Takdir Cinta

Takdir Cinta
Kehadiran Laras


__ADS_3

'' Bu , pak . Ana dan Jelita akan pergi sebentar kok . Jelita gak mau di tinggal dan sudah semangat ingin memiliki teman baru . Kami akan segera kembali " ucap Ana dan diangguki pasrah orang tua Ana , namun Laras terlihat kecewa.


'' Apa ibu mau ikut saja " tanya Ana .


'' Ibu dirumah saja Ana. Ibu juga baru perjalanan jauh " sela Gunawan dan membuat ibu Laras menurut saja , ia pun baru sembuh sakit dan nekat ingin ke Berlin demi menemui cucunya.


'' Baiklah Bu . Ana dan Jelita pergi dulu ya " ucap Ana dan mereka segera berpamitan .


'' Ibu ingin ikut kenapa bapak larang " ucap Laras sesaat baru saja Ana melangkah keluar.


'' Ibu kan baru sembuh , ingat pesan dokter . Apa ibu gak malu merepotkan menantu kita " ucap Gunawan.


'' Tuan , nyonya . Kamarnya telah siap " ucap pelayan sopan .


'' Baiklah , terimakasih " ucap Laras.


'' Oh ya , ada oleh-oleh untuk kalian masih di bagasi . Tolong di bagikan " imbuh Laras teringat oleh-oleh untuk pelayan di mansion menantunya .


'' Terimakasih nyonya " ucap pelayan dengan sumringah . Rata-rata pelayan dimansion Rafli bisa berbahasa Indonesia tanpa canggung .


.


.


.


'' Aunty " seru Ericana saat melihat kedatangan Ana dan juga Jelita . Jelita terlihat jutek karena merasa tidak di sapa saat itu .


'' Vin " ucap Ana dan menyerahkan puding buatannya kepada Vini .


'' Terimakasih mbak " ucap Vini dan diangguki Ana.


'' Hai Jelita cantik . Apa kabar nak " ucap Vini ramah.


'' Baik aunty " ucap Jelita tersenyum.


'' Sayang . Kenalkan , ini Jelita anak aunty " ucap Ana dan Ericana membalas uluran tangan dari Jelita . Jelita merasakan getaran yang tak biasa saat bersalaman dengan Ericana . Jelita hendak menangis namun sekuat mungkin menahannya . Jelita ingin sekali mempunyai saudara perempuan sedari dulu , namun harapannya pupus saat adik kembarnya meninggal dunia dan sang bunda juga di vonis tak bisa melahirkan .


'' Mbak . Aku tinggal sebentar ya " ucap Vini dan diangguki Ana . Ini adalah langkah Eric dan Vini supaya Ana bisa leluasa dekat dengan Ericana tanpa batasan .


'' Mama tinggal sebentar ya sayang " ucap Vini .


'' Yes mam " ucap Ericana yang kini tengah menikmati puding enak buatan Ana , meski sesekali ia merasa takut saat Jelita menatapnya dengan pandangan sulit di artikan .


'' Kakak mau " tanya Ericana membuyarkan lamunan Jelita .


'' No '' ucap Jelita .


Ana membawa Jelita untuk mudah akrab terhadap Ericana dan itu tidak sia-sia. Jelita berubah menjadi cerewet dan itu membuat Ericana terkekeh lucu . Ana tersenyum hanya melihat hal itu .


'' Maaf aunty ganggu ya " ucap Vini yang tak enak hati menghentikan tawa Jelita , sedangkan Ana sibuk berbalas pesan dengan suaminya.


'' Kalian mengobrol lah , aunty ingin mengobrol juga bersama mamamu " ucap Vini.


'' Bunda , bukan mama " protes Jelita .


'' Sorry sayang. Aunty tidak tau. Baiklah , aunty akan mengobrol dengan bunda mu " ucap Vini memperbaiki ucapannya , karakter Jelita cukup mengejutkan baginya , salah yang tak disengaja langsung terkena protesnya dan Vini memaklumi sifat Rafli menurun kepada Jelita .


