
'' Sayang , kamu jadi nanti siang ke kantor biar sekalian kita makan siang " tanya Rafli saat diambang pintu mansion.
'' Iya mas . Tapi aku tunggu Dewa pulang sekolah dulu " ucap Ana.
'' Baiklah kalau begitu , nanti kalian hati-hati di jalan " ucap Rafli kembali lagi dan lagi mencium kening Ana.
'' Arjuna , jangan nakal ya. Ingat bi Jum lagi gak ada , jangan membuat bunda repot . Jika mau repotkan yang lain aja " ucap Rafli .
'' Iya ayah " ucap Arjuna dengan mulut yang penuh akan bolu membuat Rafli menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak keduanya itu.
'' Anak ayah , jangan nakal di perut bunda. Jangan menyusahkan bunda. Jika ingin sesuatu minta sama ayah. Ayah kerja dulu ya " ucap Rafli mengecup perut buncit Ana.
'' Mas pergi dulu ya sayang " ucap Rafli lalu kecupan singkat ia berikan untuk Ana selagi Arjuna tak melihatnya. Lalu Ana menyalami punggung tangan suaminya dengan takzim , hal itu sangat di sukai Rafli kerena baginya ridho dari sang istri .
'' Mas juga hati-hati , pelan-pelan bawa mobilnya. Sarapannya jangan lupa dimakan " ucap Ana ..
'' Iya bu ratu " goda Rafli lalu melangkah pergi dimana Baim telah siaga mengantar Rafli ke kantor dan di ikuti dua mobil bodyguard lainnya.
Setelah memastikan Arjuna terisi perutnya dan sudah wangi pula , Ana segera kedapur menyiapkan bekal makan siang yang akan ia bawa. Meski Rafli melarangnya untuk memasak namun Ana ingin tetap memasak karena melihat jika Rafli ataupun Dewa tak semangat makan jika bukan dirinya langsung yang membuat berbeda dengan Arjuna yang main embat makanan apapun alias gak pilih-pilih.
Mexico
Rico adalah nama samaran Devan.
'' Co kenapa mereka belum tiba " tanya Jerry yang telah bosan menunggu kelompok yang akan menjual senjata canggihnya.
'' Hahaha , kau tunggu sampai kiamat pun mereka tidak akan tiba " ucap Devan yang telah bosan harus terus bersandiwara dan ia juga tidak mau memberikan keuntungan lagi untuk mafia yang di pimpin Jerry.
'' Apa maksudmu Rico " tanya Jerry menatap Devan tajam.
'' Siapa Rico .. Ck , Aku De E Ve A En ... DEVAN " sahut Devan.
'' Hahaha kau bercanda ... Aku sudah menyelidiki mu " ucap Jerry terbahak...
'' Kau saja yang bodoh tidak percaya adik sialan mu itu " ucap Devan seraya memperlihatkan tato keanggotaannya yang selama ini ia sembunyikan.
'' Apa kau melihat ukiran tato yang sama pada Baco " ucap Devan dengan menahan amarah nya saat mengenang Baco.
'' Kau brengsek... Kau pengkhianat disini " sentak Jerry yang begitu emosional.
'' Aku akan menghabisi mu sama halnya aku menghabisi Baco" imbuhnya penuh kebencian terhadap Devan yang begitu banyak di puja di kelompok mafia manapun , namun Devan yang begitu setia kepada Rafli tak berpaling meski di lempar di hadapannya sepuluh koper berisi dolar dan berlian sekalipun.
'' Ck . Aku yang akan melenyapkan bahkan lebih perih dari apa yang dirasakan Baco. Nyawa dibayar nyawa , mata di bayar mata , usus dibayar usus . Kau akan tau bagaimana beringasnya diriku " ujar Devan , ia akan melakukan hal keji kepada Jerry yang belum pernah ia lakukan sebelumnya .
'' Hahaha , kau hanya mimpi Devan .. Kami bersebelas sedangkan kau " ejek Jerry dan anak buahnya ikut tergelak.
" Kau hanya debu jalanan yang tidak ada artinya bagiku '' balas Devan .
'' Aku muak melihat kau berbicara . Susulah Baco " umpat Jerry.
'' Kalian lumpuhkan dia '' perintah Jerry.
Dor suara tembakan menggema di salah satu gudang kosong di pelabuhan bersamaan tumbangnya sepuluh orang bertubuh kekar itu membuat Jerry terbelalak kaget melihat sepuluh anak buahnya telah tak bernyawa dengan penyebap kematian yang sama yaitu peluru menembus kepala mereka terlihat jelas lubang pada kening tersebut .
" Kau menjebak ku Devan " teriak Jerry.
Tepukan tangan Devan berbunyi dan keluarlah lima anak buah Devan sang penembak jitu.
