Takdir Cinta

Takdir Cinta
Karma


__ADS_3

'' Aku ingin berbicara tentang diri mu mas " ucap Ana membuat dahi Rafli menyerit.


Ana membawa tubuh suaminya untuk duduk di sofa yang berada di dalam kamar.


'' Mas " ucap Ana menggenggam tangan suaminya.


'' Tolong , jika bicara dengan papa dan mama pelankan nada bicaramu . Mereka orang tua kita mas " ucap Ana lembut .


'' Tapi Ana , kau tau sendiri mas paling tidak suka jika mereka menentang keputusan mas , siapapun itu " bantah Rafli .


'' Tapi mas , mereka hanya memberi saran bukan menentang keputusanmu " ucap Ana mengecup singkat bibir suaminya yang ingin membantah ucapan nya juga.


'' Mereka hanya memberi saran dan nasihat , semua keputusan ada di tanganmu mas . Aku hanya tak ingin kau menjadi anak yang durhaka mas . Mas juga tau , papa baru saja sembuh jadi jangan ulangi lagi hal seperti tadi " ucap Ana .


'' Aku tak ingin suatu saat karma itu berbalik kepada kita . Bagaimana , suatu saat kita berada di posisi mereka , pasti begitu sedih mas . Mungkin mama dan papa biasa saja saat kau membentak atau bernada tinggi saat bicara dengan mereka namun siapa tau isi hati orang mas , ingat hati orang tua haruslah kita jaga . Aku mohon belajarlah untuk melunakkan hatimu sendiri mas , bicara dengan nada yang sopan . Bukankah selama ini papa dan mama tetap mengikuti semua keputusan mu . Mereka orang tuamu dan juga orang tua ku , tak ada sosok orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya " ucap Ana .


'' Jika mas melakukan ini , lakukan secara perlahan . Aku mohon demi aku mas , ubahlah nada bicara mu " ucap Ana lirih kini matanya telah berkaca-kaca seraya menggenggam tangan Rafli semakin erat. Terlihat gurat kesedihan di wajah sang istri.


'' Baiklah , mas akan usahakan " ucap Rafli membuat senyum terukir di wajah ayu milik Ana .


'' Mas mencintaimu Ana " ucap Rafli membawa tubuh Ana dalam dekapannya.


'' Aku lebih mencintai mu mas " jawab Ana.


'' Tapi aku lah yang lebih mencintaimu Ana dengan cara ku sendiri " batin Rafli .


Rafli melonggarkan pelukannya menangkup wajah Ana dengan tangan kekarnya , Rafli memiringkan wajahnya dan semakin lama terlihat mendekat , matanya mengunci bibir ranum milik istrinya sementara Ana sudah memejamkan matanya siap untuk apa yang akan ia rasakan .


Tok...tok....tok....


" Bundaaaaaaa.,...... " teriak menggelegar Jelita membuat Rafli membuang nafasnya kasar sementara Ana segera membuka kelopak matanya .


" Jelita mas " ucap Ana segera bangkit dan membuka pintu kamarnya .


Ceklek


Jelita memasang wajah sebalnya karena menunggu orang tuanya terlalu lama namun sang bunda belum juga bersiap .


'' Bunda lama sekali " ucap Jelita melipat kedua tangannya namun terlihat begitu lucu.


'' Ayo sayang kita keluar dulu , biarkan bundamu siap-siap " bujuk Rafli menahan sesak di bagian intinya.


'' Baik ayah " ucap Jelita .


'' Siapkan dirimu nanti malam Ana " ucap Rafli sebelum berlalu meninggalkan istrinya .


Ana menghela nafas cukup dalam , setiap malam suaminya itu selalu saja ingin melakukan hal itu namun tak bisa di pungkiri Ana jika ia pun begitu menikmatinya.


Chantika tersenyum sumringah saat bertemu dengan Ana , kini ia memanggil Ana dengan sebutan mbak karena Ana sekarang menjadi kakak iparnya , sedangkan panggilan untuk Rafli tetaplah paman.


