
Vanya yang sudah sadar pun terus bertanya akan di bawa kemana dia dengan pesawat yang dia naiki, Julian yang memang tidak suka perempuan merasa benar-benar jengkel dan begitu kesal dengan Vanya yang terus bertanya tanpa henti pada Roy.
“Kita masuk ke dalamnay saja, paman aku mengetahui jika ini pesawatku,” ucap Roy.
“Baiklah, Tuan.” Julian pun pergi mendekati pilot di bagian depan dan mengatakan apa yang di perintahkan oleh Roy.
Tak lama kemudian terlihat sebuah villa yang di kelilngi oleh benteng tinggi yang terdapat di atas tebing. Di balik tebing itu terdapat sebuah air terjun yang sangat tinggi.
Pesawat Roy landing dengan mulus di landasan milik Zidan, terlihat Zidan datang dengan empat lelaki yang berbadan tinggi besar di belakangnya.
Roy turun dengan Vanya dan Julian tanpa pengawal karena Roy tidak mau pamannya tahu jika dia akan menyerangnya. Zidan tersenyum melihat Roy datang tapi tidak dengan Roy yang terlihat begitu marah pada sang paman.
“Aku tidak tahu jika kau bisa menemukan tempat ini,” ucap Zidan.
Roy tidak menjawab, pemuda itu terus melangkah maju mendekati Zidan. Sedangkan Vamya di tahan oleh Julian tuk tetap diam di belakang dengan jarak yang lumayan jauh.
DOR,, DOR,, DOR,, DOR,,
Roy menembaki kaki ke empat lelaki yag beada di belakang sang paman, Vanya yang terkejut memalingkan wajahnya dan sedikit bergeser menempel ke tubuh tegap Julian karena takut.
“Wow, kecepatan penembakmu semakin bagus saja, aku sampai tidak menyadari itu,” ucap Zidan memuji kemampuan sang keponakan.
“Ahh, aku merasa sebaliknya. Aku tidak bisa menempak tepat sasaran, mungkin karena suasana hatiku yang tidak mendukung,” balas Roy menatap tajam Zidan.
“Haahah … Roy, Roy, kau mengingatkan aku saat muda dulu. Baiklah, ada apa kau kemari dan membawa wanitamu itu?” tanya Zidan.
“Dimana Zee, aku tahu kau membawanya kemari,” jawab Roy.
Zidan terdiam seraya menatap sang keponakan dengan tatapan tajam, Zidan yang sedang merokok pun sampai membuangnya lalu menginjaknya begitu saja. Roy pun menatap tajam Zidan dengan segala rasa marah dan bencinya.
“Kau mencari wanita yang akan menjadi milikku. Ada apa, Roy? Kau ingin membantu kedua wanita itu kabur begitu saja dariku?” tanya Zidan dengan marah.
“Membantumu atau membantu mereka tidak ada yang menguntungkan, aku hanya tidak suka kau menyentuh wanita yang kau bawa,” jawab Roy.
CEKLEK,,
Terdengar pelatul yang dari belakang, Roy membalikkan tubuhnya dan terlihat Vanya dan Julian yang sudah di todong dengan pistol di kepalanya. Terlihat kemarahan di matanya melihat Vanya yang menangis ketakutan dengan tangan yang di sentuh oleh pengawal dari Zidan.
DOR,,,
“KEPARATT,,, JANGAN SENTUH WANITA ITU!!” teriak Roy menembaki pengawal dari Zidan sampai tiga kali dan membuatnya mati seketika.
Vanya yang mendengar langsung tembakan itu pun terduduk lemas di tanah, Vanya menutup telinganya karena begitu syok mendengar suara pistol.
“Jangan macam-macam, Roy. Kau kini berada di alanta, tempat yang sangat jauh dari keramaian. Aku bisa saja membunuhmu dengan sangat mudah dan bisa membuangmu begitu saja dari atas tebing,” ucap Zidan dengan tertawa khasnya.
“Kau bisa membunuhku seperti kau membunuh ketiga wanita itu, setelah aku mati aku berdoa kau juga segera menyusul denganku dengan kematian yang sangat menyiksamu secara perlahan,” balas Roy menyeringai.
“ROY!!” teriak Zidan menempelkan pistolnya tepat di kepalanya.
Roy tersenyum menatap Zidan tak terlihat ketakutan di matanya, Vanya yang melihat itu begitu takut terjadi sesuatu pada Roy.
“Tolong jangan sakiti dia! Apa kau sudah gila, huh? Dia itu keponakanmu sendiri,” teriak Vanya pada Zidan.
“Oh, dengarkanlah wanitamu yang memohon padaku!” seru Zidan tertawa menatap Roy dan Vanya bergantian.
Zidan mengisyaratkan anak buahnya tuk membawa keluar Zee dari dalam, Vanya yang melihat itu pun menutup mulutnya karena melihat Zee dengan wajah yang lebam, mulut yang di sumpal tubuh yang di ikat dengan keadaan yang berantakan.
