Takdir Cinta

Takdir Cinta
Merindukan Ericana


__ADS_3

'' Hmm mas " ucap Ana memcahkan keheningan saat di perjalanan pulang.


'' Ada apa sayang " ucap Rafli mengalihkan tatapannya kini berfokus pada Ana yang terlihat begitu gugup . Melihat reaksi tubuh Ana , Rafli sangat tau ada hal yang ingin istrinya sampaikan namun ada keraguan untuk mengutarakannya ...


'' Katakanlah " ucap Rafli mengusap surai indah milik istrinya.


'' Aku ingin liburan dengan bapak dan ibu ke Italia menemui Rahma " ucap Ana pelan menatap Rafli sekilas lalu menundukkan pandangannya .


Huftt , terdengar helaan nafas berat dari Rafli , ntah apa yang di fikirkan suaminya saat ini. Sekali seumur hidup pernikahan mereka , baru kali ini Ana meminta izin untuk pergi berlibur bersama orang tuanya , selebihnya Ana tak pernah ingin pergi tanpa suaminya.


'' Tidak . Mas tidak mengizinkan " ucap Rafli tegas .


'' Sekakmat , sudah ku duga . Tapi bagaimana keadaan Ericana sekarang " batin Ana .


" Kita akan liburan jika urusan pekerjaan mas tidak begitu sibuk . Begitu banyak masalah yang kita lewati beberapa bulan ini sayang. Anak-anak juga kan belum libur sekolah " ucap Rafli melemah , sungguh tampang menyedihkan Ana yang Rafli tak sukai.


" Tapi mas " ucap Ana merengek .


" Tidak sayang , mengertilah " ucap Rafli .


" Mas tidak tenang membiarkanmu jauh dari mas . Setelah semua kejadian yang kita lewati " ucap Rafli yang sedari dulu sudah over protektif dalam urusan Ana , ditambah kejadian pahit yang menimpa mereka membuat Rafli semakin begitu sangat over protektif.


" Baiklah mas " ucap Ana mengalah , setelah ini ia akan memikirkan cara lain .


" Maafkan mas . Mas sudah cukup gila mengingat semua kenyataan menyedihkan yang kita lewati . Melihatmu menutup mata dan hanya bergantung pada alat penunjang kehidupan membuat hidup mas begitu gila Ana , berkat Tuhan dan melalui tangan hebat dokter Stevani dan suaminya yang membuat mu kembali sadar. Tanpa mas sadari , mas mengorbankan kebahagian Dewa yang tak kau ketahui hingga kini , bahkan keluarga kita tidak tau termasuk Dewa sendiri. Hanya mas dan dokter Stevani serta suaminya yang mengetahui , meski awalnya mereka menolak namun itu sudah jadi janji mas " batin Rafli , mengusap wajahnya kasar .


Tiga puluh menit kemudian , mobil yang dikendarai salah seorang bodyguard milik Rafli telah tiba di mansion mereka.


" Gak ikut ke kantor " tanya Rafli .


" Gak mas , Aku dirumah aja " jawab Ana dan diangguki Rafli , tapi sebelum Ana keluar dan berpisah dengannya untuk beberapa jam , Rafli dengan cepat mencium bibir istrinya dan memberikan l*matan kecil di sela kegiatannya. Sang bodyguard pun kini mata serta telinganya diasingkan untuk sejenak , sungguh kegiatan Rafli hobi membuat iri para jomblo termasuk para bodyguard nya .


" Mas. Malu " cicit Ana .


" Yacop . Apa kau mendengar dan melihat aktivitas kami " tanya Rafli tanpa .


" Tidak bos , itu adegan 50 tahun keatas " ucap Yacop.


" Berani sekali kau mengatakan adegan 50 tahun ke atas '' ucap Rafli kesal.


" Berarti kau melihatnya " ucap Rafli tak ada kemarahan disananya ,berbeda dengan Ana yang wajahnya kini memerah karena urat malunya masih berfungsi dengan baik . Punya suami suka sosor sembarang tempat telah jadi resiko Ana , tak disangka punya suami yang begitu mesum tak kenal tempat ...


" Tidak , saya tidak melihatnya . Suerrr " ucap Yacop dan tanpa menunggu lama Ana segera keluar dari mobil suaminya itu ...


