Takdir Cinta

Takdir Cinta
Delapan


__ADS_3

Malam itu, Wil melihat Vabya dan Zyvia berpelukan, tersenyum bersama dan kembali memperbaiki hubungan mereka berdua.


"Sam, apakah begitu fatal apa yang dia lakukan? Sampai kau tak ingin melihatmu, bahkan tuk memaafkannya saja kau tak bisa?" batin Wil.


Wil kembali masuk kedalam dan kembali berbaring, tak lama Vanya kembali masuk dan melihat Wil sudah sadar.


"Wil, kau sudah sadar?" tanya Vanya begitu senang.


Wil menganguk ia, di genggamnya tangan Vanya lalu menciumnya.


"Ya, aku sudah sadar. Dan, aku sangat terkejut saat tak melihatmu berada disini," jawab Wil.


"Aahh, aku berada diluar. Hanya ingin mencari angin segar saja," balas Vanya dengan tersenyum.


"Aku kira, kau akan pergi meninggalkan aku dengan temanmu itu. Aku, sungguh takut," ucap Wil.


Vanya menatap Wil, lalu tersenyum mengusap lembut wajah kekasihnya. Ah, lebih tepatnya ayah dari anaknya.


"Aku akan pergi kemana? Jika tujuan hanya kembali padamu? Tak sudah khawatirkan itu, aku akan bersamamu selamanya," balas Vanya.


"An, apa selama ini kau bersama dengan Roy?" tanya Wil.


Vanya terdiam seketika, lalu mengangguk ia. Vanya pun menjelaskan semuanya, kenapa dia memilih pergi dan bersembunyi dari semuanya. Wiliem begitu terkejut karena Vanya berpikir akan membesarkan anaknya seorang diri.


"Sekarang kita bersama, jadi kita akan membesarkan anak kita bersama. Aku berjanji setelah kembali ke Finlandia, aku akan segera menikahimu," ucap Wil.


"Maafkan aku, maaf sudah membuat kau dan semuanya, khawatir," balas Vanya.


Wiliem memeluk Vanya, mendekapnya penuh dengan kasih sayang. Rasanya sangat nyaman, bahkan sangat nyaman saat, Wil memeluk dirinya. Ya, Vanya merasakan kenyamanan tersendiri berada di dekapan Wil.


Di dalam ruangan yang gelap, terlihat sosok wanita yang terdiam seraya memandang foto keluarganya. Air matanya masih saja mengalir, akan tetapi ada rasa kelegaan tersendiri karena Vanya sudah mau memaafkannya. Walaupun, Sam masih menolaknya, tapi Zyvia menyakinkan dirinya, kalau Sam memang masih menyayangi dirinya.


"Mom, Dad, aku bertemu dengan kakak. Dia semakin tampan dan juga gagah. Sikapnya, menjadi sedikit dingin, tak terlihat senyuman yang dulu selalu dia tunjukkan pada kita. Kak Sam, dia menjadi pendiam. Mom, aku bisa kembali memeluknya, walaupun kakak tak membalasnya," isak Zyvia.


Tubuh wanita itu bergetar menahan semua beban yang dia rasakan. Sungguh, dia ingin marah, merasakan sakit hati. Tapi, Zyvia tahu jika kesalahannya telah melukai Sam melebihi rasa yang dia rasakan sekarang.


Mengapa aku harus merasakan


Bergelimang sepi dalam keramaian


'Ku melihat terang dari kegelapan


Dan terlihat tenang di kesendirian

__ADS_1


Teriknya siang tak menghangatkanku


Dan dinginnya malam tak menyejukkanku


Apa masih ada yang pedulikanku


Meskipun suara tak mendengarkanku


Seperti terjebak dalam kesunyian


Bergejolak hati ini ingin teriakkan


Bahwa aku masih


Masih membutuhkan


Membutuhkan kamu


Seperti dunia mengasingkan aku


Dan kamu di mana?


Datanglah padaku


Aku butuh cinta


Dan kubutuh kamu


Penulis_ Winda Saskia


Ya, hidup Zyvia itu bagaimana gurun pasir yang begitu gersang. Tak ada yang menemani, tak ada yang memperdulikannya. Hanya ada angin yang berhembus begitu saja melewatinya.


°Amerika


Terlihat sosok lelaki itu turun dari pesawat, wajahnya terlihat lelah, tatapannya begitu kosong. Saat kakinya menapak di atas tanah, teringat akan dua puluh lima tahun lalu. Saat itu dirinya begitu bahagia dengan kedua orang tuanya berjalan beriringan dengan canda tawa. Ya, Sam kecil saat itu begitu bahagia karena bisa ikut dengan Cessi dan Leo ke Amerika. Meninggalkan, kedua orang tua kandungnya, Intan dan Aldo di Indonesia.


