
Hari bahagia itu pun akhirnya terjadi juga, semua keluarga Putra berkumpul di sebuah villa yang begitu besar di kawasan puncak. Karena, Ara dan Ken telah mengenalkan siapa mereka yang sebenarnya, akhirnya semua orang penting akan datang ke acara pernikahan Wil dan Vanya.
"Wah, pernikahanmu ini akan semakin ramai karena semua kolega kakak akan datang," ucap Sam.
"Ya, aku menjadi semakin khawatir kak. Aku takut acaranya tak lancar," balas Vanya.
"Apa yang kau khawatirkan? Semuanya sudah aku urus dengan sangat baik. Dan, penjaga juga sudah siap kapan pun," ucap Zyan.
Vanya dan Sam tersenyum berterima kasih pada Zyan. Memang semuanya sudah sangat siap, acara itu akan di lakukan besok.
"Kau tidak boleh memakirikan apapun. Kau harus rileks Anya!" perintah Kiara.
"Ya, kak. Aku akan mencoba rileks, tapi jantungku masih tetap berdetak kencang," balas Vanya.
"Sudah, tidak apa-apa. Kau harus banyak makan buah agar anakmu ini bisa semakin sehat," ucap Abgial sembari mengusap perut Vanya.
Villa itu bernuansa putih dan pink, banyak sekali ornamen burung merpati dan juga bunga mawar dan lily. Sungguh, Vanya begitu bahagia apa yang dulu dia impikan menjadi kenyataan. Bisa menikah di banyak hamparan bunga dan juga burung merpati.
"Ayah, Ibu, apakah kalian melihatku dari surga? Apakah kalian bahagia, melihatku bahagia?" batin Vanya seraya menatap langit biru.
Semuanya kembali sibuk dengan tugas masing-masing. Vanya di temani Jiso dan Alya di dalam kamar, kedua gadis itu sangat senang bermain dan mengacak semua baju-baju Vanya.
Terdengar suara ponsel bergetar, terlihat nama Wil layar itu. Vanya tersenyum senang karena seseorang yang dia rindukan menelponnya. Ya,, benar mereka sudah seminggu ini di larang bertemu dan hanya boleh melakukan vidio call saja.
Vanya menggeser tombol hijau, terlihat Wil sedang berbaring di ranjangnya. Sedangkan, layar ponsel Vanya penuh dengan wajah Alya dan Jiso.
"Aish, kenapa wajah kalian yang ada di layar? Kemana kak Anya?" tanya Wil.
"Kak Anya, tak ada," jawab Alya sembari tersenyum.
"Anak Daddy tak boleh berbohong!" seru Wil.
"No, kak Anya memang tak ada. Karena, kak Anya sedang di dalam toilet," balas Alya.
"Hay, Uncle," sapa Jiso.
"Hay, Jiso. Sedang apa kalian?" tanya Wil.
Jiso tak menjawab, hanya mengalihkan kamera belakang tuk melihat ruangan tersebut yang begitu berantakan karena ulah mereka. Disana, terlalu Vanya yang memang keluar dari kamar mandi.
"Berikan, ponselnya pada kak Anya!" pinta Wil.
__ADS_1
Dengan cepat, Jiso memberikan ponsel itu pada Vanya. Lalu mereka memilih pergi keluar. Terlihat wajah Wil begitu bahagia bisa melihat wajah snah kekasih hati. Vanya tersenyum menatap Wil.
"Kenapa kau terlihat bertambah cantik saja?" tanya Wil.
"Hah, mau merayuku?" tanya Vanya balik.
"Tidak, kau memang tambah cantik. Apalagi, nanti saat perutmu semakin membesar," jawab Wil.
"Aish,,, kau merayuku dan meledekku dengan bersamaan, Wil?" tanya Vanya dengan nada dibuat marah.
"No, no, no, hey honey. Sungguh, aku berkata jujur. Kau memang cantik, An," jawab Wil.
Anya hanya diam memalingkan wajahnya, berakting marah pada Wil. Wil yang melihat itu merasa bersalah. Terus membujuk sang calon istri.
"Wil, kau itu sedang apa? Tanpa memakai bajumu dan tidur terlentang seperti itu?" tanya Vanya.
"Aku baru saja selesai mandi, dan tubuhku sangat lelah karena Alex mengajakku tuk lari pagi," jawab Wil.
Terlihat tubuh itu sangatlah kekar, putih dan sixpack. Vanya merasa malu melihat itu, wajahnya berubah merah. Wil tersenyum tipis melihat calon istrinya itu tersipu malu.
"Ahh,, calon istriku benar-benar sangat polos. Apakah benar selama ini dia tak pernah bersentuhan dengan lelaki lain? Sampai wajahmu merah merona seperti itu?" batin Wil.
