
'' nyo....Nyonya besar '' ucap terkejut pelayan pria dimansion Eric .
'' Apa Eric ada " tanya Sasa dengan ramah.
'' Ada di di atas nyo nya " jawab nya tergugup .
'' Kenapa kau gugup. Seperti melihat hantu saja " ucap Sasa memandang interior mansion putranya yang menurutnya tidak ada yang berubah , gak ada kehidupan wanita di dalamnya bahkan seluruh pelayannya pria membuat Sasa menghembuskan nafasnya kasar.
Sementara Eric dan Angga saling menyalahkan karena tak bisa memandikan baby Ericana .
'' Kau ini bodoh sekali " umpat Eric menyentuh air mandi yang kurang pas untuk anaknya.
'' Kau ini menyusahkan saja Eric " gerutu Angga yang kesal karena sudah 30 menit ia berkutat dengan air mandi untuk bayi menggemaskan itu. Pagi sekali Angga sudah dibangunkan untuk membeli perlengkapan bayi untuk Ericana cukup banyak.
'' Sudahlah . Urus sendiri anakmu " ucap Angga pasrah.
'' Ck . Sabahat macam apa kau tak bisa di andalkan . Ayo bantu aku memandikannya " ucap Eric membuat Angga menggaruk kepalanya yang tak gatal.
'' Aku mana bisa " ucap Angga pasrah.
'' Kau ini sahabat seperti apa " umpat Eric , ia pun pusing sendiri karena tak pernah mandikan bayi.
'' Tunggu sebentar " ucap Angga bergegas keluar memanggil Vini. Hanya Vini yang bisa membantu mereka.
Sasa heran melihat Angga yang berlari cepat membuat Sasa segera menaiki tangga tersebut menuju dimana kamar Eric berada.
'' Tante " ucap Angga kaget dan berhenti mendadak membuat Vini menabrak punggung tegap Angga.
'' Oh tidak " gumam Angga.
'' Siapa " tanya Sasa menelisik Vini dari atas hingga ke bawah . Cukup muda dan cantik.
'' Angga cepatlah , Ericana menangis " ucap Eric tanpa menyadari jika Sasa mendengarnya.
'' Suara bayi " ucap Sasa segera melangkah cepat.
'' Bagaimana ini " gumam Angga.
'' Ayo Vini bantu mandikan Erica " paksa Angga , Vini yang tadi membereskan pakainya terpaksa terhenti karena Angga menariknya paksa .
'' Eric itu anak siapa '' tanya Sasa membuat Eric menjadi gugup , takut ketahuan jika ini anak Ana , Eric tak mau kehilangan bayi mungil ini.
'' Ini...ba... bayi nya Angga ma '' yang elak Eric.
'' Apa " ucap Sasa dan Angga kaget berbarengan.
'' Angga kapan kau menikah . Apa wanita ini istrimu " ucap Sasa penuh selidik , membuat Angga menatap tajam Eric yang kali ini memelas padanya , sementara Vini bingung harus menjawab apa ia pun kaget bukan main.
'' Kau ini ya . Anak nakal. Menikah tak bilang padaku " ucap Sasa kesal menarik rambut Angga hingga Angga minta ampun.
" Dasar Eric menyebalkan . Ku balas kau nanti " umpat Angga.
" Ma sudahlah . Bantu aku memandikan bayi mungil ini " ucap Eric.
" Sudahlah ma. Ayo . Ngomelnya nanti saja " ucap Eric tak sabar karena akan lama jika sang mama mengomel pasti akan lama.
'' Apa kau hanya tau membuatnya saja Ngga tapi gak tau mengurusnya " ucap Sasa.
Sasa memandikan Ericana dengan telaten , ia melihat wajah bayi itu begitu familiar baginya .
" Kan semua wajah bayi rata-rata sama aja " batin Sasa.
" Apa kau bisa memakaikannya bedong " tanya Sasa pada Vini dan di angguki Vini.
" Kau telaten sekali mengurus anak kecil . Semoga besok saat melahirkan , mantuku juga telaten mengurus anak kecil " ucap Sasa membuat Eric mendelik tak suka sementara Angga mengulum senyum .
" Tante tenang saja . Eric tadi niatnya mau belajar mandiin bayi , biar kelak anaknya lahir ia sudah mahir " ucap Angga mendapat tatapan tajam dari Eric.
