
Ana yang mendapat kabar jika pertemuan Rafli dan Eric cukup lancar pun kembali tersenyum lega...
Rafli datang dengan wajah yang begitu kusut , baru pertama kali ia merasa orang lain bisa menekannya kecuali mertuanya dan istrinya , orang tuanya saja tidak bisa menekannya untuk menurut .
Ana menghidangkan makanan siang untuk sang suami meski jam nya telah terlewat dan tak lupa Ana juga menyajikannya untuk Jimmy meski Rafli menatapnya tak suka . Rahma pergi dengan mama Lia karena ada keperluan untuk ajang fashion mereka. Ana duduk manis di sampingnya seraya menikmati buah apel hijau kesukaannya , rasa manis yang sedikit asam begitu cocok di lidahnya.
'' Mas , kau tidak ikut ke kantor " tanya Ana karena Jimmy pergi sendiri tanpa suaminya.
'' Bukankah yang ingin kau tanyakan hasil pertemuan suami mu ini dan mantan pacarmu itu " ucap Rafli tak suka .
'' Iya " ucap Ana kesal membuat Rafli tanpa malu segera mencium bibir Ana cukup kasar di ruang makan keluarga. Para pelayan yang melihat pun segera menunduk sementara Ana mendelik kaget seperti saat ciuman pertama mereka . Cukup lama dan alhasil volume bibir indah milik istrinya bertambah. Ana segera beranjak dari duduknya dan meninggalkan suaminya dengan beribu kekesalan yang masih terasa , akibat bertemu dengan Eric moodnya begitu buruk.
'' Berani sekali menjawab nya dengan jawaban iya " umpat Rafli dan segera pergi ke kamarnya untuk berendam agar kekesalannya segera menghilang .
.
.
.
Dua pria paruh baya sedang tertawa senang dengan pembicaraan yang mereka bahas , kali ini mereka membahas para istri mereka sendiri . Tawa itu terhenti saat seorang Eric masuk keruangan itu tanpa mengetuk pintu lebih dahulu. Teguh menatap anaknya tajam dan Abdi menatapnya dengan pandangan sulit di artikan .
'' Maaf pa , Om " ucap Eric tidak enak hati .
'' Tidak masalah kok Ric " jawab Abdi ramah .
'' Ternyata lukanya lebih parah dari pada Rafli " batin Abdi setelah mengamati luka Eric.
" Mau apa ke sini " tanya Teguh.
" Ini tentang Ericana dan perjodohan itu pa " ucap Eric.
" Nama cucuku Rayana bukan Ericana dan kalian harus terbiasa memanggilnya itu " sahut Abdi membuat mereka mengangguk pasrah .
" Maaf om " ucap Eric tersenyum kikuk.
" Lalu apa keputusan anakku " tanya Abdi to the point. Ia begitu penasaran , tebakannya seakan berbanding terbalik saat melihat reaksi Eric yang begitu senang .
'' Tentu saja anak om setuju '' ujar Eric berterus terang .
'' Kau serius '' ucap Abdi dan Teguh bersamaan .
'' Bahkan kalian begitu kompak '' ucap Eric tertawa.
'' Ku harap jika aku berbesan dengan putra om nanti , kami akan kompak seperti kalian '' ujar Eric membuat tawa Abdi pecah .
'' Kau terlalu percaya diri nak '' ucap Teguh menimpali .
'' Apa istri mas Abdi tau tentang hal ini " tanya Teguh menghentikan tawa Abdi seketika.
'' Tidak tau , kalau bisa tidak perlu tau . Bisa ruwet urusannya " ucap Abdi , mereka tidak tau aja jika Lia mengamuk betapa mengerikannya . Anak dan mama sama saja.
'' Tapi om penasaran , bagaimana Rafli bisa setuju dengan perjodohan anak kalian sedangkan Ana ikut tak setuju pagi tadi " tanya Abdi membuat Eric terkejut kaget namun segera mungkin ia membuat dirinya tenang .
" Tidak mungkin aku mengatakan semuanya , bagaimanapun aku tidak mau rumah tangga Ana hancur berantakan , karena keadaanya kini sudah berbeda " batin Eric
" Kenapa diam " sahut Teguh .
" Aku hanya mengancamnya sedikit om " ucap Eric tersenyum kikuk.
" Mengancam seperti apa maksudmu " tanya Abdi .
__ADS_1
" Itu rahasia , hanya aku dan Rafli yang tau " ucap Eric tersenyum kecut , jelas terlihat dua wajah pria paruh baya di hadapannya tak percaya atas apa ucapannya . Biarlah , membuat mereka penasaran jauh lebih baik , pikir Eric .
