
Ting tong....
'' Siapa sich , berisik " gerutu Rafli mendengar suara bel beruntun .
'' Biar aku saja mas '' ketus Ana ...
'' Oh tidak..... '' teriak Ana histeris
(Bahasa Indonesia atau Inggris langsung aja ya , saya gak tau bahasa Korea dan pula susah jika mau translate ).
" Good night , beautiful " sapa Lee min ho ramah dengan dua buah kado di tangannya yang sengaja ia persembahkan untuk wanita hamil di depannya . Lee min ho mengetahui dengan detail siapa pengemar beratnya , tentu saja ia tahu langsung dari Abdi Wijaya , Abdi Wijaya juga menceritakan anaknya pria yang begitu pencemburu namun Lee min ho tidak tau level cemburu Rafli telah berada di tingkat teratas dan terakhir.
" Good night come back handsome man " ucap Ana tersipu malu sementara Rafli memegang jantungnya seakan tak percaya Lee min ho mendatangi hotel tempatnya menginap bukan menunggu di tempat yang telah di sediakan.
" Come on please come in " ucap Ana gugup.
" Dia begitu tampan saat menatapnya dengan nyata .. ah meleleh adek bang "gumam Ana dan tersenyum malu.
" Sorry , thank you. But we better go to dinner soon " ucap Lee lembut , ia menatap hawa cemburu dari diri pria di belakang wanita hamil itu.
( Maaf , terima kasih . Tapi sebaiknya kita
segera pergi makan malam ) .
" This is for you " imbuhnya
( Ini untukmu ).
" Thank you " ucap Ana dengan senyum sempurnanya membuat Lee min ho sedikit terpana.
" Ehmmm " deheman Rafli menyadarkan Ana agar ingat suaminya.
Damai bos , itulah kira-kira melihat pria yang super cemburu itu , ia pun pernah merasakan cemburu itu bagaimana rasanya .
" Cih sok tampan , lihatlah hingga kini kau belum menikah " umpat Rafli karena kesalnya.
Mereka berjalan di kelilingi oleh para pengawal menuju tempat tertinggi hotel tersebut ...
Ingin rasanya Ana merangkul lengan aktor kebanggaannya itu namun ia mengerti jika singa di belakangnya siap menerkam pria di sampingnya.
" Ternyata ketampanannya begitu sempurna , kenapa gak dari dulu aja aku ngidam begini. Besok jika hamil aku ingin ketemu Imran Abbas aja dech , soalnya suamiku hanya replikanya aja " batin Ana.
Ana tersenyum melihat meja yang cukup romantis meski sederhana berhias bunga mawar di sekitarnya .
Rafli geram bukan main , karena sebelumnya ia sempat meminta anak buah papanya untuk menyiapkan bunga bangkai besar sebagai hiasannya .
" Ya Allah , buatlah suami yang terzalimi ini untuk bersabar " gumam Rafli namun Ana yang mendengarnya menatapnya tajam dan Rafli membuang wajahnya.
" Ayo " ucap Lee min ho mempersilahkan Ana duduk setelah sebelumnya ia menggeser kursi untuk Ana , betapa senangnya hati Ana , ingin sekali Ana menciumnya dan menyimpan Lee min ho dirumahnya. Sementara Rafli menggerutu kesal menahan cemburunya karena pria lain yang tak lain Lee min ho memperlakukan istrinya begitu romantis. Rafli memilih berada diruang sebelahnya enggan melihat dua makhluk yang menyebalkan itu.
Sementara di kota J sebuah keluarga besar berkumpul menyaksikan sebuah pertunjukan yang membaut mereka tertawa hingga terpingkal-pingkal melihat Rafli yang cemburu namun tak bisa apa-apa karena Lee min ho juga membawa pengawal super ketat dan jika ia nekat bukan hanya nyawanya yang akan melayang namun juga nyawa istri dan anaknya .
Setelah obrolan cukup ringan antara Lee min ho dan juga Ana , yang tentu Ana membutuhkan seorang translate bahasa Korea yang telah di siapkan oleh Abdi Wiajaya . Lee min ho merasa tersanjung mendengar pengakuan fans di depannya ini dan Ana pipinya memerah saat Lee min ho ikut memujinya kini hati Ana serasa berada di taman bunga yang di kelilingi kupu-kupu.
" Waw nasi goreng " ucap Lee min ho berbinar bahagia.
" Ini anda yang membuatnya nona " tanya Lee min ho.
" Resep dari saya namun yang membuatnya para wanita perkasa itu " ucap Ana menunjuk enam bodyguard berparas cantik dengan body aderay itu .
" Ayo cicipi tuan " ucap Ana dan Lee min ho dengan senang hati segera memasukkan sesendok nasi goreng kedalam mulutnya. Min ho berhenti sejenak saat mengunyahnya membuat Ana gugup ia takut mengecewakan.
