
Terlihat Ah Yoon yang sedang meredakan kemarahan dari atasannya yang sedang mengamuk. Ah Yoon sampai harus menghubungi sang istri dari atasannya karena tidak bisa membuat lelaki yang berada di depannya itu berhenti mengamuk.
“Oppa!” seru Kiara yang masuk ke dalam ruangan dengan tergesa-gesa.
Zyan dan Ah Yoon melihat ke arah Kiara yang berdiri di depan pintu, Zyan menatap tangan kanannya lalu kembali menatap sang istri.
“Ah Yoon kau bisa keluar dan tinggalkan kami!” pinta Kiara.
“Baiklah, mianhae.” Ah Yoon menunduk sebelum keluar dari ruangan.
Zyan hanya memejamkan matanya, dia tahu tidak seharusnya dia mengamuk dan membuat sulit Ah Yoon yang sudah membantunya. Kiara menarik tangan Zyan dan membawanya duduk di sofa, Zyan hanya bisa terdiam seraya menatap wajah sang istri.
“Kau ini mau menolong adikmu atau mau mati sebelum bertemu dengannya, hem?” tanya Kiara dengan nada lirih.
Zyan melihat tangan kanannya yang terlihat berdarah tanpa dia sadari. Kiara beranjak berdiri dan mencari kotak obat, Zyan melihat ruangannya yang terlihat sangat berantakan karena ulahnya.
“Mianhae, aku sungguh tidak sadar sudah menghancurkan ruangan ini dan membuat Ah Yoon kesulitan karenanya,” gumam Zyan mengusap kasar wajahnya dengan tangan kiri.
Kiara kembali duduk setelah menemukan kotak obat, mengobati luka di tangan sang suami dan segera membalutnya.
“Lukanya sedikit dalam dan lebar, nanti sebelum pulang ke rumah kau harus ke rumah sakit!” pinta Kaira seraya menatap Zyan.
“Baiklah, aku tahu itu. Bagaimana dengan Zee dan Vanya, aku sudah membuat mereka dalam bahaya,” ucap Kiara.
“Aku tahu itu, tapi kau juga harus menenangkan dirimu agar bisa menyelamatkan mereka. Zidan bukan orang yang mudah tuk di kalahkan, kau harus meminta bantuan dari lainnya!” ujar Kiara menyarankan ide pada Zyan.
“Ahh,, aku memang sudah kalah. Zidan benar-benar licik menggunakan Zee dalam pertempuran ini!” umpat Zyan kesal.
“Keluargamu memang mempunyai kelemahan yang sangat jelas, Zee memang incaran dari semua musuhmu,” balas Kiara.
Zyan menatap sang istri dan mencerna apa yang di katakan oleh Kiara memang ada benarnya, kedua
orang tuanya, Ara, bahkan dirinya akan menjadi lemah jika sudah menyangkut dengan Zee. Mereka akan menjadi kuat dan lemah jika terjadi sesuatu dengan adik bungsu mereka, princess keluarga Putra.
Kiara masih memegang tangan sang suami, meraba wajah tampan Zyan yang di tumbuhi jambang yang lebat. Kiara tersenyum membuat sang suami menatap sendu pada Kiara.
“Maaf, Tuan Lexion dan Nona Park. Saya ingin memberitahukan sesuatu,” ucap Ah Yoon seraya masuk dan memberikan tablet pada Zyan.
Mata mereka membelalak melihat video apa yang sedang di putar di sana, wajah Zyan merah padam karena menahan amarah. Kiara yang notaben nya seorang yang lemah lembut pun terlihat begitu sangar.
“Ah Yoon, perintahkan semua anak buah keluarga Liu untuk segera pergi ke Milan sekarang juga!” perintah Kiara tegas.
Ah Yoon langsung berjalan keluar dan memerintahkan anak buahnya untuk segera melaksanakan perintah dari putri tetua mereka.
“Akan ku bunuh kau Zidan. Kau sudah berani menyentuh adikku!” seru Zyan begitu marah seraya berjalan ke arah meja kerjanya dan menghubungi seseorang.
Kiara menghubungi seseorang untuk menyiagakan anak buahnya tuk melindungi Jiso dan Alya yang sedang berada di mansion keluarganya.
“Tuan, Nona, pesawat sudah siap. Kita akan segera berangkat,” ucap Ah Yoon.
“Taun Kim sudah menyiagakan bawahannya tuk menyelamatkan Nona Vanya,” sambung Ah Yoon yang membawa laporan dari bawahannya.