“Kak Zee,” teriak Vanya mencoba bangun, namun tertahan karena kepalanya kembali di todong oleh pistol.
Zee hanya bisa menatap sang adik dengan menangis, Vanya pun menangis melihat keadaan sang kakak. Zee menutup matanya menenangkan dirinya agar tidak membuat Vanya semakin sedih.
__ADS_1
Roy mengepalkan tangannya dengan sangat kuat terlihat kukunya sampai memutih. Zidan tertawa senang karena melihat Roy dan yang lainnya tidak berkutik.
“Tuan, Lexion sudah dekat dengan kita. Terlihat helicopter yang kembali landing di sana, angin membuat pasir di sana berterbangan. Vanya menutupi wajahnya dengan tangan sedangkan Zee hanya bisa menutup matanya.
Saat pintu heli itu terbuka terlihat Zyan turun bersama dengan lima anak buahnya, Zee dan Vanya yang melihat itu pun kembali menangis. Zyan yang berjalan turun begitu geram melihat keadaan kedua adiknya.
“Lexion Liu,” panggil Roy lirih.
“Hahaha, lihatlah Nona muda Zee. Kakak yang kau banggakan telah datang kemari dan akan menolongmu,” ucap Zidan mendekati Zee.
“Jangan sentuh dia! Urusanmu sekarang denganku,” seru Zyan berteriak pada Zidan.
Zidan yang melihat Zyan marah pun malah semakin mendekati Zee dengan melepas sumpal di mulutnya. Menyentuh wajahnya dengan pistol yang di pegangnya.
“ZIDAN!!” teriak Zyan maju satu langkah namun terhenti saat Zidan menarik pelatuknya.
“Jangan hiraukan aku! Tolong selamatkan saja Vanya,” ucap Zee.
Zyan menatap Vanya yang masih terduduk di tanah dengan menangis. Zyan menutup matanya mencoba tenang kemudian menyeringai dengan menatap Zidan.
“Is so time!!” ucap Zyan.
Tak berlama lama, terdengar suaar tembakan dari atas tebing menembak semua anak buah Zidan, Roy berlari mendekati Vanya dan membawanya berlindung. Julian menekan sesuatu di jasnya dan terlihat gerbang utama terbuka dengan di paksa.
Zyan dan Zidan saling bertatapan dengan pistol yang saling berhadapan tepat di wajah mereka masing-masing.
Zee berlari dengan kaki yang pincang berlari sedikit menjauh dari Zyan dan Zidan. Zee di selamatkan oleh anak buah Zyan, melepaskan semua ikatannya.
“Nona kau berlindung saja di sini jangan pergi kemana pun!”.
“Ya, aku tahu.” Zee memeluk tubuhnya sendiri denngan cemas melihat taka da Vanya dan Roy di sana.
“Dimana Kak Zee, Roy kau harus menemukan Kak Zee!” pinta Vanya dengan menggoyangkan lengan Roy.
“Diam di sini, aku akan mencarinya!” pinta Roy menatap Vanya dan berlari menjauh.
Julian berada di belakang Roy melihat situasi dari balik tembok, Zyan dan Zidan masih saling menodongkan pistol di wajah mereka.
“Turunkan senjatamu atau akan ku bunuh adikmu ini!” seru suara wanita dari bekanag Zyan.
Roy dan Julian membulat menatap siapa yang menodongkan pistol di kepala Zee, Zyan pun meletakkan senjatanya dan berbalik menatap Zee.
“Laudya, wanita itu benar-benar tidak bisa di percaya!” seru Roy berjalan keluar dengan menodongkan senjata pada Zidan sedangkan Julian menodongkan senjatanya pada Laudya.
“OK, jauhkan senjatamu dari adikku!" perintah Zyan pada Laudya.
Laudya menatap ke arah Zyan dengan tersenyum, lalu menatap Roy dengan tatapan mata yang berbeda. Ken dan yang lainnya sudah berada di dalam villa itu dan melumpuhkan semua anak buah Zidan yang terdapat di dalam. Alex terkejut melihat sang istri yang tersandra oleh Laudya pun dengan ceroboh berlari keluar begitu saja.
“ZEE!!” teriak Alex dan ...
DOR,,, Laudya melepaskan tembakannya tepat di depan kaki Alex dan membuat Zee berteriak memanggil nama sang suami.
“Dasar wanita gila!! Kau mau apakan istriku, huh?” teriak Alex yang terhenti sambil menatap nanar Laudya.
“Diamlah dan tunggu intruksi ku, jika kau ingin melihat istri tercintamu ini tidak mati di tanganku!” ucap Laudya dengan menyeringai menatap Laudya.
PROK... PROK... PROK...
Zidan bertepuk tangan melihat Laudya yang kembali berhasil mendapatkan Zee, tertawa begitu keras dengan mendekati Zee dan menariknya paksa dengan dirinya.
