
Sore harinya Vanya dan Zee berada di rumah Ken. Ara memanggil mereka dengan maksud tuk makan bersama, tanpa mengetahui apa rencana sang suami.
Alya memilih tuk menginap di rumah Zyan. Karena ingin menghabiskan masa liburnya dengan Jiso. Apalagi, Kiara menjanjikan akan pulang ke Korea, membuat Alya sangat penasaran dengan negara KPOP tersebut.
"Kemana, Kak Ken?" tanya Zee.
"Dia sedang di luar, bertemu dengan teman lamanya," jawab Ara.
Vanya yang masih memikirkan tentang Roy terus diam dan terus melamun. Sungguh, sebenarnya Vanya begitu bahagia bisa bertemu dengan temannya itu. Namun karena situasi kemaren membuatnya begitu marah dan melupakan janjinya sendiri yang akan berterima kasih pada Roy, yang selama ini sudah selalu ada bersamanya dan selalu ada tuk dia.
"Anh, kau kenapa? Kau masih memikirkan Wil?" tanya Ara menatap sang adik bunga yang terus diam.
"Tidak. Aku memikirkan lelaki lain," jawab Vanya begitu saja tanpa sadar.
Zee dan Ara yang mendengar itu terkejut dan saling berpandangan, Zee meninggal tangan Vanya dan membuat wanita muda itu tersadar.
"Ah, ya ada apa Kak?" tanya Vanya gugup seraya melihat Ara dan Zee.
Ara menatap dengan wajah yang serius, membuat Zee menelan ludahnya. Sedangkan, Vanya hanya bisa menunduk diam merasa bersalah.
"Maaf, bukan maksudku seperti itu," ucap Vanya lirih.
Ara duduk di depan Vanya dan mendengarkan apa yang Vanya katakan. Begitu juga dengan Zee yang memang sudah sangat penasaran dengan lelaki yang bernama Roy itu.
"Katakan! Kakak ingin mendengarnya," pinta Ara dengan nada lembut.
Vanya menatap ke arah Ara dengan mata yang berkaca-kaca, memang Ara adalah sosok yang bijaksana. Dia bisa marah dengan sekejap, namun bisa kembali lembut hanya karena ingin tahu ada apa dengan adik-adiknya.
"Kak Zee, pemuda yang datang hari itu adalah Roy. Dia temanku, tidak. Dia sudah seperti saudara tuk ku, dia orang yang selalu ada di saat aku sedih atau pun senang dan dia teman yang membantuku di Paris. Bahkan, saat aku menghilang dia lelaki yang bersamaku dan mengetahui kehamilanku," ucap Vanya.
"Jangan bilang, dia lelaki yang hidup denganmu saat kau pergi? Apakah, dia juga yang menolong Wil saat sakit dan bisa bertemu kembali denganmu?" tanya Zee.
"Ya, lelaki itu, Roy. Dia mencintai aku sejak pertama bertemu, hanya saja aku tak bisa menyayangi dia melebihi teman, sahabat, saudara. Roy pun, sampai bersedia menjadi ayah dari anakku, saat aku tak tahu siapa ayah dari anakku," jawab Vanya dengan tersisak.
Zee dan Ara menutup mulut mereka, karena tak percaya jika masih ada pemuda yang seperti Roy. Vanya menceritakan semua tentang Roy, bagaimana dia bisa bertemu dengannya dan sampai menjadi teman baik.
"Lalu apa yang pikirkan, An? Apa kau ingin bersama dengannya?" tanya Zee.
"Tidak, Kak. Aku hanya ingin berterima kasih dengan semua yang sudah Roy lakukan padaku, karena terakhir kali dia pergi tanpa menemuiku. Roy merasa kecewa padaku, tapi juga ikut merasa bahagia karena aku sudah bisa bertemu dengan ayah dari anakku yaitu Wil," jawab Vanya.
"Anh, apa kau ingin bertemu dengannya?" tanya Ara.
Vanya menatap sang Kakak dengan tatapan berharap, "Apa aku mash boleh bertemu dengan lelaki lain? Sedangkan, sekarang aku tak tahu bagaimana kabar dari suamiku?".
"Pergilah, karena urusanmu itu bukan tuk bersifat negatif. Kau ingin mengucapkan terimakasih padanya saja, dengan catatan katakan padanya jika ini yang terakhir kali kalian bertemu. Agar suatu hari, tak akan ada kesalahan pahaman," ucap Ara.
"Aku yakin, Roy akan mengerti situasimu saat kemarin. Kau hanya tak suka, karena pamannya memaki diriku dan merendahkan aku, bukan?" tanya Zee.