Zyan dan Kiara pun bergegas pergi menggunakan pesawat jet pribadi yang telah di sediakan oleh keluarga Kiara. Sedangkan Tuan Kim yang sudah sangat sepuh itu pun tetap berangkat ke Milan karena sangat khawatir dengan Vanya yang sudah dia anggap sebagai cucunya itu.
MILAN
Satu jam yang lalu, Zee yang masih berada di dalam taxi pun di paksa turun oleh dua orang lelaki yang begitu sangar. Zee di seret begitu saja memasuki sebuah rumah tua dan kemudian di bawa ke sebuah Villa yang hanya Zidan dan anak buahnya yang tahu.
Zee merasa takut dengan semua penghuni di sana, tak terlihat satu wanita pun di sana. Semua tatapan mereka begitu menakutkan karena terus menatap vulgar pada dirinya.
“Siapa kalian, kenapa kalian melakukan ini padaku? Katakan siapa yang menyuruh kalian?” teriak Zee menatap tajam pada lelaki itu.
Tidak ada jawaban yang ada hanya senyuman yang seakan meremahkan Zee, gelak tawa dari mereka membuat Zee merasa kesal dan sangat membenci dirinya yang begitu bodoh tertidur lelap di dalam mobil.
“Dimana ini, kenapa aku tidak bisa mendengarkan suara apa pun dari dalam ruangan ini?” batin Zee seraya menatap ke arah jendela yang tertutup oleh hordeng yang tebal.
Seorang lelaki masuk dengan penampilan yang sangat rapi menatap tajam ke arah Zee, lelaki itu mengisyaratkan semua bawahannya tuk keluar. Zee semakin curiga dengan tindakan lelaki itu.
“Hello, Nona Zee. Apa kau merasa takut dengan diriku atau dengan nyawamu?” tanyanya.
__ADS_1
“Huh, nyawaku? Jangan asal mengeluarkan sebuah kata dari mulutmu itu, nyawaku atau nyawamu yang akan hilang terlebih dahulu?” tanya Zee meremehkan.
Terlihat lelaki itu terlihat geram karena perkataan dari Zee, wanita yang sudah dia tangkap tapi tetap sangat sombong dengan sikapnya. Zee sebaliknya yang terlihat tersenyum karena berhasil memancing kemarahan lelaki itu.
“Mulutmu masih juga sangat tajam, ajalmu sebentar lagi akan menjemputmu. Setelah itu, Nona muda itu yang akan mati dengan cara perlahan,” jawab lelaki itu.
Zee melototkan matanya karena mengetahui jika Vanya juga dalam bahaya, jantungnya seketika berdegup kencang dan memikirkan bagaimana keadaan sang adik.
“Apa yang kau lakukan dengan Vanya, huh?” tanya Zee dengan berteriak.
PLAKK,,
Sebuah tamparan mendarat di pipi mulusnya, terasa begitu panas Zee rasakan. Terlihat pipi Zee memerah karena tamparan itu. Zee semakin marah mendapat perlakuan tersebut dan dengan cepatnya meludah tepat di wajah lelaki itu.
“Cih, tamparan seperti itu tidak membuatku merasa kecil hati atau pun merasa takut padamu. Aku pastikan tanganmu itu akan terlepas dari tempatnya,” seru Zee dengan menyeringai.
Lelaki itu semakin di buat geram oleh Zee dan ingin sekali lagi menamparnya. Namun tangannya terhenti oleh tangan kekar yang memegangnya dengan kuat, bahkan tangannya terasa begitu kesakitan karena genggaman tersebut.
“KEPARA*!! Apa yang lakukan pada wanita ini, huh?” bentak Zidan sangat keras dan mendorongnya dengan sangat kencang.
BUGH,,
Tubuh lelaki itu terlempar ke sisi dinding dengan keras, membuat lelaki itu meringis karena terluka. Zee yang melihat itu pun merasa begitu takut dengan sikap Zidan. Sedangkan Zidan terlihat senang karena bisa bertemu kembali dengan Zee.
“Hallo, princess. Senang bisa bertemu kembali denganmu,” ucap Zidan tersenyum berjalan mendekati Zee.
“Stop! Jangan mendekat. Dan maaf sekali, aku tidak senang sama sekali bertemu denganmu,” balas Zee dengan nada yang dingin.
Tanpa sepengetahuan dari Zidan, lelaki itu yang bernama Joel itu mengirimkan video saat dia menampar dan berbicara dengan Zee pada Zyan. Dan itu membuat Zyan semakin marah dan segera melakukan strategi menyelamatkan Zee.
