
" Ana " ucap Rafli menggelegar membuat Ana menjauhkan handphone dari dekat telinganya .
'' Mas pelan-pelan " ucap Ana ketus.
'' Kenapa gak diangkat dari tadi... Hobi sekali membuat suami cemas " ucap Rafli mulai membeo.
'' Maaf mas " ucap Ana lirih .
'' Dimana kamu dan Dewa " tanya Rafli memastikan , di padahal ia tau Ana berada di titik mana bahkan ia dapat melihat jelas wahana permainan di layar laptopnya.
'' Menemani Dewa main mas " ucap Ana.
'' Kau mau lihat mas , ia tersenyum bahagia bersama Alexa dan .... " ucap Ana meragu.
'' Bersama anak lainnya " seloroh Rafli.
'' I...iya " ucap Ana.
'' Tapi jangan marah ya mas , aku kasian lihat Dewa bermain sama orang yang lebih tua darinya . Aku hanya ingin Dewa mempunyai masa kecil yang bahagia seperti kita dulu , bermain dengan sahabatnya . Aku mengerti kecemasanmu mas dan pula jika tidak mencolok musuh bisnismu tak akan tau mas " ucap Ana menjelaskan.
Ucapan Ana bagai tamparan keras bagi Rafli , tanpa ia sadari , ia sendiri membuat Dewa tak merasakan masa kecil yang bahagia bersama temannya , sedangkan dulu saja dirinya bisa merasakan masa kecil yang bahagia dengan bebas oleh izin sang papa.
'' Maafkan mas Ana " ucapnya lirih tanpa peduli kakak iparnya memperhatikannya dari ujung sofa . Ia juga merasa bersalah karena mengekang Ana begitu kuat , bukankah Ana baik-baik saja jika berada di bawah lindungan orang - orang terhebatnya. Namun itu tetap membuat Rafli khawatir karena Ana adalah nafasnya.
'' Ini bukan salah mu mas " ucap Ana , ingin sekali ia merangkul sang suami yang kini menyalahkan takdirnya .
Hening....
'' Baiklah , nanti dua jam lagi mas akan disana menjemputmu.. Biarkan Dewa puas bermain '' ucap Rafli , ia tersenyum melihat Dewa bermain perosotan dengan pria yang seumuran dengan anaknya , terlihat senyum Dewa saat sesekali ia berbicara dengan teman sesaatnya itu .
'' Baiklah mas , selamat bekerja ... ingat jika lelah istirahatlah '' ucap Ana.
'' Iya bunda sayang '' ucap Rafli namun mampu membaut pipi Ana merona.
'' Daaa...'' ucap Ana lalu mematikan teleponnya sepihak.
" Kenapa aku mesti tersipu malu begini , padahal hanya sekedar ucapan dari telepon pula... Ingat umur Ana , dirimu dan Rafli bukan remaja lagi " batin Ana , ia geli akan dirinya sendiri.
Satu jam telah berlalu , Dewa cukup puas dengan bermainnya terlihat ia tertawa saat mendapat hadiah yang begitu banyak saat berhasil memenangkan permainan , ada boneka yang ia berikan untuk sang bunda nanti dan ada jam tangan yang ia akan berikan untuk sang ayah , sedangkan hadiah yang kecil lainnya termasuk coklat akan ia berikan kepada siapa yang mau nanti.
" Bunda " ucapnya tersenyum lalu memeluk bundanya erat seakan lama tak jumpa.
" Untuk bunda " ucapnya menyerahkan boneka dan coklat untuk bunda....
" Dewa menang permainan tadi bersama aunty Alexa " ucapnya ceria dan bangga namun Alexa menahan malu karena semaunya tahu jika ia ikut bermain atas paksaan dari Dewa. Alexa merupakan penembak dan pemana jitu membuatnya dengan mudah mendapatkan hadiah yang begitu mahal bahkan hadiah kulkas pun ia dapatkan dan entah akan diapakan nantinya.
Ana terlonjak kaget begitu juga dengan dua bodygaurdnya lain saat seseorang membawa kulkas dan mesin cuci hasil kemenangan Alexa , sempat menjadi penawaran yang di lakukan sang pemilik permainan kepada Alexa yang enggan menerima hadiah tersebut . Hingga Dewa memutuskan untuk diganti dengan uang tunai saja dan akhirnya kulkas serta mesin cuci itu di ganti dengan uang tunai 15 juta rupiah.
" Aunty " ucap Dewa lembut namun Alexa menolaknya membuat Dewa menatap sang bunda untuk memaksa Alexa meneriamnya.
" Terimalah Alexa " ucap Ana mulai mengintimidasi.
" Maaf nona tapi ini " ucap Alexa terhenti .
" Baiklah kita kesalon saja " ucap Ana.
