Takdir Cinta

Takdir Cinta
Penyesalan


__ADS_3

" Dokter bagaimana keadaan istriku " tanya Rafli dengan tubuh gemetar.....


" Katakan dokter " bentak Rafli.


" Alhamdulillah , nona Ana sudah melewati masa kritisnya " ucap dokter Ajeng , ia sempat syok melihat penampilan Rafli acak-acakan..


" Apa boleh saya melihatnya dok " tanya Rafli.


" Boleh tapi hanya satu orang , karena nona Ana masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat nya " jawab dokter Ajeng ramah.


" Baiklah , tuan dan nyonya saya permisi " imbuhnya berpamitan segera karena ada tugas darurat memanggilnya.


" Pak Gun , ibu Laras sudah siuman " ucap Tiara yang menatap Rafli penuh kebencian.


Gunawan yang ingin menemui sang anak berputar arah untuk menemui istrinya lebih dulu namun langkahnya terhenti saat Rafli hendak memasuki ruang rawat Ana.


" Minta maaflah pada putriku untuk terakhir kalinya. Setelah putriku sadar , aku akan segera mengurus perceraian kalian " ucap Gunawan dingin namun mampu membuat tubuh Rafli kembali lemas seketika dan kedua orang tua Rafli juga syok mendengarkannya.


Ines segera ikut kemana dua kembaran itu berada untuk melihat keadaan ibu Laras yang ia anggap sebagai ibunya sendiri , di ikuti Darwin yang setia menemani Ines melangkah , Darwin menyerahkan urusan kantornya dua hari ke depan kepada sekretarisnya karena ia yakin Ines pasti betah membesuk Ana dirumah sakit.


" Aku tidak akan melepaskan Ana apapun yang terjadi meski harus menghadapi bapak sekalipun , aku punya alasan di balik semua ini " jawab Rafli lirih kemudian tetap masuk kedalam ruangan Ana , Gunawan memilih pergi dan tetap dengan keputusannya.


Rafli menatap nanar wanita yang terbaring lemah di sebuah ruang rawat rumah sakit yang begitu mewah , terlihat suster dan dokter puspa yang sedang berbincang mengenai Ana dengan dokter Neti dan juga Smith.


" Tuan " sapa dokter Puspa dan Neti sementara Smith hanya diam.


" Kalian keluarlah , biar aku yang menjaga istriku " lirih Rafli.


Dokter Smith dan Neti serta suster berpamitan untuk keluar sementara dokter Puspa yang menjadi dokter pribadi Ana menjelaskan kepada Rafli secara keseluruhan.


Semua penjelasan Rafli dengarkan dengan bagitu baik sementara pandangan matanya tertuju kepada Ana.


Hingga ucapan dokter puspa kali ini berhasil membuat Rafli terkejut mendegarnya.


" Nona Ana mengalami trauma atas diri tuan nanti , karena efek kekerasan yang tuan lakukan , bahkan tadi semangatnya untuk kembali hidup tidak ada namun Tuhan masih menugaskan nona Ana untuk mengurus tuan junior yang baru saja lahir. Tuan bersabarlah , bila nona Ana saat sadar menolak anda bahkan mungkin akan berteriak histeris , jangan terlalu memaksanya tuan " ucap dokter Puspa lembut dan ia melihat air mata Rafli yang tiada henti mengalir seakan tak ada habisnya.


" Berapa lama ia trauma akan diriku " tanya Rafli terisak seraya mengecup penggung tangan Ana yang selalu ia genggam sejak sedari tadi.


" Saya tidak bisa memastikannya tuan , namun akan ada psikolog yang akan membantu nona Ana secepatnya untuk menghilangkan traumanya. Namun ini hanya analisa dari kami para dokter , semoga saja ini tidak terjadi " ucap Puspa memberi Rafli secercah harapan.


" Saya pamit tuan , semoga semua baik-baik saja " imbuhnya dan diangguki Rafli.


"Seharusnya mas menemani mu saat ingin melahirkan Ana , kau ingin sekali melahirkan normal tapi semua berubah karena ulah mas .....hiksss..... " ucap Rafli menangis . Khyalannya tak menjadi nyata , dimana ia akan di jambak rambutnya saat Ana mengejan untuk melahirkan anak mereka.