“Kau masih saja sangat arogan, Nona. Sekarang tidak ada yang tahu kau dimana, suamimu, Ken atau pun Lexion tidak akan bisa menyelamatkanmu,” ujar Zidan menyeringai.
“Kau mengatakan apa, Lexion? Huh, kau akan sangat menyesal karena sudah berurusan dengan dirinya,” balas Zee denga tersenyum.
Zidan menggapit pipi Zee dengan tangannya, Zee merasakan sakit karena tekanan dari tangan kasar Zidan.
“Baiklah, kita lihat apa yang bisa di lakukan kakakmu itu Zyan Lexion Putra. Aku akan menantikannya,” ujar Zidan lalu berlalu pergi meninggalkan Zee.
“Kau bisa mengganti bajumu itu, setelah itu kau harus ikut aku pergi dari sini!” perintah Roy.
“Pergi, mau kemana kita? Aku harus pulang ke keluargaku,” jawab Vanya.
“Kau juga akan tahu kita akan kemana. Aku pastikan kau selamat dan keluargamu juga bisa cepat kembali ke Finlandia,” ujar Roy menatap Vanya.
“Apa maksudnya, kau mau memisahkan aku dengan keluargaku? Kau sudah gila, Roy!” seru Vanya dengan sangat marah.
“Untuk apa kau kembali? Bukannya, kau tahu jika suamimu sudah berkhianat dengan Laudya. Apa kau masih ingin terus bersama dengan penghianat itu?” tanya Roy menatap tajam Vanya.
Vanya terdiam mendengar semua ucapan dari Roy, hatinya terasa sakit kembali saat mengingat bagaimana malam itu terjadi. Dimana Vanya sedang berbaring di rumah sakit sedangkan Wiliem sedang bermalam dengan Laudya.
“Kau tidak bisa menjawabnya bukan? Anh, sudah lupakan dia dan kembali padaku!” pinta Roy dengan suara lirih.
“Perasaanku bukan sebuah benda yang harus kembali pada siapa pun. Perasaanku ini hanya milikku,” jawab Vanya memalingkan wajahnya membelakangi Roy.
Roy hanya bisa menatap Vanya dari belakang dengan tatapan sendu dan berharap terus pada Vanya akan rasanya padanya yang tidak pernah terbalaskan.
“Aku akan terus menantimu sampai kapan pun. Bahkan jika aku harus mati dengan membawa rasaku padamu, aku akan membawanya dalam keabadian,” ucap Roy seraya berjalan keluar.
Vanya semakin menangis dalam diam mendengar perkataan dari Roy yang mempunyai perasaan yang begitu dalam padanya. Entah kenapa Vanya tidak bisa membalas perasaan dari Roy sejak dulu, dia hanya bisa menyayangi Roy seperti keluarga.
“Maaf, maafkan aku yang tidak akan bisa membalas perasaanmu,” batin Vanya merasa bersalah.
Roy berjalan menuju kamarnya, saat pintu itu terbuka terlihat foto Vanya yang masih remaja tersenyum tergantung sempurna menyambutnya. Roy akan menjadi seorang yang lemah jika sudah menyangkut perasaannya pada Vanya.
Julian yang mendapat laporan jika Zidan menangkap Zee pun berlari dari ruangan kerjanya yang berada di lantai bawah pun berlari ke lantai atas ke kamar Roy.
“Tuan muda, Tuan muda,” panggil Julian dari luar kamar.
Roy yang sedang menutup matanya dan bersender di kursinya pun tersentak mendengar teriakan dari Julian. Roy pun berteriak meminta Julian masuk.
__ADS_1
“Maaf, Tuan muda. Saya harus segera memberitahukan berita ini pada Anda,” ucap Julian dengan tergesa-gesa.
“Apa yang ingin kau beritahukan?” tanya Roy dengan suara malas.
“Tuan Zidan, sudah menangkap Nona Zee kakak dari Nona Vanya,” jawab Julian.
BRAKK
Roy menendang meja yang ada di depannya dengan sangat keras, meja itu sampai tergeser beberapa centi di depannya. Julian begitu terkejut sampai mundur beberapa langkah ke belakang.
“Kurang ajar, kenapa dia bisa dengan muda menangkap Zee.” Roy beranjak berdiri dan segera menghubungi Laudya.
Vanya yang mendengar itu dari luar ruangan pun begitu cemas dengan keadaan Zee. Vanya tahu jika Zidan sangat menginginkan sang kakak.
