
Ana bergegas segera membawa bekal makan suaminya siang ini . Rafli yang begitu memaksa membuat Ana untuk datang ke perusahaannya hanya sekedar untuk makan siang saja.
'' Mbak Ana mau Ana kemana '' tanya Rahma .
'' Mbak , mau antar makan siang untuk mas Rafli '' jawab Ana .
'' Makan siang plus-plus maksudnya '' ucap Rahma dengan kerlingan matanya .
'' Cih , kau ini pemikirannya selalu kotor '' umpat Ana .
'' Emang mbak berfikir makan siang plus-plus yang bagaimana '' ucap Rahma menahan bibirnya untuk tertawa , Ana segera pergi karena mengobrol dengan Rahma selalu membuatnya malu sendiri . Rahma tertawa terbahak-bahak melihat kakak perempuannya itu tak berkutik .
'' Astaga aku kan ingin bertanya kapan akan berangkat ke Milan '' decak Rahma , ia lupa dengan tujuan awalnya .
Sedangkan Ana merutuki Rahma yang selalu saja menggodanya .
'' Apa Jimmy tak geli dengan Rahma yang seperti itu , ku rasa Rahma yang minta duluan " batin Ana.
.
.
.
Perusahaan Wijaya.
Licia yang saat ini berseragam khusus telah memakirkan mobil yang ia kendarai tepat pada parkiran khusus keluarga Wijaya.
'' Mari nona '' ucap Jova segera membimbing Ana menuju lift yang berada di bawah segera menuju lantai dimana Rafli berada. Rafli sengaja membangun lift khusus demi melindungi identitas Ana yang mulai di curigai paparazi .
Ting.
Lift segera terhenti tepat di lantai dimana sang suami dan Bianca berada.
'' Siang Bu Bos '' ucap Bianca tersenyum ramah .
'' Apa suamiku ada Bia " tanya Ana .
'' Ada Bu , tapi tunggu sebentar saya akan menghubunginya " ucap Bianca membuat Ana terheran .
Di ruangan pribadi Rafli , sedang terjadi pembahasan cukup serius dengan salah satu CEO perusahaan ternama yang berasal dari Turki . Hingga bunyi telepon menghentikan sejenak obrolan mereka , dengan empat mata yang menatapnya begitu serius yang sepasang mata menatapnya penuh damba.
'' Hallo Bianca '' ucap Rafli .
'' Bu Ana sudah datang pak " ucap Bianca melapor .
'' Siapkan tempat untuknya dan untung saja kau mengingatkan saya untuk makan siang bersama istri saya " ucap Rafli membuat Bianca bingung apa maksud bos killer nya tersebut.
Sementara seseorang wanita cantik , muda plus sexy merasa hatinya begitu panas , saat sang ayah menawarkan dirinya untuk menjadi istri ke empat Rafli namun Rafli menolaknya dengan tegas , membuat bapak dan anak itu begitu malu . Ingin sekali Rafli memutus kontrak kerja sama tersebut namun Abdi tak mengizinkannya .
'' kira-kira istri yang keberapa nya yang akan makan siang bersamanya " batinnya .
" Jika bukan karena papa , aku sudah menghentikan kerja sama dengan orang yang begitu tak punya malu . Yang benar saja menawarkan anak kandungnya sendiri untuk menjadi istriku yang ke empat .Satu dan selamanya , hanya Ana istriku " batin Rafli . Rafli sengaja menjawab jika telah mempunyai tiga istri agar anak koleganya tak terus menatapnya seakan ingin menelanjanginya .
" Em tuan Jay , maaf . Saya ada janji makan siang dengan istri pertama saya . Jadi jika tak ada yang di bahas , saya ingin segera menemuinya " ucap Rafli dan mengambil sebuket bunga mawar putih kesukaan istrinya tersebut .
Tuan Jay menunduk malu karena permintaan anak semata wayangnya itu , sejak bertemu dengan Rafli wanita itu begitu tertarik dengan pria beristri tersebut. Biasanya kerjanya hanya hura-hura dan berubah mendadak ingin belajar tentang bisnis yang ternyata hanya jembatan agar bisa bertemu dengan pria pujaan hatinya .
