
Sudah lebih dari tiga hari tak ada kabar dari Alex mau pun Wiliem. Vanya yang merasa aneh dan cemas pada suaminya itu, akhirnya menemui Zee di kantornya.
Saat tiba di sana, terlihat semua karyawan begitu sibuk dengan raut wajah yang sangat tegang. Vanya terus berjalan begitu saja masuk ke ruangan Direktur, namun sebelum dia masuk terdengar suara Zee yang sedang marah.
Vanya yang semula ingin masuk pun mengurungkan niatnya dan memilih bersembunyi, melihat apa yang terjadi. Di dalam sana terlihat seorang lelaki paruh baya yang tengah duduk dengan tenangnya di temani seorang pemuda di samping nya. Sedangkan Zee hanya berdua dengan Cory.
"Siapa lelaki itu, Kak Zee terlihat marah padanya," gumam Vanya.
Terdengar suara Zee yang mengancam lelaki tersebut yang bernama Zidan.
"Lebih baik anda keluar sekarang! Anda tak ada hak tuk mengambil perusahaan ini, apalagi tindakan anda ini tanpa bukti. Direktur utama dan Direktur umum tidak ada di tempat," ucap Zee.
"Perusahaan anda sudah melanggar kontrak kerjasama Nona Zee, jadi saya ingin kalian mengganti rugi. Jika tidak perusahaan ini akan menjadi milikku, begitu juga para investornya," balas Zidan dengan menyeringai.
Brakkkk,,,,
Vanya membuka paksa pintu ruangan tersebut membuat Zee dan yang lainnya merasa terkejut. Bahkan membuat pemuda yang bersama dengan Zidan tak menyangka bisa bertemu dengan Vanya.
"Vanya," panggil Zee lirih.
"Siapa anda? Kenapa anda membuat onar di perusahaan ini, saya ingin anda memberikan dokumen resmi kontrak yang telah di tanda tangani oleh Direktur utama atau pun Direktur umum!" pinta Vanya menatap tajam Zidan.
"Oh, siapa ini? Apakah ini, Nona muda dari keluarga Samders?" tanya Zidan menatap Vanya dari ujung rambut sampai kaki.
"Paman, tolong sopanlah!Jangan berkata seperti itu," ucap Roy menatap Vanya dengan binar kebahagiaan.
"Kau juga sama saja dengan lelaki tua ini, Tuan Roy. Tak memiliki sopan santun, dan sekarang kau mengatakan tuk memperlakukan aku dengan sopan? Sedangkan, kau tak memperlakukan Kakakku dengan sopan," tegas Vanya menatap tajam Roy.
Roy begitu terkejut jika wanita yang sejak tadi berbicara dengan pamannya adalah kakak dari Vanya. Bahkan, sejak tadi pamannya terus berbicara dengan nada merendahkan Zee.
"Keluar kalian! Jika tidak, saya akan melaporkan kejadian tak menyenangkan ini pada pihak berwajib atas nama ketidak nyamaan kedatangan kalian bahkan mencemarkan nama baik perusahaan ini, begitu juga nama baik keluarga besar saya," ucap Vanya penuh penekanan.
Zidan menatap Roy yang terdiam, bahkan terus menatap Vanya dengan tatapan bersalah, sedih. Zidan mengerutkan keningnya berpikir ada apa dengan keponakananya tersebut.
"Nona, saya akan kembali dengan semua buktinya dan melihat apakah kau masih bisa sombong dengan prilakumu itu, bahkan dengan melihat kehancuran suami-suami kalian," ucap Zidan dengan nada mengancam.
Roy menatap ke arah pamannya dan tak menyangka kalau ternyata pamannya memiliki sikap yang tak belas kasihan. Bahkan pada seorang wanita pun, Zidan keluar begitu saja sedangkan Roy masih menatap Vanya dengan tatapan sendu.
"Apa anda tak mendengarnya Tuan Muda? Kau harus pergi sekarang!" seru Vanya menatap tajam pada Roy, bahkan dnegn nada yang begitu dingin.
Roy memalingkan wajahnya, karena tak ingin Vanya melihat air mata yang turun dari sudut matanya. Roy pergi mengejar sang paman, Zidan sudah menunggu Roy di dalam mobil.
"Kemana dua bersaudara itu, mereka tak ada di Filandia. Lantas kabur kemana, mereka," ucap Zidan begitu geram.
