
Hari itu, Roy dan Zidan terpaksa kembali ke Milan. Di dalam pesawat terlihat Zidan begitu sibuk dengan semua e-mail yang dia terima, wajahnya begitu tegang dan sangat frustasi.
Sedangkan, Roy masih dalam suasana sedih karena tak bisa bertemu dengan Vanya. Semua harapannya pupus begitu saja, entah kenapa rasanya hidupnya kembali redup karena tak ada lagi kesempatan tuk nya bisa bersama dengan Vanya.
"Kenapa seperti ini? Mengapa semua inverstor menarik semua sahamnya dari perusahaanku, huh?" teriak Zidan dari balik ponselnya.
Roy yang mendengar teriakan itu pun akhirnya merasa jika pamannya sedang dalam keadaan marah, anak buahnya saja sampai tertunduk takut.
"Paman, ada apa? Kenapa kau berteriak seperti itu?" tanya Roy dengan nada pelan.
"Banyak investor yang menarik sahamnya di perusahaanku dan semua itu membuat kerugian yang sangat besar. Ada yang membeli sahamku juga," jawab Zidan.
"Membeli saham paman? Kenapa semua investor itu menariknya?" tanya Roy terkejut.
"Ada perusahaan asing yang memberikan keuntungan dua kali lipat, setelah semuanya menariknya pengusaha asing itu membeli dua pukul lima sahamku," jawab Zidan begitu kesal.
Roy pun membaca semua laporan dari semua email yang di kirim oleh sekretaris dari perusahaan sang paman. Roy begitu terkejut dengan semuanya.
"Siapa yang menjanjikan keuntungan yang sangat besar itu, kenapa dia bisa membeli saham paman. Apa keinginannya?" tanya Roy.
"Aku tak kenal dengan pemilik perusahaan itu, bahkan namanya pun di rahasiakan," jawab Zidan.
"Paman tenanglah! Biar aku yang akan mengurusnya, sekarang kita cari solusinya terlebih dahulu," ucap Roy menenangkan Zidan.
Zidan pergi ke kabinnya dan memilih tuk istirahat, lelaki itu memang sangat kuat namun tidak bisa di pungkiri kalau usianya sudah lebih dari setengah abad.
Roy masih melihat semua rinciannya dan benar-benar tak ada info lengkap dari perusahaan yang telah mengacaukan perusahaan sang paman. Bahkan nama pemiliknya saja di rahasiakan.
"Apa-apaan ini? Kenapa hanya ada inisialnya saja, X.L siapa kau sebenarnya?" tanya Roy pada dirinya sendiri.
Di tempat lain, terlihat semuanya orang sedang dalam sebuah mobil menuju perkotaan. Mata Vanya tak hentinya melihat pemandangan yang dia lewati, wanita muda itu selalu saja takjub hanya dengan pemandangan biasa. Sama seperti sekarang, dia hanya bisa melihat pepohonan tinggi dan burung-burung saja, membuatnya menganga takjub, melihat burung-burung yang berterbangan di atasnya.
"Kenapa begitu indah? Aku suka dengan suasana disini," ucap Vanya begitu senang.
"Kau menyukai tempat ini, sayang?" tanya Wiliem.
"Ya, tempatnya begitu asri. Udaranya segar, pemandangannya indah, aku ingin di sini lebih lama," jawab Vanya.
Zee dan Alex yang duduk di depan hanya tersenyum dengan apa yang Vanya ucapkan, Wiliem menatap sang istri yang begitu bahagia.
Di mobil satunya, Ada Messi, Arga dan Laudya yang ikut pergi ke perkotaan. Sedangkan di mobil Wildan hanya ada Ken dan Elina saja. Laudya begitu berbinar karena bisa melihat perkotaan lagi, hanya saja terlihat gurat kecemasan di wajahnya karena takut Zidan menemukan dirinya.
"Apa kau takut?" tanya Arga.
"Ya, apakah wajahku sangat terlihat ketakutan?" tanya Laudya balik.
"Ya, kau terlihat tegang Laudya. Santailah, kita memang akan ke perkotaan, tapi kau akan tetap aman bersama dengan kami," jawab Messi.
Laudya menatap Messi dan Arga berganti. Lalu mengangguk ia, mencoba percaya pada kedua pemuda itu. Sungguh, hati Laudya begitu cemas karena dia tak ingin kembali ke dalam lingkaran dunia hitam itu lagi. Apalagi setelah, Wildan dan Elina menyelamtkan dirinya, bahkan menngobatinya dengan begitu saja tanpa syarat.
Laudya sadar akan semua yang dulu dia lakukan dan telah membantu Zidan dalam usahanya dengan menipu dan menjebak semua client nya.
Arga dengan ragu menggenggam tangan Laudya, membuat wanita itu tersentak kaget karena ulah Arga. Namun, dengan cepat Laudya mencoba tersenyum pada Arga. Arga menggenggam erat tangan Laudya, sebaliknya Laudya pun sama.
Messi yang melihat itu hanya menghela napas panjang dan menganggap dia tak melihat apa pun.