" Baiklah . Om akan mencaritahunya sendiri " ucap Abdi .
" Silahkan om , tak masalah " ujar Eric , meski hatinya ketar ketir jika semua alasannya terungkap .
" Yang terpenting kan niat baikku agar kedua keluarga ini cinta damai om . Aku tak ingin mempunyai musuh bebuyutan apalagi seperti putra om " ucap Eric .
" Ya...ya.... " ucap Abdi .
" Tapi jika kalian ingin menemui Rayana jangan asal main kerumah , hubungi aku ataupun Ana . Tanyakan , apakah istriku ada dirumah . Jika ada , di pastikan kalian tidak akan bisa bertemu Rayanya lagi selamanya " ucap Abdi dan mereka mengangguk mengerti .
" Kapan calon cucu mantuku akan lahir " tanya Abdi .
" Satu bulan lagi om " ucap Eric tersenyum .
'' Maafkan om ya Ric , atas semua yang terjadi pada mu dan juga berdampak pada keluarga Permana . Om selama ini merasa cukup bersalah karena campur tangan om membuat hidupmu dulu sempat menderita. Om menjadi ayah cukup egois saat itu , hanya memikirkan kebahagian Rafli untuk bersama Ana dan membuat hubunganmu bersama Ana berakhir. Tapi om kini sudah bahagia , melihatmu menemukan kebahagian yang sempurna " ucap Abdi matanya kini berkaca-kaca , bebannya terasa terangkat saat mengungkapkan isi hatinya.
'' Om tidak bersalah . Semua sudah ku terima dengan ikhlas , memang cukup sulit saat itu . Bahkan saat Ana koma , aku sempat berfikir untuk menculiknya dan membawanya pergi . Namun tanpa di duga Vini masuk kedalam hidupku dan lama kelamaan aku mencoba membuka hati saat ia menjadi istriku " ucap Eric berjalan dan memeluk Abdi Wijaya .
'' Kau memang pantas mendapat wanita yang lebih baik dari Ana " ucap Abdi .
Tanpa sadar mata Teguh juga ikut berkaca-kaca , ia dan istrinya juga sempat menjadi penghalang dalam hubungan Eric dan Ana saat itu , padahal Ana mau berjuang dan bertahan namun sebagai kepala keluarga membuat Teguh lebih mementingkan keselamatan anggota keluarganya yang terpaksa mengorbankan perasaan putranya .
'' Papa juga bahagia melihatmu bahagia sekarang ini nak " batin Teguh.
.
.
.
tok...tok...tok...
Ana berjalan kearah ketukan pintu dan membukanya , terlihat seorang pelayan membawakan dua cangkir yang berisikan teh hijau .
" Masuk bi , letakkan satu dekat suamiku " ujar Ana .
" Apa maksudmu Ana , kenapa harus orang lain yang membuatkan nya untukku " batin Rafli menahan emosi yang sedari tadi ia tahan untuk istrinya .
" Baik nona " ucap pelayan sedikit gugup .
" Tenang suamiku tak mengigit kok " ucap Ana tersenyum kecut.
" Awas kau sayang " ucap Rafli membatin.
" Ini teh nya tuan " ucap pelayan sopan dan Rafli tak berpaling dari tab miliknya .
Ana melirik sedikit suaminya namun tak berniat sedikitpun untuk menegurnya . Hatinya cukup sakit saat suaminya sendiri meragukan perasaanya , selama belasan tahun menemani namun semua tak ada artinya . Suaminya masih meragukan cintanya dan rasa cemburu Rafli begitu berlebihan. Ana juga tak ingin pernah mencintai pria lain selain suaminya namun hati tak bisa mengetahui kepada siapa dan kapan waktunya cinta itu akan datang .
Cairan bening mengalir dari sudut mata indah milik Ana , saat teringat tadi siang tangan suaminya menggantung di udara hanya karena ia menanyakan apa hasil pertemuan suaminya dan Eric . Ana begitu syok saat Rafli hampir menampar nya karena selama ini meski Rafli egois suaminya tak pernah bertindak kasar padanya .
" Mas , lusa aku akan kembali ke Berlin " ucap Ana tanpa menatap suaminya. Rafli mengalihkan tatapannya pada istrinya .
" Baiklah , lusa kita semua berangkat " ujar Rafli dan diangguki Ana.
Ana beranjak menuju kamar mandi untuk sekedar menggosok gigi . Sedang asyik kumur-kumur Ana di kagetkan dengan penampakan suaminya di cermin. Rafli hanya diam menatapnya.