" Sayang , maafkan suamimu yang bodoh ini Ana ....hikss....hiksss. Kau tau , semua orang membenciku saat ini , tapi aku tak mengapa Ana , asal jangan dirimu yang membenciku meski itu sangat mustahil. Bapak bahkan berencana untuk memisahkan kita , tapi aku berjanji apapun yang terjadi , aku akan tetap mempertahankan rumah tangga kita...hiks... Kau boleh menampar atau bahkan membunuhku asal jangan minta pisah dariku... aku tak sanggup Ana....hiksss....hiksss... aku tak sanggup " ucap Rafli menangis pilu.


Ceklek


Terlihat Rani mendorong boks bayi dimana ada Rafli junior disana , Rafli dan Rani saling pandang dengan ekspresi terkejut namun pandangan Rani mengisyaratkan sebuah kecewa begitu besar kepada Rafli.


" Mbak " ucap Rafli lirih dan tersenyum melihat sosok mungil terlelap disana dan tersenyum pula.


" Itu anakku mbak " ucap Rafli dengan binar bahagia.


" Bukan , ini hanya anak Ana. Bukan anakmu , siapa kau yang tiba-tiba mengaku " ucap Rani ketus bahkan baru pertama ia berucap sekasar ini kepada adiknya.


" Mbak " ucap Rafli yang hatinya begitu sakit dengan ucapan dan reaksi Rani padanya.


" Aku ingin menggendongnya " ucap Rafli dengan suara bergetar , air mata kembali mengalir membasahi wajah tegasnya . Rani merasa begitu iba melihat adiknya yang begitu kacau saat ini.


" Boleh " ucap Rani dan kemudian membantu Rafli karena Rafli belum berpengalaman sama sekali.


" Jangan sentuh anakku , pergi kau b*jingan " teriak Ana yang tiba-tiba terbangun dan kemudian menangis histeris saat melihat Rafli. Rani mengembalikan bayi itu ke dalam boks dan segera menghampiri Ana , sedangkan Rafli tubuhnya terjatuh lemas terasa tak bertulang menangis tanpa berani melihat Ana yang saat ini memakinya.

__ADS_1


" Mbak , usir pria itu , aku tidak ingin melihatnya lagi. Dia kesini ingin membunuh putraku mbak.....hiksss....usir dia mbak.... " ucap Ana terisak sementara Rani segera membawa Ana dalam pelukannya dan menekan tombol darurat agar dokter kemari.


" Pergi kau.... aku membencimu Rafli.... " teriak Ana terisak membuat Rafli melangkah dengan gontai.


Ceklek... Pintu terbuka dan orang di luar mendengar teriakan Ana , Ayu segera masuk menemui Ana tanpa peduli keluarga Wijaya disana , ia merasa khawtir pada psikis Ana.


" Ana " ucap Ayu berhambur memeluk Ana.


" Ay... dia datang dan ingin membunuh putraku...hiks...hikss....kenapa ia tega kepada anaknya sendiri....hikss....hikss.... Dia tidak percaya pa...padaku....hiksss... Dia kemari ingin membunuh anakku....hikssss " ucap Ana terisak, kenangan malam yang kelam itu melintas kembali di pikirannya.


" Ana tenanglah , ada aku disini dan ada mbak Rani " ucap Ayu lembut.


" Ayu benar Ana , mbak dan Ayu akan menyuntiknya mati bila ia berani menyakiti putra mu " ucap Rani yang kini juga telah menangis..


" Aku lebih baik di suntik mati mbak dari pada melihat Ana begitu histeris dan membenciku " batin Rafli lalu menghilang di balik pintu.


Diluar ruangan Rafli terduduk lemas bersandar ke pintu ruangan Ana yang baru saja di tutup oleh dokter..



" Segitunya kau membenciku Ana , maafkan aku sayang.... Jagoan ayah , ayah rindu...hikss...hiksss " lirih Rafli , Lia yang baru saja kembali dari toilet menangis terisak melihat Rafli , ia menatap tajam suaminya yang tak peduli pada anaknya sementara Joe sendiri di usir Rafli saat akan menenangkannya . Jimmy ia pergi mencari informasi apa yang terjadi dengan Laras dan segera meminta anak buahnya mencari donor untuk ibu Laras bagaimanapun caranya harus cocok dan cepat , Jimmy memberi tenggang waktu selama satu minggu untuk mencarinya.