" Ini begitu lezat , enak sekali " ucap Min ho dan membuat Ana serta bodyguardnya tersenyum lega.
" Apa ini rendang " tanya Lee min ho saat Ana menambahkan nasi goreng kedalam piring Lee min ho.
" Iya ini rendang daging sapi , mau saya ambilkan , saya juga loh ya yang memberi resep dan mereka yang memasaknya " tutur Ana.
" Mau , dua ya " ucap Lee min ho memberikan senyum manisnya untuk Ana. Rafli yang melihatnya tak tahan dengan cemburunya berniat keluar .
" Brengsek " umpatnya saat ia menyadari jika dirinya di kunci dari luar .
Lee min Bu ho terus memuji Ana karena masakan yang ia makan begitu sesuai dengan selera lidahnya .
Lee min ho menawarkan Ana untuk berdansa namun Ana menolaknya dengan alasan perut besarnya meski alasan sesungguhnya ada hati yang harus ia jaga .
.
Lee min ho membawakan sebuket bunga yang ia pilih sendiri untuk di berikan kepada wanita di hadapannya ini , ia sengaja memberikannya saat ini bukan saat pertama kali ia datang tadi.
" Untuk mu , untuk wanita cantik dan ramah sepertimu , serta wanita yang pintar memasak , anda nyaris sempurna nona " puji Lee min ho jujur...
" Terima kasih " ucap Ana tersenyum malu .
__ADS_1
" Ini untuk anda tuan , batik ini pasti cocok untuk anda kenakan " ucap Ana menyerahkan batik untuk Lee min ho.
" Wah , ini bagus dan ukurannya pas di tubuhku " ucap Lee , ia segera mengetesnya .
Obrolan singkat terus terjadi Ana bertanya langsung dengan Lee min ho hingga ia masih orok pun Ana tanyakan. Betapa cerewetnya Ana , hingga Lee min ho pusing tujuh keliling di buatnya . Sementara Rafli telah menghancurkan isi di ruang sebelahnya dan amarahnya surut seketika saat Gunawan meneleponnya mengingatkan jangan melampiaskannya kepada Ana , dengan alasan yang mampuni membuat Rafli menahan dengan kuat amarah dan cemburunya.
Setelah Lee min ho dan orang-orangnya di pastikan keluar dari hotel barulah pintu ruangan Rafli di buka.
Bugghh...
'' Brengsek kau , beraninya mengunciku '' ucap Rafli kepada pria yang membukakan pintu.
'' Ampuni saya tuan muda , itu perintah tuan Abdi '' jawabnya jujur.
Rafli ingin melayangkan pukulan pada bodyguard pria yang berjajar rapi namun dering ponselnya mengganggu , Rafli mencebikkan bibirnya saat mengetahui siapa yang meneleponnya dan enggan untuk mengangkatnya .
'' Mas '' ucap Ana segera menghentikan tangan Rafli yang ingin memukul wajah bodyguard di depannya saat ini .
'' Ikut mas " ucap Rafli menatap Ana tajam dan Ana mengikuti langkah Rafli seraya meremas gaun yang ia kenakan.
Ceklek
Brakkk
'' Mas " ucap Ana gugup melihat Rafli mengepalkan tangannya seraya menahan amarah...
'' Kemarilah " ucap Rafli melunak namun Ana hanya menatapnya.
'' Kemarilah Ana , mas tidak akan menyakiti kalian '' imbuhnya dan Ana berjalan penuh keraguan.
'' Maafin aku mas , jika ngidam kali ini menyakitimu " ucap Ana menangis dalam pelukan Rafli.
'' Hei . Mas baik-baik saja '' ucap Rafli lirih.
'' Kau bohong mas , hatimu tidak mungkin baik-baik saja '' jawab Ana.
'' Jangan cengeng lagi , nanti jagoan kita ikut menangis '' ucap Rafli dan benar tangisan Ana terhenti , kelemahan seorang ibu seperti Ana adalah anaknya.
'' Apa mas tidak marah padaku " tanya Ana menatap Rafli dalam.
'' Tidak sayang ''jawab Rafli .
" Hatiku cemburu Ana dan perasaanku sangat sakit saat melihat orang lain memperlakukanmu dengan lembut dan hati ku terluka saat melihatmu tersenyum untuk pria lain " batin Rafli .
Kecupan demi kecupan Rafli berikan untuk istrinya membuat Ana mengeluarkan kata manjanya dan Rafli tentu saja melanjutkan aksinya . Kamar yang tadi penuh amarah dan kesedihan kini menjadi kamar dimana sepasang suami-istri memadu kasih , setiap sentuhan Rafli membuat Ana terbang melayang menuju nirwana , begitu juga yang Rafli rasakan saat jemari lentik Ana menyentuh tubuhnya apalagi saat menyentuh benda keramatnya membuatnya mengerang panjang .
