Takdir Cinta

Takdir Cinta
Episode 307


__ADS_3

Pagi itu, Wiliem memberitahukan keadaan Laudya pada Alex,  wanita itu memang benar dalam keadaan yang sangat parah dan menyedihkan. Alex memikirkan apa yang sebenarnya akan terjadi padanya dan juga Wiliem di sini. Apalagi mata-mata yang di perintahkan Alex selalu gagal mencari informasi tentang Zidan. Lelaki paruh baya itu, memang benar-benar sangat berkuasa da terkenal di


Italy.


“Lalu kau mau apa dengan Laudya? Apa kau akan merawatnya seperti bayi?” tanya Alex.


“Entahlah, rasanya aku melihat dia memang tak tahu menahu akan kecelakaan itu,” jawab Wiliem.


“Lalu bagiamana hasil penyelidikanmu, kemarin Lex?” tanya Wililem.


“Polisi dan timku tak ada yang menemukan apa pun di sana yang mencurigakan. Semuanya benar-benar real kecelakaan,” jawab Alex.


“Waktu kita di sini hanya tinggal seminggu, kau harus selesaikan rasa hutang budimu itu pada Laudya. Setelah itu, lupakan apa yang terjadi di sini dan kembali pada hidupmu dan ingat dengan keberadaan istrimu,” ucap Alex.


“Kau tak percaya padaku, Lex?” tanya Wiliem menatap pada sang kembaran.


“Rasa percayaku tak mudah aku berikan pada siapa pun,Wil. Termasuk padamu yang hanya adikku, apalagi kalian dulu pernah mempunyai satu perasaan yang sama sebelum dia berkhianat padamu dan menyerahkan diri padaku,” jawab Alex tak kalah dinginnya dari Wiliem.


Wiliem mengepalkan tangannya dengan sangat kuat, dia sungguh tak menyangka jika Alex bisa berpikir seperti itu pada dirinya. Bahkan, tak percaya dengan dirinya yang memang nyatanya sudah tak mempunyai perasaan apapun pada Laudya.


“Terserah apa yang ingin kau katakan, Lex. Aku hanya ingin melihatnya bisa sembuh saja tak lebih dari itu,”


ujar Wiliem beranjak keluar.


“Apa kau bisa mengatakan pada istrimu alas an yang sebenarnya, kenapa kau tak jadi pulang dan memilih berdiam diri di sini?” tanya Alex, membuat langkah kaki Wiliem terhenti seketika.


“Stop it! Kau membuat pagiku menjadi kesal, Lex. Ya, kau benar aku lelaki pengecut yang tak berani


mengatakan yang sebenarnya terjadi pada Vanya. Aku tak ingin membuatnya merasa sedih dan kembali salah paham,” jawab Wiliem.


Alex memalingkan wajahnya  karena sudah tahu akan seperti apa Wiliem, Alex sangat tahu persis kelemahan yang sangat fatal dari seorang Wiliem yaitu terlalu baik dan sangatlah merasa selalu berhutang budi pada siapa pun yang sudah pernah menolongnya.


“Kau masih sama, Wil. Kau, begitu lemah dengan rasa bersalahmu,” gumam Alex.


Pagi ini, Wiliem kembali menjenguk Laudya di rumah sakit tapi dia tak datang sendirian karena Alex ikut


bersamanya. Sungguh terlihat jelas perbedaan antara mereka, walaupun merka itu kembar identic tapi aura wajahnya sangatlah berbeda, Alex terlihat begitu


tegas, kuat dan sangat kharismatik sedangkan Wiliem dia terlihat lebih lembut dengan sikap penuh perhatian dan perduli pada siapa pun.


Alex terus mengikuti langkah Wiliem menuju ruang kamar dari Laudya, terlihat Lissa yang berjalan dengan membawa makanan di tangannya arah kantin dan berpapasan dengan Wiliem.


“Tuan Wiliem, selamat pagi,” sapanya sopan.


“Pagi,” sahut Wiliem.