" Baiklah , baiklah kami terima " ucap Alexa dan kedua sahabatnya itu lega. Mereka tidak mau di bawa kesalon untuk perawatan oleh Ana , masih teringat jelas jika mereka menatap penampilan gelinya saat menjadi perempuan tulen yang seakan butuh di lindungi..
" Bunda , Dewa mau beli tas " ucap Dewa saat mereka melintasi toko lengkap dengan perlengkapan sekolah.
" Ayo " ucap Ana , ia tak mau melarang anaknya apalagi Dewa dirumah belajar dengan semangat membaca menulis dan berhitung ia cukup pandai untuk anak usia empat tahun sepertinya.
Dewa mengambil barang yang menurutnya cukup menarik bahkan ia punya rencana untuk bisa sekolah dengan suasana seperti yang di ceritakan temannya tadi.
" Bunda mau tas yang itu aja bunda " tunjuk Dewa tersenyum.
" Oke " ucap Ana.
Hup namun tas itu lebih dulu diambil seseoang disampingnya.
Ana menghela nafasnya karena itu bukan rezeki anaknya... Apalagi melihat anak wanita itu bahagia ,ia tak mau merampasnya.
'' Sayang , model lain saja ya '' rayu Ana , namun Dewa melirik tas tersebut.
'' Dewa mau yang itu bunda " ucapnya meminta namun enggan memaksa sang bunda.
__ADS_1
'' Lain kali , kita tanya dulu sama yang jual ya " ucap Dewa mengangguk...
'' Mbak , tas yang model itu masih a....da... " ucap Ana , ia kaget bukan main saat menyadari yang menerobos mengambil tas yang di inginkan anaknya dan wanita itu juga terkejut bukan main saat tatapan mereka bertabrakan.
'' Ya tuhan itu Ana , dia menatapku .. Apa ia masih marah dan tas ini incaran anaknya. tapi bila aku kasih , bagaimana Excel " batin Laurent ...
" Dulu kau mengambil Eric dari ku dan kini kau mengambil apa yang di inginkan anakku " batin Ana ia membuang wajahnya , meski tidak mencintai Eric lagi namun Laurent lah penyebab ia batal nikah bersama Eric dan menyebabkan hinaan tetangga harus keluarganya dapatkan.
" Maaf nyonya , tas nya hanya itu saja " ucap sang karyawan sedih melihat reaksi wajah Dewa.
" Sayang , kita cari yang lain ya , pasti banyak yang bagus " rayu Ana.
" Iya adek , coba lihat tas yang ini " bujuk sang karyawan .
" Ini juga bagus Lo . ada ini nya ... keren kan " imbuhnya namun Dewa tetap menatap tas itu..
" Bunda . Dewa mau yang itu " ucapnya kekeh...
" Ambilah " ucap Laurent tiba-tiba mendekat . Ia mendadak takut melihat Ana , apalagi wajah itu menatap nya penuh amarah .
" Mommy , itu punya ku " ucap Excel lirih.
" Anak mereka " batin Ana..
" Mbak , punya brosur tas ini " tanya Ana , ia tidak sama sekali peduli Laurent.
" Ada nyonya " jawab karyawan itu bingung karena terlihat jika Ana mengacuhkan Laurent .
" Apa boleh saya meminta brosurnya " tanya Ana.
" Tentu nyonya , ini silahkan " ucap Karyawan itu seraya menyodorkan lembaran kertas berisi gambar tas yang di inginkan Dewa.
" Dewa sayang sama bunda " tanya Ana dan Dewa mengangguk.
" Tas itu bukan milik Dewa , tapi itu milik yang lain " ucap Ana tegas.
" Tapi bunda itu .... " ucap Dewa menahan tangis.
" Ana ambilah , anakku bisa mencari model lain " ucap Laurent lirih .
" Dewa ambilah nak " ucap Laurent .
" Mommy " rengek Excel.
" Jangan sebut nama anakku " sergah Ana.
" Ana aku hanya .... " ucapan Laurent.
" Dewa . kita suruh ayah beli tas ini , bahkan bisa lebih keren " ucap Ana.
" Benarkah bunda " tanya Dewa berbinar.
" Ayah kan ada Jin om Jim yang bisa mengabulkan apapun " ucap Ana dan Dewa tertawa.
" Baiklah " ucap Dewa tersenyum.
" Maaf aunty , itu milik anak aunty . Dewa tak ingin dan juga papa Dewa bisa membeli itu " ucap Dewa.
" Bahkan sama pabriknya sekalian. Iyakan bunda " imbuhnya membuat Ana terkejut mendengar ucapan Dewa yang sama seperti suaminya .
" ini lah mas , jika bicara tidak lihat ada Dewa " batin Ana.