" Ya nak Angga , Tante harap begitu. Mengurus anak itu bagi Tante bukan hanya tugas istri seorang , suami juga berperan penting " ucap Sasa yang ia tau hubungan anak dan mantu nya kini baik-baik saja.
" Eric pulanglah , Lolita kini hamil besar " ucap Sasa .
" Ya ma , secepatnya aku pulang " ucap Eric.
" Oh ya ampun , mama mau kerumah sakit melihat keadaan Ana dan Rafli " ucap Sasa lalu mencium bayi mungil tersebut.
" Ayo ma , aku juga mau kesana " ucap Eric .
__ADS_1
" Lagi " tanya Sasa.
" Aku ingin pamit pada mereka " jawab Eric.
" Kau masih mencintainya " tanya Sasa.
" Aku sulit melupakannya ma. Ayo nanti kita telat " ucap Eric memutus pembicaraan . Jika di tanya masih cinta jawabannya akan tetap sama.
" Aku titip anakku , persiapkan semuanya " bisik Eric dan di angguki Angga
" Daddy pergi dulu " ucap Eric mengecup miniatur Ana kecil itu.
Di rumah sakit
Terlihat Abdi dan Teguh tengah berbincang cukup serius , Teguh pun akan berusaha mencari dokter terbaik demi kesembuhan Ana dan juga Rafli , Ana telah ia anggap anaknya sendiri sedari kecil meski tak menjadi menantu keluarganya namun rasa sayang kepada putri Gunawan tetaplah ada.
Ditanya tentang Gunawan , kini pria paruh baya itu tengah berada di jet pribadi milik Jimmy. Gunawan dan Jimmy sepakat tak memberitahu tentang Ana kepada Laras karena keadaan Laras akan semakin memburuk jika tau tentang putrinya dan mantunya. Jimmy meminta maaf sebesar - besarnya karena menyembunyikan tentang hal yang menimpa keluarga kakak iparnya tersebut dan Gunawan pun mengerti.
Gunawan menangis sesenggukan di dalam kamar pribadi di jet tersebut , pikirannya menerawang tentang anak dan mantunya , menangisi cucunya yang telah tiada juga , meski pelaku penyerangan telah tertangkap dan di eksekusi mati tetap saja dirinya tak ikhlas apa yang telah menimpa anaknya.
" Ya Allah selamatkanlah anak dan mantu ku . Lindungilah selalu mereka dan berikan ketabahan di hati cucuku " Doa Gunawan , air matanya semakin mengalir deras saat melihat benda pipihnya berbunyi terlihat Rizki sedang melakukan video call padanya yang dipastikan wajah menangis terisak Dewa yang ia lihat , cucunya memintanya datang untuk membangunkan Ana namun ia bukanlah Tuhan yang berkehendak akan hal itu. Gunawan hanya bisa memberi pengertian pada Dewa , Gunawan sadari kini Dewa sangatlah membutuhkannya .
.....
Eric dan Sasa melangkah dengan cepat menuju ruangan dimana Ana dan Rafli dirawat.
Sasa dan Eric menghampiri Teguh yang tengah berbincang serius dengan Abdi.
" Pa " ucap Sasa air matanya mengalir , belum melihat keadaan Ana saja Sasa sudah terisak begini .
" Kuatkanlah hatimu , Ana pasti baik-baik saja. Jangan menangis saat masuk kedalam nanti tisu dirumah sakit akan habis . Cerialah , ada anak Ana yang bersedih di dalam sana " titah Teguh.
" Iya pa " ucap Sasa berusaha menghentikan tangisnya .
" Eric jaga mama mu , jika ia ingin menangis segeralah ajak pulang " ucap Teguh dan diangguki Eric . Teguh awalnya tak ingin mengajak Sasa yang pasti akan bersedih melihat keadaan Ana namun Sasa sangat ingin melihat keadaan Ana . Teguh dan Sasa terpaksa berbohong kepada mantunya dengan alasan perjalanan bisnis , Lolita pun kini di titipkan kepada besannya alias orang tua kandung Lolita sendiri.
" Om saya permisi kedalam " izin Eric kepada Abdi.
" Ia nak , terima kasih atas bantuanmu sebelumnya " ucap Abdi .
" Sama-sama om . Bukankah tugas manusia saling membantu " jawab Eric .
" Ayo ma , jangan menangis lagi " ucap Eric saat hendak membuka handle pintu.
