
Vanya yang ikut bersama Laudya pun akhirnya bertemu dengan Roy di kediaman Zidan, dan membuat sang paman merasa terkejut karena Roy berada di rumahnya.
"Bawa wanita ini pergi!" perintah Zidan pada anak buahnya.
"Jangan ada yang menyentuh dia! Laudya bawa Vanya bersamamu!" perintah Roy dengan masih menatap Zidan.
"Apa yang sedang kau lakukan, nak?" tanya Zidan masih tidak mengerti.
"Tidak ada, paman tahu bukan jika Vanya adalah wanita yang aku sukai? Jadi, aku tidak suka jika ada yang menyentuhnya selain diriku," jawab Roy.
Vanya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Vanya tidak mengerti dengan apa yang di pikirkan oleh Roy tentang dirinya. Laudya kembali menarik lengan Vanya tuk mengikuti dirinya.
"Lepaskan aku! Kau menyakitiku, Laudya!" teriak Vanya.
Tidak ada jawaban dari Laudya, wanita itu hanya ingin segera menyelesaikan tugasnya dan bisa menebus segalanya pada orang-orang yang sudah dia sakiti.
Laudya membawa Vanya ke kamarnya yang sudah di jaga oleh anak buah dari Roy dan juga Iren yang menemani Vanya di dalam kamar.
"Berikan yang dia inginkan, kecuali ponsel dan benda tajam pastinya," ucap Laudya sambil berjalan keluar daru kamarnya.
"Laudya!! Kau mau kemana, beritahu aku apa yang akan kalian lakukan pada keluargaku!!" teriak Vanya begitu kencang.
Di ruang tengah, Zidan sudah di jamu oleh Roy dengan banyak minuman yang tentunya sudah di campur serbuk mematikan itu. Laudya ikut bergabung dengan mereka, namun dengan kursi terpisah.
"Kau tahu aku akan membawa Nona muda itu?" tanya Zidan.
Roy memberikan semua rekaman pada Zidan yang terdapat suara dari Sya yang marah karena mengetahui kedua adiknya berada di tangan Zidan.
"Hahahha,,, kau memang yang terbaik Roy. Kau bisa membuat Zyan muncul dengan sendirinya, ternyata benar dugaan Ku. Jika Zyan begitu lemah dengan adiknya," ucap Zidan menyeringai.
"Jadi kapan lama akan bertukar dengan Zyan?" tanya Roy.
"Secepatnya, aku akan bertukar dengannya. Aku ingin segera kembali memiliki segalanya dan tentunya membuat adiknya menjadi milikku!" seru Zidan tertawa keras.
Roy mengepalkan tangannya dengan sangat kuat, sedangkan Laudya begitu keras menahan kemarahannya tuk tidak segera menembak Zidan dengn pistol yang selalu ada di balik bajunya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan membawa Vanya bersamaku. Aku tidak mau paman sampai menyentuh wanitaku," ucap Roy.
"Hohoho... Sekarang kau sudah menjadi lelaki yang kejam, Roy. Tidak ingin berbagi dengan pamanmu ini?" ucap Zidan dengan bercanda.
"Jangan bicara macam-macam tentang Vanya denganku paman! Walau pun itu hanya sebuah lelucon!" ujar Roy seraya menatap Zidan dengan sangat tajam.
Zidan yang tertawa pun akhirnya diam melihat kemarahan sang keponakan yang benar-benar dengan segala ucapannya. Zidan melihat sebuah kebencian yang dalam pada mata Roy.
Roy pergi begitu saja dengan di ikuti oleh Laudya di belakangnya. Zidan masih menatap keduanya dengan banyak pertanyaan.
"Selidiki apa yang terjadi pada mereka, aku ingin kau melakukan tugasmu dengan baik. Aku ingin siapa pun yang menghalangi harus mati," ucap Zidan dengan nada dingin tanpa ampun.
"Termasuk Roy?" tanyanya.