" Ya tak apa tuan Rafli dan lupakan pemintaan gila saya tadi " ucap Jay dan diangguki santai Rafli , tak sedikitpun Rafli menatap pada gadis cantik dan sexy tersebut .
" Tidak apa tuan Jay , saya mengerti " ucap Rafli dan tuan Jay segera berpamitan di ikuti anak perempuannya namun Rafli tak menanggapi jabatan tangan perpisahan dari gadis sexy tersebut.
Ana tersentak kaget saat baru saja masuk keruang kerja suaminya , disambut dengan pelukan agresif dari suaminya .
" Mas rindu sayang " ucap Rafli mengecup leher jenjang istrinya dan menciptakan tanda merah disana . Mata Bianca melotot nyaris keluar melihat kelakuan mesum bosnya tersebut. Rafli segera menutup pintu yang lupa untuk ia tutup tadi.
" Mas , aku kesini membawa makan siang mu " ucap Ana sedikit kesal .
" Maaf kan suami mu . Ayo sayang " ucap Rafli dan diangguki Ana.
Ana membuka kotak bekal yang ia bawa dengan telaten dan setelahnya ia mengambil menu makan siang suaminya dan selanjutnya menyuapi bayi besarnya ini . Rafli begitu senang jika Ana memanjakannya.
" Mas harap kebahagiaan ini akan abadi dan hingga ajal menjemput . Mas ingin satu liang lahat bersamamu kelak " batin Rafli , baik di dunia dan di akhirat ia ingin bersama dengan istrinya selamanya .
'' Ana , apa beneran serius sangat mau pergi liburan ke Milan " tanya Rafli , memastikan . Ia begitu takut mendengar gosip jika rekan bisnisnya diceraikan istrinya karena tak memberikan kebebasan terhadap istrinya hingga Rafli termakan gosip murahan tersebut.
'' Apa mas mengizinkan " tanya Ana memastikan meski kini hatinya berbunga-bunga.
'' Ya , tapi tetap dengan pengawal khusus plus pengawal tambahan dari Jimmy " ucap Rafli terdengar pasrah .
'' Ya mas , jika mas mengizinkan aku mau ke Milan dan aku akan urus liburan anak-anak " ucap Ana terlihat begitu bahagia , dan hati suaminya terasa hangat melihat bahagia istrinya sungguh sangat berbeda , Rafli menyadari jika siapapun manusianya sangat butuh liburan termasuk istrinya.
'' Tapi jangan nakal selagi mas gak ada " ucap Rafli dan Ana memeluk tubuh kekar suaminya .
'' Aku gak mungkin nakal mas , anak sudah banyak buat apa nakal dan aku hanya akan nakal kepada suamiku seorang " ucap Ana membuat Rafli tersenyum geli .
'' Sesederhana ini Ana " batin Rafli .
" Aku akan menjemput anak kita untuk kembali mas . Tunggu bunda , Ericana " batin Ana.
" Ana tolong tanganmu jangan nakal . Ingat ini di kantor " ucap Rafli , hasratnya merayap naik seraya tangan istrinya merayap nakal .
__ADS_1
" Bukankah , itu ucapanku mas " goda Ana .
" Jangan marah jika mas tak bisa berhenti nantinya " ucap Rafli dengan suara beratnya menahan sesuatu yang sesak dibawah sana.
" Baiklah jika ini mau mu " imbuh Rafli segera menyambar bibir ranum istrinya . Ana pun meladeni apa keinginan suaminya saat ini .
Rafli menggendong tubuh istrinya seraya belitan dan hisapan yang terus terjadi .
" Bianca , cancel jadwal untuk hari ini " ucap Rafli kemudian kembali menyambar bibir istrinya .
" Tapi pak ada meeting penting nanti sore " sela Bianca.
" Saya tak peduli , dan saya tak terima tamu siapapun . Dan satu hal AKU BUKAN BAPAKMU " ucap Rafli kesal dan membuat Ana tersenyum geli .