'' Aku takjub dengan Jelita mbak " ucap Vini berbisik saat tak sengaja matanya melihat tatapan mata Jelita . Seakan mengatakan jangan mengambil bunda ku.


'' Apa takjub mu itu karena putriku itu cukup menyebalkan " ucap Ana tergelak .


'' Sedikit , tapi ia begitu cerdas dan ia cukup posesif bahkan ia protes saat aku memanggil mbak dengan sebutan Mama bukan bunda " ucap Vini baginya menggemaskan .


'' Bagiku Jelita meniru sifat suamimu mbak " ucap Vini tak enak hati .


'' Kau tak perlu merasa sungkan begitu. Bukan kau saja yang berbicara seperti itu , keluarga kami pun punya penilaian yang sama seperti mu . Mungkin karena Jelita begitu dekat dengan Rafli, Rafli pun begitu memanjakannya " ucap Ana tersenyum , masih memperhatikan aktivitas Jelita dan juga Ericana..


'' Mbak '' ucap Vini membuka pembicaraan yang begitu serius saat ini.


'' Ada apa Vin " tanya Ana .


'' Lusa , kami akan kembali ke Italia " ucap Vini seketika membuat Ana menjadi muram .


'' Kenapa begitu cepat . Apa kalian tidak memikirkan kesehatan Ericana " ucap Ana lirih.


'' Malam ini Ericana telah dinyatakan bisa pulang mbak " ucap Vini .


'' Tapi apa kalian yakin . Ericana telah benar pulih " ucap Ana tak lagi menatap Vini , ada kesedihan di dalam hatinya.


'' Sebenarnya kami pergi hari ini mbak , dikarenakan Ericana sakit jadi kami mengundurnya " ucap Vini tak enak hati .

__ADS_1


'' Apa tidak bisa Eric saja yang kembali ke Italia , kau dan Ericana tetaplah disini . Biar aku nanti yang mengantar kalian. Keluargaku juga bisa menjamin keselamatan kalian . Biar aku yang bicara dengan Eric untuk membiarkan kau dan Ericana untuk lebih lama di Berlin " ucap Ana mengeluarkan segala solusinya agar Ericana tetap tinggal .


'' Maaf mbak . Aku harus menuruti ucapan suamiku. Aku tak berani melawannya mbak '' ucap Vini menunduk .


'' Biar aku yang bicara dengan Eric '' ucap Ana namun Vini hanya diam . Vini bingung harus menjawab apa .


'' Sayang . Ayo kita pulang '' segera beranjak mengajak Jelita untuk pulang . Terlihat Jelita begitu kecewa dan wajah Ericana berubah menjadi sedih .


'' Aunty '' ucap Ericana merengek dan Ana tak sanggup untuk itu .


'' Aunty akan menemui mu besok '' ucap Ana mencium pipi Ericana dengan perasaan berkecamuk saat ini . Ana memeluk Ericana seakan begitu enggan untuk berpisah.


'' Bunda . Jelita ingin Ericana ikut pulang bersama kita '' seloroh Jelita dengan permintaan yang sulit dikabulkan .


'' Je... '' ucap Ana .


'' Jeje ingin Ericana ikut pulang dengan kita . Ericana adik Jeje bunda '' ucap Jelita dan Ana menggeleng cepat sementara Vini tersentak begitu kaget . Ericana hanya diam mendengarkan.


'' Jeje dengarkan bunda . Jeje boleh menganggap Ericana sebagai adik Jeje namun Ericana bukan anak bunda dan ayah dan otomatis bukan adik Jeje . Ericana bukan Zilva ataupun Kanya . Zilva dan Kanya sudah berada di surga '' ucap Ana menjelaskan .


'' Tapi bunda . Jeje ingin Ericana tinggal bersama kita '' ucap Jeje bersikeras .