Semua orang sedang bersedih terutama Dewa yang sedari tadi menangis di tepi ranjang Ana . Rizki tak kuasa berada disana membawa pulang Arjuna yang saat itu terlelap lelah karena terus memikirkan bunda dan ayahnya. Sementara Lia di paksa untuk istirahat oleh sang suami sebelumnya. Diruang itu hanya ada beberapa pelayan dan dokter penting berada disana .
'' Bunda .... bangun bunda...hiks...hiks.. Jangan tinggalkan Dewa. Dewa akan melakukan apapun asal bunda bangun...hiks...hiks... '' isak Dewa.
'' Bunda harus temani kami disini , biarkan dedek bayi Zilva dan Kanya disana bersama Allah . Dewa butuh bunda ...hiks.... Dewa sayang bunda...hiks ..hiks... "
'' Sabar ya Dewa sayang . Ada kami semua disini sayang sama Dewa. Dewa harus kuat dan yakin jika kedua orang tua Dewa pasti segera siuman " ucap Rina yang juga berada disana.
'' Dewa " ucap Eric lirih mengalihkan perhatian semua disana.
'' Om Eric " ucap Dewa membuat semua orang terkejut terutama Rina dan Sasa.
'' Ada Om Eric disini , Dewa apa kabar. Alex menanyakan Dewa " ucap Eric memeluk Dewa yang selalu ia temui diam-diam.
'' Dewa sedih om , lihat bunda dan ayah koma " Isak Dewa dan Eric memeluknya dengan sayang .
'' Dewa " lirih Sasa mendapat tatapan bertanya dari Dewa.
'' Nama saya Sasa , saya mamanya yang kau panggil Om barusan. Panggil saya Oma saja ya " ucap Sasa hangat dan diangguki Dewa.
Sasa mendekati brankar dimana Ana berbaring , air matanya tumpah ruah melihat wajah Ana yang tampak lebam tersebut . Ana tergolek lemah disana , bahkan bibir merah jambu itu terlihat amat pucat .
'' Ya ampun Ana , kenapa kau bisa jadi begini nak . Siapa yang tega melakukan ini padamu. Katakan pada mama nak " ucap Sasa lirih .
Sasa terus menyebut nama Ana dengan kesedihannya sementara Eric sedang berusaha membujuk Dewa untuk makan , namun bocah itu menolak.
'' Dewa tau kan , kalau om Eric ini sahabat dekatnya bunda " ucap Eric dan di angguki Dewa.
'' Om juga bisa Lo , buat seperti SOP dan opor ayam seperti masakannya bunda Ana " ucap Eric merayu .
" kalau Dewa mau , om akan masakannya buat Dewa sesuai dengan masakan bunda " ucap Eric.
'' Om bohong , om mana bisa masak " ucap Dewa tepat sasaran.
__ADS_1
'' Dewa belum tau aja om jago masak . Excel rindu loh sama Dewa. Gimana kau Dewa ikut om , main kerumah Excel dan akan om masakan Dewa sop serta opor ayam yang rasanya seratus persen seperti bunda " ucap Eric agar bocah kecil ini mau makan meski hanya sedikit .
'' Tapi om " ucap Dewa menatap sedih Ana.
'' Dewa harus makan meski sedikit sayang . Bunda pasti sedih jika Dewa tak mau makan dan akhirnya sakit. Siapa yang akan jagain adik-adik serta ayah dan bunda nanti. Disana juga ada mommy Laurent yang rindu sama Dewa " ucap Eric.
'' Sekali saja Dewa cicipi makanan om . Jika tak enak Dewa gak usah makan lagi. Lagian setelah ini om akan segera ke Italia sore nanti . Bagaimana , apa Dewa mau " tanya Eric dengan wajah memelas membuat Dewa setuju dan Eric tersenyum senang , akhirnya misi membujuk Dewa makan berhasil . Sekarang tinggal meminta sang mama masakin Dewa sop serta opor yang rasanya sesuai seperti Ana , Ana sendiri dapat resep itu dari Sasa tentu rasanya akan sama.
Eric mendekati sang mama dan membisikkan sesuatu membuat Sasa setuju saja.
Eric mencium kening Ana dalam setelah itu berbisik " Aku izin membawa Dewa sebentar "
Sasa dan Eric meminta izin kepada Rina untuk membawa Dewa , awalnya Rina tak mengizinkan tapi setelah Abdi mengizinkan Rina tak dapat berbuat apapun , apalagi memang Dewa butuh asupan makanan membuat Rina mengalah dengan berat hati..