Mata Lissa menatap ke arah Alex dan dia begitu terkejut karena wajah mereka sangatlah mirip. Lissa sampai tak bisa memalingkan wajahnya saat melihat Alex, namun dengan sekali tatapa dari Alex mampu membuat Lissa menunduk takut.


“Bisakah kita selesaikan dengan cepat, Wil?” tanya Alex.


“Baiklah, ayo kita temui Laudya.”


Alex dan Wil berjalan di depan sedangkan Lissa mengikuti merka dari belakang dengan terus menatap punggung dari Alex yang begitu gagah dan sangat lebar, Lissa begitu terkesima dengan sosok Alex yang sangat tegas dan dingin itu.


“Mereka itu kembar, tapi kenapa aku merasakan jika saudara dari Tuan Wil itu sangatlah berbeda. Diamnya saja membuatnya sangat mempesona, apalagi jika dia berbicara atau tersenyum,” batin Lissa.


Wiliem dan Alex berhenti diruangan VVIP, Lissa membukakan pintu tersebut dan melihat sosok anita cantik sedang berada di kursi rodanya dengan menatap keluar jendela. Laudya melamun, sampai tak mendegarkan jika ada orang yang masuk kedalam ruanganya.


“Nona Laudya,” panggil Lissa pelan dengan menyentuh bahunya.


Laudya menengok ke arah Lissa dengan senyum tipisnya, “Ya, ada apa? Kau sudah kembali?.”

__ADS_1


Lissa memberitahukan kedatangan Wil dan Alex dengan tatapan matanya, Laudya mengikuti arah mata Lissa dan terkejut karena melihat Akex dan Wil sudah berdiri di sana dengan tatapan iba padanya. Dan itu, sangat membuat Laudya semakin kesal dan benci pada dirinya sendiri.


“Kau kembali dan sekarang mengajak Kakakmu tuk melihatku yang menyedeihkan in?” tanya Laudya sinis.


“Nona kenapa kau berkata seperti itu?” tanya Lissa meras tak enak pada Alex dan Wiliem.


Laudya hanya mentapnya dengan tajam, membuat Lissa menunduk dan memilih diam setelah itu berjalan pelan ke luar ruangan.


“Tidak usah berpura-pura menyedihkan, Lau. Mungkin ini, awal dari rencanamu dengan Zidan. Atau memang


ini rencanamu tuk kembali mendapatkan aku atau Wil,” jawab Alex dengan seringainya.


“Huh, mungkin kau ada benarnya Lex. Aku akan  melakukan hal apapun tuk mendapatkan apa yang aku inginkan, termasuk menyakiti diriku sendiri,” ucap Laudya.


Alex tersenyum sinis, dia begitu muak dan sangatlah membenci Laudya. Rasa amarahnya yang dulu masih saja tersimpan dengan sangat rapi, bahkan Alex masih mengingat setiap detiknya apa yang dulu Laudya lakukan pada Wiliem sampai membuat sang adik begitu frustasi dan hamper melakukan bunuh diri.


“Sudahlah, Lex. Kenapa kau berdebat dengannya dank au Laudya, tak usah membuat aku dan Alex marah. Kami sudah tahu bagaimana keadaanmu yang sebenarnya,” balas Wil.


Laudya tersenyum  mendengar ucapan dari Wiliem dan semakin yakin jika mereka hanya merasa kasihan dan merasa berslah padanya, “ Kau mengasihaniku,Wil? Yang benar saja.” Laudya memutar ban kursi rodanya.


“Aku tak butuh belas kaihan dari kalian, dengan adanya kalian disini membuatku semakin merasa muak. Berhenti bersandiwara Wil, aku tahu apa maksud kalian kemari,” sambung Laudya.


“Katakanlah, jika kau sudah mengerti dengan apa yang aku maksud!” perintah Alex.


“Tak ada rencana apapun. Kecelakaan ini murni, aku hanya menolong adikmu. Apakah kau tak bisa merasa sedikit bersyukur karena adikmu tak dalam bahaya?” tanya Laudya.