"Kak, aku sungguh tak suka keluargaku diperlakukan tak sopan seperti itu. Apalagi, kau seorang wanita dan dia seorang lelaki. Sungguh, Tuan Zidan itu tak mempunyai tata krama yang baik," jawab Vanya.
Zee tersenyum mendengar jawaban dari Vanya, di usianya yang masih belia membuat Vanya memang kadang labil. Ara dan Zee harus terus meminta Vanya. Apalagi, Sam yang masih koma membuat semua keluarga berperan tuk melindungi Vanya.
"Semoga kau dan Roy bisa segera bertemu dan menyelesaikan masalah di masa lalu kalian," ucap Ara.
"Hemm, kau benar Kak. Aku harus bisa menyelesaikan semuanya dengan segera," balas Vanya.
Setelah selesai makan, Ken dan Wildan kembali ke rumah Abigail. Di sana, Abi sudah menunggu kedua lelaki kesayangannya itu, Abi sengaja membawa pulang Yuan tuk bisa bertemu dengan Wildan. Sedangkan Sam masih berada di rumah sakit dengan Diana.
Sesampainya di rumah, terlihat Abi sedang bermain dengan Yuan. Balik itu terlihat sangat senang karena bisa bertemu kembali dengan sang ibu, Wildan dan Ken pun masuk dan membuat Yuan berterima senang karena melihat Ken.
"Kalian sudah kembali, darimana saja?" tanya Abi.
"Hanya jalan-jalan sebentar saja, sebelum aku kembali ke Milan malam ini," jawab Wildan.
Abigail terlihat sedih, wajahnya sangat melihatkan itu. Wildan tersenyum melihat ekspresi sang ponakan yang ternyata sedih, dia kembali pulang.
"Aku kira kau akan lebih lama di sini?" tanya Abi lirih.
__ADS_1
Wildan memeluk tubuh Abi, mencium pucuk kepala sang adik, mengusap lembut surat hitam yang panjang itu. Abigail yang memang sedih hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dada bidang Wildan.
"Kau menangis? Oh, tidak. Jangan menangisi aku, sayang," pinta Wildan memeluk erat Abigail.
Terdengar isak tangis Abi, namun begitu lirih. Wildan menahan air matanya agar tak turun, sedangkan Ken sangat terharu melihat Abigail dan Wildan.
Mau bagaimana pun, dulu Wildan yang sangat memanjakan Abi sejak dulu. Dia yang selalu menjaga Abi, saat Ken harus pulang pergi dari Indonesia ke China, setelah itu Korea.
"Aku merindukanmu, bahkan saat kau ada di sini. Aku mohon temani aku lebih lama lagi!" pinta Abi menatap Wildan dengan menangis.
Wildan sungguh tak tega melihat keadaan Abi yang mungkin sangat tepuk karena keadaan Sam yang masih belum sadar. Abi emang membutuhkan sandaran, Abi begitu kesepian, dia butuh seseorang tuk bersamanya.
Walaupun, ada Ken. Namun tetap saja, Abi merasa tak enak hati jika terus menyusahkan Ken. Karena, Ken dan Ara yang selalu memantau keadaan Sam setiap harinya. Yuan saja, sampai di asuh oleh Liar dan Zyan.
"Baiklah, aku akan menemanimu sampai kau kembali tegar, kuat tuk terus sabar menunggu Sam kembali sadar," balas Wildan.
Ken menatap Wildan dengan tersenyum, sikapnya masih saja tak bisa berubah jika sudah Abigail yang memintanya. Wildan mencium kening Abi dan terus memeluknua dengan erat. Abi merasa senang, dia merasa nyaman saat Wildan mengatakan itu.
"Terimakasih, sudah mau menemaniku lebih lama," ucap Abigail.
Wildan mengangguk dan tersenyum mantap Abigail, menghapus air mata dengan ponakan.
Yuan yang sejak tadi diam memperhatikan Abigail dan Wildan pun menangis meminta di gendong oleh sang ibu. Dengan tersenyum, Wildan melepas pelukannya dan menggendong Yuan.
"Dad,, dada,," celoteh Yuan sembari menarik hidung mancung Wildan.
"Oh, kau memang pintar nak! Jika hidungku ini sangat bagus, membuat setiap wanita tergila-gila padaku," ucap Wildan.
*********************************************************
Milan
Sore itu, Wildan membatalkan rencana itu. Ken pun memahaminya, karena Abigail pun harus dia pikirkan. Wildan mengatakan jika Alex dan Wil, aman ditempatnya. Membuat, Ken sedikit merasa lega dan senang, karena kedua adik iparnya tak dalam kondisi bahaya.