"Ya." Zidan pun beranjak keluar dari ruangan itu dan kembali masuk ke dalam kamarnya yang sudah di tunggu oleh tiga wanita cantik dan seksi.
Roy dan Laudya berjalan menuju kamar, terlihat Vanya yang sedang duduk di tepi ranjang dengan menunduk. Roy dan Laudya pun masuk menemuinya.
__ADS_1
"Sedang apa kau, Anh?" tanya Roy yang membuat Vanya terkejut.
"Kau, kau juga berada di sini?" tanya Vanya begitu terkejut.
"Jadi, kalian bersekongkol tuk menculikku dan akan menyerang balik suami dan kakak-kakakku?" tanya Vanya begitu marah.
"Yang ku inginkan hanya dirimu. Aku tidak menginginkan kakak-kakakmu itu," jawab Roy.
"Laudya, apa kau sungguh tega dan tidak merasa berhutang budi pada Elina dan kedua adiknya, mereka sudah menolongmu dan sangat menghargaimu. Tapi, kau malah mengkhianati mereka, bahkan kau menembak Elina, huh?" tanya Vanya penuh emosi.
"Huh, kau percaya dengan diriku yang baik dan lembut itu? Apa kau sudah melupakan ucapanmi sendiri yang mengatakan aku wanita munafik yang memakai topeng?" tanya Laudya dengan menyeringai.
"Astaga, kau benar-benar wanita ular yang jahat. Benar apa yang Kak Zee katakan," jawab Vanya menatap tajam Laudya.
"Baiklah, sudah selesaikan obrolan kalian. Vanya kau harus ikut denganku, sekarang juga!" perintah Roy menarik paksa tangan Vanya.
"Mau di bawa kemana diriku? Roy, lepaskan aku! Aku mohon lepaskan aku!" pinta Vanya memberontak pada Roy.
Roy mengcengkram bahu Vanya dan berisik padang, " Percayalah padaku!".
Vanya menatap Roy begitu Roy sebaliknya. Vanya mengikuti Roy dan meninggalkan Laudya yang menatap Julian memberi kode. Julian dengan cepat membawa Roy dan Vanya menuju pintu lorong lain yang menuju belakang mansion.
“Rasaku ini sungguh tidak wajar, aku mencintaimu dan juga ingin melindunginya. Rasa sedih dan bersalahku terus membelenggu diri ini, ingin bersamamu tapi juga tidak bisa mengacuhkannya.”
Wiliem yang masih terus di awasi oleh Alex dan Zee hanya bisa terus diam tanpa banyak bicara. Lelaki itu menjadi diam dan terlihat tak peduli dengan setiap orang yang menemuinya. Bahkan, Wil hanya diam dan
mengangguk tuk memberi jawaban.
“Apa kau merasa lebih baik?” tanya Ken saat menemani Wiliem.
“Vanya atau Laudya?” tanya Ken dengan lirih.
Wiliem menengok ke arah Ken dengan tatapan yang berbeda, ada rasa rindu dan bersalah di matanya. Ken hanya mengangguk lalu menepuk bahu Wiliem, sebelum dirinya pergi dari sana.
Ken melangkah dengan pelan ingin melihat seperti apa respon dari Wil, dan benar saja sebelum langkah yang ketiga. Wiliem memanggil Ken dan itu membuat senyum di wajah Ken mengembang.
“Mereka dimana?” tanya Wil terbata.
Ken menengok dan tersenyum pada Wil,Wil berdiri dan
mendekati Ken dengan tatapan yang sedih.
“Besok kau akan bertemu dengan Vanya,” jawab Ken seraya menepuk kembali bahu Wiliem.
Wiliem hanya terdiam mendengar nama Vanya, entah kenapa Wil hanya bisa terdiam dengan air mata yang terus mengalir di wajahnya.
“Vanya, wanita yang aku nikahi tapi aku sakiti terus
menerus,” gumam Wiliem seraya berbalik dna berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Alex yang melihat Wiliem masuk ke dalm kamar pun segera berlari dari lorong lain. Zee mendekati Ken dan bertanya apa yang tadi mereka bicarakan.