“Bukankah, memang bukan Wiliem targetnya. Dan memang kaulah targetnya, Laudya,” jawab Alex.


“Pemikiran apa yang kau katakan, Lex? Jadi, benar semua ini hanya rekayasa,” seru Wiliem.


“Lalu apa yang kau pikirkan tentang wanita licik di depanmu ini? Apa kau berpikir dia gadis polos nan baik


Wiliem melihat Laudya yang memalingkan wajahnya, sungguh hati Laudya begitu sakit mendengar semua ucapan dari  Alex. Dengan sekuat tenaga, wanita


itu menhan rasa sakitnya dan juga air matanya.


“Tak ada yang kedua kalinya, Lau. Cukup sekali kau menghancurkan hidup dari Wiliem dan tak akan ku biarkan lagi jika kau merencanakan sesuatu lagi,” ancam Alex dengan nada penuh penekanan.


Laudya menatap Alex dengan tatapan mengejek dan senyuman sinisnya, “Kau bisa membawanya pergi! Jangan salahkan aku, jika dia mulai menyukaiku lagi dan melepas gadis polos itu.”


“Dasar wanita ja**lang memang tak akan pernah berubah. Sekarang kau bisa mendengar sendiri bukan Wil?” tanya Alex.


“Aku tak akan pergi sampai melihatmu bisa sembuh. Dan aku berjanji padamu, Lex. Kalau aku tak akan


terjatuh pada lubang yang sama olehnya, rasa dan semua perasanku kini hanya tuk istriku,” jawab Wiliem begitu menyakinkan.


“Terserah padamu!” ujar Alex yang memilih keluar dari ruangan itu.


Laudya kembali memalingkan wajahnya dan tak menghiraukan keberadaan Wiliem yang masih berdiri mematung di sana dengan menatap dirinya. Alex duduk di taman denganrasa kesal di hatinya, tak lama terlihat Lissa datang dan langsung berbicara panjang lebar dengan Alex.


“Tuan, kenapa kau begitu jahat pada wanita malang itu? Kenapa kata-kata kalian begitu menyakitkan tuknya? Apa salah yang sudah dia lakukan pada kalian. Setelah mendapat perkataan yang meyakitkan dari Tuan Zidan dan sekarang giliran kau yang mengatakan itu,” seru Lissa sangat kesal.


“Apa maksudmu, Zidan? Kau siapa jangan mengada-ada, atau kau anak buah Zidan dan Laudya yang mengikuti rencana merka?” tanya Alex.


“Maaf, Tuan. Saya tak tahu rencana apa yang kalian bicarakan, yang saya tahu semalaman Nona Laudya


menangis setelah bertemu dengan tuan Zidan,” jawab Lissa.


Alex menarik tangan Lissa dan membawa wanita itu ke sebuah tempat di dekat rumah sakit, di sana ada sebuah kedai kopi, Alex menanyakan semuanya pada Lissa da benar saja wanita itu menceritakan semua pada Alex karena berpikir jika Alex dan Wiliem adalah


kerabat atau kekasih dari Laudya.

__ADS_1


“Apa kau bisa ku percaya?” tanya Lissa.


“Apa kau lihat aku ini seperti atasanmu yang kejam itu? Coba kau lihat, Wil begitu perhatian pada Laudya


bahkan dia sangat mencemaskan wanita itu,” jawab Alex.


“Nona Laudya itu hanya menjadi alat saja, Tuan. Dan karena sekarang dia lumpuh, Tuan Zidan tak lagi mau


dengannya tapi yang aku dengar Tuan Zidan masih membutuhkan dia tuk mendekati seseorang, tapi aku tak tahu siapa itu,” jelas Lissa.


“Lissa, bisakah kau selalu menjaga Laudya dan terus mengawasi Zidan tuk Wiliem? Ah, karena kami hanya akan bisa menemaninya selama seminggu kedepan!” pinta Alex merayu.


