Takdir Cinta

Takdir Cinta
248


__ADS_3

Ara mengabari sang suami tuk menyiapkan ruangan IGD karena sebentar lagi dia akan membawa pasien kerumah sakit. Ken yang mendengar itu pun mengatakan ia.


Didalam perjalanan, Ara terus melihat keadaan Sofia yang hanya bisa diam tanpa bicara. Sedangkan Ara sudah penuh dengan pertanyaan dalam hatinya.


Alex dan Wiliem membawa mobil masing-masing. Zee ikut dengan Ara di dalam ambulance.


Ken yang baru saja selesai melaksanakan tugasnya pun kembali menyanggupi apa yang sang istri minta.


Selang beberapa jam akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit. Mereka langsung di sambut oleh Ken dan membawanya ke ruang IGD. Ara kembali ke ruangannya tuk mengecek sesuatu.


"Aku rasa, aku masih menyimpannya. Dan itu adalah operasi pertama ku dengan Ken yang tak bisa di lupakan," ucap Ara seraya membuka semua laci di ruangannya.


Ken memeriksa keadaan Sofia, lalu memutuskan tuk merawatnya karena keadaannya yang semakin memburuk. Akhirnya Alex dan Wiliem pun hanya bisa mengikuti apa yang dikatakan Dokter.


Zee pun membawa Alya tuk ke ruangan Ara. Disana ada kamar pribadi tuk sekedar istirahat. Karena Alya yang tertidur, akhirnya Zee menidukannya di sana.


"Sedang mencari apa, kak?" tanya Zee yang baru masuk.


"Ahh, tidak ada. Hanya berkas-berkas pasien aja," jawab Ara singkat.


"Aku bolehkan menidurkan, Al disini?" tanya Zee.


"Kau ini seperti dengan siapa saja, dia itu putriku. Jadi tidurlah!" seru Ara.


Zee pun tersenyum, menidurkan Alya dengan perlahan. Setelah itu, Zee kembali menemani Alex dan Wiliem.


"Kenapa kau tidak tidur?" tanya Alex.


"Aku tak mengantuk," jawab Zee.


Alex duduk samping Zee, Wiliem sedang menemani Sofia di dalam. Mereka bergantian tuk menjaganya.


"Setidaknya, istirahatlah! Ini sudah sangat malam," ucap Alex seraya menggenggam tangan Zee.


Zee hanya tersenyum, sambil mengusap lengan Alex. Alex mencium tangan Zee, hatinya menjadi sedikit tenang dengan adanya sang kekasih hati.


Di dalam ruangan, Ara masih saja mencari berkas itu. Sampai Ken masuk, dan menegurnya. " Mencari apa? Kau begitu gelisah sayang?".


"Berkas itu, apa kau yang menyimpannya?" tanya Ara.


"Berkas, berkas apa? Kenapa, kau mencarinya?" tanya Ken.


"Ken, Alex dan Wili itu anak sepuluh tahun yang kita operasi jantungnya. Aku, menemukan jantung Alfa, jantungnya Al. Ken," jelas Ara dengan mata yang berkaca-kaca.


Ken tak percaya dengan apa yang di ucapkan Ara pun mendekatinya. Menatap raja dang istri.


"Jangan bercanda! Darimana kau mengetahui itu? Dan dari mereka, siapa yang melakukan operasi itu?" tanya Ken.


"Aku pun masih belum tahu, jantung Al ada pada siapa," jawab Ara.


Ken memeluk tubuh Ara, membelai dan memberinya ciuman di keningnya.


"Tenanglah, kenapa kau begitu cemas? Itu sudah sangat lama sayang," ucap Ken.


"Ken, lihat adikku! Dia berpacaran dengan salah satu dari mereka. Kau ingat apa yang paman Ars katakan padaku. Dia ingin Alfa dengan Zee kembali bersatu kembali. Walaupun itu hanya jantungnya saja," jelas Ara.


Ken menatap tajam sang istri karena dia tak percaya jika Ara menyimpan rahasia seperti itu dengan Ars.


"Paman, Ars dan bibi begitu menyayangi Zee. Dia bahkan rela memberikan jantung Alfa pada orang lain, agar suatu saat nanti mereka bisa bersama. Walaupun tubuh itu bukan milik Alfa," ucap Ara dengan isak tangisnya.


Ara masih mengingat bagaimana wajah sang adik, Alfa wajah tampan itu selalu menghiasi mimpinya. Setiap Alfa datang, dia akan terus tersenyum pada Ara.