“Kak …?” Ken memotong ucapan dari Zee dan segera menjawabnya.
__ADS_1
“Pertemukan Wil dan Vanya, setelah itu pertemukan Wil dengan Laudya,” ucap Ken seraya menatap sang adik.
Alex melihat Wil yang berjalan pelan memasuki kamarnya, langkah Alex terhenti saat melihat Wil yang berhenti di tengah-tengah pintu masuk kamarnya.
“Lex, temani aku malam ini!” pinta Wiliem seraya membalikkan tubuhnya dan memandang Alex.
Alex mengangguk dan berjalan mendekati kembarannya itu, mereka masuk ke dalam kakmr bersamaan. Terlihat Alex menghibur Wil dan berbicara masa lalu mereka dan masa indah mereka saat pertama bertemu dengan Zee dan juga Alya.
“Alya, dimana gadis kecil itu? Aku sangat merindukannya,” tanya Wil menatap Alex.
“Ya, gadis itu pun sangat merindukanmu juga. Kau cepatlah pulih dan bisa bertemu kembali dengan Al,” jawab Alex.
“Apakah, Anya mau bertemu denganku?” tanya Wil lirih.
“Tentu, dia akan menemuimu. Aku harap kalian bisa berbicara dengan baik dan bisa mendapatkan apa yang kalian inginkan,” jawab Zee yang baru saja datang.
Wiliem menatap Zee, wanita itu pun menghampiri Wiliem dan memeluknya. Wiliem membalas pelukan
dari Zee dengan air mata yang mengalir.
“Maafkan aku, aku mohon maafkan aku, Zee!” pinta Wiliem.
“Maafmu bukan untukku, semua itu hanya milik Vanya. Dan aku yakin, Vanya juga akan memaafkanmu,” ucap Zee.
“Aku merindukan dia, Zee. Aku sangat merindukannya,” isak Wiliem.
Alex dan Zee yang mendengar itu merasakan kesedihan yang Wiliem rasakan, Zee mengusap pelan
punggung Wiliem tuk menenangkannya.
“Kau istirahatlah, aku akan kembali ke hotel dan menemui Vanya,” ucap Zee.
“Aku harap besok bisa menjadi hari yang indah tuk Ku dan Vanya, “ balas Wiliem seraya memandang Zee.
Zee mengangguk dan berjalan keluar meninggalkan keduanya, Alex kembali menemani Wiliem dan membuat sang adik merasa nyaman dan tidak tertekan.
“Kak, aku harus pergi ke hotel dan menemui Vanya di rumah Wildan,” ucap Zee.
“Perlu aku temani?” tanya Ken.
“Tidak, Kak. Aku bisa sendiri, jadi kau istirahatlah di sini saja!” pinta Zee seraya memeluk sang kakak dan berjalan pergi.
Ken mengantar Zee sampai di teras rumah dan melihat Zee yang sudah masuk ke dalam taxi. Tidak ada yang mencurigakan dari semuanya, tak ada yag berpikir macam-macam saat mobil taxi itu datang.
“Sasaran sudah masuk, selanjutnya bawa wanita itu ke mansion Tuan Zidan!”
“Yes, Sir.”
Supir taxi itu pun terus mengemudi dengan diam tak berbicara, sedangkan Zee yang merasa lelah pun menutup matanya mengistirahatkan dirinya yang sedikit lelah karena terus mengawasi Wiliem.
“Tolong sedikit lebih cepat, karena saya harus segera kembali,” pinta Zee tanpa membuka matanya.
“Ya, Nona.”
__ADS_1
Tanpa Zee ketahui, mobil itu bukan menuju hotel melainkan menuju mansion Zidan yang tidak di ketahui oleh Roy atau pun Laudya. Zee terlalu lengah sore itu, dan membuatnya dalam masalah besar.
Bersambung...