"Pakai bajumu! Memangnya, kau dingin?" tanya Vanya.
Vanya yang melihat itu langsung mwmlaingkan wajahnya, lalu mengarahkan ponselnya ke sembarang arah. Membuat tawa Wil menggelegar disana.
"Hey, kenapa kau begitu malu? Bukannya, kita sudah saling melihat tubuh masing-masing?" tanya Wil.
"Kau salah! Aku tak melihat tubuhmu sedikit pun, yang ada kau yang sepenuhnya melihat tubuhku," jawab Vanya kesal.
"Hahaha,, jangan marah seperti itu. Kau membuatku semakin tak sabar ingin menerkammu, Anya!" ucap Wil terus menggoda Vanya.
"Wil, kau lelaki mesum!!" teriak Vanya.
"Ok, ok. Arahkan ponselnya kewajahmu! Aku ingin melihatmu, sayang!" pinta Wil.
"Kenakan dulu bajumu! Baru kau boleh menatapku!" perintah Vanya.
"Aish,,, baiklah." ucap Wil.
Terdengar Wil yang melangkah, terdengar juga suara pintu lemari yang di geser. Tanpa Wil tahu, Vanya mengintipnya dan melihat tubuh Wil yang begitu kekar hanya memakai celana bocernya saja.
__ADS_1
"Astaga, kenapa tubuhnya begitu kekar? Tapi, kenapa malam itu aku tak merasakan apapun?" batin Vanya seperti melamun memikirkan malam itu.
Wil yang mendapatkan wajah Vanya yang sedang melamun pun tersenyum. Menyentuh layar ponselnya dengan jemarinya, seakan lelaki itu bisa menyentuh wajah Vanya.
"Aku sangat ingin memelukmu dan mencium bibir manismu, Anya," batin Wil.
"Ehem,, " Deheman dari Wil, mampu menyadarkan Vanya dari lamunannya.
"Apa, apa?" tanya Vanya sembari melihat Wil.
"Tidak ada, aku hanya ingin menciummu saja," jawab Wil kembali menggoda Vanya.
"Dasar om-om mesum!!" seru Vanya.
"Om-om ini akan menjadi lelakimu. Aku ini masih gagah dan tampan, kau tahu itu?" tanya Wil.
"Tampan, gagah? Sepertinya, itu poin plus darimu," jawab Vanya.
Wil hanya tertawa begitu juga dengan Vanya. Mereka tertawa begitu senang, hari pernikahan mereka akan segera di lakukan. Sungguh, Wil dan Vanya tak menyangka jika takdir mereka adalah menjadi satu dalam ikatan pernikahan.
Sofia begitu bahagia melihat Wil yang menemukan belahan jiwanya. Wil, dahulu pernah mengalami patah hati sampai dia tak bisa melupakan wanita itu. Wanita yang telah melukainya dan juga Alex. Membuat dua lelaki itu hampir saja saling membunuh karena perbuatan wanita itu.
"Tidak akan ku biarkan siapa pun melukai lagi kedua putraku. Tak akan ku biarkan, siapa pun merebut kebahagiaan dari putraku," gumam Sofia sembari menghapus air matanya.
Zee tanpa sengaja mendengar Sofia berkata seperti itu pun begitu penasaran. Apa yang terjadi pada Alex dan Wil saat dulu? Ada apa dengan mereka, sampai Sofia mengatakan sesuatu yang menurut Zee begitu penting.
"Ada apa dengan mereka saat dulu?" ucap lirih Zee.
Alex yang mencari sang istri pun begitu tersenyum maka saat melihat Zee yang sedang melamun. Alex berjalan dengan pelan menghampiri Zee dan memeluknya dari belakang.
"Huph." Alex memeluk Zee dan menciumi wajah sang istri tanpa memberinya jeda tuk melepaskan diri.
"Al, kau membuatku terkejut! Cepat lepaskan aku!" pinta Zee mencoba melepaskan diri dari pelukan sang suami.
Alex sudah merasakan gejolak di tubuhnya pun mengangkat tubuh Zee dan membawanya ke kamar. Zee terus merontah minta dilepaskan, namun Alex tak terus menyerang Zee.
"Al, kau mau apa? Cepat minggir dari tubuhku!" perintah Zee.
Bukannya pergi, Alex menyeringai melepas kaos yang melekat di tubuhnya. Zee akan terpesona jika melihat tato yanh berada di dada Alex. Ya, tato yang menutupi bekas luka operasi jantung itu.
Tanpa, Zee sadari. Alex sudah melucuti semua yang melekat di tubuhnya, pagi itu mereka melakukan olah raga pagi yang membuat mereka semakin dekat, semakin menjadi satu dengan seruan indah.
__ADS_1
Bersambung🍂🍂🍂