Kepulangan Wildan di batalkan, membuat Alex dan Wiliem merasa kecewa. Namun mau bagaimana lagi, hanya Wildan yang bisa membantu mereka bisa bebas dari Zidan dan bisa kembali ke keluarga mereka.
“Sedang apa kau di sana?” tanya Wil seraya menatap langit di atas sana.
Terlihat, Laudya yang sedang berjalan dengan pelayan dari dalam dan itu membuat Alex yang melihatnya merasa iba pada Laudya. Waktunya, Laudya berjemur dan berlatih berjalan di taman, ingin rasanya Laudya menolaknya
karena melihat ada Wiliem dan Alex di sana.
“Sudah ku duga tatapan dari Alex akan seperti itu padaku,” batin Laudya.
Namun dengan berakting tak perduli, membuat Alex semakin merasa kasihan padanya. Pelayan itu pun membantu Laudya duduk di kursi taman dekat dengan gazebo yang sedang di tiduri oleh Wil.
“Kau duduklah sebentar, aku akan memeriksa pekerjaan dulu,” ucap pelayan.
“Baiklah, ku mohon lebih cepat!” pinta Laudya dengan sangat lirih.
Pelayan itu pun hanya mengangguk dan tersenyum tuk memberikan jawabannya, Wiliem diam tak menghiraukan Laudya yang ada di sampingnya. Sedangkan, Alex kembali berenang dan membiarkan Laudya begitu saja.
“Hemm, aku ingin kembali saja ke kamarku. Suasana ini, sungguh membuat aku merasa malu,” batin Laudya.
Laudya memijat kakinya dengan perlahan dan mencoba menggerakkannya, Laudya merasakan kakinya bereaksi dengan pijatannya dan itu membuat Laudya tersenyum. Wil yang sekilas memperhatikannya merasa ada yang
mengelitik di hatinya melihat ekspresi Laudya.
“Apa kakimu sudah lebih baik?” tanya Wil, seraya duduk melihat Laudya.
“Apa, kau menanyakan sesuatu?” tanya Laudya yan memang tak mendengar ucapan Wil.
“Itu, apa sudah lebih baik,” jawab Wil menunjuk kaki Laudya.
Laudya tersenyum lantas melihatkan kakinya yang tertutup oleh rok panjang pada Wil, terlihat bekas operasinya sudah mongering dan terlihat baik. Wil melebarkan matanya saat melihat bekas operasi itu yang terlihat sangat besar.
“Lukamu, kenapa begitu besar? Bagaimana mereka melakukan operasi itu?” tanya Wil.
__ADS_1
“Lukaku, memang kecil. Namun karena pembusuk kan mengakibatkan lukanya melebar, untung saja aku segera melakukan operasi. Dan itu sangat menyelamatkanku dari kehilangan kakiku,” jawab Laudya.
“Apa kau bekerja sama dengan Zidan soal insiden jatuhnya besi itu?” tanya Alex yang berdiri di depan Laudya.
“Kau bertanya atau menuduhku, Lex?” tanya Laudya kembali, seraya menatap Alex.
“Anggap saja aku bertanya dan juga nencurigaimu,” jawab Alex menatap tajam Laudya.
“Jika seperti itu, aku akan mengatakannya yang sebenarnya. Zidan memang mengincar dirimu, karena dia ingin memiliki istrimu. Dan saat itu, aku tak tahu jika Zidan mempunyai rencana itu,” balas Laudya.
Alex terkejut dengan jawaban dari Laudya, begitu juga dengan Wil yang merasa marah mendengar itu. Laudya sudah tak ingin berhubungan lagi dengan Zidan, dia sudah merasa di khianati karena Zidan telah membuangnya hanya karena rencananya gagal.
“Kau berbohong, Laudya! Aku tahu apa rencanamu. Kau itu wanita ular yang berpura menjelma wanita tak berdaya,” ucap Alex.
“Terserah apa katamu, aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Zidan tak mungkin lagi menginginkan aku yang sudah tak bisa melakukan apa pun tuknya, aku sudah di buang olehnya,” balas Laudya.
“Sejak kapan kau bekerja dengannya?” tanya Wiliem menatap sendu pada Laudya.
“Setahun setelah aku di kirim oleh ibu kalian, setelah membuat kalian saling hampir saling bunuh. Nyonya Sofia mengirimku menjauh dari kalian, apalagi dari mu Wil. Nyonya takut aku hamil dan itu akan membuatmu semakin membenci Alex,” jawab Laudya.
Alex menatap Laudya, begitu juga dengan Wiliem yang begitu terkejut. Namun, Laudya malah tersenyum seperti menertawakan dirinya sendiri. Laudya tersenyum menatap Alex lalu memalingkan wajahnya.