Para bodyguard pun tampak mengiringi dimana Dewa yang di perintahkan oleh Abdi selaku orang yang mengambil keputusan saat ini termasuk tentang cucunya.
Di mansion milik Teguh terlihat Laurent dan Excel menyambut kedatangan Dewa saat ini. Laurent turut bersedih mengetahui semua peristiwa tentang Ana dan Rafli dari sang mantan suami yang kini bisa bersikap baik padanya .
'' Dewa " ucap Excel memeluk tubuh Dewa yang baru saja turun dari mobil.
'' Oma " ucap Excel memeluk Sasa lama tak ia jumpai.
'' Cucu Oma , apa kabar " tanya Sasa berbinar.
'' Baik dong Oma " ucap Excel dan tegur sapa antara Laurent dan Sasa pun terjadi .
'' Ma , ayo bantu Eric masak " ucap Eric dan segera mereka menuju dapur sedangkan Laurent menghibur hati putra dari Ana ini agar tak bersedih.
Di dapur Sasa dan Eric memasak masakan kesukaan Excel dan juga Dewa , tepatnya hanya Sasa yang memasak , Eric sendiri hanya duduk manis di kursi memperhatikan sang mama memasak.
'' Kasian Dewa dan adiknya ya Ric " ucap Sasa mendadak sedih mengingat keadaan Rafli dan Ana.
'' Aku pun turut bersedih ma , atas kejadian yang menimpa Ana. Namun mau bagaimana lagi , andai saja Ana menikah denganku saat itu , ini semua tak akan terjadi " keluh Eric.
'' Sudah Eric , urus Lolita jangan memikirkan wanita lain selain istrimu " ucap Sasa memperingati.
" Jika aku tak memikirkan Ana dan anaknya pasti Rafli telah ku kirim ke neraka saat itu juga " batin Eric , ia menyalahkan Rafli atas peristiwa ini.
Kini Eric dengan semangat membawa makanan masakan Sasa yang ia akui sebagai masakannya menuju kolam renang yang telah di sulap Laurent menjadi tempat makan apung tersebut. Penciuman Dewa cukup tajam mencium aroma opor dan juga sup seperti yang sering ia cium...
'' Dimakan ya Dewa , ni om Eric loh sudah susah membuatnya " cibir Laurent mendapat tatapan tak suka dari Eric.
'' Sejak kapan papi bisa memasak " tanya Excel dengan polosnya.
'' Sekitar dua bulan lah " jawab Eric asal membuat Sasa dan Laurent tersenyum geli.
'' Ni papi juga yang memasak . Ayo makan Excel " ucap Eric melanjutkan aktingnya.
'' Siap papi " ucap Excel.
Mereka semua menikmati makanan yang dimasak oleh Sasa dengan semangat , termasuk Dewa . Tak dapat Dewa pungkiri jika sop ini sama persis seperti buatan sang bunda.
'' Enak " tanya Sasa .
'' Enak oma " ucap Dewa menjawab dengan sendu.
'' Kenapa sayang " tanya Laurent .
'' Arjun juga suka sup buatan bunda " ucap Dewa terisak.
'' Dewa boleh bawa sup ini semuanya " ucap Eric namun dijawab gelengan oleh Dewa.
'' Oma mohon tolong bawalah . makanan ini di khususkan untukmu Dewa " ucap Sasa lembut.
'' Iya Dewa ambilah , yang mana saja " ucap Excel membuat Dewa mengangguk.
'' Nah gitu dong . Itu baru anak cerdas " ucap Eric mengacak rambut Dewa gemas.
'' Aku juga kan pi " ucap Excel tak mau kalah.
'' Pasti , kan anak papi " ucap Eric dan disambut gelak tawa lainnya . Dewa ingin sekali orang tuanya segera sadar agar mereka bisa tertawa kembali bersama.
.
.
.
__ADS_1
Eric terasa berat meninggalkan kota J untuk kembali ke Italia . Meninggalkan wanita pemilik hatinya terbaring tak berdaya dan Dewa yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri , sementara Sasa dan Teguh tetap berada di kota J , mengurus bisnis sesekali mengunjungi Ana dan Rafli yang keadaanya tak ada kemajuan malah keadaan Ana semakin memburuk.
Jangan lupa like dan komentarnya