Brakkk , begitu keras Ana menutup pintu mobil tersebut membuat Para bodyguard di dekat Ana terlonjak kaget sampai kesedak rendang yang mereka nikmati saat ini . Sementara Rafli tawanya pecah di dalam mobil , mendapati istrinya yang di pastikan menahan malu .


" Kau jangan tertawa. Hanya aku yang boleh tertawa " ucap Rafli kesal karena Yacop ikut menertawakan Ana.


" Ku potong bonus mu " ucap Rafli. ..


" Jangan bos " ucap Yacop memelas .


" Ya sudah. Antarkan aku cepat " titah Rafli dan di angguki Yacop seraya memikirkan bonusnya .


Mobil yang di kendarai Yacop kini telah sampai di parkiran gedung Wijaya group . Parkiran khusus untuk keluarga inti Wijaya .


'' Bos , gimana bonus ku " ucap Yacop membuat Rafli mengulum senyumnya.


'' Tergantung istriku , jika dia marah padaku . Maka bonus mu ku hanguskan " ucap Rafli , lalu melenggang pergi meninggalkan Yacop yang kini tubuhnya bagai tak bertulang.


Rafli pernah berfikir untuk mengangkat Yacop menggantikan posisi Jimmy di sisinya , meski Jimmy tak pernah tergantikan dalam hal apapun bahkan Devan saja tak bisa menggantikan posisi terbaik yang Jimmy miliki. Namun tak ada salahnya jika ia mengangkat Yacop menjadi asisten pribadinya yang tugasnya akan super sibuk seperti Jimmy di sisinya . Jimmy sendiri sudah super sibuk setelah memegang perusahaan miliknya yang berada di Italia berserta sedikit cabang di negara lain , serta mengurus istri seperti Rahma butuh kesabaran ekstra karena Rahma secara berani memuji pria yang menurut para wanita tampan. Beruntung nya Rahma karena Jimmy tak memiliki segudang cemburu seperti Rafli yang level cemburunya begitu berbahaya.


.


.


.


Handphone Rafli berdering berkali-kali membuatnya cukup merasa kesal karena sedari tadi banyak telepon masuk di ponselnya yang lain , namun istrinya tak pernah menelepon sama sekali hanya sekali pesan yang ia terima , Ana mengingatkan untuk jangan lupa makan dan jaga kesehatan. Wanita itu tak benar-benar marah padanya.

__ADS_1


'' Hallo " suara Rafli terdengar begitu malas .


" Ada berita bagus bos " ucap seseorang di seberang sana.


" Apa '' tanya Rafli masih bad mood.


'' Kami telah berhasil menemukan Geilo dan kini anak kecil itu ada di dalam genggaman kita bos '' ucapnya yang begitu bersemangat dan semangat itu menular kepada Rafli yang kini wajahnya ceria.


'' Jaga anak itu baik-baik dan buat ia senyaman mungkin. Langkah selanjutnya nanti saya kabari dalam waktu dekat '' ucap Rafli .


'' Siapa bos '' jawab penuh semangat .


'' Akhirnya aku punya kunci untuk menekan Bunga jika sadar suatu saat nanti '' gumam Rafli lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


.


.


.


Di mansion Rafli , Ana berjalan begitu malas untuk melangkah dan Laras yang melihat wajah muram anaknya segera menghampiri .


'' Bagaimana , apa Rafli mengizinkan '' tanya Laras penuh harap.


'' Ibu sudah berhasil membujuk Rahma untuk menjemput kita kemari '' ucap Laras .


'' Apa ibu bercerita kepada Rahma '' tanya Ana.


'' Tidak mungkin ibu bercerita pada adikmu itu. Dipastikan jika itu terjadi , Jimmy akan mengetahuinya dan di pastikan juga suami mu akan tau '' ucap Laras.


'' Lalu apa Rafli mengizinkanmu untuk pergi dengan ibu '' tanya Laras dan di jawab gelengan lemah Ana , rasa rindunya begitu menggebu kepada anaknya yang jauh disana .


'' Kita biarkan Rahma kemari , kita tetap akan pergi '' ucap Laras .