“Lepaskan aku, lepaskan tangan kotormu dari tubuhku!” teriak Zee mencoba meronta melepaskan diri.
__ADS_1
Zidan semakin kencang mencengkeram lengan Zee dengan kuat. Zyan dan Alex terlihat begitu marah dan ingin sekali menolong Zee namun keadaan mereka yang sudah terhimpit.
“Sial, kenapa bisa ada Zyan dan malah tertangkap oleh Zidan,” umpat Ken merasa geram karena semua adiknya tersandra.
“Laudya, apa yang kau lakukan? Kau akan terbunuh oleh Kak Ken karena melakukan ini,” ucap Zee lirih.
“Bukankah aku akan mati cepat atau lambat, jadi aku tidak takut akan apa pun yang terjadi nantinya padaku,” jawab Laudya.
Wiliem dengan pelan berjalan keluar tanpa membawa senjatanya, menatap ke arah Laudya yang sedang menyandra Zee. Laudya terdiam melihat Wiliem yang terus berjalan pelan begitu saja tanpa terlihat takut.
“Wow, jadi kau membawa semua pasukanmu, Alexander?” tanya Zidan.
“Berhenti Wil! Apa yang kau lakukan, jangan mendekat!” seru Laudya merasa cemas.
“Lepaskan dia, urusanmu dengan aku dan Alex. Lau, apa yang kau lakukan?” tanya Wiliem berteriak.
Vanya yang mendengar suara suaminya itu pun keluar dari persembunyiannya. Roy yang melihat itu pun menatap Vanya dan mencoba meraih tangannya namun gagal karena langkah Vanya lebih cepat.
DORR,,, Zidan menembak Vanya dan malah terkena oleh Roy yang mendorong tubuh Vanya sampai terjatuh jauh.
“ROY!!!” teriak Vanya dan Julian bersamaan.
Zidan yang tengah sok melihat sang keponakan yang terkapar dengan darah yang keluar dari perutnya pun terdiam.
DOR,,, DOR,,, DOR,,,
Ken dengan leluasa menembaki Zidan yang sedang lengah dengan tiga peluru yang bersarang di dada dan perutnya. Zyan yang melihat itu pun dengan cepat merebut pistol Zidan dan menembak bahu kiri Laudya sampai terhuyung ke belakang beberapa langkah.
Zee berlari menjauh dan berlari mendekati Alex, Wiliem yang melihat Laudya yang terkena tembak pun berlari ke arahnya. Zyan yang terlalu kesal pada Laudya pun melepaskan satu lagi tembakan ke arah perut kanan Laudya.
“LAUDYA!!” teriak Wiliem mendekap Laudya yang terkapar di atas tanah.
Wiliem memangku kepala Laudya dan menangis melihat wanita itu, entah kenapa rasanya Wiliem begitu sedih melihat Laudya yang terluka.
“Laudya, kenapa kau melakukan ini? Kau sudah berjanji padaku akan menyelamatkan Zee, tapi kenapa kau malah menodongkan pistolmu padanya?” tanya Wiliem dengan menangis.
“Ma-maafkan ak-akku.” Suara Laudya tersedak karena menahan rasa sakit di perutnya.
Tangannya menyentuh perut ratanya dengan menangis, Wiliem melihat ke arah perut Laudya.
Wiliem semakin menangis seraya memeluk tubuh Laudya dengan erat dengan terus berteriak.
“TOLONG, TOLONG AKU!! ADA ANAKKU DI PERUT LAUDYA!!” teriak Wiliem dan membuat semua orang di
sana menatapnya begitu juga dengan Vanya yang terkejut dengan apa yang dia dengar.
Arga yang masih di dalam pun berlari kea rah Wiliem dan Laudya melihat letak tembakan yang Zyan arahkan pada Laudya.
“Apa yang sudah aku lakukan,” ucap Zyan seraya melepaskan pistol itu.
Zyan berjalan mendekati Wiliem dan terududk lemas melihat Laudya yang sudah tidak sadarkan diri.
Vanya memalingkan wajahnya melihat suaminya menangisi Laudya dengan mengatakan suatu berita yang membuatnya terguncang hebat. Vanya memeluk tubuh Roy yang denga erat, Roy tersenyum melihat wajah Vanya.
“Jangan menangisi aku! Aku bahagia bisa berguna untukmu, aku sangat menyayangimu Anh. Aku bersyukur bisa bertemu dan mengenalmu,” ucap Roy terbata.
Vanya tidak bisa lagi berkata apa pun, suaranya tertahan di tenggorokan. Bahkan, Vanya merasa lemas karena semua yang terjadi hari ini.
Vanya pingsan tak sadarkan diri, tangan kekar memeluknya dari belakang dan membawanya pergi dari sana. Julian mengendong Tuannya dan entah membawanya kemana.
Bersambung….
__ADS_1