
Bagaimana aku bisa jatuh cinta padamu?
Bagaimana bisa begitu sakit seperti ini?
Aku tak pernah menginginkan orang yang sejahat ini
Bisakah aku menyentuhmu jika aku mengatakan kalau aku mencintaimu ribuan kali?
Bisakah kau tahu hatiku jika aku menangis dan mengemis dengan percuma?
Haruskah aku mencoba membenci nama itu ribuan kali?
Haruskah aku menghitung berapa banyak rasa sakit yang rasakan
Cintaku telah bertumbuh terlalu dalam
Karena kau bukanlah aku, kau takkan merasakan hal yang sama seperti yang ku rasakan
Ya, akulah yang lebih menyukaimu
Bahkan jika hatiku terluka 9 kali tak apa-apa jika aku bisa tersenyum walau sekali
Karena bersamamu adalah kebahagiaanku
Meski kau terlihat tanpa rasa ku tak pernah menganggapnya serius
Aku melakukan semua yang kau katakan padaku, apapun itu
Bahkan jika aku menunggu selama seribu tahun bukan masalah selagi aku bisa melihatmu
Satu hari, satu bulan, satu tahun
Meskipun aku tahu kau tidak akan datang ku tak akan berpaling darimu
Hingga aku tertidur menunggumu menunggumu.
°Lagu by_Younha.
Sebulan telah berlalu, Vanya terus menjalani hidupnya dengan damai. Sedangkan setiap detik, menit, jam, berlalu membuat dirinya semakin memikirkan Wil. Perasaan semakin begitu memuncak, gadis itu semakin mencintai lelaki itu. Rasanya begitu sakit saat dia mencintai lelaki lain tapi dia juga sadar keadaannya yang sekarang.
Vanya masih tak tahu jika Wiliem lah yang telah merebut mahkotanya. Yang dia tahu, jika dia sudah tak suci lagi. Sampai rasa cintanya pada Wil pun seakan sebuah dosa yang sangat besar.
"Kenapa, kenapa rasa ini semakin lama sakit dalam. Kenapa rasa ini datang terlambat? Disaat dulu dia menyatakan perasaannya, dengan bodohnya aku menolak. Dan kini, semuanya berbalik padaku, aku sangat mencintai dirinya," gumam Vanya.
Hidup Vanya terus berpindah karena menghilangkan jejaknya. Sungguh, Vanya tak ingin bertemu dengan siapapun. Dia hanya ingin hidup sendiri dengan tenang. Tapi, dia juga tak bisa membohongi hatinya yang begitu merindukan Wil.
Vanya terus menangis jika mengingat, Wil. Rasanya ingin sekali, dia memeluk tubuh tegap itu merasakan dekapan hangatnya.
"Tidak, An. Kau harus sadar akan semua itu. Dia mungkin saja sudah bersama dengan Erika. Jangan berharap pada sesuatu yang semu, ingat sekarang kau tak lagi sendiri," batin Vanya.
Tidak, Vanya memang tak lagi sendiri. Dia berteman dengan seseorang yang sangat mencintai dirinya. Teman kampusnya uang begitu peduli begitu menyukai dirinya. Dan hanya dialah yang mengetahui seperti apa keadaan Vanya yang sesungguhnya.
__ADS_1
"Anya!!" teriak Roy dari kejauhan.
Vanya hanya menengok lalu tersenyum, rambut pirangnya kini telah pudar dan menjadi hitam seluruhnya. Angin yang menerpanya membuat rambut panjang nan hitam itu menari-nari disana.
"Jangan terlalu lama di dekat pantai! Kau akan sakit," ucap Roy.
"Sebentar lagi, aku ingin melihat sunset," balas Vanya.
Roy melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Vanya. Tak ada penolakan dari Vanya, hanya ada senyuman di wajah cantiknya.
"Inilah kau yang sesungguhnya, dengan segala ke aslian dirimu yang begitu asia," batin Roy.
Rambut dan mata Vanya memang hitam dan bermata coklat. Hanya karena dulu Vanya selalu di bully menjadikannya mewarnai rambut dan selalu memaki lensa kontak berwarna biru.
Senja sore itu begitu indah, apalagi di temani oleh deburan ombak yang sangat di sukai oleh Vanya. Senyuman di wajahnya membuat Roy begitu tenang.