'' Pagi ini kalian mau kemana Rizki " ucap Ana tersenyum , terlihat binar bahagia di mata Ana saat melihat perut Chantika membuncit.


'' Mau cek up mbak " jawab Rizki .


'' Iya mbak , aku berharap anaknya laki-laki " seloroh Chantika tersenyum .


'' Baiklah , kalian pergi hati-hati " ucap Ana dan diangguki sepasang suami istri yang tengah bahagia tersebut.


'' Iya mbak itu pasti " ucap Rizki dan mereka kemudian berpamitan kepada Ana karena sudah berpamitan pada yang lainnya.


.

__ADS_1


.


.


Rafli dan keluarga kecilnya kini sedang berada di sebuah mall yang telah disiapkan oleh Jimmy untuk mengosongkan mall tersebut dari para pengunjuk selama enam jam lamanya . Keberadaan anak serta istrinya Rafli masih di rahasiakan dari publik .


Dewa dan Rafli terlihat memberengut kesal saat tak berhasil membujuk Jelita yang ingin menonton sinema yang bercerita tentang putri kerajaan Disney versi kartun yang saat ini tengah menjadi salah satu film pilihan.


Satu ruangan bioskop otomatis hanya di isi oleh keluarga kecil Rafli . Terlihat di barisan depan terdapat Jelita serta Rayana yang begitu menyukai film tersebut bahkan Jelita meladeni celotehan Rayana adik wanita satu-satunya yang ia miliki . Sementara di barisan tengah terlihat Rava dan juga Arjuna yang tak protes namun malah tertidur dengan popcorn ditangan yang mulai berhamburan , sedangkan Dewa memilih mengeluarkan benda pipihnya , baginya ini membosankan. Lalu dimana Ana dan Rafli , Rafli membawa Ana berada di ujung tempat teratas . Rafli yang merutuki keinginan Jelita kini berpindah mencari kegiatan yang tak pernah membosankan baginya , ia tambah bersemangat karena Ana juga asyik dengan benda pipihnya sedang berbalas pesan dengan para sahabatnya yang saling menyayangi satu sama lain , jarak dan waktu tak mampu memutus persahabatan itu begitu saja .


Rafli mulai mencium wajah sang istri , kecupan demi kecupan ia luncurkan namun Ana sesekali menatapnya tajam karena risih . Rafli yang merasa di acuhkan dan tak suka hal itu membuatnya mengecup bibir ranum Ana membuat istrinya itu mendelik kesal .


'' Jangan ganggu aku mas , nikmati saja filmnya " ucap Ana ketus .


Karena mendapat penolakan dari sang istri dan situasi yang begitu tak ia sukai membuat Rafli melempar benda pipih Ana yang edisi terbaru tersebut , lalu dengan sigap menarik tengkuk sang istri . Ana yang awalnya begitu marah dan kesal akhirnya terhanyut mengikuti permainan Rafli , kini benda kenyal tak bertulang itu mendarat di leher jenjang yang begitu menggodanya sedari tadi. Ana hampir sama m*ndes*h nikmat namun segera menahannya .


'' Keluarkan saja sayang , mereka tak akan mendengar " ucap Rafli karena besarnya suara film tersebut dan jarak mereka begitu jauh dari anak-anaknya.


'' Apa yang ingin kau lakukan mas '' ucap Ana tersentak kaget saat tangan nakal Rafli mulai menarik resleting dressnya .


'' Hanya ingin yang menggantung itu " ucap Rafli dengan suara seraknya .


'' Jangan gila mas , ingat tempat " ucap Ana.


'' Tidak ada yang lihat " ucap Rafli kekeh dengan keinginannya , Ana memilih mengalah karena ia tau Rafli tak akan berhenti meminta hingga pria itu di turuti . Hanya bagian atas bukanlah masalah bagi Ana , meski gila ini di lakukan di dalam ruang gedung bioskop . Rafli menikmati kuncup yang berwana kecoklatan namun masih begitu kencang terasa , tak kendur sedikitpun berkat perawatan dan pola hidup yang sehat di lakoni istrinya . Suara decapan Rafli tak terdengar karena kalah besarnya , bahkan bayi besar itu begitu bersemangat seakan lupa dengan keadaan sekitar , dress yang di kenakan Ana kini pun melorot hingga di batas pinggang ramping itu , Ana yang terbuai kembali tersadar saat Rafli mulai menarik benda segitiga berenda tersebut.