'' Tapi Bu , aku tidak mungkin pergi tanpa izin mas Rafli '' lirih Ana .


'' Ibu tidak bercerita kepada bapak kan '' tanya Ana.


'' Jelas tidak , hanya kau dan ibu yang tau untuk saat ini '' ucap Laras.


'' Istirahatlah sayang . Kau terlihat begitu lelah . Biarkan ibu dan bapak yang mengurus dua pembuat gaduh itu '' ucap Laras tersenyum.


'' Meski pembuat gaduh , Rava dan Jelita tetap anakku Bu. Dan ingatlah , mereka tetap cucu ibu '' ucap Ana membuat Laras mengulum senyum .


'' Iya , iya . Istirahatlah '' ucap Laras dan diangguki Ana.


Setelah memasuki kamarnya , Ana mencoba kembali menghubungi Vini namun hanya suara operator yang menjawabnya .


'' Kau kemana Vini , kalian sungguh membuat ku kecewa. Jangan pergi jauh dari bunda sayang , disini bunda merindukanmu . Sangat merindukanmu '' ucap Ana , tanpa bisa di cegah cairan bening membasahi pipinya . Ana meminum obat sakit kepala untuk meredahkan kepalanya yang sering sekali pusing belakangan ini. Ana melempar sembarang tas nya dan memilih untuk membersihkan diri , berharap air dingin mampu membuat tubuhnya sedikit lebih segara. Selepas mandi dan berpakaian rasa ngantuk menderanya membuat Ana langsung terlelap di atas ranjang.


.


.


.


Italia .


Keluarga Permana begitu cemas saat menantu mereka dirujuk kerumah sakit . Vini terjatuh dari tempat duduknya saat Ericana nyaris tenggelam saat itu . Karena Vini yang begitu kaget atas apa yang di lihatnya membuat Vini menuruni kursi tinggi tersebut dan melewati satu tangga membuatnya terpeleset.


" Jika menantu mama kenapa- kenapa … serahkan Ericana pada keluarga Wijaya " ucap Sasa emosi .


" Stop ma . Berhenti menyalahkan Ericana . Ericana tak tau apapun , bahkan ia begitu sedih melihat Vini kesakitan " ucap Eric dengan mata berkaca-kaca . Vini yang jatuh dari kursi membuatnya cemas bukan main , dan kini mamanya menyalahkan Ericana yang tak tau apapun , bahkan Ericana jatuh di kolam renang juga dalam pengawasan Vini yang saat itu teledor karena asyik menyantap rujak buahnya .


" Mama yakin kau pasti masih mencintai ibunya " ucap Sasa menggebu-gebu .


" Maaf , suami atas nama saudari Vini " ucap dokter membuat Eric tak menjawab tuduhan mamanya tersebut.


" Saya dokter " ucap Eric segera menghampiri , nampak raut begitu khawatir terlihat jelas di wajah awet mudanya .

__ADS_1


" Bagaimana keadaan isteri saya " tanya Eric .


" Puji Tuhan , istri bapak selamat dan kandungannya juga tak terjadi masalah namun kandungannya menjadi lemah akibat terjatuh. Mohon di jaga istri bapak , kehamilannya sudah memasuki trimester ketiga " ucap dokter membuat senyum Eric terbit.


" Dokter apa jenis kelaminnya " ucap Sasa .


" Maksud saya , apa jenis kelamin cucu saya yang sedang di kandung menantu saya " ucap Sasa meluruskan ucapannya .


" Laki-laki nyonya " ucap dokter wanita itu tersenyum ramah .


" Dok , apa saya boleh menemui istri saya " tanya Eric .


" Tentu boleh , tapi tolong di jaga ketenangan . Pasien masih harus istirahat " ucap dokter dan diangguki Eric. Setelah kepergian dokter , Eric dan Sasa segera memasuki ruangan dimana Vini terbaring , terlihat suster baru selesai melakukan tugasnya dan dengan sopan permisi.