" Kau licik " umpat Jerry.
" Itu berlaku untuk mu . Kau tak ada apa-apanya " ucap Devan.
Jerry segera mencari ponselnya untuk meminta bantuan namun ia sungguh murka saat ponselnya berada di tangan Devan.
" Kau lebih penakut dari pada Baco bahkan kau tak sebanding dengannya " ejek Devan.
" Aku akan melenyapkan mu Devan " sarkas Jerry tiada pilihan selain melawan , itulah jiwanya selain membunuh atau dibunuh.
" Kalian lumpuhkan dia , jangan dibuat mati " perintah Devan pada dua anak buahnya.
__ADS_1
Baku hantam sempat terjadi namun Devan dibuat jengah saat dua orang tersebut kewalahan membekuk Jerry yang keahliannya di atas mereka.
" Kalian mundurlah , biar kecoa ini menjadi lawanku " ucap Devan dengan rahang yang mengetat.
" Gunakan belati itu . Jika kau bisa melumpuhkan ku maka aku akan mengabdi untukmu . Namun sayang , itu hanya mimpi " ucap Devan mengejek seraya melempar belati untuk dipakai Jerry melawan Devan yang bertarung dengan tangan kosong.
Jerry segera melesatkan belati itu namun sayang hanya melesat . Pertarungan bejalan hanya satu menit dengan Devan menjadi juaranya , sedangakan Jerry telah lemah berdarah-darah dan tak berdaya .
" Brengsek kau " umpat Jerry.
" Kalian masukkan dia ke kandang burung itu " perintah Devan dan dengan sigap anak buahnya membawa Jerry masuk kedalam penjara berbentuk kandang burung tersebut .
" Menyedihkan .... Zizi pasti akan senang dengan kado ini " ucap Devan mengejek , ia sungguh senang mengejek musuhnya.
" Jangan lupa Devan , suatu saat kau akan menerima ajalmu . Jero tak akan tinggal diam " desis Jerry disela nafas yang tersengal-sengal.
" Aku menunggunya " tantang Devan .
" Ayo kita berangkat " ucap Devan.
" Buang sepuluh mayat itu ke laut , hilangkan semua jejaknya " perintah Devan .
" Jangan meminta mati dengan cepat Jerry , bukan giliranmu lebih baik simpan tenagamu untuk melawan Zizi kekasih Baco. Sayang dia ingin kau masih hidup untuk ku jadikan oleh-oleh " ucap Devan .
" I'm come back Alexa " gumam Devan tersenyum melihat ponselnya yang terlihat nomor yang ia kenal terus menghubunginya dari semalam .
.
.
.
Perusahaan RA group.
" Nona yakin tak perlu saya temani " tanya Alexa dibalik kemudi , melihat Ana yang cukup kesulitan untuk keluar dari mobil .
" Aku bisa , kau ini meremehkan ku " Rajuk Ana dan Alexa hanya mengalah saja enggan untuk membantah .
" Kau ini... iihh " geram Ana mengambil perkedel dari tangan Arjuna untuk dilemparkan nya kearah Alexa berada ...
" Bunda " rajuk Arjuna melihat makanannya diambil.
" Aunty Alexa lapar " ucap Ana dan Arjuna hanya diam menurut.
Ana segera melangkah memasuki lobi kantor dimana suaminya berada.
Sepasang kaki jenjang milik Ana serta dengan Dewa dan Arjuna yang setia disisinya mencuri perhatian karyawan yang berada di lobi tersebut melihat nyonya pemilik perusahaan ditempat mereka bekerja datang bersama putra-putranya yang tampan tersebut. Terlihat wajah ramah Arjuna yang tersenyum dengan kaca mata bertengger di hidung mancungnya sama seperti Dewa namun dengan wajah datarnya sementara Ana tersenyum ramah dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya serta topi yang biasa ia gunakan hanya model dan corak yang berbeda.
Risih yang Ana rasakan saat mereka melihat perut Ana yang membuncit namun ibu hamil itu segera memasuki lift bersama Dewa yang menggandeng tangan Arjuna agar adiknya itu tidak pecicilan.
'' Pasti mereka mengumpat ku yang bagai mesin pencetak anak saja . Ini juga karena mas Rafli yang tiada bosan meminta anak terus , mungkin mas Rafli fikir melahirkan itu tidak sakit. Apa ia lupa jika saat aku melahirkan Arjuna ia sempat pingsan " ucap Ana membatin.
Ting
Ana melangkahkan kakinya menuju lantai dimana ruangan sang suaminya berada , namun ternyata ia salah menekan angka hingga ia berada di lantai para pimpinan masing-masing divisi .
" Haduh " gumamnya saat menyadari situasi yang berbeda.
" Kok disini bunda " protes Dewa .