'' Mas '' ucap Ana dengan mata yang melebar sempurna , nafas yang memburu namun kesadarannya masih berada jauh normal di bandingkan suaminya yang menatapnya lapar .


'' Mas tidak bisa menahannya hingga malam Ana , itu lama sekali " ucap Rafli kembali merengek dan Ana tegas kali ini menolaknya .


Sreekk dress Ana terkoyak saat wanita itu hendak bangkit berpindah tempat duduk dari pria super mesum di sampingnya ini sementara Rafli tak merasa berdosa dengan apa yang ia lakukan , jelas-jelas sepatunya masih menginjak kuat dress yang di kenakan istrinya .


'' Mas jangan lakukan ini , atau ku matikan jatuh mu selama setahun " ancam Ana namun tak berarti bagi Rafli .


" Ayolah sayang . Kasihani mas " ucap Rafli memelas.


'' Ini bioskop mas bukan ranjang untuk mu bercinta " ucap Ana .


'' Aku tak ingin di kutuk dan mati dempet disini mas " ucap Ana dengan mata mendelik kesal namun bukannya Rafli takut melainkan istrinya itu begitu imut di pandangannya .


'' Itu untuk mereka yang melakukannya tanpa adanya ikatan berbeda dengan kita yang sudah terikat sah baik hukum dan agama " ucap Rafli dengan suara beratnya.


" Ayolah " imbuhnya


'' Tapi kan mas..... " ucapan Ana terhenti karena kecupan singkat suaminya.


'' Diamlah , atau anak-anak nanti akan melihat ini sayang " ucap Rafli mulai melancarkan aksinya perlahan . Rafli juga tak ragu menarik segitiga berenda tadi .


'' Mas ini gila mas....ahhhhh " ucap Ana saat lidah tak bertulang itu bermain di intinya menelusup hingga bagian tak terbantahkan lagi kenikmatannya .


'' Kita belum pernah melakukannya disini Ana dan kita harus mencobanya " ucap Rafli dan tanpa aba-aba benda panjang tak bertulang itu memasuki tempat dimana sarangnya berada . Ana melengkung tubuhnya saat Rafli menggerakkannya dengan tempo cukup cepat , membawa Ana dalam dekapannya tak peduli dengan keadaan sekitarnya , dirinya terus memacu dan semakin bersemangat karena suara sensual keluar dari bibir sexy tersebut , tempat sempit tak bermasalah bagi Rafli karena ia punya seribu cara untuk memuaskan dirinya serta istrinya.


Satu jam telah berlalu bahkan Rafli seakan lupa waktu jika film tersebut akan segera usai berbeda dengan kegiatannya yang semakin menggelora hingga sebuah hentakan keras menghujam hingga kedalam menyemburkan lahar yang membasahi surga dunia bagi Rafli tersebut . Rafli segera bangkit dan memakai kembali celananya dengan terburu sementara Ana bangun dan membereskan dirinya yang terlihat acak-acakan.


'' Aauuhhhh aduhhh sakit " teriak Rafli membuat Ana begitu terbelalak kaget , beruntung anak-anaknya tak mendengar teriakannya .


'' Ada apa mas " ucap Ana berdiri .


'' Itu mas ke jepit Ana " desis Rafli menahan perih yang sungguh nyata baginya. Ana melongo menatapnya tak percaya lalu Ana ingin tertawa namun ia menahannya karena begitu kasihan melihat wajah suaminya . Ana mengeluarkan handbody untuk mempermudahkan Rafli , Ana sendiri tak berani melihat ekspresi kesakitan Rafli hingga Rafli berhasil membukanya . Meski begitu rasa perih masih ia rasakan. . . .


