Takdir Cinta

Takdir Cinta
Amarah Lia


__ADS_3

'' Ericana ayo makan sayang. Ini aunty Ana loh yang buatin '' ucap Vini mencoba mencairkan suasana dengan membawakan semangkuk makanan.


'' No mam. Ericana maunya aunty Ana yang suapi '' ucap Ericana dan refleks Ana melihat kearah Vini. Vini tersenyum dan mengizinkan Ana untuk menyuapi Ericana .


Ericana makan begitu lahap saat Ana suapi , bocah yang biasanya terlalu pemilih makanan kini tanpa protes untuk mengunyahnya dengan lahap. Lontong sayur , makanan yang tak pernah Ericana makan tapi begitu saja cocok dengan lidahnya. Ana tersenyum bahagia saat ini , punya perasaan yang begitu sulit diartikan untuk Ericana . Ingin mencegah Ericana agar jangan pergi namun dirinya tak berhak .


'' Nona . Tuan meminta anda untuk segera kekantor '' ucap Jova membuat Ana melihat jam di pergelangan tangannya ...


'' Sebentar lagi '' ucap Ana dan diangguki Jova .


Rafli yang tak sabar menunggu Ana untuk menemuinya pun akhirnya menelpon langsung ke handphone Ana berkali-kali membuat Ana terpaksa mengangkat telepon darinya seraya menyuapi Ericana..


'' Iya-iya . Aku akan kesana sekarang mas '' ucap Ana akhirnya mengalah setelah Rafli membawa tentang agama , dosa apa yang tak menuruti kata suami . Akan tetapi Ana tetap menyuapi makanan ke mulut Ericana hingga makanan itu tandas.


'' Sayang . Aunty pamit dulu ya " ucap Ana bersedih .


'' Nanti kita akan ketemu lagi aunty " ucap Ericana tersenyum membuat Ana tertular senyum tersebut .


'' Sampai ketemu sayang " ucap Ana memeluk Ericana tanpa terasa air matanya begitu menetes , perasaan sesak menerjang hatinya begitu saja ..


'' Baik lah hati-hati dijalan. Maaf , aunty gak bisa mengantar Ericana ke bandara. Aunty akan selalu menyayangi Ericana '' ucap Ana mencium kening Ericana.


'' Ericana juga sayang aunty '' ucap Ericana hendak menangis. Cup , ciuman manis Ericana berikan dipipi sebelah kanan milik Ana...


'' Vini , aku pergi dulu nanti di perjalanan hati-hati dan jangan lupakan aku ya '' ucap Ana seraya memeluk Vini .


'' Iya mbak . Sampai bertemu lagi " ucap Vini membalas pelukan Ana dengan hangat.


'' Tante Sasa mana " tanya Ana berniat ingin pamit.


'' Mama biasa mbak lagi istirahat masih kurang sehat '' ucap Vini .


'' Oh baiklah. Titip salam ku untuknya ... Da " ucap Ana dan sekali lagi Ana mencium Ericana dengan gemas .


.


.


.


Sementara di kantor Wijaya Group , tepatnya di ruang kerja Rafli tengah berkutat dengan pekerjaannya , dan keadaan di lobi mendadak heboh dengan kedatangan ibu besar yaitu Lia Wijaya tengah berjalan dengan seorang gadis cantik yang terlihat perutnya membuncit cukup besar. Bisik-bisik pun mulai terjadi , mengingat wanita itu memiliki body yang berbeda dengan wanita yang menggunakan masker dan kaca mata yang biasa di gandeng mesra oleh bos tampan mereka.


'' Bu Bos " sapa Bianca sopan dan melirik sekilas Bunga dan tersenyum ramah .


'' Apa Rafli ada didalam Bia " tanya Lia dengan ramah dan diangguki Bianca.


'' Jika ada yang ingin masuk nanti tahan saja. Soalnya saya ingin berbicara penting dengan Rafli " ucap Lia tegas...


'' Siap Bu Bos " ucap Bianca tersenyum .


'' Ayo " ucap Lia terlihat ketus kepada Bunga ...


tok...tok dan spontan pintu terbuka , senyum merekah Rafli yang mengira istrinya datang kini senyum itu luntur saat mengetahui mamanya yang datang dan rahangnya mengeras saat melihat Bunga muncul di balik tubuh Lia.


'' Mau apa mama kesini " ucap Rafli menahan emosinya ...


'' Bagiamana keputusan kalian tentang Bunga " tanya Lia memijit pelipisnya terasa pening ,Lia yang begitu mencintai cucu-cucunya merasa was-was saat melihat Bunga hendak menenggak racun tadi ,beruntung saat itu Lia datang tepat waktu.