" Nak " ucap Lia dan segera Rafli memeluk ibunya , manusia yang satu-satunya peduli padanya meski Rafli tau , bahwa Lia kecewa atas perbuatannya.


" Anakmu ini bodoh ma , aku menyakiti Ana dan kini Ana membenciku ma..hikss...hiksss... Aku tidak ingin berpisah darinya ma....hikss... Aku tidak akan bisa hidup tanpa Ana disisiku ma.... " ucap Rafli terisak


" Pa lakukan sesuatu pa " ucap Lia yang kini ikut menangis.


" Anak mu harus menyelesaikannya ma... Ini konsekuensinya " ucap Abdi tegas meski ia juga akan tetap mempertahankan rumah tangga anaknya , Rafli memang bersalah tapi tetaplah Rafli anaknya yang hanya bahagia bersama Ana..


"Tapi dia juga anakmu , apa kau ingin anakmu berbubah menajadi tak waras...hah " ucap Lia penuh emosi , ia khawatir dengan kondisi Rafli , ia mengingat tindakan nekat anaknya saat Ana memutuskannya namun kini situasinya berbeda status Rafli dan Ana tak lagi pacaran dan cinta Rafli juga semakin bertambah.


" Ma... tolong bantu Rafli mendapatkan maaf dari semua orang , terutama Ana ma. Rafli sangat mencintai Ana , Rafli lebih baik tiada ma , bila hidup tanpa Ana karena terasa percuma....hiks... " ucap Rafli terisak.


Rafli menatap kosong pandangan di depannya , ancaman mertua lelakinya begitu mematikan baginya, dulu ia sering mengancam Ana akan mengadukannya pada Gunawan jika Ana tidak mematuhi ucapannya , kini berbalik sudah. Gunawan bahkan mengancam untuk mengakhiri pernikahan mereka.


" Katakanlah Rafli " ucap tegas Abdi karena Rafli hanya bungkam.


Rafli menceritakan semua yang terjadi sebelum kekerasan itu terjadi , kedua orang tua Rafli menyayangkan tindakan Rafli yang begitu gegabah kali ini.


" Apa kau tidak bisa meredam sedikit saja rasa cemburumu Rafli , kau hampir membunuh anak dan istrimu. Tidak ada guna IQ yang tinggi dan gelar predikat terbaik kau dapat bila kau tidak bisa berpikir untuk percaya kepada orang yang kau cintai " ucap Abdi memaki kebodohan Rafli.


" Rafli sungguh menyesal pa...hiksss..." ucap Rafli..


" Ana meminta cerai padamu malam itu dan kini Gunawan tetap pada keputusannnya untuk mengurus perceraian kalian " imbuh Abdi membuat kepalanya terasa pusing.


" Aku tidak akan pernah melepaskan Ana pa , apalagi bercerai darinya... Apapun akan aku lakukan untuk mempertahankan rumah tangga ku " ucap Rafli bangkit kemudian keluar.


" Pa , bagaimana ini " tanya Lia terisak.


" Kita berharap kepada bu Laras agar bisa membujuk suaminya. Mama bicaralah dari hati ke hati kepada bu Laras , pelan-pelan saja karena bu Laras terkena penyakit jantung dan papa sedang berusaha mencari donor untuk besan kita " pernyataan Abdi membuat Lia sedikit syok karena ia baru mengetahui kabar bu Laras , karena sedari tadi Lia hanya memikirkan masa depan rumah tangga Rafli , hari yang seharusnya bahagia harus terselip kesedihan di dalamnya.


Kini kondisi Ana sudah sedkit membaik setelah Ayu memberi pencerahan pada Ana , membuat para dokter yang menangani Ana memutuskan bahwa Ayu yang akan menjadi psikolog untuk Ana karena itu memang tugas Ayu , banyak juga pasien yang sembuh berkat bantuannya.


Ooeeekkkkk....ooeekkk suara tangis baby tampan itu membuat Rani mengambilnya ..


" Ana , coba kamu susui. Kelihatannya baby tampan mu ini haus " ucap Rani yang masih setia menemani Ana seraya menunggu suaminya untuk pulang kerja bersama.


" Anak bunda haus ya " ucap Ana lembut dan sekejap saja Ana bisa menggendong bayinya dengan posisi benar..


