
Elina dan Arga yang sedang berjalan dari kantin pun mendengar suara ribut dari ruangan Vanya. Mereka semakin khawatir saat mendengar Vanya berteriak dan segera berlari ke dalam ruangan.
“Apa yang kau lakukan, Wiliem?” teriak Elina yang terlihat masuk ke dalam ruangan.
Arga dan Messi yang mendengar itu pun menarik paksa Wiliem agar menjauh dari Vanya. Arga melihat bahu Vanya yang terlihat berdarah karena tekanan yang terlalu kuat dari tangan Wiliem.
“Dasar gila,” umpat Arga seraya menghampiri Wiliem.
“Lepaskan aku! Lepaskan tanganmu dariku!” bentak Wiliem pada Arga yang masih memeluknya dari belakang tuk menahannya.
Elina menekan tombol darurat tuk memberitahukan Wildan, tak berselang lama terlihat Wildan dan yang lainnya masuk ke dalam ruangan dan terlihat kaget melihat Arga yang masih memeluk Wiliem.
“Arga apa yang kau lakukan pada Wiliem, huh?” seru Alex.
“Adikmu sudah gila, dia melukai Vanya,” jawab Arga dengan kesal.
“Diem kau anak kecil!” teriak Wiliem.
Wildan melihat Vanya yang sedang di periksa oleh Elina, Ken dan Zee menatap tajam Wiliem. Mereka sungguh tidak menyangka jika Wiliem bisa melakukan itu pada Vanya.
“Bagaimana lukanya?” tanya Wildan cemas.
“Sudah beres, aku sudah mengobatinya kembali. Hanya saja, jahitannya terbuka kembali dan aku harus menjahitnya ulang,” jawab Elina.
“Suaminya sudah gila. Menekan bahu Vanya dengan sangat kuat,” sahut Elina kesal.
Alex menatap Wiliem dengan sangat tajam, terlihat lelaki itu sangat geram melihat tingkah gila sang adik. Arga melepaskan tubuh Wiliem dan membiarkan Wiliem menjadi urusan Alex.
“Pindahkan adikku ke ruangan lain!” pinta Ken pada Wildan.
Wildan dan Elina membantu Vanya tuk duduk di kursi roda. Sedangkan Arga dan Messi menjaga dari samping agar Wiliem tidak bisa menyentuh Vanya kembali.
“Mau di bawa kemana dia?” tanya Wiliem menatap Vanya.
Tidak ada yang menjawab, Wiliem yang melihat itu berjalan maju namun tertahan oleh tubuh Alex. Wiliem menatap geram Alex yang menghalanginya.
“Minggir, Lex!” perintah Wiliem.
“Diam di sini atau kau akan mati di tanganku, Wil!” seru Alex lebih tegas.
Kedua kakak beradik itu saling berpandangan denga sangat tajam, Wildan berhasil membawa keluar Vanya. Tertinggal Ken dan Zee yang menyaksikan keduanya.
“Apa yang sudah kau perbuat pada Vanya sudah keterlaluan Wiliem,” ucap Alex.
“Kau sudah menghianatinya, kau yang mengakibatkan dia kecelakaan dan sekarang kau membuatnya terluka,” sambung Alex dengan sangat geram.
“Huh, kau mengatakan aku menghianatinya? Lalu bagaimana dengan dia yang bertemu dengan lelaki lain,” jawab Wiliem.
“Wiliem!!” teriak Zee dengan sangat keras.
“Kau yang bersalah karena sudah bermalam dengan wanita lain. Kau membuatnya sakit hati dengan semua perkataanmu dan sampai sekarang kau masih menuduhnya, huh? Sungguh kau terlalu, kau sudah tidur dengan Laudya, membuatnya terluka sangat dalam,” sambung Zee.
DEG,
__ADS_1
Mata Wiliem membulat sempurna karena semua orang sudah tahu apa yang terjadi antara dia dan Laudya malam itu. Ken memalingkan wajahnya karena melihat ekspresi dari Wiliem yang menunjukkan bahwa dia mengakui semua yang Zee ucapkan.
“Aku harap kau bisa melepaskan adikku. Aku tidak mau melihatnya menderita lebih dari ini olehmu,” ucap Ken dengan sangat tegas dan berlalu keluar.