'' Ma , waktuku masih dua hari untuk menjawab nya " ucap Rafli ketus ...


'' Dan jawabannya aku tak akan menikahi Bunga demi apapun aku tak akan menikahinya " ucap Rafli bosan akan pertanyaan yang selalu di tuju padanya .

__ADS_1


'' Tapi Raf " ucap Lia namun ucapannya terhenti saat Rafli mau mengatakan sesuatu. Jika bukan karena Bunga mengandung cucunya , Lia pun tak akan mau melangkah sejauh ini untuk membela Bunga .


'' Aku punya penawaran untukmu Bunga . Beri aku waktu satu Minggu lagi untuk menemukan anakmu dan Willy " ucap Rafli sengaja mengulur waktu karena ia juga sedang mencari keberadaan anak Willy dan Bunga . Sontak perkataan Rafli membuat Lia menatap Bunga tajam .


'' Apa maksudmu Rafli . Kau orang yang pertama dan membuatnya hamil . Bagaimana mungkin ada anak Bunga dan Willy " ucap Lia kesal.


'' Mama ternyata telah di tipu mentah-mentah oleh wanita licik ini yang hanya sekedar pion orang lain " ucap Rafli makin membuat Lia kesal karena banyak hal yang tak ia ketahui .


'' Geilo " ucap Rafli memperlihatkan sebuah foto seorang anak kecil .


'' Geilo anak Bunga dan Willy " ucap Rafli .


Plakk tanpa peringatan Lia menampar Bunga karena merasa di bohongi , memang Lia mau memaksa Rafli menikahi Bunga hanya untuk cucu yang sedang di kandung Bunga namun tak ada niatan membuat Bunga menjadi menantunya untuk selamanya.


'' Beraninya kau membohongi Tante " ucap Lia dan mulai menjambak rambut Bunga saat ini , tak peduli lagi dengan cucu yang di kandung Bunga , karena Bunga lah Ana terkesan menjaga jarak darinya .


'' Ma sudah . Mama bisa membunuhnya " ucap Rafli namun Lia kekeh karena rasa kesalnya. Kata-kata kasarpun keluar dari mulutnya.


'' Sakit Tante Bunga minta maaf " Isak Bunga , melihat mamanya yang seperti kesetanan membuat Rafli segera melindungi Bunga saat itu .


'' Bianca , suamiku ada di dalam " tanya Ana , Bianca ragu untuk menjawab.


'' Bianca " imbuhnya dan segera Bianca menganggukkan kepalanya .


Ceklek


'' Mama sadar apa yang mama la .... '' ucap Rafli terhenti saat Ana menatapnya sulit di artikan.


'' Maaf. Aku menggangu acara kalian " ucap Ana dan segera mungkin cepat pergi dari tempat itu , dadanya terasa sesak saat melihat suaminya memeluk Bunga dan terlihat Bunga begitu nyaman dalam pelukan suaminya . Rafli yang sadar pun segera melepaskan Bunga yang ternyata masih dalam pelukannya. Melihat suaminya berpelukan saja Ana tak mampu , lalu bagaimana jadinya saat Rafli harus menikahi Bunga .


Rafli pergi untuk segera menyusul Ana sementara Lia menatap tajam Bunga saat ini .


'' Tuan , ini laporannya " ucap Zumi namun Rafli menatapnya tajam .


'' Pejamkan matamu " bentak Rafli yang tak ingin pertengkarannya dan Ana di lihat siapapun. Zumi menurut namun tersenyum dalam hatinya melihat air mata Ana yang menetes di hadapannya saat ini.


'' Ikut mas " ucap Rafli menggendong Ana seperti karung beras .


'' Dan kau , dua jam lagi temui saya " ucap Rafli dan diangguki Zumi .


ceklek .


'' Ya ampun , mama " ucap Rafli terbelalak kaget saat Bunga mengeram kesakitan namun Lia tampak tak peduli .


'' Mas , kita harus segera bawa Bunga kerumah sakit '' ucap Ana saat melihat darah yang mengalir di betis Bunga . Rasa amarah Ana terhadap suaminya dan Bunga hilang begitu saja berganti dengan perasaan cemas.


'' Ayo mas , kau gendong Bunga kenapa diam saja " ucap Ana kesal .


'' M...mas yang gendong " tanya Rafli gugup .


'' Tak perlu secemas itu Ana , biarkan saja Bunga mati " ucap Lia sarkas..


'' Ma ... " ucap Ana tak menyangka ucapan yang keluar dari mulut mertuanya. Menyadari Bunga yang keadaanya berantakan membuat tanda tanya besar di kepala Ana.


