
Zee berjalan dengan cepat kembali ke hotel, Alex pun menyusulnya karena melihat Zee yang sangat kesal.
"Kenapa dia begitu naif, aku sungguh kesana dengan Vanya. Sungguh, kenapa Sam memiliki adik yang begitu polos?" gumam Zee dengan terus masuk ke dalam hotel.
"Kenapa, Vanya bisa mengatakan itu tentang Laudya?" ucap Alex menggaruk kepalanya.
Wiliem yang masih mengingat akan ucapan dari Vanya pun, membuatnya semakin berpikir apakah dia bisa membantu Laudya. Apakah, benar jika Laudya benar-benar sudah berubah.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Vanya pada Wil.
"Tidak ada, aku hanya memikirkan kapan kita bisa kembali ke rumah. Aku sangat merindukan rumah," jawab Wiliem.
Vanya memeluk lengan Wiliem dan tersenyum, Wil malah memeluknya. Mereka berjalan dengan berpelukan terlihat sangat bahagia dan begitu romantis.
"Kau bisa lihat bukan, seperti apa kehidupan wanita yang kau sukai. Dia sangat bahagia dengan suaminya," bisik Wendy pada Wildan.
Wildan hanya diam sembari terus melihat mereka dari belakang. Wendy melihat Wildan yang menahan perasaannya, bahkan lelaki itu terus menghembuskan napas beratnya.
"Jangan bicara lagi! Kau akan mempermalukan adikmu," pinta Wildan seraya memalingkan wajahnya.
Wendy hanya tersenyum tipis sembari merangkul tubuh Wildan yang lebih tinggi darinya. Membuat Wildan menunduk karena itu.
Ken berjalan sendiri dengan santai, dengan memakai ponselnya. Melihat semua pesan chat dari sang istri dan kedua putranya yang sudah tak salah paham.
"Aku akan membawa mereka pulang, kau sabarlah. Karena, sekarang situasinya sedang tidak baik." Tulis Ken pada sang istri melalui chat.
Sesampainya di hotel, Wiliem membawa Vanya masuk ke dalam kamarnya. Karena kamar Zee terlihat tertutup rapat.
"Apa perkataanku salah, Wil? Aku hanya ingin membantu Laudya saja, keluar dari negara ini. Dia juga sudah berubah," ucap Vanya.
"Menurutku, tidak ada salah. Hanya saja, kau sendiri tahu kalau Zee sangatlah kritis dalam mengambil keputusan," balas Wiliem.
"Jika Kak Zee tak mau membantunya, biarkan aku saja yang membantunya."
"Jangan seperti itu, aku saja masih ragu padanya. Dia bisa berubah dalam sebuakn itu memang sangat mencurigakan, sayang," ucap Wiliem memberikan penjelasan.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu. Aku terserah padamu saja," balas Vanya.
Di dalam Zee, terlihat Alex sedang duduk di depan sang istri dengan memandangnya. Zee seakan tak perduli jika ada Alex di depannya.
"Kau marah pada siapa? Aku atau Vanya?" tanya Alex.
Zee melihat Alex dengan tatapan tajamnya, menghembuskan napas panjangnya seraya memalingkan wajahnya. Alex mulai berani mendekati Zee dan menggenggam erat tangannya.
"Aku tidak mau wanita itu masuk kembali dalam hidupmu! Kalian boleh saja berteman, tapi tidak untuk dekat."
Alex mengangguk mendengar ucapan dari sang istri, mengerti apa yang di rasakan oleh sang istri.
"Kau percaya padaku, bukan? Aku sudah menjadi milikmu dan tak akan pernah lagi melakukan hal yang dulu membuatku gila karena wanita," ucap Alex.
Zee melihat ke sungguhan dari Alex, Zee hanya menunduk karena rasa cemburu dan cemasnya. Wanita itu sudah tak sekuat dulu saat kehilangan Alfa, Zee sudah snagta lelah dengan perpisahan.
"Aku tak ingin kehilangan dirimu. Aku lelah dengan rasa yang dulu aku rasakan," balas Zee dengan nada lirih.
Alex mencium kening sang istri dan duduk di sampingnya dengan memeluk Zee.
"Aku sudah di berikan kehidupan kedua dan itu dari kekasihmu. Ini janjiku yang akan terus menjaga dan mencintaimu yang menjadi kekasihnya, sampai akhir hayatku," ucap Alex tegas.
"Kurang ajar, akan ku bunuh kau! Akan ku hancurkan semua keluargamu, karena sudah berani mengacaukan hidupku!" serunya dengan sangat marah.