" Iya " jawab Ana kemudian keluar membawa barang belanjaan yang telah selesai di bayar..
Laurent mengejar langkah kaki Ana yabg telah lumayan jauh , ia ingin bicara penting dengan...
" Ana ku mohon " ucap Laurent seraya mencekal tangan Ana.
" Nona jaga tangan anda " ucap Tegas salah seroang bodyguard Ana membuat Laurent refleks melepaskan tangannya.
" Aku ingin kita bicara " ucap Laurent sementara Dewa bingung siapa Laurent bagi bundanya karena sahabat bundanya hanya empat orang aunty cantik lalu siapa aunty cantik satu ini kira-kira itulah.
" Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi Nona Laurent Permana yang terhormat " ucap Ana dingin...
" Aku akan meluruskan semua ke salah pahaman ini Ana " ucap Laurent memohon.
__ADS_1
" Aku tidak punya waktu Laurent " jawab Ana ketus.
" Ana ku mohon " imbuhnya.
" Jangan paksa bunda " teriak Dewa , ia tak suka bundanya di paksa.
" Nona . Sebaiknya anda pergi sebelum kami melakukan hal yang merugikan anda " ucap Alexa , ia tak segan-segan mengirim Laurent ke liang lahat.
" Maaf " ucap Laurent menunduk .
Ana pergi bersama bodyguardnya meninggalkan Laurent yang kini meneteskan air matanya dan Excel memeluk Laurent karena merasa sedih.
" *Sebenci itukah hatimu terhadapku Ana. Taukah kau Ana , Eric tidak bersalah dalam hal ini bahkan selama menikah ia tak menganggap aku ada meski ia tak mengingatmu. Maafkan aku Ana " ucap Laurent .
" Aku harus cari cara agar bisa bertemu dengan Ana dan bicara padanya " ucapnya lalu mengajak Excel pulang* .
Ana mengontrol kekacauan hatinya , bertemu Laurent itu di luar dugaannya dan itu membuatnya kacau , namun ia harus berusaha tenang saat melihat Rafli menunggu di dalam mobil hitam milik sang suami.
" Dewa berjanjilah dengan bunda , jangan bilang kejadian tadi ya " ucap Ana.
" Siap bunda " jawab Dewa.
" Dan kalian , diamlah jangan bilang pada suamiku " ucap Ana .
" Namun bila ia bertanya jawab saja yang sebenarnya " imbuhnya karena ia tak begitu yakin Rafli tidak tau.
HP Ana kembali berdering , terlihat Rafli yang tak sabar menunggunya .
'' Jika bukan diluar ku cium dirimu Ana , berani sekali membuat ku menunggu lama sedari tadi " batin Rafli.
Ceklek...
" Sudah lama mas " tanya Ana tersenyum kikuk.
" Gak lama kok hanya 20 menit " jawabnya.
" Dewa seneng mainnya nak " tanya Rafli seraya melajukan mobil Buggati miliknya.
" Senang banget ayah , disana banyak temen " ucap Dewa polos lalu menceritakan apa yang ia lalui... Rafli tersenyum karena hal sesederhana itu membuat Dewa begitu bahagia.
Tidak lama Dewa tertidur di pangkuan Ana dalam perjalana pulang dikarenakan kelelahan bermain.
''Apa berat " tanya Rafli...
'' Tidak mas , tidak apa kok " ucap Ana mencium pipi Dewa.
" Yang besarnya gak di cium " tanya Rafli.
Cup satu kecupan singkat di terima di pipi Rafli.
" Bundanya gak minta cium " tanya Rafli menggoda Ana.
" Gak " jawab Ana singkat.
" Mas , kenapa berhenti " tanya Ana karena Rafli menepikan mobilnya.
Cup
Rafli mencium gemas bibir Ana , yang merupakan candu baginya .
" Mas bahagia memilikimu dan anak darimu "ucap Rafli menempelkan keningnya pada kening Ana , beruntunglah Dewa telah terlelap.
'' Aku juga mas " ucap Ana lirih dan m*Lum*t bibir Rafli sesaat...
" Kau menggoda mas " tanya Rafli .
'' Tidak " ucap Ana membuat matanya.
'' Aduuhh mas kau ini " ucap Ana gemas akan suaminya yang tidak tau kondisi , se enaknya aja menyuruh Ana memegang pusakanya itu .
"Kita lanjut di rumah " ucap Rafli penuh semangat dan melajukan kembali mobilnya. Sementara pipi Ana merona , menahan malu di hadapan suaminya sendiri.
'' Hahahaha " Rafli tergelak dan Ana cemberut melihat tingkah suaminya.
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentarnya
__ADS_1
Terimakasih bagi yang sudah berkomentar dan memberi like..