Lelaki itu memang sudah menyukai Vanya sejak dulu, akan tetapi selalu di balas dengan jawaban tidak oleh Vanya. Dan saat kembali dari liburan, Roy begitu terkejut saat Vanya mengatakan semua yang telah terjadi padanya. Tapi, tetap tak bisa menutupi perasaannya pada Vanya.
"Ini sudah sebulan berlalu, apakah kau tak ingin mengetahuinya?" tanya Roy.
"Roy, kau tahu. Setiap pagi aku membuka mataku disitu seakan ajal ku datang. Dengan penuh keringat dan jantung yang berdetak kencang. Aku selalu memeriksanya, dan hasilnya tetap sama. Dan saat melihat hasilnya aku akan kembali bernapas lega," jawab Vanya.
"Jika kau tak ingin kembali mundur, biarkanlah aku yang berada di sampingmu. Menemani segala ketakutanmu," ucap Roy dengan raut wajah yang serius.
"Aku akan tetap menolaknya, jangan jadikan kau sama kotornya denganku. Aku tak akan kembali mundur juga tak akan terus berjalan. Karena suatu hari nanti ada sosok malaikat kecil yang akan menghentikanku," balas Vanya.
Di keramaian kota, Wil terus mencari-cari belahan jiwanya. Setelah kepulangan dirinya dari rumah Zee. Wil langsung pergi menuju Paris mencari Vanya dan sangat berharap jika Vanya akan mengandung anaknya.
"Kemana kau pergi? Kemana lagi aku harus mencarimu? Apakah seperti ini caramu membunuhku secara perlahan. Menghilang tanpa jejak?" batin Wil.
Wajah tampan Wil kini berhiaskan jambang yang begitu lebat, begitu juga kumis yang tumbuh disana. Membuat penampilannya begitu sangat dewasa.
"Tuhan, tolong pertemukan aku dengan dirinya. Biarkan aku menebus semua dosaku padanya," ucap Wil seraya mengusap kasar wajahnya.
Ya, kesalahan yang telah Wil lakukan adalah sebuah ketidak tahuan dirinya dan Vanya. Karena sebelum, Wil berangkat. Alex dan Zee menemui manager mansion itu, disana mereka mendapatkan semua bukti dan saksi di saat malam itu. Dan benar-benar membuat Sam dan Abigail begitu murka pada putri keluarga Diago.
Wiliem yang mendengar itu semakin merasa bersalah karena ternyata malam itu hanya dirinyalah yang menikmatinya. Dan Wil semakin membenci dirinya saat memikirkan bagaimana dengan perasaan Vanya saat melihat dirinya dan Wil pagi itu.
"Maafkan aku, An. Maafkan aku yang sudah membuatmu ternoda. Membuatmu merasa di lecehkan olehku. Tapi, An. Ku mohon, kembalilah padaku," pinta Wil dengan deraian air mata.
Lelaki yang gagah berani itu seketika lemah saat mengingat akan kesalahannya yang telah melukai sosok gadis yang begitu sangat dia cintai.
Vanya tinggal dengan Roy di rumahnya yang memang terletak jauh dari keramaian kota. Rumah sederhana itu terletak dekat pantai, yang tentunya Wil akan susah menemukannya.
"Istirahatlah! Besok aku harus kembali ke kota beberapa hari, apa kau tak apa sendirian disini?" tanya Roy.
"Aku sudah terbiasa hidup sendirian. Apa yang kau khawatirkan?" tanya Vanya kembali.
Roy hanya tersenyum seraya mengisi lembut kepala Vanya. Vanya begitu nyaman bersama dengan Roy karena kebaikannya, Vanya merasa sedikit terlepas dari semua bebannya.
"Terimakasih, sudah selalu ada bersamaku selama ini," ucap Vanya.
__ADS_1
"Kau tahu, seharusnya kau membayarnya. Karena, sejak pertama kali kau menginjakkan kaki di Paris. Akulah penolongmu," balas Roy.
"Membayarmu? Sepertinya, aku tak akan pernah bisa. Tapi, juga tak bisa memberikan sesuatu yang sangat kau inginkan," ucap Vanya lirih.
Roy mengangkat dagu Vanya, lalu tersenyum melihat Vanya. Mencium kening Vanya begitu lama.
"Tak apa jika rasaku tak terbalas, asalkan aku bisa terus mihatmu sudah cukup bagiku," ucap Roy.
"Menyukai dirimu adalah kebahagian tersendiri tuk diriku, melihat senyummu itu adalah obat yang sangat mujarab bagiku," sambung Roy.