Filmpun telah usai namun Rafli berjalan mendekati anak-anak mereka lebih dulu dengan langkah tak biasa , Ana sendiri mengganti dress yang telah robek tersebut di kamar mandi. Dalam keadaan kesakitan Rafli masih memikirkan penampilan istrinya yang semprawut .

__ADS_1


'' Bunda lagi apa sich ayah . Kok lama lama banget " ucap Jelita sewot sementara Rayana tertidur pulas di pundak ayahnya .


'' Sabar ya , bunda lagi kebelet dari tadi '' ucap Rafli beralibi . Rafli sendiri ingin cepat sampai didalam kamarnya agar bisa tidur telentang dan membuka celananya agar benda pusakanya bisa merasakan kesejukan bukan rasa perih yang masih terasa.


'' Ayo '' ucap Ana tersenyum dan kini telah rapi .


'' Kok bunda pakai baju baru '' ucap Rava berkomentar .


'' Iya , tadi bunda gak pakai baju ini '' timpal Arjuna dan yang lain ikut mengamati .


'' Tadi baju bunda basah ketumpahan minuman '' elak Ana bahkan minuman itu masih utuh di dalam bioskop.


'' Ayo - ayo kita pulang '' ujar Rafli tak sabaran .


Ana tersenyum geli saat berjalan di belakang Rafli , sementara tak ada yang tau jika Arjuna dan Dewa memperhatikan langkah sang ayah yang tak biasa . Hingga meluncur bebas pertanyaan dari Arjuna yang mewakili rasa penasaran Dewa yang memang suka memendam .


" Ayah kenapa jalannya begitu " ucap Arjuna.


" Seperti ini " imbuhnya mempraktekkan .


Wajah Rafli memerah menahan sakit karena perih , marah dan malu hingga ke ubun-ubun. Sementara Ana yang menahan senyum tak mampu menahan tawanya .


Rafli menatap Ana tajam , karena sang istri malah menertawakannya sementara Ana mengkode Arjuna untuk segera menghindar dari Rafli yang mulai memperlihatkan wajah murkanya .


" Kita lari Arjuna " ucap Ana menarik Arjuna agar cepat berlari . Jika tak ada anak lainnya dan Rayana tengah tertidur maka sudah habis mereka mendapat hukuman dari Rafli ...


" Bun kenapa ayah jalanya begitu " tanya Arjuna dengan nafas ngos-ngosan.


" Tadi ayahmu saat di bioskop tersandung tangga Juna " ucap Ana terpaksa berbohong .


Di dalam mobil Rafli tak menegur Ana dan juga Juna , jelas ia begitu malu . Rafli mengambil benda pipihnya dari bilik celananya menelpon seseorang karena butuh bantuannya .


Sementara Jimmy yang masih pusing tujuh keliling karena kedatangan Eric kini di tambahkan pusing karena permintaan Rafli yang begitu aneh .


Menyesal , itu yang Jimmy rasakan .


" Dasar pria laknat " batin Jimmy mengumpat .


" Ada " tanya Eric yang memperhatikan air muka Jimmy berubah begitu mengerikan.


" Pergi " bentak Jimmy berulang kali namun Eric sama menyebalkan tak mau beranjak.


Jimmy mengambil kunci mobilnya dan segera melangkah , namun gerakan tangannya di cekal oleh Eric dengan kuat . Niat nya datang ingin bertemu Rafli , Eric mengira Rafli datang ke kantor saat ini .


" Lepaskan tanganmu " ucap Jimmy menatap tajam Eric.


" Aku ingin bertemu Rafli " ucap Eric kekeh.


" Bedebah " hardik Jimmy menyentak kasar tangan Eric .


" Kau mau kemana " tanya Eric .


" Membeli obat sunat " jawab Jimmy begitu kesal , jawaban Jimmy membuat dahi Eric berlipat-lipat.


" Apa Dewa akan sunat " batin Eric , sementara Jimmy pergi membawa kekesalan yang sudah sebesar gunung saat ini.


Jangan lupa like dan komentarnya.


*Selamat membaca 😊.


Next episode masih bahas Ericana ya , ntar endingnya bakal damai* .

__ADS_1


__ADS_2