" Apa kau akan bisa tersenyum setelah ini cinta " ucap Rafli menuju tempat pertarungan mereka.
Rafli melempar tubuh Ana secara asal dan ranjang empuk membuat tubuh Ana terhempas begitu saja.
" Kau sengaja menggoda mas Ana " ucap Rafli dan segera membuka pakaian kerjanya secara asal.
" Matilah aku , tapi ini anggap saja karena mas Rafli mengizinkanku untuk pergi ke Milan dan segera ke Italia menjemput Ericana " batin Ana dan tersentak kaget saat Rafli mengoyak dress miliknya yang baru di pakai satu kali itu . Dress berbahan sutra tersebut teronggok sudah , akibat pria yang begitu berhasrat saat ini .
" Jangan salahkan mas , jika malam ini kita menghabiskan malam panjang disini " ucap Rafli dan membuat Ana mendelik tak percaya .
" Aku kapok " batin Ana , dengan bibir yang kini tengah di serbu oleh Rafli dan di pastikan olahraga ranjang kembali terjadi di siang bolong.
Dua jam Rafli masih berpacu di atas tubuh istrinya yang terlihat masih mampu mengatasi semangatnya yang masih menggebu meski Ana telah memuntahkan laharnya berkali-kali.
Tanpa mereka sadari dan Bianca sadari , ada sesosok pria yang masuk kedalam ruangan Rafli .
" Jangan salahkan aku Rafli , sekretaris bohai mu gak ada " ucapnya .
" Kosong , dimana orangnya " imbuh Frans yang memang sudah buat janji dengan Rafli .
" Tas wanita , apakah itu tas Ana " ucap Frans dan pandangannya tertuju kearah pintu tertutup yang berwana coklat tersebut.
" Aahh sudah mas " rintih Ana saat hentakan kuat menerjang miliknya .
" Tak akan pernah berhenti Ana " ucap Rafli dengan bibir yang menjelajah kemana-mana.
Kebun strawberry telah tertanam dimana-mana bahkan jejak semalam saja masih terlihat jelas.
" Kenapa milikmu yang menjadi milikku ini begitu nikmat Ana , perawatan seperti apa yang kau gunakan sayang . Aakkhhh Ana... " racau Rafli membuat Frans yang mendengarnya terasa panas saat ini . Panas karena bingung harus menyalurkan kemana .
" Dasar brengsek . Siang bolong begini buat orang iri aja . Lagian tu bapak orang gak pakai kedap suara pula ruangannya . Aku juga yang salah kenapa pakai mendengarkannya " umpat Frans penuh sesal .
" Kamar mandi " ucap Frans
" Woy " teriak Rafli lantang , merasa geram dengan orang yang berani mengganggu kenikmatannya sementara wajah Ana memerah.
" Mas , sudah hentikan " ucap Ana berusaha melepas penyatuannya.
" Kita tetap lanjut " ucap Rafli dan kembali melanjutkan kegiatannya.
Sementara Bianca begitu kaget saat melihat Frans keluar dari ruang bos nya .
" Tuan Frans " ucap Bianca , yang baru saja kembali dari toilet .
" Bianca , dimana toilet " ucap Frans dengan wajah yang begitu sulit diartikan.
" Jalan kesana belok kiri tu.... " ucap Bianca dan segera Frans berlari kearah toilet berada.
'' Semoga saja tuan tidak marah padaku " gumam Bianca .
.....
Rafli sungguh serius dengan ucapannya untuk menghabiskan malam di kamar pribadinya bersama Ana . Menghabiskan waktu berdua dengan istrinya , sungguh sangat di manfaatkan Rafli .
Sementara Lia bergegas kerumah sakit mendengar kabar jika Bunga sudah sadarkan diri. Mencoba menghubungi Rafli namun tak mendapat jawaban dari anak kesayangannya tersebut , menghubungi Ana nomornya sudah tidak aktif dan menelpon kemansion mendapat kabar jika Rafli tengah meeting .