" Sekarang ya sayang " ucap Rafli dengan nafas beratnya yang menerpa kulit mulus leher jenjang Ana dan Ana mengangguk tanda telah mengizinkan karena ia juga menginginkannya
" Aku belum ngantuk mas dan tubuhku rasanya lengket" jawab Ana.
" Tetaplah disini , mas tidak mengizinkanmu mandi hampir tengah malam begini " seloroh Rafli dan memaksa Ana untuk duduk di sofa sementara Rafli segera menyediakan air hangat untuk sekedar mengelap tujuh istrinya . Rafli mengelap tubuh polos Ana dengan menahan hasrat yang selalu saja bangkit sementara Ana yang melihatnya menatapnya malas dan pura-pura tidak tau.
Ana melihat ke arah balkon hotel mereka dan tanpa senagaja matanya mengarah sebuah menara menjulang tinggi yang terang mencuri perhatiannya.
" Kau mau kesana '' tanya Rafli yang hanya melilitkan handuk menutupi aset miliknya dan sesekali bibirnya memberi kecupan nakal.
" Iya mas , besok malam ya '' ucap Ana.
'' Iya sayang apapun untukmu , besok kita akan jalan - jalan mengelilingi kota Seoul " ucap Rafli.
" Asal kandunganmu dinyatakan baik-baik saja saat dokter Netty memeriksamu besok pagi '' imbuhnya karena dokter Netty ikut ke Seoul untuk menjaga kesehatan Ana serta sekaligus jalan-jalan.
'' Mas , bagaimana keadaan Dewa , apa ia rewel '' tanya Ana yang baru teringat anaknya , ia merasa bersalah saat ini.
'' Dewa baik-baik saja . Tenanglah '' jawab Rafli mencoba membuat Ana yakin..
'' Ayo tidur , sudah malam '' ajak Rafli dan Ana mengangguk.
Kini para rombongan Rafli segera pergi mengelilingi kota Seoul menggunakan mobil mewah yang seperti hotel berjalan , mobil ini salah satu milik keluarga Wijaya . Wijaya ingin membuat menantunya merasa nyaman saat mengelilingi kota Seoul.
'' Selamat siang tuan muda dan nona '' hormat para bodyguard dan di balas senyum hangat sepasang suami istri itu .
'' Ayo sayang '' ucap Rafli dan Ana memandang takjub interior mobil yang seperti hotel mewah.
'' Jangan kaget '' ledek Rafli karena Ana diam mematung.
'' Jelas aku kaget mas , ternyata papa Abdi begitu pengertian ya '' puji Ana jujur.
'' Cih , aku lebih pengertian dan banyak berkorban untuknya , tapi dia tak pernah memujiku atau ia tak menyadarinya " batin Rafli.
" Mas bisa membelikanmu lebih mewah dari pada ini bahkan jika kau mau pabriknya sekalian " ucapnya tak terima jika Ana memuji pria lain yang adalah papanya sendiri.
" Ya ampun , kenapa kau cemburuan sekali mas . Kan emang kenyataannya " jawab Ana malas.
" Ayo kita istirahat di kamar saja , masih tiga jam menuju Coex Aquarium " ujar Rafli dan di turuti Ana .
__ADS_1
Rafli dan Ana harus menggunakan penyamaran mereka saat turun dari mobil , karena secara mendadak Rafli tidak bisa mengosongkan Coex Aquarium , apalagi tempat ini bukan di negerinya tepatnya bukan milik pribadinya . Namun hal itu membuat Ana bahagia , karena ia bosan jika terus berada disisi semua orang yang sama.
Ana pun terlihat bahagia dan ia meminta sang suami memfotonya dekat Aquarium itu dimana di dalamnya terdapat 4000 makhluk air. Setelah merasa cukup puas mereka kembali kedalam mobil untuk mengisi perut mereka.
Di dalam mobil Ana segera menelepon Dewa menanyakan kabar anak kesayangannya itu. Dewa terlihat begitu bahagia bersama kakek dan neneknya , Dewa pun bercerita semuanya kepada Ana tentang yang iya tau tanpa ada yang di tutupi.
Rafli memeluk istrinya dan ia sedang bermanja kepada Ana , Rafli tidur di pangkuan Ana dan ia mengajak ngobrol anaknya yang masih dalam kandungan , terlihat pancaran bahagia di wajah ayah dan bunda itu.
'' Mas , kira-kira aku bisa lahiran normal gak ya '' ucap Ana disela-sela keromantisan mereka.
'' Mas tidak ingin ambil resiko . Kemungkinan kau akan kembali cesar '' ucap Rafli , ada terlihat kecemasan di raut wajahnya .
