
...بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم...
..."Berkhusnuzan itu perlu, terlebih jika kitanya mampu. Jangan terlalu sering berburuk sangka sebab itu tidak baik untuk ke depannya."...
...°°°...
Bagas kembali acuh tak acuh, bahkan ia pun mendiamkanku sedari tadi. Memang, itu hal yang wajar dan biasa, tapi aku tak ingin hal seperti ini menjadi kebiasaannya. Kuakui aku telah keliru dan teledor sampai hampir membahayakan darah dagingku sendiri.
Tapi Alhamdulilah ia masih bisa diselamatkan walau kini aku harus bedrest total. Hanya berbaring di ranjang, dan tidak boleh banyak bergerak serta berpikir macam-macam, itu bisa memengaruhi tumbuh kembang si janin.
"Maaf, Mas," kataku penuh harap, tapi yang Bagas lakukan justru diam seribu bahasa dan melirik sinis padaku. Penyakit dinginnya kembali kumat dan naik ke permukaan. Waspadalah Btari.
"Diam dan jangan banyak bersuara!" tegasnya kala bibirku akan kembali berkoar. Menyebalkan, Bagas benar-benar pria tak berperasaan.
Ia bangkit dan berjalan menjauh hingga keluar ruangan. Aku hanya mampu menatap nanar kepergiaan lelaki itu. Bukannya dijagain, atau paling tidak, ditemani, tapi ia malah meninggalkan seperti ini. Sungguh lelaki langka di dunia. Bagas memang hanya mengkhawatirkan anak yang tengah kukandung, tidak dengan diriku ini.
Kupejamkan netra perlahan, berharap rasa kantuk akan segera datang. Bosan, tidak bisa ke mana-mana tapi di ruangan hanya seorang diri saja. Aku ingin ada seseorang yang bisa menjadi pendengar dan bersedia menjadi tempatku bercerita.
Seharusnya dua peran itu Bagas yang pegang sebab komunikasi dalam sebuah hubungan sangatlah penting. Tak pandai berkomunikasi pasti akan bubar jalan, karena itu adalah modal utama dalam menjalani biduk rumah tangga.
"Nak." Kubuka mataku dengan cepat kala mendengar ketipak langkah dengan dibarengi suara lembut ibu. Langsung saja kutarik kedua sudut bibir ini untuk tersenyum.
"Ibu," sahutku senang, beliau memberikan rengkuhan hangat dan mengecup lembut pelipisku penuh sayang.
"Ada yang sakit? Apa perlu sesuatu?" tanyanya setelah mendaratkan bokong di kursi sisi ranjang. Aku menggeleng sebagai jawaban, ada ibu di sampingku saja sudah lebih dari cukup.
__ADS_1
"Bagas ada urusan sebentar, jadi gak papa, kan kalau Ibu yang temani kamu?" seloroh beliau sembari mengelus puncak kepalaku. Senyum manis tak pernah luntur dari wajahnya, sangat berbeda sekali dengan sang putra yang jarang mengobral sunggingan.
Aku mengangguk pelan lantas berujar, "Emangnya Mas Bagas ke mana?"
"Bertemu Bianca, tadi dia menghubungi Bagas tentang pengobatan yang harus kembali Bagas jalani," terang ibu membuat dadaku seketika berdenyut ngilu.
Aku tak suka jika Bagas terlalu banyak bergaul dan terlibat komunikasi intens dengan psikiaternya tersebut. Selalu ada kecemasan yang kurasa, dan aku tak ingin hal yang kutakutkan itu terjadi.
"Kenapa harus, Bianca? Emangnya Ibu gak bisa mencarikan psikiater lain, cowok misalnya," kataku yang malah ibu sambut kekehan pelan.
"Jangan cemburu begitu, Bagas gak mungkin selingkuh sama Bianca, lagi pula Bianca anak yang baik, Ibu sudah cukup lama mengenalnya," sahut ibu memberikan pemahaman.
"Mendiang ibunya Bianca sudah sejak lama menjadi psikiater Bagas, dan pada saat ibunya meninggal dunia Biancalah yang menggantikan. Sebab sedikit banyak Bianca tahu bagaimana karakter Bagas kalau penyakitnya kumat. Jadi, Ibu harap kamu gak punya pikiran negatif sama dia, percaya sama Ibu kalau Bagas gak akan macam-macam di belakang kamu," terangnya panjang kali lebar.