"Aku sudah tak bisa memendam semua ini, Ken. Alfa ingin aku memberitahukan pada Zee, anak itu benar-benar tak bisa pergi meninggalkan kekasih hatinya. Al begitu mencintai Zee, princessnya," imbuh Ara dengan tangisan yang semakin hebat.


Ken yang mendengarnya saja sampai ikut menitikkan air mata. Ken tahu bagaimana sayangnya Ara pada adik-adiknya, saat mengangkatan jantung Alfa saja, Ara tak membolehkan siapa pun menyentuh Alfa.


"Lalu, kau mau bagaimana? Apakah ingin langsung menanyakan pada mereka berdua?" tanya Ken.


"Aa-aku, aku akan bertanya dulu pada Nyonya Sofia. Karena, dia yang tahu semuanya," jawab Ara.


Ken mengangguk, menghapus air mata sang istri, memberikan pelukan dan ciuman tuk menenangkannya.


"Aku ada bersamamu, apa pun yang terjadi. Aku akan selalu mendukungmu," ucap Ken.


"Terimakasih, kau selalu ada bersamaku," balas Ara sembari kembali memeluk tubuh Ken.


Malam itu, Zee dan Alex tertidur di kursi tunggu. Sedangkan Wiliem tidur di dalam sembari menunggu Sofia.


Mata Sofia terbuka, melihat langit-langit lalu dinding rumah sakit. Dia melihat sang anak yang tertidur lelap disampingnya.


"Aku ada di rumah sakit?" ucap Sofia kembali menutup matanya.

__ADS_1


Sofia membelai rambut Wiliem dengan sangat pelan, air matanya menitik begitu saja. Kenangan masa lalu semakin jelas di pelupuk matanya.


"San, aku sudah tak kuat. Aku ingin bersama denganmu. Aku juga harus segera membuka semua rahasia ini pada anak-anak," batin Sofia.


"Tapi, aku tak bisa menemukan orangtua dari anak lelaki itu. Begitu juga dengan Dokter cantik itu. Aku tak tahu harus mencari mereka kemana?" batin Sofia.


************************


Esok paginya, Zee memutuskan tuk pulang karena Alya harus sekolah. Sedangkan Wili dia harus pergi karena ada urusan penting di kantor.


Sungguh sebenarnya mereka begitu meninggalkan Sofia. Tapi, karena dorongan dari Alex akhirnya mereka memutuskan tuk pergi.


Pagi ini Sofia terlihat sedikit membaik, Akex dengan penuh sayang menyuapi sang Mommy. Sofia tersenyum, membelai wajah tampan sang putra.


Ken dan Ara masuk bersamaan, menyapa Nyonya Sofia dan Alex. Ken memeriksa keadaannya yang begitu stabil. Sedangkan Ara memeriksa infus dan yang lainnya.


Mata Sofia tak lepas dari Ara, dia seperti mengingat sesuatu saat melihat mata Ara. Sedangkan Ara pun sama, dia sedang berpikir bagaimana memulai menanyakan soal kejadian sepuluh tahun lalu.


"Dok, maaf siapa namamu?" tanya Sofia.


Ara pun menengok ke arah Sofia, jantungnya sudah berdegup kencang. Namun karena ada Ken disana, Ara pun memberanikan diri.


"Saya, Ara. Hemm, Aurora Kenzia Putri," jawab Ara.


Mata Sofia membulat dengan sempurna, mulutnya mengaga tak percaya dengan apa yang di ucapkan Ara. "Kau, kau Dokter dari Indonesia? Putri dari Raya?".


"Yes, Mam. Itu aku," jawab Ara dengan suara parau, menahan tangisnya.


Alex yang tak mengerti arah obrolan merka pun hanya diam menatap Sofia dan Ara bergantian.


Sofia meraih tangan Ara, menggenggamnya dengan erat. Air mata Sofia sudah tak tertahankan lagi.


"Nyonya, tolong ingat akan keadaan anda! Anda harus bisa mengontrol emosi anda!" pinta Ken.


Sofia pun mengangguk ia, dia menghela napas panjang. Mengatur kembali perasaannya, menghapus air matanya.


"Apa yang kalian bicarakan? Apakah ada yang ingin memberitahukan aku!" pinta Alex.


Sofia menatap Alex lalu kembali menatap Ara.


"Dia, dia yang sudah kau tolong. Lihat, karena dirimu anakku bisa selamat dan mendapatkan hidup kedua," ucap Sofia.


Mata Ara mengikuti tangan Sofia, di tatapnya Alex yang berada di depannya. Air matanya tak bisa lagi dia bendung. Ara menangis menatap Alex, lalu menatap tepat di dadanya.