Setelah setelah kepergian Zidan dan Roy, Vanya duduk dengan lemas di sofa dengan tubuh yang gemetaran. Air matanya mengalir begitu saja, membuat yang melihatnya merasa khawatir.
"Ada apa, Vania kau kenapa?"tanya Zee.
" Kak, aku merindukan Williem. Dan siapa mereka, kenapa apa mereka ingin mengambil alih perusahaan dari Kak Alex? " jawab Vanya.
"Apa dia belum mengabarimu? Alex pun tak bisa dihubungi, dan mereka itu adalah orang dari perusahaan lain yang bekerjasama dengan Alex. Mereka kemarin meminta ganti rugi, karena sudah tiga hari kita tidak memberikan properti yang mereka inginkan, "ucap Zee.
"Lalu, kenapa mereka meminta hak perusahaan ini? Bukankah, itu masalah mudah, kita tinggal memberikan saja smeua barangnya tanpa memberikan perusahaan ini," balas Vanya.
"Tak semudah itu sayang, semuanya sudah tertulis dikontrak dan entah bagaimana semua kerugian itu mengakibatkan ratusan dollar hanya dengan waktu tiga hari," ucap Zee.
"Lalu dimana Williem dan Kak Alex? Bukankah Mereka pergi untuk bertemu dengan Tuan Zidan. Lantas kenapa, semuanya jadi seperti ini?" tanya Vanya.
"Anh, Kakak mohon. Jangan bertanya lagi, karena Kak Zee pun sangat bingung dan semuanya sangat sulit. Apalagi Wil dan ex tak bisa di hubungi," jawab Zee.
Vania hanya bisa memalingkan wajahnya sambil menangis, Vania sangat merindukan suaminya dan dia juga merasa sangat tak berguna karena tak bisa membantu apapun saat Zee dalam masalah. Zee hanya bisa memeluk sang adik dan menenangkannya.
"Bersabarlah, aku akan mencari tahu di mana mereka. Semoga saja, mereka baik-baik saja," ucap Zee.
Vanya hanya bisa menangis memeluk sang kakak, sungguh pertemuannya dengan Roy sangatlah tak menyenangkan. Karena dia dalam keadaan emosi dan melampiaskan pada pemuda itu.
Di dalam mobil, Roy terdiam tak berbicara apapun. Zidan melirik sang keponakan yang menjadi diam dan murung setelah bertahan.u dengan Vanya.
"Kau, mengenalnya Roy?" tanya Zidan.
__ADS_1
"Apa benar perusahaan itu membuat kerugian yag sangat besar pada proyek hotel yang aku bangun? Paman tak melakukan apapun pada mereka bukan?" tanya Roy dengan nada dingin tanpa melihat sang paman.
"Apa maksudmu, berkata seperti itu? Kau tak mempercayai pamanmu ini, Roy," jawab Zidan menatap tajam Roy.
"Kau masih ingat dengan ceritaku paman? Wanita yang sejak dulu aku cintai selama delapan tahun. Wanita yang sangat aku cintai, dan aku abadikan dalam hotel itu," tanya Roy.
"Nona muda dari keluarga Sanders adalah wnaita yang selama ini aku cintai. Dan aku, kau telah membuat sang kakak dari wanita itu terhina. Bahkan kita sudah merendahkan mereka," sambung Roy dengan mengusap kasar wajahnya.
"Apa kau bilang? Jadi, wanita yang kau cintai itu istri dari Wiliem? Kenapa kau bisa menyukai istri orang lain, huh?" tanya Zidan dengan nada kesal.
"Tidak, paman. Aku terlebih dulu menyukai Vanya sebelum mereka bertemu, bahkan sebum menikah," jawab Roy lirih.
"Jadi maksudmu, Wiliem telah mnegambil wanita itu dari sisimu dan wanita itu tahu jika kau mencintai dan menyayanginya?" tanya Zidan.
"Vanya mengetahui segalanya tentangku, semua perasaanku padanya. Namun, tetap saja dia tak bisa menerima diriku," jawab Roy dengan lemas.
Zidan terlihat geram mendengar semua cerita dari keponakannya itu. Dan semua itu, semakin membuat Zidan bertekad akan menghancurkan Wiliem dan Alex, karena mereka Roy tak bisa bersatu dengan Vanya.
"Kau tenanglah, nak. Aku akan membuat wanita itu bertekuk lutut padamu, bahkan akan mengemis kasih sayangmu," batin Zidan penuh dengan kemarahan.
