
Ana mengerjapkan matanya saat meraba suaminya tidak ada disampingnya... Sungguh pagi ini bumil ini begitu malas mungkin karena lelah .
Ceklek Rafli datang dengan membawa sarapan nasi goreng dan juga susu hamil untuk dinikmati Ana , Rafli selalu memanjakannya termasuk dalam hal makanan jadi wajar saja jika jarum timbangan Ana selalu bergerak kearah kanan.
'' Ayo mandi dulu " ucap Rafli duduk di pinggir ranjang dan meletakkan nampan yang ia bawa di atas nakas.
'' Gak ah malas , dingin " kelit Ana , padahal Rafli telah menyiapkan air hangat.
'' Kita akan jalan-jalan " ucap Rafli membuat wajah Ana berbinar namun saat menatap Rafli membuatnya heran.
'' Lalu kenapa mas pakaiannya biasa aja " tanya Ana.
'' Bukankah jika mas pakai apa saja tetap tampan. Lihat saja istri mas banyak dimana-mana '' goda Rafli.
'' Pria murahan " cibir Ana membuat Rafli tertawa geli.
" Bukan mas murahan . Mereka aja yang murahan mengaku istri mas " ucap Rafli .
'' Lalu bangga gitu " ucap Ana mencebikkan bibirnya.
'' Jangan menggoda mas Ana . Ini masih pagi " ucap Rafli .
'' Ayo mandi . Nanti nasi gorengnya dingin gak enak loh " imbuhnya.
'' Tapi mandiin ya " ucap Ana merengek .
'' Dengan senang hati " jawab Rafli bersemangat .
'' Ingat hanya mandi " ucap Ana.
'' Iya janji hanya mandi... Pegang-pengang sedikit boleh lah " ucap Rafli gemas seraya menggendong tubuh Ana yang lumayan berat saat ini.
Dikamar mandi Ana sungguh dimandikan Rafli bagai seorang bayi besar yang perutnya membuncit. Ana tak menggerakkan tubuhnya sama sekali . Mulai dari keramas hingga membersihkan area terselip Rafli yang melakukannya . Membuat Rafli menahan hasratnya yang begitu mendambakan Ana.
" Lihatlah bayi besarku begitu montok... kalah bayi yang lainnya " batin Rafli mana berani ia menyinggung bentuk tubuh Ana meski faktanya wanita itu kembali melebar.
Rafli menggendong Ana saat wanita itu telah di keringkan dengan handuk .
" Mau mas pakaikan baju " ucap Rafli dengan tatapan laparnya....
" Gak usah , aku bisa pakai baju sendiri. Mas pergilah yang jauh " usir Ana karena meski Rafli menahan hasratnya didalam kamar mandi tadi , tapi tetap sebagai pria normal ia tergoda dengan tubuh Ana apalagi ia menyentuhnya langsung. Terlihat maha karya Rafli yang berbentuk seperti ladang strawberry.
Rafli mengambil alat pengering rambut dari tangan Ana , bahkan ia menyisir rambut Ana dengan begitu rapi.
" Gak usah dandan ... Ayo " ucap Rafli melarang Ana untuk makeup. Meski Ana memberengut wanita itu juga tetap aja menurut .
Kini di hadapan Ana terdapat tiga gundukan yang bertabur bunga segar pantas saja jika tadi Ana melihat Rafli membawa sebuket bunga segar kesukaan wanita yang telah tiada itu .
__ADS_1
'' Kek " lirih Rafli masih menggenggam jamari tangan Ana.
'' Rafli datang kesini bersama istri Rafli yang kini tengah hamil. Aku bahagia bersamanya kek. Dia wanita yang cantik dan baik sama seperti istrimu , nenek ku. Bahkan ia lebih cantik " ucap Rafli terbata dengan cairan bening membasahi rahang tegasnya.
'' Maaf jika Rafli baru membawanya ... Maafkan cucumu kek " ucap Rafli lirih.
'' Maaf Rafli baru datang menemui kalian " isaknya.
'' Ana , sapa lah kakek sayang " ucap Rafli membuat Ana ikut terduduk.
'' Hai kakek namaku Ana . Terimakasih berkat engkau ada , membuat hadirnya papa Abdi dan terlahir pula lelaki disampingku dari rahim mama Lia. Lihatlah dia begitu cengeng kek , dia tidak sepertimu terlihat tegar dalam menghadapi apapun " ucap Ana berusaha menyimpan kesedihannya.
" Kakek tau , dia suami yang sempurna bagiku meski tetap manusia gak ada yang sempurna. Sungguh aku cukup bangga padamu kek. Sosok suami dan kepala rumah tangga yang tangguh mampu menjadi sahabat , ayah , sekaligus ibu bagi papa Abdi. Jika takdir itu terjadi pada suamiku mungkin ia akan menikah lagi " ucap Ana ia bingung apa yang mau disampaikan membuatnya berkata hal demikian.