"Mom, ada apa sebenarnya?" tanya Alex kebingungan.


"Mommy, ingin kau mengetahui sesuatu tentang dirimu, Lex," ucap Sofia.


"Tentang apa, Mom. Jangan membuatku cemas, Mom!" balas Alex.


Alex menatap Ara yang masih menatap dirinya dengan deraian air mata.


"Kau mungkin tak ingat akan kejadian setelah kau kecelakaan saat itu, bukan?" tanya Sofia.


Glekk,,,


Tubuh Alex langsung bereaksi jika mengungkit masalah sepuluh tahun lalu itu. Wajah Alex berubah pucat, Ara menjadi sedikit khawatir.


"Kau, tak apa?" tanya Ara tiba-tiba seraya menatap Alex.


"Is ok, im good. Aku memang sedikit trauma dengan kejadian itu," jawab Alex lirih.


"Kau pernah bertanya bukan, jantung siapa yang ada di dalam tubuhmu?" tanya Sofia.


Alex kembali menelan saliva nya dengan sangat susah. Lalu, Alex mengagguk ia pertanyaan sang Mommy.


"Tanyakan pada mereka, karena merekalah Dokter yang sudah memberikan jantung itu padamu. Tanpa, Mommy tahu siapa pemiliknya," ucap Sofia.


"Apa maksud, Mommy?" Jadi hanya Dokter ini yang tahu, dan Mommy menerima saja jantung itu tanpa tahu siapa pemiliknya?" tanya Alex.


"Ya, karena saat itu aku begitu panik. Daddy mu pergi meninggalkan Mommy dengan tiba-tiba. Dan, Mommy tak ingin kehilangan dirimu lagi," jawab Sofia.


Alex meremmas rambutnya dengan kasar, wajahnya sudah merah menahan kemarahan, akan tetapi ada rasa sedih pula.


"Lalu jantung siapa ini? Dan siapa dia sebenarnya?" tanya Alex menatap Ara dan Ken.


"Dia, dia jantung dari adikku. Lelaki yang baik hati, dan begitu aku sayangi," jawab Ara dengan suara gemetar.


"Adik mu, adikmu itu bukannya hanya Zee dan Zyan?" tanya Alex.


"Kau mengenal adik-adik kami?" tanya Ken menatap Alex.

__ADS_1


"Ya, karena Zee menceritakan itu," jawab Alex.


"Jantung yang kau miliki sekarang itu, adalah milik dari kekasih Zee. Kehidupannya Alfa Reza," jawab Ara.


Deg,,, deg,,, deg,,, jantung itu seakan berdetak lebih cepat. Bahkan sangat kencang, sampai membuat Alex merasa sesak, memegang dadanya. Air matanya menitik begitu saja.


Ara menangis sambil menutup mulutnya, sedangkan Ken memalingkan wajahnya.


"Tidak, tidak mungkin. Ini tidak benar bukan?" tanya Alex tak percaya.


Ara menggeleng, dia mengangkat tangannya. " Tangan ini, yang mengambil jantung itu dari tubuh Alfa. Dan langsung memberikannya pada tubuhmu".


"Kau bisa memmbacanya, ini smeua prosedur yang Ibu mu setujui, begitu pula dengan orangtua Alfa," ucap Ken seraya menyerahkan lembaran itu.


Alex membaca semuanya, tangannya gemetar, air matanya mengalir deras. Betapa dia begitu terpukul, ternyata dia memiliki jantung dari kekasihnya Zee.


Alex memejamkan matanya, mengingat bagaimana pertama dia melihat Zee tuk pertama kali. Dan bagaimana reaksinya saat melihat Zee dengan orang lain dan rasa sakitnya saat melihat Zee menangis.


"Kenapa, kenapa kalian memberikan jantungnya padaku?" tanya Alex.


"Itu semua karena keinginan dari Ayah Alfa. Paman Ars membiarkan kami tuk memberikan jantung anaknya padamu. Karena, dia ingin anaknya bisa membantu dirimu. Walaupun raganya sudah tiada," jawab Ken.


"Takdir macam apa ini? Kenapa harus jantungnya, dan sekarang aku mempacari kekasihnya Zee. Bersama dengan kekasihnya," jawab Alex.


"Itu juga yang di inginkan, paman Ars. Memberikan jantung Alfa padamu. Dia sangat menyayangi, Zee sepenuh jiwanya. Mereka berharap jika suatu saat Zee dan Alfa bisa kembali bersama, walaupun itu bukanlah Alfa. Tapi hanya jantungnya saja," jelas Ara.