Wiliem menatap ke arah Ken dengan tatapan sedih, tanpa terasa air matanya kembali menetes tanpa dia minta. Zee menggelengkan kepalanya menatap Alex dan Wiliem bersamaan.
“Ini lah yang aku takutkan dari kalian berdua, aku tidak mau wanita itu kembali datang apalagi masuk kembali di hidup kalian. Dia, dia bisa menghancurkan semuanya,” ucap Zee dengan lirih dan memilih keluar dari ruangan tersebut.
Tubuh Wiliem mundur perlahan, lelaki itu semakin lemas dan terduduk di sofa dengan menangis. Alex terlihat sedih melihat Wiliem yang begitu syok dan sedih akan semua yang terjadi.
“Apa, apa yang sudah terjadi? Apa yang salah denganku, kenapa Vanya dan mereka memintaku tuk melepaskannya. Vanya adalah istriku, dia wanita yang ku nikahi, kenapa mereka ingin memisahkanku dengannya?” tanya Wiliem seraya menatap Alex dengan tatapan bingung.
Wiliem meremmas rambutnya dengan keras sampai terlihat urat di wajahnya. Wiliem dalam keadaan yang syok, lelaki itu meraung menangis memikirkan apa yang sudah dia lakukan.
“Hiks,, hiks,,, hiks,,, Lex tolong aku! Aku tidak ingin berpisah dengan Vanya,” pinta Wiliem sembari menangis.
Alex yang tak tega melihat sang adik yang terlihat frustasi pun mendekatinya. Alex memeluk tubuh Wiliem menepuk punggungnya dengan lembut, agar membuatnya sedikit tenang.
“Lebih baik kau tenangkan dirimu dahulu, aku akan mencoba melakukan yang aku bisa,” ucap Alex.
Alex terus menemani Wiliem yang terlihat syok, terlihat Wiliem mengalami suatu goncangan yang sama seperti dahulu. Alex sangat takut jika Wiliem depresi seperti dahulu seperti apa yang terjadi saat lelaki itu di tinggal pergi oleh Laudya.
Di kamar VVIP lain, terlihat Vanya masih syok dengan apa yang di lakukan oleh suaminya itu. Vanya melamun memikirkan Wiliem yang sama sekali tidak dia kenal, Wiliem yang sangat berbeda. Vanya sangat senang saat pertama melihat Wil yang datang ke ruanganya, karena dia berpikir jika ternyata Wiliem masih memikirkan tentangnya dan mungkin juga khawatir dengan keadaannya.
Namun semuanya salah, Vanya malah mendapati sang suami seperti orang asing yang tidak dia kenal. Hati Vanya sangat sakit, melebihi rasa sakit di bahunya yang terluka. Air mata Vanya menetes begitu saja.
Semua orang yang ada di ruangan itu hanya bisa saling berpandangan, merasa kasihan dengan Vanya. Messi sampai mengepalkan tangannya kembali karena begitu geram dengan Wiliem yang terus-terusan membuat Vanya menangis.
“Nona Vanya,” panggil Arga membuyarkan lamunan Vanya.
“Minumlah obat pereda nyeri ini! Agar rasa sakit di bahumu sedikit berkurang,” ucap Arga seraya menyodorkan obat dan air minum.
Vanya menerima itu tanpa menjawab apapun, meminumnya dengan segera dan kembali memberikan gelas itu pada Arga. Vanya yang sadar karena di perhatikan pun mencoba tersenyum agar tidak membuat mereka merasa cemas.
“Ternyata, di jahit tanpa bius itu sangat sakit,” ucap Vanya mencoba tersenyum seraya menatap Elina.
“Maaf, aku tidak terpikir tuk memberikanmu obat bius terlebih dahulu. Aku panic saat melihat bahumu yang berdarah,” balas Elina tersenyum tipis.
“Apa kau tidak apa-apa?” tanya Wildan terlihat cemas.
“Hemm, sedetik lalu memang aku merasa takut. Tapi sekarang aku lebih tenang, terimakasih sudah membantuku,” jawab Vanya tersenyum.
“Istirahatlah! Kami akan keluar,” ucap Wildan.
Terlihat wajah Vanya seketika menegang, Arga melihat perubahan itu. Vanya meremmas tangannya karena merasa takut.
“Apa kau takut, Vanya?” tanya Arga menatap Vanya.