'' Meeting apa yang kau lakukan Rafli " gerutu Lia , ia hapal betul siapa anaknya itu .
.....
Subuh Ana terbangun dari tidur lelahnya , seluruh badannya terasa remuk redam karena perbuatan suaminya dan tepat di sebelahnya sang suami tengah tidur dengan wajah yang penuh kebahagian jelas terlihat di wajah tampannya .
'' Sssstttt auw sakit " desis Ana pelan , melangkah perlahan menuju kamar mandi.
Ana berkacak pinggang saat melihat tubuhnya yang penuh kebun strawberry saat itu.
'' Bagaimana aku menutupi tubuhku , apa aku harus menggunakan sweater berbulu seperti di musim salju saja. Mana di rumah ada Rahma " gumam Ana dan memilih segera mandi lalu melakukan sholat subuh.
'' Mas bangun , kita sholat bareng yuk " ucap Ana membangunkan paksa suaminya.
'' Mas lelah sayang '' racau Rafli berbalik memunggungi istrinya.
'' Ayolah mas " ucap Ana terus memaksa dan akhirnya Rafli bergegas mandi dengan air yang telah di siapkan istrinya .
Setelah sholat Rafli kembali melanjutkan tidurnya , seperti tenaganya cukup terkuras karena melakukan aktivitas favoritnya. Sementara Ana mengaktifkan handphone nya dan terlihat banyak panggilan dari sahabatnya serta mama mertuanya dan tak lupa panggilan dari mansion paling mendominasi...
'' Mama " gumam Ana saat nama mama Lia tertera memanggilnya saat ini.
__ADS_1
'' Hallo ma " ucap Ana .
''..... '' Lia.
'' Baik ma , aku akan segera kesana dengan mas Rafli '' ucap Ana dan segera kembali membangunkan suaminya tersebut.
.
.
.
Terlihat wajah datar Rafli saat memasuki lobi rumah sakit , seperti biasa Ana mengenakan kacamata miliknya dan juga masker guna menutupi wajah cantiknya.
Terlihat para bodyguard menunduk hormat saat Ana memasuki ruang perawatan Bunga , berbeda dengan Rafli yang memilih menunggu di luar.
'' Kak Ana '' lirih Bunga , dengan tubuh yang masih lemah membuat Lia menyuapi Bunga.
'' Sayang. Akhirnya kau datang juga. Mama susah sekali menghubungi mu semalam '' ucap Lia.
'' Maaf ma , handphone ku lowbat '' ucap Ana menyalami punggung tangan mertuanya dan tak lupa cupika cupiki .
'' Dimana anak nakal itu '' tanya Lia.
'' Mas Rafli ada di luar ma '' jawab Ana dan diangguki Lia.
'' Mama tinggal dulu ya Ana '' ucap Lia .
'' Bunga Tante pergi dulu , bicaralah dengan Ana '' ucap Lia
'' Iya Tante '' jawab Bunga .
'' Kak Ana , aku ingin minta maaf atas semuanya '' ucap Bunga dengan mata berkaca-kaca.
'' Aku telah memaafkan mu Bunga , ku mohon jangan di bahas lagi masalah itu '' lirih Ana , memaafkan lebih mudah dari pada melupakannya dan itu Ana rasakan.
'' Aku telah terkena karmanya dan aku menyadari betapa sakitnya kehilangan orang yang kita sayangi '' ucap Bunga dengan air mata yang menetes . Kehilangan calon anaknya dan calon suaminya membuat Bunga merasa hampa di dunia ini dan Geilo juga tak tau kabarnya , sang ibu juga yang kini ia merasa jarak jauh cukup terbentang.
'' Bunga , tetaplah tegar . Allah tak akan memberikan ujian yang tak mampu untuk umatnya lalui . Kejadian yang kita alami hanya sebagian dari perjalanan hidup kita '' ucap Ana menghapus air mata Bunga.
'' Kau begitu baik padaku kak Ana . Sementara aku begitu jahat padamu , bahkan aku berniat merebut suamimu ....hiks...hiks... kenapa kau tetap baik kak '' Isak Bunga .