“Kak Zee, bagaimana bisa dia bertemu dengan Zidan. Aku harus menghubungi Kak Ken,” gumam Vanya bergegas pergi dari ruangan itu dan mencari sebuah telpon di sana.
Tidak ada pelayan yang menghiraukan Vanya yang berlari ke sana kemari di dalam rumah itu. Sampai Vanya menemukan kamar yang tertutup rapat dan membukanya.
“Apa ini, ruangan apa ini? Kenapa begitu banyak fotoku di kamar ini,” ucap Vanya merasa takut dengan fotonya sendiri.
Vanya masuk ke dalam kamar baca dari Roy yang sangat banyak menyimpan foto Vanya dari pertama mereka bertemu sampai Vanya yang sedang hamil anak dari Wiliem namun keguguran.
Vanya menutup mulutnya dan menangis dalam diam, ingatannya kembali dimana dirinya bertemu dengan Roy untuk pertama kali. Setiap melihat foto itu satu persatu terdapat memori indah di sana.
“Tidak, Vanya. Kau tahu bukan, jika Roy yang sekarang bukanlah Roy yang kau kenal dulu,” ucap Vanya seraya menggelengkan kepalanya.
Vanya kembali fokus mencari telpon atau ponsel di ruangan itu dan terlihat telpon di sudut dekat rak buku. Vanya dengan cepat menekan no ponsel Ken yang dia ingat.
TUT,,, TUT,,, TUT,,,
Terdengar suara dari seberang sana, namun belum juga tersambung. Vanya sudah gelisah karena dia tidak mempunyai waktu banyak tuk berbicara dengan Ken.
Selama satu menit barulah terdengar suara Ken dari seberang sana dan membuat Vanya sedikit bernapas lega.
“Hallo, siapa?” tanya Ken,
“Kakak, aku Anya. Kakak tolong selamatkan Kak Zee! Dia ada bersama dengan Zidan,” jawab Vanya dengan terburu-buru.
“Anh, kau ada dimana? Apa yang kau bicarakan, Zee sedang berda di hotel,” ucap Ken.
“Kak Zee sedang dalam bahaya, cepat tolong dia!” pinta Vanya.
“Anha, kau ada dimana? Jangan membuatku khawatir!” seru Ken yang tidak bisa mendengar suara dari Vanya.
TUT,,, TUT,,, TUT,,,
“Ternyata wanita ini susah juga di aturnya!” seru Julian.
Julian memukul tengkuk leher Vanya dengan sangat keras, sampai wanita itu tak sadarkan diri.
Roy yang melihat Julian yang berlari keluar dari kamarnya pun mengikuti bawahannya itu dan betapa terkejutnya Roy saat melihat Vanya yang sudah tidak sadarkan diri di dekapan Julian.
“Apa yang kau lakaukan Julian?” teriak Roy berjalan dengan cepat dan segera mengambil Vanya dari dekapan Julian.
“Maafkan saya, Tuan. Bukan maksud saya lancang menyentuh Nona Vanya, saya hanya mencegahnya yang sedang menghubungi seseorang di luar sana,” jawab Julian dengan sikap siaganya.
Roy melihat gagang telpon yang tergantung begitu saja saat mendengar penjelasan dari Julian. Roy mengangkat tubuh Vanya dan membawanya ke kamarnya. Setelah itu, Roy menemui Julian yang berada di ruang kendali mencari siapa yang di hubungi oleh Vanya.
“Siapa itu?” tanya Roy.
“Kenzio Liu. Kakak ipar dari Tuan Zee,” jawab Julian.
“Sial. Lalu bagaimana dengan Zee, apa kau sudah menemukakn tempatnya?” tanya Roy.
“Masih kami lakukan, Tuan. Tuan Zidan ternyata mempunyai tempat persembunyian lain yang tidak terlacak atau aku ketahui,” jawab Julian melihatkan semua rumah yang Zidan miliki dan ternyata kosong.
Roy melihat semua foto itu dan mengingat tempat mana yang tidak dia ketahui. Roy terus mengingat di mana tempat yang pernah dia datangi bersama dengan Zidan.
“Alanta, tempat itu yang yang sangat tidak aku sukai karena terdapat di sebuah hutan dekat taman kota,” ucap Roy.
__ADS_1
Julian dengan cepat mencari lokasi itu dan ternayat benar ada tiga bangunan di sana, Roy dan yang lainnya bergegas pergi tuk menemukan Zee.
Bersambung….