Wildan dan Elina merasa terkejut dengan pertanyaan dari Arga. Mereka menatap Vanya yang memang terlihat takut, terdengar langkah kaki dari luar dan seketika Vanya menatap ke arah pintu dengan cemas.
“Apakah tidak ada yang bisa menemaniku di sini?” tanya Vanya lirih.
CEKLEK,
__ADS_1
Terlihat Ken dan Zee saat pintu itu terbuka. Wajah Vanya yang seketika takut pun terlihat riang karena melihat kedua kakaknya. Ken berjalan dengan langkah lebar mendekati Vanya lalu memeluknya.
“Kau tidak apa-apa sayang?” tanya Ken.
“Heem, aku sudah tidak apa-apa. Apa lagi aku melihat kau dan Kak Zee,” jawab Vanya tersenyum.
Elina menatap Zee lalu mengangguk, Zee pun membalas dengan memejamkan matanya. Wildan dan Arga memilih tuk keluar.
“Temukan Laudya, sekarang juga! Aku mau dia menjelaskan semuanya,” perintah Wildan.
Arga pun mengangguk dan beranjak pergi meninggalkan Wildan. Wildan menatap Vanya dari kejauhan, ingin sekali lelaki itu memeluknya dengan erat saat ini. Namun, Wildan pun tahu jika itu salah jika dia tetap melakukannya.
Setelah mendapat perintah dari Wildan, Arga mencoba menghubungi Messi. Karena ini keahlian dari saudara lelakinya itu untuk masalah cari mencari sesuatu.
“Aku sungguh tidak tahan setiap melihat air matamu, aku sungguh sangat marah saat mendengar kau menangis,” gumam Wildan.
“Apa lukanya semakin parah?” tanya Zee pada Laudya.
“Tidak, hanya saja lukanya terbuka kembali,” jawab Elina.
“Terimakasih sudah mengobati dan menolong Vanya,” ucap Zee seraya menggenggam tangan Elina.
“Is ok,” jawab Elina tersenyum.
----------------00000000000000-----------------
Di tempat lain Roy yang baru sampai di mansionnya pun berlari dengan cepat. Tak terlihat satu pun orang-orangnya terlihat berjaga di sana, Roy semakin panic saat melihat dua bodyguard-nya terkapar dengan luka tembak di kakinya.
“Apa yang terjadi, dimana Cecilia dan Laudya?” tanya Roy berteriak.
“Nona Cecil di bawa ke dalam dan nona Laudya berhasil di bawa pergi, Tuan muda.”
“Shitt!!” Roy berlsri ke dalam melewati lorong terlihat semua oaring-orangnya terkapar tak sadarkan diri tapi tak terlihat Cecil di sana.
“CECILIA!!!” Teriak Roy penuh amarah dan cemas dalam bersamaan.
Roy membuka setiap pintu di rumahnya tapi tidak bisa melihat Cecilia sama sekali di sana. Roy semakin cemas saat melihat gelang kaki yang selalu di pakai Cecil terdapat di ujung lorong yang menuju kolam renang.
“Gelang ini, Cecil … !!” teriak Roy berlari cepat menuruni tangga yang menuju kolam renang.
Roy mencari keberadaan Cecil, namun tidak ada siapa pun di sana. Roy terus memanggil Cecil dengan sangat keras. Roy begitu menghawatirkan wanita itu karena dia sudah seperti seorang kakak untuknya. Tanpa Roy tahu jika orang yang dia cari ada di dasar kolam renang dengan keadaan diikat dan di sumpal mulutnya.
“Roy, aku di sini. Bisakah kau mendengar aku?” batin Cecil yang sudah semakin lemah.
“Tuhan, aku harap Roy bisa hidup dengan baik. Aku harap ada seorang wanita yang bisa menyayangi dan mencintai dia sepenuh hatinya. Jika aku harus mati hari ini, aku mohon jaga dia,” batin Cecil.
Kesadarannya sudah semakin melemah, wanita itu sudah semakin lemas karena terlalu banyak air yang masuk dalam hidungnya. Cecil menutup matanya, bayangan wajah Roy terus terlihat jelas di matanya. Wanita itu tersenyum mengingat akan Roy, bahkan suara Roy masih samar-samar terdengar d telinganya.
“Selamat tinggal, Roy. Aku menyayangimu,” batin Ceciia.
Bersambung….🍂🍂🍂
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
__ADS_1
MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN 🙏🙏😊😊