Sementara di mansion Permana , para pelayan kebingungan menghentikan tangisan Ericana yang terus memanggil nama mamanya yaitu Vini . Sesekali ia menyebut jika dirinya bukan pembawa sial , mentalnya sedikit tersentil saat Sasa membentaknya dan mengatakan jika ia pembawa sial , hampir saja Sasa mengatakan jika Ericana bukan bagian dari keluarga Permana beruntung Eric segera datang dan mencegah mamanya berbicara , Vini yang terjatuh dan meringis kesakitan begitu syok atas mulut tajam Sasa yang berbicara kasar kepada Ericana . Vini hendak menenangkan Ericana namun tubuhnya terjatuh dan dengan sigap Eric mendekapnya .


" Bibi , ayo kerumah sakit . Ericana mau mama " ucap Ericana yang sedari pagi mogok makan hingga malam tiba , bahkan tubuh Ericana begitu memucat saat ini .


" Ericana janji ,gak nakal lagi ....hiks...hiks.... Ericana mau lihat mama dan dedek bayi " ucap Ericana.


" Non , Erica dirumah saja ya . Hari sudah malam , besok pagi bibi janji akan menemani non Ericana kerumah sakit " ucap pelayan yang begitu dekat dengan Ericana.


" Ericana maunya sekarang " teriak Ericana di selingi tangisnya.


" Ya ampun , cucu opa kenapa menangis " ucap Teguh saat baru saja tiba dari perjalanan luar kotanya .


" Opa....hiks...hiks... " ucap Ericana berlari memeluk Teguh dengan begitu sayang .


" Apa apa bi " tanya Teguh dan sesekali mencium Ericana dan berusaha menenangkannya . Bibi pelayan menceritakan semua yang terjadi kecuali kemarahan yang di luapkan Sasa kepada Ericana karena hal itu akan membuat keributan majikannya. Wajah Teguh yang awalnya begitu khawatir , sudah kembali tersenyum dan senyumnya semakin mengembang saat Ericana terlelap di dekapannya . . .


" Berapa lama Ericana menangis bi " tanya Teguh .


'' Dari tadi pagi tuan dan nona Ericana belum makan apapun hanya minum susu " ucap bibi menunduk saat raut Teguh terlihat begitu geram .


'' Lain kali jangan biarkan Ericana tak makan seharian '' ucap Teguh menahan amarahnya .


'' Temani Ericana untuk tidur dan jika ia terbangun dan lapar , segera buat makanannya '' imbuhnya.


" Baik tuan " ucap Bibi pelayan .


Teguh membawa tubuh mungil Ericana untuk tidur di kamar milik Ericana sendiri dan tak lupa memerintahkan seorang pelayan yang dekat dengan cucunya untuk menemani Ericana tidur .


.


.


.


'' Mama pulanglah. Ini sudah malam . Bukankah papa akan pulang malam ini '' ucap Eric seraya mengelus surai Vini .


'' Mama disini saja. Malas dirumah '' ucap Sasa kesal .


'' Mama kenapa jadi begini. Mama masih kesal sama Ericana . Ericana gak tau apapun ma . Jika mama tetap bersikap seperti ini kepada Ericana , setelah Vini pulih maka kami berempat akan pindah '' ucap Eric yang akhirnya juga kesal dengan sikap Sasa akhir-akhir ini .


'' Kau melawan mama hanya karena Ericana. Karena ibu dan anaknya itu kau melawan mama . Ingat Eric hancurnya masa depan mu yang sia-sia karenanya '' ucap Sasa.


'' Cukup ma . Jangan hanya menyalahkan Ana saja , mama dan Rafli turut berperan disini . Dan keluarga kita juga berperan '' ucap Eric mencoba tak berteriak .


'' Siapa yang mulai meminta Ana menjauhi ku. Kalian hanya memikirkan harta , bukan kebahagian ku . Sekarang aku sudah bahagia dengan adanya Vini dan Ericana , tolong jangan lagi mengusik '' imbuh Eric .


'' Mama pulanglah dari pada ngajakin ribut disini '' ucap Eric dan segera menelepon supir untuk menjemput mamanya , terlihat Sasa begitu kesal.


'' Jika bertemu Ericana bersikaplah seperti biasa , mama dianggap Oma olehnya . Tolong jaga perasaannya '' imbuh Eric melemah .


Jangan lupa like dan komentarnya .


Semoga di tahun ini semua orang sehat selalu dan semangat baru. .


Selamat membaca 😊

__ADS_1


__ADS_2