'' Jo ke ruanganku sekarang " ucap Rafli dari balik teleponnya .


'' Mas kau keterlaluan sekali , kenapa bukan dirimu saja '' umpat Ana , Ana sendiri mengelap keringat jagung yang keluar dari pelipis Bunga .


'' Kak , sakit sekali '' rintih Bunga dengan wajah memucat .


'' Yang sabar Bunga , aku tak bisa menggendong mu '' lirih Ana , ia tak percaya jika ibu dan anak di depannya ini seakan tak punya hati saat ini .

__ADS_1


Jo yang di perintahkan Rafli segera menggendong Bunga untuk menuju rumah sakit terdekat .


'' Mau kemana '' tanya Rafli mencekal lengan Ana.


'' Aku mau kerumah sakit mas '' ucap Ana dengan mata berkaca-kaca.


'' Biar mama yang pergi menemaninya Ana '' ucap Rafli , sementara Lia merasa keberatan kecewa saat mengetahui kebenaran tentang Bunga.


'' Mas , aku mohon sebentar saja '' ucap Ana memelas.


'' Biar mama dan Ana kerumah sakit nak . Kau tetaplah disini '' seloroh Lia.


'' Tapi ma... '' ucap Rafli terasa begitu enggan membiarkan Ana pergi.


'' Mas , aku akan pergi bersama mama . Kali ini saja mas , bagaimana pun yang di kandung itu adalah.... '' ucap Ana terhenti setelah Rafli berteriak padanya .


'' Stop Ana '' bentaknya dengan tangan yang menggantung di udara .


'' Maaf , maafkan mas '' sesal Rafli membawa Ana dalam pelukannya , cukup saat hamil Dewa ia melakukan tindakan kasar pada wanita yang begitu ia cintai.


'' Pergilah . Maafkan mas hampir menampar mu '' imbuhnya mengecup surai Ana . Lia pun hampir syok saat melihat Rafli hendak menampar Ana tadi .


'' Baiklah mas . Aku pergi dulu bersama mama '' ucap Ana mencium singkat pipi suaminya dan diangguki Rafli lemah.


'' Apa yang terjadi hingga Bunga mengalami pendarahan '' gumam Rafli .


Sementara keadaan Bunga yang di bopong oleh Jo menjadi perhatian pegawai kantor Wijaya yang kebetulan saat ini jam makan siang . Zumi alias Viona pun menjadi penasaran dengan apa yang ia dengar ditelinga . Viona segera melihat dengan dekat , matanya terbelalak sempurna saat melihat Bunga mengalami pendarahan yang terlihat jelas di dress biru muda yang di kenakan Bunga...


'' Sejak kapan Bunga disini dan apa yang terjadi . Apa ia baru saja berkelahi dengan Ana . Ah sial sekali " batin Viona , baru saja ia tersenyum beberapa menit yang lalu dan senyum itu kini harus luntur karena tak sesuai dengan rencananya.


.


.


.


Rumah Sakit .


Keadaan Bunga yang tak sadarkan diri segera memasuki ruang ICU. Lia dan Ana menunggu dengan begitu cemas , di dampingi oleh beberapa orang untuk berjaga. ..


'' Apa yang terjadi dengan Bunga ma. Kenapa Bunga sampai seperti ini " tanya Ana lirih , air matanya terus menetes tiada henti...


'' Mama minta maaf Ana '' ucap Lia penuh sesal.


'' Saat kau melihat Rafli memeluk Bunga , hal itu tak sesuai dengan pemikiran mu " ucap Lia mulai menjelaskan semua yang terjadi sebelum Ana datang.


'' Terus , apa yang terjadi saat kami kembali dan melihat Bunga pendarahan " tanya Ana.


'' Mama tidak melakukan apapun saat itu " jawab Lia.


Menit terus berlalu hingga kini sudah satu jam lebih Ana dan Lia menunggu. Rafli yang berada di kantor pun pikirannya begitu tak tenang hingga memerintahkan Bianca untuk mengurus urusan kantor selama dua hari.


Saat Rafli tiba dirumah sakit , di depan ruang ICU yang telah di sterilkan dari orang luar terlihat Ana dan Lia kini menangis , terlihat Ana paling terlihat sedih disana dan di tenangkan oleh para bodyguard milik Ana .......


'' Apa yang terjadi " tanya Rafli , hatinya mendadak tak tenang saat ini.


'' Mas , Bunga....hiks....hiks... " Isak Ana berlari ke pelukan Rafli .


Jangan lupa like dan komentarnya ya.


Selamat membaca 😊

__ADS_1


__ADS_2