Zidan tahu smeua tentang wanita yang selalu di ceritakan oleh Roy, karena memang Roy lebih dekat dengan diirnya dari oada orang tuanya sendiri. Oleh karena itu, Zidan meminta Roy tuk menjadi arsiteknya saat membangun hotel karena tahu, Roy ingin sekali mewujudkan mimpinya yaitu membangun sebuah istana tuk wanita yang dia cintainya tersebut.
"Apa kau masih sangat mencintai wanita itu?" tanya Zidan.
"Sampai sekarang, rasa itu masih sama paman. Bahkan setelah aku melihatnya, rasa ini semakin besar. Tapi, hatiku sakit saat melihat ada kesedihan di matanya," jawab Roy.
"Kau terlalu lembut, Roy. Oleh karena itu, kau di butakan oleh cinta dan seluruh perasaanmu itu," ucap Zidan.
"Maafkan aku, paman. Aku tak bisa menjadi seperti yang paman inginkan," balas Roy.
Zidan menepuk bahu Roy, mercon membuatmu kembali tenang. Zidan memang begitu sangat menyayangi Roy, apapun fia lakukan tuk keponakannya itu.
Venezia
Semalam, Wil dan Alex bisa tidur dengan sangat nyenyak dengan perut yang kenyang. Bahkan mereka seperti berada di rumah sendiri. Sama seperti pagi ini, Wiliem dan Alex memilih berolah raga di dekat danau yang berada di dalam villa tersebut.
"Mereka benar-benar menurut pada atasannya, semuanya hanya bisa menjawab seadanya saja, lalu tersenyum dan pergi begitu saja," balas Alex.
Alex dan Wil duduk di atas tanah, mengistirahatkan tubuh mereka yang sejak tadi terus berlari mengelilingi danau itu. Dari jauh terdengar mobil kecil datang ke arah mereka, ternyata Arga yang datang meminta mereka tuk kembali.
"Hey, bocah kemana atasanmu?" tanya Alex.
"Tuan sedang pergi jauh, mungkin satu minggu lagi baru bisa kembali," jawab Arga.
"Siapa namanya dan pergi kemana dia?" tanya Wil.
"Entahlah, aku pun tak tahu. Jadi, tak bisa ku jawab," jawab Arga.
Alex dan Wiliem hanya bisa memutar malas bola mata mereka, karena akan selalu mendapat jawaban yang sama seperti itu. Arga hanya bisa tersenyum melihat Alex dan Wiliem yang terlihat kecewa.
"Tuan, kalian bersantai-santai lah di sini! Karena, tugasku dan semua kakakku adalah menjaga kalian," ucap Arga.
Alex mengusap kasar kepala Arga dengan tersenyum. Wiliem tertawa karena, Alex sepertinya sangat gemas dengan Arga.
Arga juga terlihat tak masalah dengan perlakuan Alex padanya, bahkan terlihat senang. Mereka pun sampai di dalam villa, terlihat Elina dan Messi yang sedang berlatih pedang di satu ruangan.
"Wow, mereka mengunakan pedang asli saat berlatih?" tanya Wil.
"Ehem,,, kedua kakakku sangat pandai menggunakan pedang. Apalagi, kak El dia sangat jago," jawab Arga.
Alex yang merasa badannya sangat bau pun tak menghiraukan mereka yang berhenti melihat Elina dan Messi. Alex terus berjalan menuju kamarnya.
Bugh,,, crangg,,,
Terdengar seperti ada benda jatuh dan sebuah barang kaca yang terjatuh dari salah satu kamar yang akan di lewati oleh Alex.
"Awww, sakit," terdengar suara wanita dari dalam yang kesakitan.
Alex pun berhenti dan mengintip dari luar, siapakah yang berada di dalam kamar tersebut, matanya terbelalak saat melihat Laudya yang terjatuh dan tangannya terkena goresan gelas yang terjatuh.
__ADS_1
"Apa-apaan ini, kenapa wanita itu berada fi sini? Dan apakah, dia ingin bunuh diri?" gumam Alex penuh pertanyaan.
"Tuan kau sedang apa?" tanya Arga yang berada di belakangnya.
"Hey, bocah. Wanita di dalam sana ingin bunuh diri, cepat masuk!" perintah Alex.
Mendengar Laudya yang ingin bunuh diri, membuat Arga begitu saja mendobrak pintu itu sampai terbuka dan melihatkan Laudya yang sedang duduk di atas lantai dengan memegang pecah kaca.
