia. Namun, tidak bisa entah kenapa Sofia begitu kencang memegang tangan Zee. Seakan tak ingin melepasnya.
Brakk,
Suara pintu yang di buka paksa, terlihat sosok tampan berlari menghampiri Sofia.
"Ada apa dengan Mommy?" tanyanya.
"Tuan, bukannya kau sedang memanggil Dokter tuk Nyonya? Bagaimana, apa Dokternya bisa cepat kemari?" tanya Zee.
Sosok itu hanya terdiam, sambil terus melihat wajah sang Mommy dengan raut wajah yang begitu khawatir.
"Tuan, kenapa kau diam saja?" tanya Zee.
__ADS_1
"Mommy, dia bukan Daddy. Ini Uncle Alex," jawab Alya sembari menatap Alex.
Sedangkan Alex menatap ke arah Alya, karena terkejut mendengar gadis kecil itu memanggil wanita di depannya dengan sebutan Mommy.
"Mommy," gumam Alex seraya menengok ke arah Zee.
Matanya membulat penuh, saat tahu siapa wanita yang di sebut Mommy itu.
"Zee, jadi dia ibu dari anak ini?" batin Alex masih tak percaya.
Sedangkan Zee menatap ke arah Alex dengan seksama. Melihat pakaian yang di pakai Alex berbeda dengan sebelumnya.
"Alex, Wili, apakah mereka kembar? Nama itu juga semakin tak asing di telingaku," batin Zee mengingat semuanya.
"Astaga, keluarga Sander!" gumam Zee sembari melebarkan matanya menatap Alex.
Tak lama terdengar suara seperti yang sangat kencang. Terlihat Wili datang bersama perempuan cantik di sebelahnya.
"Kenapa, Nyonya bisa sampai seperti ini?" tanyanya, sambil memeriksa Sofia.
Terlihat wanita itu sedikit terkejut melihat tangan Sofia yang menggenggam erat tangan Zee.
"Kenapa, kakak bisa menggenggamnya begitu erat? Siapa wanita muda ini?" batin Ursula.
"Bagaimana, bibi? Apakah, Mommy baik-baik saja?" tanya Alex.
"Hemm, Mommy mu stres kembali. Detak jantungnya sangat cepat, itulah penyebabnya dia tak sadarkan diri," jelas Ursula.
"Apa, kalian membuat ulah lagi? Menjaga satu wanita saja tak bisa," ucap Ursula sinis.
Alex dan Wili hanya diam sembari menunduk, dua lelaki gagah itu sepertinya sangat takut akan pada sang bibi.
Zee dan Alya hanya terdiam, Alya terlihat begitu takut. Dia berdiri di samping sang Mommy dan mendekap lehernya.
"Apa ini anakmu, Wil?" tanya Ursula.
Wiliem menatap Zee dan Alya, setelah itu kembali menatap Ursula.
"Ehem, ya. Dia Alya, anaku!" seru Wili.
Ursula tersenyum menatap Alya, Ursula membungkuk tuk bisa lebih dekat dengan Alya.
"Kau, Alya? Dan, apakah Wili itu Daddy mu?" tanya Ursula.
"Yes this is my Daddy," jawab Alya.
Setelah mengatakan itu, Alya langsung memeluk Zee karena takut pada Ursula.
"Haish, kau membuatnya takut!" seru Wili seraya berjalan mendekati Alya.
Dengan cepat Wili menarik tubuh Alya ke dekapannya. Menggendong, Alya dengan sekali angkat.
"Hah, astaga. Kau ini takut sekali aku akan memarahi anakmu, itu!" balas Ursula.
Alya begitu erat memeluk tubuh Wili, membuat Zee semakin tak enak hati. Terlihat rasa tak suka dari Alex saat melihat kedekatan Alya dan Wili. Apalagi, setelah tau jika Zee adalah ibu dari Alya.
"Kenapa, kenapa harus selalu kau yang pertama," batin Alex kesal.
Tangannya sudah mengepal keras, hatinya begitu penuh dengan kecemburuan.
"Wil, kau telah kembali. Anak ini bisa mencairkan hatimu yang sangat beku dan dingin itu. Apakah, wanita ini yang akan menyembuhkan segala rasa di hatimu?" batin Ursula.
Alex yang merasa terbakar oleh api cemburu pun akhirnya memilih keluar. Tubuh dan hati Alex begitu membara, terasa panas di hatinya menyaksikan Wili, Alya dan Zee sudah seperti sebuah keluarga.
"Al, cepat turun nak! Daddy pasti capek, kau sangat berat!" perintah Zee.
Akhirnya Alya meminta tuk diturunkan, Wili membelai lembut rambut panjang Alya.
"Maaf, Nona kau siapa?" tanya Ursula.
"Emm, maaf Nyonya. Saya, Zee Ibu dari Alya," jawab Zee.
"Berarti kau dan Wili-" ucap Ursula.
"Tidak, aku dan dia tak ada apa-apa. Aku, hanya menjadi Daddy tuk Alya saja," potong Wili menjelaskan.
"Aish, kenapa kau sampai menjelaskan semuanya padaku? Jika, kau ada hubungan pun itu akan lebih baik," ujar Ursula.
Wiliem hanya memutar malas bola matanya. Dan meminta tuk Ursula memberikan saja obat pada Sofia.
"Jangan di anggap serius, adik dari Mommy memang seperti itu," bisik Wili.
"Baik, Tuan," balas Zee sembari mengangguk.
Akhirnya karena saran dari Ursula, Zee harus tetap menemani Sofia disana, Alya dan Zee bermalam di rumah Wili.
Di dalam kamar, Zee duduk disamping ranjang Sofia. Sedangkan, Alya sudah tidur ditemani oleh Wili di kamar tamu.
"Nyonya, apa yang kau titipkan? Kenapa, sangat banyak peluh di wajamu," gumam Zee seraya mengusap pelan keringat tersebut.
Zee begitu perhatian pada Sofia, mungkin karena dia menjadi teringat akan sosok Azura. Bunda yang begitu sempurna di matanya.
Karena malam semakin larut, tanpa sengaja Zee sampai tertidur. Zee bersandar di tepi ranjang.
"Kenapa, kau bisa tertidur dengan posisi seperti ini? Kau akan merasa pegal esok pagi," ucapnya.
Dengan perlahan di angkatnya tubuh Zee, dan merebahkannya di atas sofa besar, menyelimuti tubuh Zee.
"Selamat malam," ucap lelaki tersebut.
__ADS_1
Selamat membaca,, sebelum tidur malam nanti..!!!