"Aku kembali, kembali kerumah keduaku. Apa kalian merasakan keberadaanku, Mommy, Daddy?" batin Sam.


Hatinya bergejolak penuh dengan perasaan yang campur aduk, Sam sudah tak bisa lagi menahan air matanya. Hatinya begitu sesak, seakan ada batu besar yang menindihnya.


Dengan langkah cepat, Sam menyetop taksi di bandara, lalu meminta supir tuk langsung pergi ke pemakaman. Di dalam taksi semua kenangan bersama orang tuannya kembali terlintas di pelupuk matanya.


"Maafkan aku, maafkan aku yang sudah bersalah pada kalian," batin Sam menangis penuh penyesalan.

__ADS_1


Tak lama, terlihat taksi itu berbelok ke area pemakaman. Pemakaman itu begitu rapi dan terlihat mewah. Sam turun dari mobil dan meminta supir taksi tuk menjemputnya dua jam lagi. Supir pun mengangguk ia.


Langkah kaki Sam memasuki deretan makam disana, semuanya terlihat sama karena ditimbuhi oleh rumput tapi tetap bersih. Jantung, Sam begitu berdetak kencang membuat sang pemilik merasakan sesak yang teramat sangat. Air mata, Sam tak hentinya menetes deras.


"Dimana kalian, tubuhku sudah lemas. Kenapa aku tak bisa menemukan kalian?" ucap Sam yang belum bisa menemukan makan dari Cessi dan Leo.


Kaki Sam yang lemas akhirnya tak bisa lagi menompang tubuhnya. Sam terjatuh tepat di sebuah pusara yang terdapat bunga mawar disana. Sam menunduk melihat tangannya dan kakinya kotor oleh tanah.


Saat matanya mencoba mencari pusara dari orang tuannya. Sam menangkap nama yang tak asing begitu juga terdapat foto disana.


"Mommy," ucap Sam lirih.


Tangannya meraih rumput yang menutupi tanah dari makam Cessi. Sam menatap pusara disampingnya, terlihat nama Leo dan juga potonya.


"Hiks,,, hiks,, hiks,,, Daddy, Mommy. Sam, Sam ada disini," isaknya penuh kesedihan.


Sam memeluk pusara Cessi dengan menangis seakan memeluk tubuh Cessi, tangisan itu begitu menyayat hati. Seorang anak yang selama sepuluh tahun lamanya tak pernah bertemu, memendam sebuah dendam, membuat hatinya beku seperti batu. Penyesalan Sam begitu dalam pada Cessi dan Leo.


"Maafkan, Sam. Maaf, Sam yang sudah menyakiti kalian. Telah membenci kalian, sudah mengabaikan kalian karena dendamku," ucap Sam.


Pertemuan itu membuat air mata, Sam tumpah tanpa henti, air mata penyesalan itu terus mengalir membasahi pusara dari Cessi dan Leo. Sudah lebih dari satu jam lebih, Sam masih saja memandangi makam dari kedua orang tuanya. Sam tak lagi memikirkan mau kotor atau apapun. Yang dia tahu, sekarang dirinya hanya ingin dekat dengan Cessi dan Leo.


Supir taksi itu pun kembali ke pemakaman, mencari Sam yang ternyata masih berada didalam. Karena, hari sudah semakin sore akhirnya supir itu pun menghampiri Sam.


"Tuan, maaf. Kita harus segera pulang! Hari sudah semakin gelap," ucap supir itu.


Sam yang mengingat akan janjinya lun akhirnya berdiri. Namun, karena terlalu lama duduk membuat kakinya mati rasa dan terjatuh kembali ke bawah.


"Tuan, kau tidak apa-apa?" tanya supir itu seraya membantu Sam tuk berdiri.


"Terimakasih, sudah meembantuku. Mungkin, karena terlalu lama duduk, kakiku menjadi mati rasa," jawab Sam.


"Mari, Tuan. Saya bantu anda berjalan," ucapnya kembali.


Sam mengangguk ia, lalu berjalan dengan dibantu oleh supir taksi tersebut. Sam masuk ke dalam taksi lalu pergi meninggalkan pemakaman tersebut.


"Pak, tolong antarkan saya ke perumahan Lady's!!" pinta Sam.


"Baik, Tuan," balas supir itu.


Sam kembali memginjakkan kakinya dia rumah yang pernah dia tinggali. Kawasan disana sudah sangat berubah, begitu pula dengan rumahnya yang dulu. Sam menunduk menangis karena teringat akan semua kenangan yang dulu.


Sam kembali berjalan menyusuri jalan didepan perumahan itu. Dengan sangat sedih, Sam kembali bertolak ke Finlandia.

__ADS_1


"Aku pergi, selamat tinggal, Dad, Mom," gumam Sam saat melihat daratan Amerika dari dalam pesawat.


TERIMAKASIH 🌺🌺🌺


__ADS_2