“Tapi, tidak. Tuhan tak mengabulkan doaku yang ingin anak darimu, Lex. Aku tak pernah hamil dan itu sempat membuatku kesal, karena jika aku hamil itu akan sangat menguntungkanku. Mungkin juga aku bisa menjadi Nyonya
muda dari keluarga Sanders,” ucap Laudya.
“Jadi dulu, kau memang sengaja melakukan itu dengan Alex? Kau benar-benar menghianati aku?” tanya Wiliem dengan nada kecewa.
“Sepereti yang aku katakan, aku memang menghianatimu. Kau lelaki yang sangat baik Wil, oleh karena Tuhan tak mengizinkan mu tuk bersamaku,” jawab Laudya dengan senyum getir.
“Cih, kau memang wanita ular. Kau sudah merencanakan semuanya padaku dan Wiliem,” ucap Alex mencibir Laudya.
Entah kenapa setiap Laudya mendngar umapatan dari Alex, membuatnya semakin lega. Bahkan, Laudya ingin Wiliem juga mengumpatnya agar dia bisa merasakan lega juga. Laudya ingin menerima kemarahan dari keduanya tuk bisa menebus kesalahannya yang telah merusak hubungan mereka saat dulu.
“Hiduplah dengan baik mulai sekarang! Tuhan masih memberikan kesempatan padamu, aku dan Alex tuk bisa bertemu dan membahas semua masa lalu yang kelam itu,” ucap Wiliem menatap Laudya.
Laudya tersenyum mentap Wiliem dan mengangguk sebagai jawabannya. Alex memalingkan wajahnya, namun lelaki itu sudah berubah menjadi lelaki yang lembut sejak bertemu dengan Zee.
“Maafkan aku dengan segala yang aku lakukan padamu saat dulu,” ucap Alex mengulurkan tangannya pada Laudya.
Laudya menanagis mendapat perlakuan yang sangat sopan dan baik dari Alex, Laudya menerima uluran tangan itu dan berterima kasih karena sudah memaafkannya.
“Terimakasih, sudah memperlakukanku sebagai wanita baik-baik. Maafkan aku, maaf sudah membuat kau dan Wil bertengkar,” balas Laudya.
Alex dan Laudya pun saling berpandangan dengan senyuman tulus dari keduanya, Wil yang melihat itu merasa senang karena mereka sudah sama-sama berdamai dengan masa lalu yang menyakitkan mereka bertiga.
“Wil, apa kau juga memaafkanku?” tanya Laudya.
“Tentu, aku juga akan berdamai dengan masa laluku. Aku ingin melepas segala masa lalu yang menyakitkan itu,” jawab Wiliem.
Wiliem memeluk tubuh Laudya, sontak membuat Laudya terkejut dengan sikap Wil yang masih sudi tuk memeluk dirinya yang sudah sangat kotor itu. Namun tak dipungkiri, jika Laudya memang membutuhkan pelukan tuk menguatkan dirinya yang sudah tak bisa apa-apa dan tak memiliki siapa pun lagi.
“Terimakasih, terimakasih, Wil. Kau memang lelaki baik, sikap dan sifatmu tak pernah berubah sama sekali, selalu baik pada siapa pun,” ucap Laudya sembari menangis.
Wiliem menatap Alex yang berada di belakang Laudya, Alex mengangguk mengerti apa yang di lakukan oleh Wil itu semata-mata tuk menyemangati Laudya dan menenangkannya.
Setelah melakukan pembicaraan, Wil memapah Laudya menuju kamarnya. Sedangkan, Alex bergegas kembali ke kamarnya karena harus segera mandi membersihkan dirinya.
“Kau lelaki terhebatku, Wil. Kau lelaki pertama yang menyukai aku tanpa syarat, mencintaku dengan segenap hatimu, kau menerima aku tanpa melihat siapa aku. Namun, karena keegoisanku, aku pergi begitu saja meninggalkanmu, melepasmu tanpa menoleh padamu, maafkan aku Wil,” batin Laudya.
Laudya begitu bahagia karena bisa bertemu dan menjadi teman lagi dengan Wiliem. Setidaknya dengan begitu dirinya bisa menebus dan mencoba memperbaiki hubungannya dengan Wiliem. Lelaki yang dulu sangat mencintai
dirinya, lelaki yang dulu dia hianati dan sakiti.
BERSAMBUNG 🍂🍂🍂
Jangan lupa tuk terus dukung aku yak sayang-sayangku...
__ADS_1
Terimakasih, salam hangat dari ku 😍😘