'' Hey , kenapa mas menjadi cemas " ucap Ana mengecup bibir suaminya.
'' Aku tidak ingin kembali terulang lagi seperti dulu . Kau tau , jika terjadi sesuatu padamu dunia mas akan runtuh Ana " ucapnya lirih.
'' Aku pasti baik-baik saja mas. Bukankah aku hamil karena kau ingin memberi adik untuk Dewa '' ucap Ana mengingatkan.
'' Iya kau benar sayang , mas akan memberikan yang terbaik untukmu dan anak kita ''ucap Rafli lalu mencium bibir Ana , awalnya hanya kecupan ringan namun semakin lama ciuman Rafli kian menuntut lebih , namun baru saja tangannya ingin nakal suara ketukan pintu menghentikan aktivitasnya.
Tok....tok...tok....
'' Aishh , siapa lagi . Mengganggu saja '' ucap Rafli.
Ceklek . suara pintu terbuka otomatis .
" Ada apa '' tanya Rafli ketus saat melihat wajah Alexa.
'' Tuan sebentar lagi kita akan tiba di Dongdaemun '' ucap Alexa menyampaikan .
'' Ya pergilah '' ucap Rafli dan Alexa pamit undur diri..
'' Kau lelah '' tanya Rafli dengan tatapan penuh arti.
'' Ayo mas , kita bersiap karena besok pagi kita harus pulang '' ucap Ana segera berdiri dan berjalan menuju walk in closet.
'' Sayang , mas ingin kamu malam ini. Besok saja ya perginya . Kita tambah dua hari lagi '' rayu Rafli karena hasratnya masih membumbung meski Alexa datang menggangu waktu mereka sejenak.
'' Tidak mas, aku belum beli oleh-oleh dan aku ingin besok pulang . Aku merindukan Dewa mas '' ucap Ana.
'' Nanti malam saja lanjutnya saat kita selesai keliling dan membeli oleh-oleh '' imbuhnya namun Rafli mencebikkan bibirnya karena ia yakin nanti pasti Ana pulang kelelahan dan langsung tertidur.
Jalanan yang memukau membaut mata Ana takjub karena melihat jalanan yang penuh dengan bangun terang benderang yang tak pernah ia lihat di kota J.
" Bagaimana kita nambah dua hari ya disini " ucap Rafli saat ia menghampiri Ana namun Ana menggelengkan kepalanya tanda menolak.
" Ada menara Seoul dan taman Namsan yang belum kita kunjungi " imbuhnya membujuk.
" Bukannya kemarin malam kau ingin ke menara Seoul "imbuhnya pantang menyerah.
" Itu kemarin mas , namun sekarang gak " ucap Ana.
" Cepatlah siap-siap mas , kau jangan coba membujukku . Ingat anak dirumah " imbuh Ana membuat Rafli menghela nafasnya mengalah dan segera ke kamar mandi untuk bernegosiasi dengan saudara satu perjuangan itu .
Rafli yang telah menutup kamar mandi kini membukanya kembali.
" Kau tak ingin bantu mas untuk bernegosiasi " tanya Rafli .
" Negosiasi apa " tanya Ana mendekat .
" Ini " ucap Rafli memperlihatkan sesuatu.
" Aahhhhhh.... dasar suami mesum " teriak Ana saat Rafli memperlihatkan sesuatu yang masih berdiri kokoh itu.
Brakkk
" Aduh selamat- selamat . Hampir saja kau mati " ucap Rafli berbicara pada saudaranya karena Ana hampir melempar miliknya dengan vas kaca jika ia terlambat menutup pintu. Sedangkan Ana menggerutu akan perbuatan Rafli tadi.
" Ingat nak , jangan tiru sifat jelek ayahmu ya " ucap Ana mengelus perut buncitnya .
Kini Ana tiba di Dongdaemun sebuah distrik komersial yang berisi pasar tradisional dan pusat perbelanjaan. Ana segera menuju di mana tempat menjual oleh-oleh khas Korea ,ia membeli berbagai makanan dan minuman yang tak ada di negaranya serta ia membeli baju tradisional Korea (hanbok ) dan juga sepatu , terlihat juga dokter Puspa dan Nindy ikut berbelanja dengan puas karena sang sultan yang akan membayar semuanya . Para bodyguard pun memilih apa yang mereka mau atas perintah Ana dan paksaan Rafli .
" Ah senangnya " ucap Ana saat ia merasa puas dengan oleh-oleh yang ia beli dan perut terasa kenyang .
Ceklek...
" Lelahnya . Mas aku tidur ya " ucap Ana saat Rafli baru saja memasuki kamar mereka.
" Sudah ku duga " gumam Rafli .
" Tidurlah sayang " ucap Rafli , ia mengelus surai indah istrinya dengan sayang.
Jangan lupa like dan komentarnya.
Selamat membaca
__ADS_1