'' Aku akan menolak takdir jika begitu Ana dan aku tidak akan membuat takdir kita begitu " ucap Rafli menatap Ana tajam.
'' Lihat kek , dia menatapku tajam " Kadu Ana .
'' Nek . Lihatlah wanita disamping Rafli Istri Rafli yang begitu Rafli cintai meski ia banyak kurangnya bagi Rafli ia sempurna. Rafli sungguh ingin bertemu denganmu nek , namun sebelum papa tumbuh remaja aja engkau telah tiada .Nek bilang pada Tuhan , agar takdir kami tak begini karena jika Rafli kehilangannya , maka Rafli tidak akan mampu bertahan lagi meski hanya untuk mencoba bernafas. Rafli memang pria cengeng karena dia nek. Damailah disana nek ... Rafli selalu beroda untukmu dan untuk kakek juga " ucap Rafli mengahapus air matanya.
'' Hai paman kecil ... Apa kabarmu " tanya Rafli pada gundukan kecil di tengah tersebut .
'' Tau kah kau , papa sering menangis jika membayangkan bermain dengan mu. Rafli dan papa yakin , meski kau telah tiada namun kau malaikat kecil yang melindungi kami dari atas. Maka keponakanmu yang tampan ini juga meminta agar kau membantu melindungi kami jauh dari sana. Lihatlah , cucumu ada dirahim Ana . Wanita cantik ini istri Rafli yang begitu Rafli cintai " tangis Rafii tertahan membuatnya tak mampu berkata lagi.
Mengingat cerita kakeknya yang begitu terpukul saat kematian istri sekaligus calon anaknya karena kecelakaan ulah dari rival bisnisnya . Meski sang kakek terlihat tegar dan kejam di mata dunia bisnis namun tidak berlaku jika sang kakek tengah sendirian , ia begitu mencintai istrinya yang berkewarganegaraan Indonesia sementara sang kakek warga negara timur tengah. Jika kakek sendiri , ia hanya menangis setiap malam melihat ranjang yang kosong . Kakek selalu mengusap foto jadul sang istri yang terlihat begitu cantik , itu menjadi rutinitas kakek saat bangun tidur dan ingin tidur , kakek tak pernah melewatkan itu hingga ajal menjemputnya , saat di temukan sang kakek tengah tertidur memeluk foto sang istri , Rafli mengetahui itu semua karena sejak kecil karena ia langsung di asuh oleh sang kakek , Rafli bagaikan oase di tengah gurun pasir yang membuat kakek memiliki arti untuk tetap bertahan dan Rafli menjadi cucu kesayangannya satu-satunya , walaupun begitu dua cucu kembarnya juga ia sayang meski tidak sebesar rasa sayang nya pada Rafli.
'' Nek . Aku yakin kau wanita begitu cantik melebihi dewi manapun walaupun kita tak akan pernah bertemu di dunia ini. Baik itu kecantikan hatimu dan juga parasmu . Damailah disana temani kakek yang sangat mencintai mu. Aku tidak bisa berkata apapun nek , namun aku cukup bangga padamu meski hanya cerita yang ku dengar bagaimana cinta kakek kepadamu " ucap Ana lirih.
'' Mas . Ayo kita kirim doa '' ucap Ana dan di angguki Rafli. Setelah itu Rafli dan Ana menaburkan bunga dan air untuk makam tersebut dan pantas saja area itu wangi karena setiap hari bunga itu selalu baru.
'' Kakek , nenek dan paman. Semoga kalian bahagia dan berada di tempat yang paling indah. Kami hanya bisa mendoakan dan berusaha membuatmu bangga disana " ucap Ana.
'' Aamiin ya Allah " sahut Rafli.
'' Kami akan kembali lagi dan aku akan mengenalkan Dewa dan Arjuna dalam waktu dekat ini , mereka adalah cicit kalian " ucap Ana .
'' Nek , kakek , dan paman kecil . Kami harus pamit undur diri dulu " ucap Rafli.
'' Assalamualaikum " ucap Rafli dan Ana lalu mereka berbalik masuk kedalam rumah karena area pemakaman itu berada di halaman belakang mansion milik sang kakek yang super mewah dan megah ini . Mansion ini tak akan pernah terjual apapun yang terjadi , di itulah permintaan kakek disurat wasiatnya . Bagi kakek rumah ini penuh kenangan baik manis dan pahit sekalipun pernah terjadi.
Ana menenangkan Rafli yang terlihat begitu sedih.. Setiap ia mengunjungi makam kakekknya dan nenek serta pamannya itu Rafli begitu terpukul. Usap usil dan jahil Rafli pada nenek Ana karena ia tak pernah mendapat kasih sayang dari seorang nenek , sedangkan ibu dari mama Lia telah meninggal saat Rafli belum ada di dunia ini.
'' Jangan menangis , nanti mereka sedih " ucap Ana memeluk Rafli.