" Bunda lupa . Sudahlah kita naik tangga saja " ucap Ana.
" Bunda juga lupa , kan ada lift " protes Dewa.
" Ah iya... " jawab Ana .
Terlihat karyawan wanita yang usianya setara Ana menyapa mereka dan di angguki Ana sebagai balasannya dan Arjuna dengan senyum cerianya berbeda dengan Dewa yang memasang tampang tak bersahabat.
" Ayo Ar " ucap Dewa membawa Arjuna yang hendak berceloteh.
" Saya duluan ya " ucap Ana membuka suara.
__ADS_1
Tanpa Ana sadari ia menabrak tubuh seseorang wanita paruh baya , beruntung Ana yang tubuhnya oleng dengan sigap di tangkap oleh Zizi yang saat itu ke betulan berada disana.
" Apa kau tak bisa menggunakan matamu untuk melihat jalan " hardik Zizi yang hanya melihat wanita itu menabrak nyonya mudanya.
" Aku yang salah Zi " ucap Ana menjelaskan dan diangguki wanita itu cepat dan sebelumnya telah meminta maaf lebih dahulu.
" Wah istri tuan Rafli cantik sekali " ucap keceplosan wanita yang menyapa pertama kehadiran Ana . Membuat Ana tersadar jika topi dan kaca matanya terjatuh.
" Astaga ... Maaf... " ucap Ana segera melangkah cemas.
" Kalian yang melihat dan berada disini , jangan ada yang beranjak " ucap Zizi dengan ekspresi tak biasanya membuat semua yang berada disana ketar ketir.
Ceklek.
" Ayah " ucap Dewa dan Arjuna kepada Rafli yang terlihat sibuk dengan dokumennya .
" Anak ayah " ucap Rafli beranjak dan membentangkan tangannya saat Arjuna berlari ingin memeluknya.
" Ayang ayah " ucap Arjuna.
" Ayah juga sayang banget sama Arjuna " ucap Rafli dan memanggil Dewa untuk ikut memeluknya.
" Ayah juga sayang sekali sama Dewa " imbuhnya mencium pucuk kepala Dewa. Ia merasa bahagia setelah sekian lama keluarga kecilnya tak mengunjunginya di kantor.
" Kemana bunda " tanya Rafli karena hanya ada dua kurcacinya saja yang terlihat , dimana induknya.
" Mas " ucap Ana dengan wajah sedikit gugup.
" Kenapa sayang " tanya Rafli yang kini mendekati Ana.
" Semua baik-baik saja " tanya Rafli dan dijawab dengan gelengan Ana.
" Mereka melihatku mas " ucap Ana dan Rafli menyadari akan hal itu.
" **** " geram Rafli.
" Mereka siapa . Dilantai berapa " tanya Rafli namun bunyi telepon di ruangan Rafli menghentikan Ana yang hendak menjawab.
" Hallo Zi " jawab Rafli.
" ...... " Zizi.
" Suruh mereka keruang rapat sekarang , pastikan tidak ada yang lolos " ucap Rafli menahan amarahnya.
" Semua akan baik-baik saja. Percayalah " ucap Rafli membawa Ana untuk duduk tenang.
" Tenanglah . Jangan buat anak-anak melihat kecemasanmu " ucap Rafli hanya Arjuna saja yang menatap mereka sementara Dewa segera belajar mengerjakan tugas dari gurunya namun telinganya cukup tajam mendengar ucapan sang ayah .
" Bunda percayakan saja semuanya sama ayah " seloroh Dewa .
" Kau dengar ucapan Dewa " ucap Rafli .
" Iya mas " jawab Ana sementara Arjuna melongo tak mengerti.
" Aku mencintaimu Ana " bisik Rafli lalu mencium pipi Ana singkat kemudian beranjak pergi.
Perhatian Ana segera teralih pada Arjuna yang terlihat suka mencari perhatian itu . Dan sesekali memperhatikan Dewa belajar. Ana merasa bangga dengan Dewa yang tak pernah menanyakan tentang pelajaran nya kepada Ana dan Ana hanya perlu mengeceknya benar ataupun salah namun semua jawaban Dewa begitu sempurna untuknya.
Di ruang rapat
Di dalam ruangan rapat terlihat Zizi menatap tajam seseorang yang kini tengah menundukkan kepala nya.. Tambah tegang situasi saat Rafli memasuki ruangan tersebut .
" Siapa di antara kalian yang menabrak istriku " ucap Rafli membuat semua orang ingin protes namun tak berani.
" Bukan aku yang menabrak nyonya tapi nyonya yang menabrakku " batinnya.
" Siapa berdiri " bentaknya.
Jangan lupa like dan komentar nya ya.
Selamat membaca 😊
__ADS_1