Kuberikan anggukan singkat dan senyum tipis. Hanya itu yang bisa kulakukan, untuk menyela ataupun menyangkal aku tak memiliki kuasa lebih. Akan lebih baik jika menurut saja.
"Kecapekan, Bu, tadi juga pendarahan makanya sekarang harus bedrest total," jawabku jujur apa adanya.
"Memangnya kamu habis ngapain sampai kecapekan? Jangan bilang kalau Bagas minta kamu ngelakuin hal-hal yang berat-berat," cerocos ibu terlihat sedikit kesal.
Aku menggeleng lantas berujar, "Enggak, Bu, ini mah karena akunya aja yang ceroboh dan banyak tingkah. Tadi aku ajak Mas Bagas ke alun-alun, eh di sana aku malah lupa diri sampai lari-larian gak jelas. Alhasil pas sampai rumah baru kerasa deh, perut aku keram dan ada darah yang keluar."
Ibu beristigfar. "Lain kali jangan diulang lagi yah, seneng boleh tapi jangan berlebihan," nasihat beliau yang langsung kubalas anggukan mantap.
"Mas Bagas tadi beda banget, Bu, bisa ketawa lepas dan sedikit perhatian sama aku. Aneh sih, tapi aku malah seneng liat Mas Bagas kaya gitu," ucapku mulai bercerita.
__ADS_1
"Mood Bagas lagi baik itu, kalau bisa pertahankan. Tapi itu hanya bertahan beberapa jam aja, kan? Setelahnya dia berubah seperti biasa," balas ibu.
"Iya, Bu, pas mau pulang Mas Bagas ketus lagi sama aku, bahkan di rumah juga begitu. Itu emang wajar yah?" Ibu mengangguk cepat.
"Jangan heran kalau tingkah Bagas yang dingin dan ketus berubah ramah, ataupun sebaliknya. Itu memang udah bawaan diri dari penyakit Bagas, dan itu pun terjadi tanpa sebab. Bisa jadi pagi hari dia seneng banget, tapi dua jam berikutnya dia langsung down dan mau bunuh diri, terus dua jam berikutnya lagi dia sedingin batu es. Itu biasa terjadi dan tanpa sebab yang jelas tentunya," jelas ibu membuatku manggut-manggut paham.
"Kok bisa tiba-tiba berubah gitu yah, Bu?"
Ibu tersenyum tipis. " BPD, kan berpengaruh pada mood atau suasana hati seseorang. Maka tak heran kalau Bagas mengalami perubahan mood yang drastis seperti itu."
Aku berpikir keras, menelaah dan mempelajari setiap penjelasan ibu. Aku harus lebih bisa menggali banyak informasi terkait Bagas, terlebih perihal penyakitnya. Aku ingin ia segera sembuh.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan, lambat laun kamu juga pasti akan bisa memahami dan mengerti Bagas," ungkap ibu membuat anganku yang tengah berkeliaran kembali berkumpul jadi satu.
"Ibu ke sini sendiri?" tanyaku memilih untuk tak kembali membahas perihal kondisi Bagas. Kepalaku pusing memikirkan hal itu.
Beliau mengangguk. "Naik taksi, mobilnya lagi di-service Bian di bengkel," sahut ibu membuatku sejenak terdiam. Bian? Bukankah ia sudah berpamitan padaku, dan mengatakan ingin pergi jauh.
"Mas Bian masih tinggal sama Ibu?" Beliau tersenyum samar lantas berucap, "Masih, besok atau lusa dia mau pergi ke luar kota. Ibu yang minta, supaya kamu dan Bagas bisa hidup bahagia tanpa dibayang-bayangi Bian."
"Mas Bagas tahu soal ini?" kataku. Bagas begitu menyayangi Bian, bahkan ia pun dengan tega akan menyerahkanku pada adiknya tersebut.
"Gak, Ibu sengaja merahasiakan kepergian Bian, Ibu takut kondisinya kembali drop," terang beliau dengan diiringi senyum getir.
"Bismilah aja yah, Bu, semoga ini yang terbaik untuk kita semua," sahutku yang lantas ibu aminkan.
__ADS_1
Kuharap dengan kepergiannya Bian, keinginan Bagas untuk menceraikanku pun ikut pudar dan hilang. Sebab aku ingin jika calon anakku lahir, Bagas akan tetap berstatus sebagai suamiku, ayah dari janin yang kukandung kini.