'' Jika jahat dibalas dengan kejahatan maka tak akan ada habisnya , dan aku tau kau melakukan ini karena di bawah tekanan '' ucap Ana .
'' Kami akan melindungimu Bunga , maka jika kau bertemu dengan wanita yang mengancammu , segera katakan padaku. Kau juga bisa mefotonya '' ucap Ana dan diangguki Bunga.
'' Apa suami kak Ana mau memaafkan ku '' tanya Bunga dan Ana menghela nafasnya dalam.
'' Kau tau sifat suamiku. Saat ini mas Rafli belum memaafkanmu namun lambat tapi pasti ia akan memaafkanmu '' ucap Ana.
'' Aku tak pantas untuk mendapat maafnya kak . Aku sudah menjebaknya , dan itu karena wanita itu ...hikss...hikss... '' Isak Bunga .
'' Sudahlah Bunga , jangan menangis '' ucap Ana .
'' Kak Ana. Atas nama Willy , aku minta maaf atas perbuatannya padamu .... hiks...hiks... '' ucap Bunga .
'' Sudah , aku sudah memaafkan Willy. Mau bagaimanapun waktu tak akan bisa kembali . Aku hanya bisa memaafkan dan kau belajarlah untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Masih ada Geilo . Mas Rafli sudah menemukan Geilo '' ucap Ana dan membuat Bunga terkejut.
'' Kak Ana tidak bohong hanya untuk menghiburku kan '' tanya Bunga .
'' Aku tak berbohong Bunga . Geilo berada di tempat yang aman . Jika kau mau bicara dengan suamiku tentang Geilo , aku akan memanggil nya kemari '' ucap Ana dan dijawab gelengan dari Bunga .
'' Aku masih takut kak '' ucap Bunga .
'' Baiklah , tak masalah . Sekarang fokus untuk kesehatanmu lebih dulu , lalu kita pikirkan langkah kedepannya '' ucap Ana dan mereka membahas obrolan tentang lainnya , mengenai bi Jum dan menjelang kepergiaan Ana ke Milan esok lusa.
Sementara Rafli dan Lia juga berbicara penting di luar , mengenai keadaan Abdi Wijaya yang telah menunjukkan perkembangan yang cukup pesat , semangat Wijaya untuk sembuh membantu tubuhnya cepat untuk sembuh. Rafli juga mengeluhkan akan keberangkatan Ana ke Milan , sungguh berat demi apapun Rafli melepas kepergian Ana .
'' Maka kau atur waktu liburmu , agar bisa menyusul anak-anak kalian dan Ana ke Milan '' seloroh Lia .
'' Tapi Rafli berat berpisah darinya ma . Mama tau sendiri '' keluh Rafli .
'' Ya mama begitu tau anak mama . Bahkan semalam kau meeting yang begitu penting itu dengan Ana kan '' ucap Lia mengerlingkan matanya.
'' Apa tak cukup tanda merah di lehernya untuk menjawab pertanyaan mama itu '' ucap Rafli , pipinya merah merona karena sang mama berhasil menggodanya namun Rafli tak pula mengelak .
'' Jelas mama melihatnya , meski ia berusaha menutupi tanda merah itu '' ucap Lia .
'' Maka kau aturlah liburmu , biar mama yang mengurus perusahaan sementara '' saran Lia .
'' Mama benar , sekalian untuk kami berbulan madu '' ucap Rafli berbinar...
'' Lalu anakmu bagaimana '' tanya Lia mendelik kesal , anaknya itu selalu saja melunjak.
'' Ada bapak dan ibu mertua . Serta ada Rahma dan juga Jimmy dan tak lupa , pelayan dimansion Jimmy cukup banyak untuk bisa membantu mengasuh mereka '' ucap Rafli .
'' Mama benar-benar ibu yang hebat '' imbuh Rafli membuat Lia tersenyum kecut ...
Tanpa mereka sadari , ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka membuatnya segera mengambil langkah lebih cepat .
Jangan lupa like dan komentarnya.
__ADS_1
Selamat membaca 😊