"Apa itu cinta, apa itu kekasih, ahh ... aku merasa pusing hanya dengan memikirkannya saja," gumam Messi dengan menggaruk pelipisnya.
__ADS_1
Selama beberapa jam akhirnya ketiga mobil itu melewati perbatasan yaitu sebuah jembatan yang begitu panjang. Terlihat sebuah sungai yang terbentang di bawahnya dengan sebuah tebing di tengahnya. Pemandangan itu sangat indah, namun juga sangat mengerikan.
Zee yang duduk di samping kemudi bersama dengan Alex, sampai menutup matanya. Bahkan, wanita cantik itu memegang lengan Alex dengan kuat karena merasa takut melihatnya.
"Wah, kenapa banyak sekali kejutan di tempat ini? Wil, liahtlah sungai itu sangat besar dan panjang!" seru Vanya kegirangan.
"Anh, diamlah! Kenapa kau sangat berisik, apa kau tak merasa takut dengan pemandangan itu, huh?" hardik Zee kesal.
"Astaga, Kak Al. Lihatlah, istrimu gemetaran! Apa kau sangat ketakutan, Kak?" tanya Vanya menjadi saat melihat Zee yang memeluk setengah tubuh Alex.
Wiliem langsung membekap mulut sang istri, Vanya begitu terkejut dan meminta di lepaskan. Namun, Wiliem berbisik padanya.
"Sayang, diamlah! Sudah tahu, Zee itu takut ketinggian. Apa kau mau meledeknya, huh?" bisik Wiliem.
Vanya mengangguk ia, Wiliem pun melepaskan tangannya. Alex hanya tersenyum tipis melihat pasangan itu. Alex dengan sangat hati-hati membawa mobil itu dengan satu tangannya. Karena, Tangan satunya memeluk tubuh Zee yang benar-benar gemetaran.
"Jangan bayangkan apapun! Bayangkan, hal-hal indah saja, Zee," perintahAlex.
Tak ada jawaban dari Zee, yang ada hanya gelengan kepala saja. Kenangan indah saat di ketinggian adalah, saat dia dan Alfa berada di sebuah Villa di tepi jurang yang mempunyai air terjun yang indah. Disana juga ada Sam dan Abigail, itu adalah kenangan manis.
Dimana, Alfa memberanikan dirinya tuk menyentuh Zee. Malam itu mereka bersama, melepaskan segala rasa dan perasaan mereka. Air mata, Zee mengalir karena dadanya merasakan sesak. Wajah Alfa saat muda kembali terlihat di pelupuk matanya, Zee teringat kembali dengan semua yang ada pada kekasihnya itu.
Zee semakin menutup matanya, terdengar suara Alfa yang memanggil dirinya. Terdengar suara tawanya, bahkan Zee seakan mencium bau khas Alfa.
"Al, aku, maafkan aku. Melupakan dirimu," gumam Zee sangat lirih.
Tanpa terasa, mobil itu sudah melewati perbatasan dan terlihat sebuah bangunan kota yang menjulang tinggi dengan keramaian kota tersebut.
"Ahh, aku sudah tak sabar tuk menghabiskan semua bonusku," seru Elina dengan raut bahagia.
"Bonus, bonus apa itu?" tanya Ken.
"Kenapa kau melakukan itu? Kau mengurung mereka, Wil?" tanya Ken.
"Jika aku tak mengurung mereka. Tempat itu akan diketahui oleh orang-orang dan apakah kau tahu siapa Elina dan kedua adiknya?" tanya Wildan menatap Ken.
"Hufh,,, aku muak jika kau me ceritakan tentang keluargaku," jawab Elina.
Ken menatap Wildan yang tersenyum, sedangkan wajah Elina terlihat kesal. Ken penasaran dengan Elina dan keluarganya.
"Baiklah, aku akan memberitahukanmu, Ken. Elina dan adiknya itu adalah pembunuh, mereka kriminal. Oleh karena itu aku membawa mereka menjadi orang-orangku. Mereka membunuh ayahnya karena telah menemukan sang ibu yang meninggal karena siksaan dari ayahnya," ucap Wildan sangat santai.
Ken melototkan matanya karena tak bisa menduga, gadis seperti Elina bisa membunuh orang tuanya. Elina pun terlihat biasa saja, bahkan terlihat sangat santai seperti tak mengalami apapun.
"Tuan Ken, jangan menatapku seperti itu. Aku tak suka!" pinta Elina yang melihat keluar jendela.
"Ahh, maafkan aku! Aku hanya terkejut saja," balas Ken melihat ke arah Wildan.
Mobil Wildan masuk ke dalam rumah yang memiliki halaman besar, terlihat penjaga di setiap sudutnya. Ken tersenyum tipis ternyata kediaman pangeran sangat di jaga ketat.
Mobil itu pun berhenti, di susul dengan dua mobil di belakang mereka. Wildan turun dari mobil di susul yang lainnya dan masuk ke dalam rumah itu.
"Selamat datang tuk Kenzio dan para adik-adiknya. Dan Selamat kembali tuk Pangeran Wildan, ternyata kau ingat rumah juga," ucap wanita cantik betparas bule yang keluar dari dalam.