"Apa yang terjadi padanya? Kenapa kalian tidak menghentikan, huh?" teriak Roy yang baru saja datang setelah di kabari.
"Tuan, kami tak berani. Karena, Tuan Zidan sudah melukai tiga pengawal. Mereka terkena lemparan dari barang-barang itu."
Roy memijat pelipisnya, pamannya semakin mengamuk saat mengetahui perusahaannya semakin terpuruk bahkan sudah hampir bangkrut.
"Aahh,, keparat!! Aku akan menemui kau, X.L !!!" umpatnya dengan melempar satu vas bunga di depannya.
"Siapa, X.L itu? Siapa dia sebenarnya, sampai membuat paman yang sangat berkuasa saja sampai tak berdaya seperti ini?" gumam Roy.
Roy mencoba masuk dengan langkah perlahan, menurun pintu ruangan tersebut. Sungguh, sebenarnya dirinya pun takut melihat Zidan ya g mengamuk seperti itu.
__ADS_1
"Pa-paman," panggil Roy lirih.
Zidan menengok ke arah Roy dengan tatapan tajam, terlihat matanya sangat merah karena terus berteriak. Roy memberikan diri mendekati sang paman, namun langkahnya terhenti saat Zidan memberikan kode tuk berhenti dengan tangannya.
"Paman, tenagkan dirimu! Kita bisa menyelesaikan ini dengan pikiran yang dingin, jangan kau siksa dirimu dengan cara seperti ini," ucap Roy yang melihat tangan Zidan berdarah.
Zidan hanya menatap ke arah Roy tanpa menjawab, namun dengan seketika tubuhnya roboh di atas lantai. Roya yang melihat itu begitu terkejut dan berteriak memanggil pelayan.
"Paman kau tidak apa-apa?" tanya Roy cemas seraya memangku kepala Zidan.
Zidan tak menjawab dia hanya memejamkan matanya, karena sudah dia hari lelaki paru baya itu terus mengamuk dan hanya meminum beer saja tanpa makan apapun.
Roy yang di bantu pelayan lun berhasil membawnaya ke kamar. Menghubungi Dokter keluarga dan memeriksa keadaan Zidan yang terlihat begitu lemas.
"Dia harus di rawat dan tidak boleh banyak pikiran terlebih dahulu. Sebaiknya, kau ambil alih perusahaan itu, biarkan pamanmu istirahat. Ini adalah ciri-ciri gejala stroke awal," ucap Dokter.
Roy keluar dari kamar sang paman, terlihat lelaki itu temenung sembari melihat ruangan kerja sang paman yang porak poranda. Roy menggenggam erat surat putih yang melihatkan semua catatan bisnis yang ada di tangannya.
"Aku akan membalasnya, paman. Kau tenang saja, aku akan mencoba tuk membalas semuanya tuk mu," ucap Roy.
Dengan langkah pasti, Roy beranjak pergi dari rumah itu dan menuju ke kantor sang paman dengan menggunakan mobilnya. Roy masih terus membangun hotel dengan semua uang yang dia punya tanpa meminta pada Zidan atau ke dua orang tuanya.
"Aku akan tetap membangun hotel itu, karena hanya itu yang bisa aku lakukan tuk mengenang perasaanku padamu, Anh."
Sesampainya di kantor, Roy langsung di sambut oleh sekretaris dari Zidan. Melihatkan semua dokumen pada Roy tuk di periksa dan melihat semua saham yang telah di beli oleh perusahaan asing tersebut.
"Apa kau sudah mengetahui siapa pemilik perusahaan itu?" tanya Roy.
"Sudah, Tuan. Perusahaan itu milik lelaki Korea, dia sangatlah berkuasa karena memiliki beberapa cabang di Korea, Jepang, China dan Indonesia," jawab sekretaris tersebut.
"Seluas itu? Siapa namanya, apakah kau juga tahu siapa dia?" tanya Roy.
"Tidak ada yang tahu, Tuan. Pemilik perusahaan tersebut terkenal dengan julukan Mr. Xion," jawabnya.
Roy mengerutkan keningnya. Nama itu begitu asing, semua tentangnya sangat tertutup. Bahkan dia jarang sekali bertemu dengan client, pemilik perusahaan itu akan selalu mengirimkan tangan kanannya saja.
__ADS_1
"Siapa kau sebenarnya, apa yang membuatmu berbuat jahat pada pamanku?" gumam Roy.
Bersambung🍂🍂🍂