" Mas " ucap Ana kaget saat suaminya mengungkung tubuhnya di balik dinding kamar mandi ...
" Kenapa kau mendiamkan mas " tanya Rafli lirih ...
__ADS_1
" A...aku hanya tidak ingin kita ri...ribut mas " ucap Ana lirih .
" Maaf jika mas tadi siang hampir menamparmu " ucap Rafli lirih terlihat matanya berkaca-kaca .
" Tidak apa-apa . Aku akan mencoba untuk terbiasa mas " ucap Ana bersamaan lelehan bening mengalir di pipi nya .
" Tidak , tidak akan . Mas tidak akan pernah menamparmu ataupun memukulmu . Maafkan mas " ucap Rafli sendu dan menghapus air mata Ana , meski Ana memalingkan wajahnya namun Rafli mengetahui jelas jika istrinya tengah menangis.
" Aku lelah mas . Aku mau tidur " ucap Ana namun Rafli tak bergeming .
" Maafkan mas " ucap Rafli dengan wajah mendekati wajah Ana...
" Sudah ku maafkan mas dan sekarang aku mengantuk " ucap Ana.
" Kau berbohong sayang , ini baru jam berapa . Biasanya tidur lewat dari jam satu malam " ucap Rafli , tanpa sadar jika Ana tidur semalam itu bahkan lebih malam karena perbuatannya .
" Mas sudahlah , aku mau tidur '' ucap Ana , kini ia sangat badmood melayani suaminya untuk malam ini , anggap saja ia izin untuk malam ini .
'' Baiklah '' ucap Rafli pasrah , ia harus mengendalikan hasratnya untuk malam ini .
Rafli menggendong tubuh Ana menuju ranjang mereka , meski tak melakukan olahraga malam mereka Rafli tetap menidurkan istrinya bagaikan barang antik yang harus hati-hati. Ana yang memaksakan matanya untuk terpejam akhirnya beneran tidur .
Rafli menghela nafas kasar , atas semua yang terjadi di Milan dan sesaat kemudian ia pun ikut terlalap ke alam mimpi bersama istrinya .
.
.
.
Ana memberitahu Vini jika besok ia akan berangkat ke Berlin membuat Vini bergegas secepatnya ketaman yang telah mereka sepakati. Rasa ingin bertemu Rayana membuat Eric terpaksa harus membatalkan meeting pentingnya dan juga atas desakan istrinya untuk ikut menemaninya. Rafli sendiri memberikan izin kepada Ana dan Rayana untuk pergi ke taman bermain sebentar tentu saja dengan pengawalan jarak jauh .
" Mmmm....sayang , mas ikut saja . Biar mas antar " ucap Rafli menawarkan diri .
" Tidak menutup kemungkinan si B*engsek itu ikut " batin Rafli .
" Baiklah mas " ucap Ana .
" Oh ya mas , bagaimana kita ajak semua anak-anak " usul Ana dan di setujui Rafli begitu saja.....
Mobil Ana dan Rafli pun berhenti di sebuah taman yang terlihat sangat begitu asri , di ikuti juga oleh mobil yang lain di belakangnya yang berisikan anak-anak serta beberapa baby sitter yang bekerja pada Rahma , Ana sendiri hanya mengandalkan bi Jum untuk mengasuh anaknya , Rafli tak bisa mempercayai orang luar begitu saja.
'' Mana Vini ya " gumam Ana dan mengambil benda pipihnya .
" Ya Vin . Oh sudah sampai ya . Baiklah aku kedalam sekalian ngajak anak-anak main sekalian ayahnya " ucap Ana membuat Vini yang berada di ujung sana sedikit gugup mengatakan " Iya " .
Rafli meriah benda pipih miliknya dan menelpon bi Jum yang bersama anak-anak.
" Suruh anak-anak turun lebih dahulu bi dan perintahkan bodyguard untuk berjaga - jaga '' ucap Rafli lalu sepihak memutuskan panggilan telepon . Bi Jum sudah terbiasa akan nada bicara tuannya itu.
'' Kenapa di kunci mas '' protes Ana saat pintu mobil yang di tumpangi tak mau terbuka.
" Mas tidak ingin bermain di luar , mas ingin bermain dengan mu " ucap Rafli dan Ana tak mengerti akan ucapan suaminya .
'' Mas , aku hanya sedikit bergurau saja tadi dengan Vini " ucap Ana gugup saat tubuh suaminya mulai condong kearahnya .
'' Mas mau apa " tanya Ana .
'' Ada uban di kepalamu " ucap Rafli membuat Ana membelalakkan matanya , terkejut .
Jangan lupa like dan komentarnya .
__ADS_1