Takdir Cinta

Takdir Cinta
Fakta


__ADS_3

Hari ini Adam mengajak Anisa untuk pergi ke dokter kandungan memeriksakan kandungan nya.


Di ruang tunggu, terlihat beberapa pasangan suami istri yang tengah duduk menunggu sambil sang suami Mengelus-ngelus perut istri nya yang sudah membesar.


Banyak pemandangan yang membuat Anisa dan Adam malah menjadi mati gaya.


Tiba-tiba saja wajah Anisa berubah sedih.


"Kamu kenapa?"


"Tidak apa-apa."


"Kamu ingin di perhatikan seperti ibu-ibu hamil yang lain?"


Anisa menggeleng.


"Lalu kenapa wajah mu berubah sedih begitu?"


Anisa mengusap perut nya yang mulai membesar.


"Aku hanya kasihan dengan anak ini. Sejak masih dalam kandungan pun, dia tidak pernah merasakan perhatian dari ayah nya."


"Jangan bicara seperti itu. Nanti janin nya ikut sedih mendengar kata-kata kamu."


"Tapi memang kenyataan nya seperti itu kan."


"Ya. Tapi sekarang ada aku. Aku yang akan memberikan perhatian penuh pada nya. Karena mulai saat ini, aku adalah ayah nya."


"Tapi, kak Alina belum menyetujui rencana kita. Bagaimana kalau kak Alina tetap pada pendirian nya?"


"Sudahlah. Kamu jangan terlalu memikirkan hal itu. Kemarin kamu dengar sendiri kan Alina bilang apa? Kamu tenang saja. Aku yang akan meyakinkan Alina. Secepatnya. Sebelum perut mu semakin jelas terlihat membesar."


"Terima kasih ya." Hanya itu yang bisa di ucapkan Anisa dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Nama Anisa di panggil untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


Adam langsung berdiri bermaksud membantu Anisa untuk berdiri dari duduk nya.


Tanpa sengaja ada seseorang yang sedang tergesa-gesa melewati tempat itu, tidak sengaja menyenggol Adam.


"Maaf. Saya sedang buru-buru."


"Iya. Tidak apa-apa."


Saat hendak pergi, seseorang itu melihat Anisa. Tapi untung saja Anisa tidak melihat nya. Dengan cepat dia memutar badan nya agar Anisa tidak melihat nya.


Mbak Anisa? Sedang apa dia di sini ?


Dokter kandungan???


.


.


.


"Selamat siang, saya ingin bertemu dengan Bu Alina." Ucap Niko.


"Apa sudah ada janji sebelum nya?"


"Ya. Bu Alina yang meminta saya datang."


"Maaf, dengan bapak siapa?"


"Niko."


"Baiklah. Tunggu sebentar ya pak."

__ADS_1


"Mari pak, ikut saya. Bu Alina sudah menunggu di ruangan nya."


Niko pun mengikuti karyawan tersebut yang mengantarkan nya sampai ke ruangan Alina.


"Ah, pak Niko. Mari silahkan." Sambut Alina.


"Jadi, apa yang ingin pak Niko sampaikan? Saya harap bisa mendengar info yang saya perlukan."


"Sesuai permintaan bu Alina. Saya sudah mencari tahu tentang wanita-wanita yang pernah berhubungan dengan pak Raka sebelum beliau menikah. Dan hanya ada satu wanita."


"Oh ya? Wow... saya benar-benar tidak menyangka, pria seperti mas Raka hanya memiliki hubungan dengan satu wanita saja. Ternyata suami saya tipe pria yang setia."


Alina langsung memotong penjelasan Niko saking bangga nya dia mengetahui Raka suami nya hanya berhubungan dengan satu wanita sebelum menikahi diri nya.


"Lalu apalagi?" Lanjut Alina.


"Pak Raka dan wanita itu menjalin hubungan cukup lama. Hampir dua tahun. Orang tua wanita itu dan almarhum pak Brata juga sudah mengetahui hubungan mereka. Bisa di bilang hubungan mereka sudah di tahap serius. Mereka tidak pernah mengakhiri hubungan mereka, sampai pak Raka menikah dengan Bu Alina."


"Benarkah? Itu arti nya, saya yang menjadi penyebab mereka berpisah." Alina menjadi sangat merasa bersalah.


"Saya jadi merasa bersalah. Seandainya waktu itu saya tidak langsung menerima permintaan papa Brata. Mungkin mas Raka bisa menikah dengan wanita yang di cintai nya."


"Lalu dimana wanita itu sekarang? Apa wanita itu bertempat tinggal di daerah sini juga?"


"Iya bu. Dan tadi, baru saja saya tidak sengaja bertemu dengan nya."


"Saya semakin penasaran. Siapa wanita itu?"


Niko menimbang-nimbang apakah dia juga harus mengatakan siapa wanita itu. Tapi dia sudah terlanjur menceritakan semua nya.


Niko mengatur nafas nya.


"Pak Niko... Siapa wanita itu?" Tanya Alina lagi.

__ADS_1


"Mbak Anisa!"


...*****...


__ADS_2