'' Jeje berhenti memaksa kehendak mu . Ayo kita pulang , jangan membuat bunda semakin marah '' ucap Ana sedikit meluapkan emosinya membuat Jelita malah menangis. Tanpa menoleh kepada Ericana yang kini berkaca-kaca , Ana segera membawa Jelita untuk segera keluar.


''Aunty.... '' jerit Ericana menangis namun kali ini Ana tak menggubris nya . . .


'' Jelita akan minta pada ayah nanti '' ucap Jelita saat berada di perjalanan pulang .


'' Lakukan jika ayahmu bisa . Ericana bukan keluarga kita '' ucap Ana dingin , sementara Jeje terus menangis .


Mansion Rafli


Rafli yang tengah berbincang dengan mertuanya menatap terkejut Jelita yang masuk dengan berlinang air mata .


" Ayah ... hiks...hiks...bunda jahat " Isak Jelita .


" Ana , apa yang kau lakukan pada cucu ibu " ucap Laras sedikit memarahi Ana.


" Ibu tanyakan saja pada Jelita " ucap Ana.


" Sayang " ucap Rafli menegur Ana.


" Aku lelah mas . Bu , pak , Ana ke kamar dulu " ucap Ana berjalan lesu.


" Tapi Ericana cantik ayah , dan Jeje mau adik seperti dia " Isak Ericana.


" Seperti apa cantiknya Ericana sayang " goda Laras.


" Cantik sekali nek . Pokoknya cantik ... ayo yah , kita bawa Ericana kesini " ucap Jelita kekeh .


" Besok kita kesana ya " ucap Rafli membujuk .


" Jelita maunya Ericana tinggal disini . Titik " ucap Jelita tak ingin di bantah .


" Iya sayang " ucap Rafli terpaksa berbohong dan membuat Ericana senang . Mana mungkin Rafli mau mengurus anak dari rivalnya itu dan itu bisa membuat Eric kembali dekat dengan Ana ..


" Nenek jadi penasaran seperti apa sayang … cantiknya Erica itu " ucap Laras.


" Kalau gitu nenek ikut saja besok " ucap Jelita .


" Oke. Nenek akan ikut " ucap Laras bersemangat .


" Ingat dirimu baru sembuh " ucap Gunawan memperingati.


.


.


.


Makan malam terasa begitu berbeda saat ini dan itu karena terlihat kursi kosong disamping tempat duduk pemilik mansion.


'' Ayah , kenapa bunda tidak ikut makan malam " tanya Arjuna.


'' Bunda sedang tidak enak badan sayang '' ucap Rafli yang terlihat tidak menikmati makan malamnya .


Rafli segera pamit kepada kedua mertuanya dengan sepiring makan malam untuk Ana.


ceklek


Rafli menghela nafas panjang melihat Ana dipastikan tengah tertidur. Hatinya begitu ngilu saat melihat Ana memegang foto saat mengandung Zilva dan Kanya , Rafli menyibak surai indah istrinya dan terlihat Ana habis menangis karena terlihat dari mata sembabnya .

__ADS_1


'' Maafkan aku sayang " ucap Rafli . Rafli membenarkan tidur Ana secara perlahan agar istrinya tidak terganggu.


'' Aku pastikan setelah aku melenyapkan dalang dari semua musibah ini. Hidup kita akan bahagia " ucap Rafli bersungguh-sungguh.


'' Aku tak akan membiarkan kau menangis lagi . Yakinlah semua akan segera baik-baik saja. Tapi jangan memaksa aku untuk menikah lagi , karena aku tak sanggup Ana " ucap Rafli mencium kening Ana dan ikut tertidur , ia tak jadi membangunkan Ana untuk makan malam .


.


.


.


Ana bangun secara perlahan saat menyadari sang suami memeluk tubuhnya dengan posesif .


'' Tidur lagi lah sayang " ucap Rafli mencegah Ana untuk beranjak .