'' Aku sungguh tidak menyangka takdir mereka Ana. Jika aku tidak ziarah aku merasakan rindu . Tapi jika ziarah aku merasakan kesedihan yang mendalam. Meninggalnya nenek dan calon anaknya bukan hanya kakek saja yang terpuruk tapi juga papa , papa yang masih kecil harus di abaikan bahkan papa hampir di pukul . Setelah kematian kakek , papa selalu menyalahkan dirinya sendiri karena merasa ini semua karena dirinya apalagi kakek tak pernah menyayanginya secara langsung , kakek menunjukkan sayang nya dengan cara yang berbeda . Tapi itu sengaja kakek lakukan agar papa menjadi pria yang kuat dan pemberani. Kakek sangat menyayangi papa melebihi apapun " ucap Rafli dan kembali mencurahkan isi hatinya.
'' Yang jelas aku tidak akan meninggalkan mu mas. Meski takdir seperti apa kedepannya tidak ada yang tau . Aku tidak ingin kau sedih mas " ucap Ana terus menenangkan Rafli.
__ADS_1
'' Baiklah , mas akan pastikan kau dan anak kita baik-baik saja. Mas sendiri yang akan menjaga kalian langsung " ucap Rafli dengan suara seraknya .
'' Kau harus bekerja mas dan Dewa juga akan kembali sekolah bertemu dengan sahabatnya . Kami bisa menjaga diri. Kita punya Tuhan , percayakan semua padanya " ucap Ana.
'' Mas akan bekerja namun dirumah berada disisimu dan anak-anak kita mereka akan home schooling " ucap Rafli membuat Ana jadi jengkel padanya.
'' Mas , apa gunanya bodyguard dan pengawal yang lainnya " ucap Ana tiba-tiba bumil yang tadi lemah lembut mendadak tensinya naik.
'' Buat apa mas memperkerjakan para pengkhianat " cibir Rafli.
'' Maksud mas " tanya Ana memastikan.
'' Alexa , Jen dan Jim serta yang lainnya kalian semua membohongiku " ucap Rafli.
'' Termasuk dirimu Ana '' imbuhnya menatap Ana dengan begitu kecewa.
'' Mas , jika hal itu aku bisa menjelaskan semuanya " ucap Ana .
'' Tolong jangan ribut lagi " imbuhnya.
'' Siapa yang cari ribut denganmu Ana . Mas hanya tidak mau lagi melihat wajah mereka di sekitar keluarga mas " bantah Rafli.
'' Tapi ini semua salahku " ucap Ana ingin menjelaskan.
'' Mas tidak mau mendengarnya lagi " ucap Rafli tegas.
'' Bersiaplah , kita akan kerumah papa dan mama " ucap Rafli.
.
.
.
Ana dan Rafli telah berada di mansion Wijaya , kebetulan sekali pria setengah baya itu berada di Indonesia , biasanya keliling Eropa untuk menjalankan bisnisnya bukan untuk berlibur . Punya anak laki-laki satu untuk meneruskan bisnisnya terlihat banyak alasan seolah enggan itulah yang tidak disukai Abdi terhadap Rafli , menyesal punya anak laki-laki satu , ingin memintanya lagi tidak mungkin karena Lia tak mungkin dapat hamil kembali , jika menikah lagi menderita lah ia karena bukan hanya istrinya saja yang akan murka namun anak-anaknya tak segan melenyapkannya . Kini Abdi Wijaya hanya bisa pasrah menatap horor anak lelakinya jika bertemu . Cukup beruntung karena dibantu oleh kedua anak Joe adalah lelaki hebat dan kesetiaannya tak perlu di pertanyakan.
Abdi serta anak , mantunya terlihat berbincang hangat hingga sedikit sindiran untuk Rafli mengenai pembahasan perusahaan terjadi . Melihat situasi yang tidak enak membuat Ana memutuskan mencari anak-anak mereka yang tak terlihat dari tadi.
'' Pa anak-anak mana " tanya Ana.
'' Ada di belakang . Temuilah , Arjuna rindu padamu " jawab Abdi ramah .
" Aku permisi dulu pa " ucap Ana dan diangguki Abdi.
'' Mama mana pa . Kok lama sekali perginya " tanya Rafli sesaat setelah Ana pergi untuk mencari Arjuna ke taman belakang..
'' Apa , kau ingin menitipkan anakmu lebih lama disini " ucap Abdi , bukan ia merasa tak suka . Ia malah begitu suka jika cucu-cucunya tinggal dengannya menemani hari-harinya . Namun jika malam hari Abdi merasa tersisih karena merasa Lia tak menganggapnya ada. Ternyata Abdi bayi besar juga.
__ADS_1
'' Pergi , menjemput Dewa di sekolah " ucap Abdi ketus , ia akan benar-benar memarahi Rafli habis-habisan hari ini..
Jangan lupa like dan komentarnya ya ...