Ana sedikit meringis kesakitan ketika mulut mungil itu mulai menghisap put*ng susu Ana.


" Itu hal wajar sayang , karena permukaan lidah anakmu belum menyentuh apapun jadi permukaannya sedikit tajam.... " ucap Rani.

__ADS_1


" Iya mbak , nikmatnya sangat luar biasa , aku tak masalah " ucap Ana menangis haru melihat putranya yang begitu bersemangat untuk menyusu.


Pandangan Rani tertuju kepada seseorang yang mencoba mengintip dari kaca luar ruang rawat Ana. Rani mengetahui jika itu Rafli. Ia merasa sedih dengan nasib adiknya kini. Untuk melihatnya saja dilarang Ana , apalagi menyentuh bayinya.


" Kasian sekali kau Rafli " batin Rani..


Rani bergerak melangkah maju menuju jendela yang tirainya terbuka sedikit itu membuat Rafli segera merunduk takut ketahuan. Namun Rani malah membuka lebar tirai itu dan membuka sedikit jendela.


" Tidak usah main petak umpet dengan mbak Rafli , mbak tau kau sembunyi di bawah " gumam Rani dan menahan tawa melihat tingkah Rafli.


" Kau pengertian sekali kepadaku mbak " batin Rafli.


" Ana siapa nama keponakanku yang tampan ini " tanya Ayu berbinar.


" Namanya ..... " ucap Ana bingung , ia tak mau menyematkan nama yang Rafli pilih untuk anaknya.


" Dewa Pratama Gunawan " jawab Ana membuat Rani syok mendengarnya sedangkan Rafli mengepalkan tangannya menahan marah pada dirinya sendiri.


" Dia anakku Ana " batin Rafli.


" Gak apa kan mbak " tanya Ana karena melihat respon Rani berbeda.


" Tidak apa " ucapnya gugup.


" Karena ini anakku , hanya anakku " ucap Ana tegas.


" Mana bisa itu anakmu saja Ana , tentu suamimu sebagai peran penting dalam membuatnya " goda Ayu.


" Siapa bilang , ini putraku. Kau belum menikah tapi pikiranmu terlalu jauh Ay " gerutu Ana.


" Tapi be..... " ucap Ayu terpotong.


" Jangan sebut namanya lagi , atau kau keluar dari sini " ucap Ana lirih saat teringat Rafli , sungguh ia membutuhkan Rafli disampingnya namun ia takut melihat Rafli jika mendekat.


Tok..tok..


Dokter Puspa masuk membawa makanan untuk Ana , tidak ada yang boleh masuk ke ruangan Ana kecuali orang tertentu saja , privasi Ana begitu di lindungi oleh keluarga Wijaya.


" Nona makanlah " ucap Puspa lembut .


" Apa tidak harus kentut dulu dok " tanya Ana.


" Nona Ana , ini rumah sakit terbaik dan ini milik mertua anda , anda di berikan pelayanan yang istimewa. Jadi tanpa menunggu kentut anda bisa makan dan minum " ucap dokter Puspa.


" Iya An , makanlah. Kini operasi telah modern Ana , jaman dulu iya di larang makan dan minum sebelum kentut atau menunggu beberpa jam " jelas Ayu menimpali.


" Terima kasih dok " ucap Ana tersenyum kikuk menatap Rani.


" Makanlah An , si tampan ini biar bertambah montok " ucap Rani dan tak lama ia berpamitan karena suaminya sudah selesai dengan tugasnya.


Saat berjalan keluar , Rani melihat Rafli yang begitu hancur.


" Bersabarlah , ambil hatinya kembali . Ayu akan membantu Ana menghilangkan traumanya akan dirimu " ucap Rani lembut.


" Terima kasih mbak , aku tidak tau benar atau tidak yang mbak katakan , atau hanya menghiburku saja " ucap Rafli tersenyum getir.


" Ah kau ini , ini kan drama yang kau ciptakan , mandilah biar kau lebih segar... Jika tidak Ana akan mencari papa baru untuk anakmu " ucap Rani masih sempat menggoda Rafli dan ia segera berlalu pergi.


" Papa baru , mana bisa begitu. Ana dan anaknya itu miikku " gerutu Rafli tak terima.


Selamat pembaca...


Tolong like dan komentarnya...

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2