"Hey, kau sedang apa?" teriak Arga sembari menampar tangan Laudya hingga pecah itu terlempar jauh.
"Kau sedang apa di sini? Kenapa, menampar tanganku?" tanya Laudya balik.
Alex yang tak ingin bertemu dengan Laudya lun memilih pergi dan masuk ke kamarnya. Sedangkan, Wil memilih masuk ke dalam dan melihat Laudya yang sedang duduk disana.
"Laudya," panggil Wil terkejut.
"Wiliem, kau di sini?" tanya Laudya.
"Kalian saling kenal?" tanya Arga melihat Laudya dan Wiliem bergantian.
Laudya dan Wiliem pun mengangguk ia bersamaan, Arga di buat terkejut karena mereka saling kenal. Lalu apa tujuan Wildan mengumpulkan mereka? Pikir Arga dalam hati.
"Ar, aku terjatuh bukan tuk bunuh diri. Apa kau tak lihat pecahan itu menancap di tanganku?" tanya Laudya.
Arga melihat lengan Laudya yang memang berdarah, bahkan goresan itu sangat panjang dan dalam. Dengan cepat, Laudya sudah fi angkatnya dan di dudukkan kembali di atas ranjang.
"Diam dan jangan bergerak! Dan kau, Tuan bisa kembali ke kamarmu!" pinta Arga pada Wiliem.
"Hemm, baiklah. Aku juga sangat ingin mandi dan beristirahat," balas Wiliem seraya pergi keluar.
Laudya merasa tenang karena bisa bertemu dengan Wiliem. Entah kenapa, hatinya begitu lega mengetahui kalau di villa itu dia tak sendirian, ada orang yang dia kenal.
Arga keluar dengan wajah yang masam sembari mencari kotak P3K. Terlihat pemuda itu sangat kesal dan begitu tak suka saat mengetahui Laudya dan Wiliem saling kenal.
"Mereka saling kenal? Aku kira, wanita itu sebatang kara," gumam Arga seraya mencari kotak P3K .
Elina dan Messi yang mendengar ucapan sang adik hanya saling berpandangan. Lalu kembali menatap Arga.
"Ada apa dengan Arga? Apa dia menyukai wanita itu," ucap Elina.
"Wanita simpanan yang kau tolong itu? Jangan bercanda, El. Arga itu mash sangat kecil tuk menyukai wanita dewasa sepertinya," balas Messi.
"Arga itu sudah sembilan belas tahun. Dia sudah bukan anak-anak lagi, Arga sedang menuju fase dewasa," ucap Elina.
"Jadi menurutmu, akulah yang masih muda karena tak mengalami apa yang sedang di alami oleh Arga?" tanya Messi.
"Aku tak mengatakan itu, semuanya keluar dari mulutmu sendiri," jawab Elina seraya beranjak pergi.
Messi menatap tak percaya pada adik lelakinya itu. Bahkan, Messi begitu terkejut jika memang Arga sedang jatuh cinta.
"Aku dan dia hanya berjarak dua tahun saja, apakah benar aku yang terlambat jatuh cinta? Ahh, tidak mungkin. Aku kan memang baru saja keluar dari karantina, tak ada waktu memikirkan wanita" gumam Messi membela diri.
Arga kembali masuk ke kamar Laudya, pemuda itu hanya diam tanpa ekspresi. Menutup pintu kamar dan segara menghampiri Laudya.
"Ada apa dengan anak ini? Kenapa dengan wajahmu?" gumam Laudya sembari menatap Arga.
Arga tak memperdulikan tatapan dari Laudya, dia hanya fokus pada luka gores pada lengannya. Dengan sangat perhatian dan telaten, Arga mengobati luka itu.
"Sudah selesai, lain kali berhati-hatilah!" pinta Arga dengan nada dingin.
"Kau kenapa, bocah? Kenapa wajahmu sangat masam, kau terlihat kesal. Ada apa?" tanya Laudya.
"Tidak ada, aku pamit keluar dulu," ucap Arga seraya membereskan kotak P3K tersebut.
"Ar, terimakasih, sudah mengobatiku," balas Laudya menatap Arga.
Arga tak menjawab, pemuda itu masih sangat kesal dengan pertemuan Wil dan Laudya. Arga keluar dengan tampang sangat datar. Membuat, Laudya merasa aneh pada pemuda itu.
Bersambung 🍂🍂🍂
__ADS_1