Ken dan wanita itu pun saling berpelukan, Zee dan yang lainnya merasa terkejut karena Ken mengenal wanita itu.
Mata wanita itu pun melihat ke arah, Elina dan adik-adiknya, dengan cepat mereka pergi ke belakang. Sedangkan Laudya berdiri sendiri di sana, Vanya dan Zee pun menghampirinya.
__ADS_1
Laudya tersenyum, berterima kasih karena dua wanita itu mau berdekatan dengan dirinya. Alex dan Wiliem masih menatap ke arah wanita bule itu.
"Zee Levina Putri, apakah kau itu?" tanya Wendy.
"Kau tahu namaku? Maaf, siapa kau?" tanya Zee.
"Zee, dia Wendy kakak dari Wildan. Wendy Claudius," jawab Ken memperkenalkan Wendy.
"Claudius, apa kau yang merancang kalung yang Alfa berikan padaku?" tanya Zee berjalan mendekati Wendy.
Wendy mengangguk tersenyum menatap Zee, air mata Zee mengalir tak menyangka jika dia bisa bertemu dengannya.
Wendy menceritakan saat Ars dan dirinya bertemu saat di London karena kontrak. Saat itu, Wendy muda sedang menggambar sebuah sketsa kalung dan liontin. Ars melihat itu dan meminta desain tersebut. Dan meminta dirinya membuatkannya tuk Alfa dan Zee.
Saat itu, Zee dan Alfa masih kecil. Bahkan belum mengenal cinta sama sekali. Mereka masih bersahabat, namun entah kenapa Ars sangat yakin jika mereka bisa bersatu.
Zee menangis di pelukan Ken, Zee bahkan sampai sekarang tak mau memakai kalung itu karena akan terus mengingatkannya pada Alfa.
Alex menatap sang istri yang ternyata masih begitu emosian jika mengingat tentang Alfa. Bahkan, Alex merasa cemburu dengan Alfa yang kenyataan sudah meninggalkan Zee sepuluh tahun lalu.
Wil menepuk bahu, Alex tuk mengerti akan keadaan Zee. Vanya bahkan ikut menangis mengingat kakak kesayangannya itu.
"Kak Zee, sudah jangan menangis. Bukankah Kak Al selalu ada di dekatmu, dia ada bersama kau dan Kak Alex," ucap Vanya lirih pada Zee dengan penuh hati-hati.
Deg
Ucapan dari Vanya mengingatkan dirinya, jika sekarang dia milik Alex, Zee memghalis air matanya dan menatap sang suami yang tertunduk di sebrang kursi lainnya. Zee menatap Vanya dengan mata yang masih berair, sungguh Zee merasa bersalah karena sudah melupakan Alex.
Zee berjalan pelan mendekati Alex yang masih dalam suasana tak menentu, sampai tak menyadari Zee ada di depannya dengan berjongkok.
"Siapa lelaki kembar itu?" tanya Wendi.
"Alexander dan Wiliem, mereka adalah suami dari dua adikku," jawab Ken.
"Suami dari Zee?" tanya Wendi.
"Ya, kau benar. Dan lihat, karena ulahmu membuat suami dari Zee menjadi sedih. Dasar kau bermulut tajam," ujar Wildan pada sang kakak.
Wendy menutup mulutnya, dan menghampiri Zee dan Alex. Wendy duduk di samping Alex dan membuat Zee terkejut begitu juga Alex.
"Maafkan aku! Tolong maafkan aku, aku tak tahu jika kau suami dari Zee, Zee aku minta maaf karena mengingatkanmu pada mendiang kekasihmu," ucap Wendy dengan nada menyesal.
"Tidak, Nona. Kau tak salah," balas Alex mencoba tersenyum.
"Sudah, lebih baik kalian masuk ke dalam kamar masing-masing! Pelayan akan menunjukkannya," ucap Wildan.
Laudya yang masih terdiam karena merasa canggung pun melihat Arga yang berjalan menghampirinya. Entah kenapa, Laudya merasa lega dan tersenyum pada Arga.
"Kau ikut denganku!" pinta Arga menarik tangan Laudya dengan erat.
Laudya dan Arga pergi begitu saja dengan langkah pelan menuju ke belakang mansion. Wendy begitu bingung melihat Arga yang membawa wanita yang tak dia kenal itu. Ken hanya mengangkat bahunya tak tahu, sedangkan Wildan sudah hilang di balik pintu kamarnya.
"Apa ini? Kenapa semuanya pergi begitu saja?" ucap Wendy.
"Baiklah, aku akan istirahat juga, sebelum kedua adikku membuatku kewalahan karena ingin pergi mengelilingi kota Milan," ucap Ken.
Wendy mempersilakan Ken tuk istirahat, akhirnya Wendy pun memilih ke ruang kerjanya dan melihat aktifitas perusahaan saingannya yaitu Zidan. Terlihat senyuman di wajah cantiknya karena melihat kabar perusahaan Zidan yang sedang dalam masalah.
__ADS_1
"Ini saatnya kau mengalami apa yang dulu aku rasakan, tanpa aku menyentuhkan tanganku sama sekali," ucap Wendy begitu puas.
Bersambung🍂🍂🍂