Vanya menangis mendengar ucapan dari Roy, membuat dirinya merasa begitu sangat kejam pada lelaki yang selalu ada bersamanya ini. Vanya memeluk tubuh Roy begitu erat.
"Jangan lagi mencintai diriku! Kau berhak bahagia, kau pantas bahagia tanpa dengan diriku, Roy. Rasa cinta dan sayangmu yang begitu tulus bagaikan racun yang perlahan membuat hatiku mati," isak Vanya.
Hati Roy seakan patah menjadi dua, rasanya begitu sakit saat seorang yang sangat kau cintai dan sayangi mengatakan jika perasaan dirimu malah membuatnya terluka. Air mata, Roy mengalir begitu saja menandakan rasa sakit itu sudah tak bisa dia tahan lagi.
"An, maafkan aku yang sudah melukai dirimu. Tapi, maafkan aku yang tak bisa melepaskan perasaan ku padamu. Perasaan ku adalah milikku, ini adalah hakku tuk mencintai dirimu atau tidak," ucap Roy seraya melepaskan pelukannya dan berbalik pergi.
"Maafkan aku, maafkan aku yang selalu membuat dirimu sakit. Hanya dengan cara itulah, kau bisa melupakan diriku dan membuat kau membenci diriku, Roy," ucap Vanya dengan isak tangisnya.
Roy yang bersembunyi di balik pintu pun mendengar semua ucapan Vanya. Roy begitu sedih mendengarkan semua itu.
"Apakah aku begitu menyedihkannya? Sampai kau berpura seperti itu, kau mau membuatku membenci dirimu, itu tak akan mudah, An. Karena mencintaimu adalah takdirku dari pertama aku melihatmu," lirih Roy lalu beranjak pergi.
****************************
Di suatu tempat di keramaian kota, Wil terus berjalan lalu kembali menaiki mobilnya hanya tuk mencari Vanya. Anak buah Alex pun sudah menyebar tuk mencari Vanya. Tapi, hasilnya tetap nihil.
Di suatu kafe, Wil duduk sendiri disana terlihat wajahnya begitu lelah. Di tambah lagi cuacanya memang sedang panas. Sekita dia ingin memakan es krim rasa stobery membuat air liur nya penuh di dalam mulutnya.
"Kenapa dengan diriku? Hanya dengan memikirkan es krim rasa stobery saja membuat air liur ku hampir keluar," batin Wil.
Namun akhirnya dia memasan dua cup besar es krim dengan rasa stobery dengan banyak buah dan saus stoberynya. Dan satu lagi rasa kesukaannya yaitu vanila tanpa toping.
Saat pesanannya datang, Wil begitu senang dan berbinar saat melihat es krim berwarna pink itu dan memakannya sampai habis. Sedangkan es krim vanila dia biarkan meleleh begitu saja.
"Ternyata rasanya enak juga, kenapa aku baru menyukai rasa stobery sekarang? Jika rasanya begitu enak aku akan menyukainya sejak dulu," gumam Wil.
Wiliem sangat tak menyukai stobery karena dia merasa jijik dengan biji yang terdapat pada stobery. Akan tetapi hari ini ada yang berbeda karena dia begitu lahap memakan buah tersebut.
Roy berpamitan pada Vanya, dan memintanya berhati-hatinya. Vanya mengangguk ia dan juga memesan beberapa makanan yang sangat dia inginkan. Dengan senang hati, Roy mengiyakan keinginan dari Vanya.
"Cepat kembali, dan jangan lupa semua pesananku. Apalagi semua makanan yang terbuat dari mie dan daging," ucap Vanya.
"Baiklah, Nona. Aku mengingat akan semua itu, jaga dirimu baik-baik. Ingat, aku hanya pergi selama tiga hari," balas Roy.
"Ya, aku tahu," ucap Vanya.
Roy pun masuk ke dalam mobilnya dan melesat begitu cepat sampai tak terlihat di balik tikungan itu.
Vanya yang sedang duduk di teras dengan melihat ombak pun merasakan ada sesuatu yang akan keluar dari mulutnya, dan benar saja Vanya memuntahkan semua isi dalam perutnya sampai terakhir hanya cairan kuning saja yang keluar.
__ADS_1
"Astaga, tubuhku begitu lemas. Ada apa denganku? Kenapa harus di saat aku sendirian, kepalaku sangat pusing," ucap Vanya lirih.
Saat mencoba berdiri, semuanya terlihat berputar dan tiba-tiba menggelap. Setelah itu hanya ada suara benda terjatuh di lantai.