“Baiklah, Tuan. Asal kau tak lagi berkata kasar pada Nona Laudya!” balas Lissa.


“Baiklah, sepakat. Aku akan mencoba berlaku baik dengannya,” ucap Alex.


Di dalam ruangan, Wiliem masih diam duduk di atas sofa, sedangkan Laudya sedang membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Terlihat, ranjang itu lebih baik dan sangat memudahkann Laudya tuk lebih mandiri melakukan apapun.


“Terimaksih sudah memperhatikanku, aku sangat terbantu akan ranjangnya,” ucap Laudya.


“Cepatlah sembuh! Dengan begitu, aku bisa segera kembali ke Finlandia dan menemui istriku,” balas Wiliem.


Laudya menatap Wiliem yang  sedang menunduk terlihat wajhanya sedih karena merindukan Vanya, Laudya begitu iri hanya dengan melihat ekspesi dari


Wiliem saja pada Vanya.


“Kau sangat mencintai dirinya, Wil?” tanya Laudya.


“Sangat, melebihi rasa sayangku padamu dulu dan bahkan melebihi diriku sendiri,” jawab Wiliem.


“Dia begitu istimewa tukmu?” tanya Laudya.


“Tentu, dia sangat istimewa. Dia segalanya  bagiku, dia hidupku,” jawab Wiliem.


Hati Laudya semakin sesak mendengar semua jawaban dari Wiliem, karena dulu dialah yang menjadi segalanya tuk Wiliem. Laudya adalah dunia tuk Wiliem, dia adalah segalanya bahkan dulu Wiliem tak akn bisa bernapas jika tak melihat  dirinya. Namun, sekarang telah berubah, semuanya telalh menghilang karena ke egoisan dirinya dan ketamakkan dirinya.


Laudya melemas Wiliem dan terus mengejar  Alex yang memang tak mencintai dirinya. Bahkan, dia yang dulu sangatlah bodoh dengan mengikuti hawa napsunya sampai melepaskan segalanya.


“Maafkan aku, Wil. Maaf telah membuat kekacauan dalam hidupmu dan keluargamu,” ucap Laudya lirih.


Wiliem menatap Laudya, sungguh dia tak menyangka endengar ucapan maaf dari Laudya bahkan nada bicaranya pun sangatlah berbeda. Alex dan Lissa yang baru saja sampai pun sampai terkejut akan itu.


“Maaf dulu pergi meninggalkanmu, maaf karena dulu menghianatimu bahkan aku bermalam dengan kakakmu sendiri dan membuat kalian saling bertengkar hebat,”  isak Laudya.


“Mungkin ini sudah sangat terlambat, hanya saja aku rasa ini lah balasan dari Tuhan tuk wanita kotor


sepertiku. Aku sudah banyak melalukan dosa, aku menyakiti para wanita yang menjadi istri para pelanganku, bahkan aku lah yang membunuh istri dari Zidan,” sambung Laudya dengan isak tangisnya.


“Astaga, Nona. Apa yang kau bicarakan?” tanya Lissa dengan membekap mulut dari Laudya.


Semuanya merasa  aneh dengan Lissa, Alex mengikuti arah mata dari Lissa dan menemukan sebuah penyadap di balik tirai dan di balik meja. Wiliem dan Laudya melebarkan matanya tak percaya ternyata ruangan ini di sadap oleh Zidan.


“Nona kau menjadi semakin  melantur, ingat akan kondisimu Nona!” pinta Lissa.


Laudya hanya mengangguk mengerti dengan semua  kode yang Lissa berikan. Alex dan Wiliem pun menatap ke arah Lissa penuh dengan pertanyaan dan merasa


curiga dengannya.


“Maafkan aku, aku terbawa emosi. Aku merasa sangat sedih dan tak tahu harus bagiamana jika kakiku sampai lumpuh selamanya,” balas Laudya.


"Kau bisa bekerja menjadi yang lainnya selain menjadi model," ujar Wiliem.

__ADS_1


__ADS_2