'' Mas aku harus siap-siap untuk menyiapkan sarapan untuk anak-anak dan dirimu " ucap Ana ...


'' Kau bisa suruh pelayan sayang. Apa gunanya koki jika kau yang selalu memasak . Atau mas pecat saja dia " ucap Rafli menjadi kesal .


'' Tapi mas '' ucap Ana membuat Rafli membuka matanya dan segera meraih telepon untuk memberi perintah kepala pelayan untuk menyuruh koki dimansion tersebut menyiapkan sarapan untuk anak-anak nya termasuk dirinya dan Ana serta kedua mertuanya.


'' Sudah beres . Ayo kita tidur lagi '' ucap Rafli membuat diri Ana tak berkutik saat suaminya kembali memeluknya .


.


.


.


Saat ini Rafli , Ana , Jelita dan Laras tengah berada di dalam perjalanan menuju apartemen Eric tinggal setelah pihak rumah sakit mengatakan jika Ericana telah pulang semalam . Rafli sendiri telah melupakan sifat Jelita yang pasti akan menagih ucapannya.


'' Mas , apa kau yakin akan bicara dengan orang tua Ericana untuk meminta Ericana menginap di rumah kita meski hanya semalam '' ucap Ana memastikan. Ana tau betul sifat Rafli seperti apa , apalagi bicara baik-baik dengan Eric itu sangat mustahil . Apa Eric tak mengejek Rafli saat mereka berbicara nanti ...


'' Jangan lakukan jika itu menghancurkan harga dirimu nanti '' imbuhnya merasa khawatir.


'' Mas gak mau , menghancurkan harapan anak kita tapi jika baj*ngan itu mengejek mas , mas akan patahkan lehernya '' ucap Rafli terlihat sedikit geram .


......


Apartemen


Eric yang tengah menikmati sarapan paginya bersama keluarga kecilnya terganggu dengan bunyi bel apartemen yang tiada henti .


" Mengganggu saja , akan ku habisi nanti tamu yang tak tau aturan " gumam Eric...


" Biar aku saja mas " ucap Vini dan diangguki Eric .


ceklek


Jantung Vini terasa lari maraton saat melihat Rafli serta Ana dan tak luput dari pandangannya sosok wanita paruh baya yang bisa di panggil nenek dalam hadapannya .


" Hai aunty " sapa Jelita dengan box kecil di tangannya membuyarkan lamunan Vini


" Eh Hay... " ucap Vini gugup.


" Vini , siapa yang menekan bel tak tau aturan itu " tanya Eric seraya berjalan dan membawa Ericana dalam gendongannya.


" Aku yang menekannya . Kenapa " ucap Ana , emosinya cukup ia pendam dari kemarin siang membuat suasana hatinya tak bersahabat .


Deg Jantung Eric berdebar saat wanita yang masih mengisi separuh hatinya lah yang telah menekan bel tak tau aturan itu .


" Bukan maksudku seperti itu " ucap Eric melemah ...


" Cih... " Rafli hanya mendecih saat mendengar Eric begitu lemah saat berhadapan didepan istrinya.


" Ibu Laras " ucap Eric dengan raut wajah memucat saat menyadari siapa yang ikut dalam rombongan itu .


Ibu Laras melihat Ericana secara intens dan pandangan itu begitu sulit di artikan.


" Apa uncle tak membiarkan kami masuk " ucap Jelita yang merasa kakinya begitu pegal mematung sedari tadi .


" Ayo kita pulang " ucap Rafli , rasa cemburu kini mulai menguasainya .


" Tidak ayah " ucap Jelita .


" Kita tidak akan pulang Rafli " suara ibu Laras membuat langkah Rafli langsung berhenti .


" Nak Eric , ibu ingin bicara " ucap Laras , yang di lihatnya saat ini merasa begitu mustahil .


" Mari silahkan masuk " ucap Vini yang kini tangannya nampak terlihat begitu gugup.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya.


__ADS_2