Alex sungguh tak percaya dengan semua ini, takdirnya benar-benar rumit. Mendapatkan jantung dari Alfa, kekasihnya Zee. Dan sekarang dia bersama dengan Zee.


"Jantung itu, jantung itu milik kekasihku?" tanya Zee dengan suara yang gemetar.


Semua orang menatap ke arah pintu yang terbuka, terlihat Zee sudah berdiri disana. Ara dan Ken saling berpandangan.


"Zee," panggil Alex terbata.


Zee menatap Alex, lalu menatap dada Alex. Dengan langkah cepat Zee menghampiri Alex, dan tiba-tiba menarik paksa baju Alex hingga robek. Melihatnya dada bidangnya yang bertato tuk menutupi jahitan itu.


"Jantungmu, ada disini Al?" tanya Zee seraya meraba dada bidang Alex.


Ara semakin menangis hebat melihat dada itu, dadanya merasakan desa yang luar biasa.


"Al, Al ada disana. Kau ada didekatku," isak Zee seraya memeluk tubuh Alex.


Alex hanya bisa menutup matanya, dia tak bisa membalas pelukan Zee. Entah kenapa, Alex merasakan kesedihan yang teramat menyakitkan.


Zee masih menangis seraya mengusap pelan dada Alex. "Ternyata benar. Kau selalu bersamaku, dan sekarang ada di dalam tubuh Alex," ucap Zee lirih.


Zee menatap wajah Alex yang memalingkan wajahanya. Menghindari tatapan dari Zee.


"Kenapa, kau tak mau menatapku?" tanya Zee.


Alex tak menjawab, dia diam seribu bahasa. Banyak sekali pertanyaan dalam benak Alex.


"Al, Alex," panggil Zee menggoyangkan tangannya.


Alex hanya mendorong tubuh Zee agar sedikit menjauh dari dirinya. Membuat, Zee mengerutkan keningnya.


"Ada apa? Kau kenapa?" tanya Zee.


"Tuk sekarang, jauhi aku! Aku ingin sendiri," perintah Alex tanpa menatap Zee.


"Apa? Apa maksudnya, kau mau apa?" tanya Zee sedikit emosi.


"Aku, aku tak tahu lagi. Apakah ini benar atau salah. Aku harap kau mengerti dengan keadaanku yang sekarang," jawab Alex.


"Kenapa, kenapa kau selalu melakukan ini padaku! Kau kembali menghancurkan hatiku, dan setelah itu seenaknya saja datang tuk kembali menyatukan lagi kepingan-kepingan itu, huh?" teriak Zee dengan air mata yang mengalir deras.


Alex menatap Zee dengan tajam, tak jauh berbeda dengan Zee. Alex pun menangis.


"Kau lihat bukan, permainan takdir yang selalu membuat ku dalam situasi sulit. Aku mencintai dirimu. Tapi di dalam tubuhku ada jantung kekasihmu, aku merasa jika kau tak mencintaiku karena aku ini Alex. Tapi, karena jantung ini yang membuat mu mencintai aku!" seru Alex tak kalah lantang.


Deg,,, seketika hati Zee seakan terpanah ribuan anak panas menancap di sana. Begitu sakit ucapan yang di katakan Alex.


"Kau meragukan cintaku? Kau meragukan perasaan ku padamu, Lex? Apakah kau tak bisa melihatnya dari mataku?" ucap Zee begitu lirih.


Alex sungguh tak bisa berpikir jernih, penuh dengan emosi dan gejolak batin yang dia rasakan. Akhirnya Alex berjalan cepat keluar dari sana. Meninggalkan Zee yang berteriak memanggilnya dengan tangisan yang begitu pilu.


Ken mendekap tubuh sang adik, tuk menahannya agar tak menyusul Alex yang sedang kalut dan tak bisa berpikir dengan baik.


"Kak, dia, dia meragukan aku. Lihat dia, selalu melakukan ini padaku!" seru Zee yang berbalik memeluk erat tubuh Ken.


Ken membalas pelukan Zee, mengusap punggungnya dengan pelan. Menenangkan sang adik dengan penuh kasih. Zee semakin lama semakin lebih tenang.

__ADS_1


Memang sejak kepergian Alfa, Zyan menemani Zee disetiap tidurnya. Sedangkan, Ken itu sudah seperti sosok Ayah bagi Zee, semenjak Bumi meninggal. Pelukan Ken bisa menenangkan dirinya.


Akan bagaimana kelanjutannya? Apakah, Zee dan Alex bisa berbaikan? Bisa, melakukan kisah kasih mereka.


__ADS_2