Takdir Cinta

Takdir Cinta
Episode 347


__ADS_3

Suara hati yang memanggilmu


Menyerukan kata


Kata cinta untukmu


Di remang cahaya sukma


Kucoba melangkah


Menggapai seluruh bayangmu


Akankah semua dapat kutemukan?


Belahan jiwa yang selama ini kucari dan kucari


Kau yang terindah yang terbaik


Yang pernah aku miliki


Tiada lain di hatiku


Hanya kau yang selalu kutunggu


Sisi hatimu yang menyentuhku


Selalu membuatku


Semakin tenggelam dalam ragu


Di dalam hatimu


Akankah semua dapat kutemukan


Belahan jiwa yang selama ini kucari dan kucari


Kau yang terindah yang terbaik


Yang pernah aku miliki


Tiada lain di hatiku


Hanya kau yang selalu kutunggu


Yang terindah yang terbaik


Yang pernah aku miliki


Tiada lain di hatiku


Hanya kau yang selalu kutunggu


Kau yang terindah yang terbaik


Yang pernah aku miliki


Tiada lain di hatiku


Hanya kau yang selalu kutunggu


Yang terindah yang terbaik


Yang pernah aku miliki


Tiada lain di hatiku


Hanya kau yang selalu kutunggu


Yang terindah yang terbaik


Yang pernah aku miliki


Tiada lain di hatiku


Hanya kau yang selalu ...


**Sumber: Musixmatch


Penulis lagu:


Lirik Suara Hati © Pt. Trinity Optima Publishing, Pt.massive Music Entertainment**


Tak ada yang bisa dia lakukan saat melihatmu menangis, entah kenapa hatinya seakan putus asa. Perasaannya tidak bisa sampai pada wanita yang dia sukai.

__ADS_1


Entah sampai kapan dia akan menyimpan perasaannya sendirian. Tidak ada hati untukmu berlabuh, tak ada getaran yang membuatny terpaku dalam satu waktu.


"Jangan melihat sesuatu yang jauh disana dan tidak bisa kau gapai. Karena sesungguhnya apa yang kau butuhkan itu ada di depanmu," seru Wendy menatap Wildan lalu menunjuk seorang wanita yang termenung di sebuah kursi.


"Apa maksudmu, aku tahu siapa dia, seperti apa perasaannya padaku dan seperti apa dirinya padaku," jawab Wildan.


"Apa kau tidak pernah melihat tatapan matanya yang selalu sendu dan akan mengalirkan butiran bening saat kau dalam bahaya?" tanya Wendy.


"Dia adalah wanita yang selalu ada bersamamu, seorang tangan yang selalu menarikmu dalam kesusahan, sebuah tubuh yang mendekapmu dalam kesedihan dan kesenangan," sambung Wendy.


"Jangan lagi acuhkan dirinya yang sudah bertahan puluhan purnama hanya untuk dirinya," pinta Wendy seraya menepuk bahu Wildan.


Wendy berjalan menjauh, meninggalkan sang adik tuk berpikir jernih siapa yang seharusnya dia cintai dan siapa yang harusnya dia kasihani.


Wildan menatap lekat wanita yang duduk di kursi panjang itu, wanita muda yang menunggumu sejak beberapa jam lalu karena cemas dengan keadaannya. Wanita yang sudah bersamanya beberapa tahun belakangan, menemaninya dengan segala keadaan apa pun.


Wildan mengingat akan pertama kali bertemu dengannya, pertemuan pertama yang membuat mereka dekat dan saling menukar janji.


"Apa aku terlalu kejam padamu? Apa aku terlalu bodoh dengan segala rasaku padanya. Sampai aku mengacuhkanmu lebih dalam dari sebelumnya?" tanya Wildan pada dirinya sendiri.


"Apa setelah ini, kau masih berpihak padaku? Apa setelah ini hati itu masih menunggu diriku?" tanya Wildan seraya berjalan mendekati wanita itu.


Terlihat wanita itu mengangkat wajahmu yabg sejak tadi menunduk sedih. Tatapannya berubah saat melihat Wildan yang terus berjalan ke arahnya, air mata yang sejak tadi dia tahan tak bisa lagi di bendung.


"Kenapa, kau menatapku dengan air mata yang mengalir deras?" tanya Wildan dengan sangat lirih.


Wanita itu tidak mendengarkan apa yang di katakan Wildan, yang dia tahu jika lelaki yang dia cintai baik-baik saja.


Brugh,, wanita itu menubrukkan tubuhnya pada Wildan, memeluknya dengan sangat erat. Tidak ada lagi kata malu atau takut saat dia melakukan itu, yang dia tahu adalah memeluknya dan memastikan semuanya baik-baik saja.


"Kau membuatku takut, kau membuat napasku berhenti seketika. Bagaimana jika detik itu adalah hari kematianmu? Tolong jangan lakukan itu lagi!" pintanya dengan terisak.


Wildan semakin sesak mendengar ucapan darinya, sungguh hatinya begitu sakit karena rasa cintanya yang begitu besar pada dirinya. Wildan memeluk erat tubuh wanita muda itu, mengangkat wajahnya dan menciumnya dengan sangat lembut.


Rasa cinta yang datang terlambat, membuat sebuah keajaiban tersendiri untuk Wildan.


"Maafkan aku yang mengacuhkan cinta dan sayangmu, El. Aku begitu bodoh dengan rasa cintaku sendiri," ucap Wildan.


Elina, ya wanita muda itu adalah Elina seorang dokter muda yang sudah menyukai Wildan saat pandangan pertama. Wanita yang selalu ada bersamanya.


"Rasa cintaku dan sayangku akan tetap ada untukmu sampai kapan pun. Walau pun itu harus menunggu seribu purnama," balas Elina.


Wildan tersenyum menatap Elina, wanita muda itu tak lagi ragu dengan apa yang ingin dia lakukan. Elina mencium bibir Wildan dengan penuh cinta.


-Waktu yang telah berlalu


Bahkan tanpa ku sadari, itu bermekaran di sekitar mataku kata-kata yang tak bisa ku katakan sekarang mengalir


Cinta yang sudah lama mengalir di wajahku


Untuk sementara waktu, kau adalah kekasihku


Tapi sekarang, bir hanya terasa pahit


Hatiku yang ternoda dengan kebencian diri yang terlambat, bahkan dikosongkan oleh angin yang berhembus


Selamat tinggal yang akhirnya mendatangiku adalah apa yang layak aku dapatkan di akhir kebohonganku yang penuh kebohongan


Bila seseorang mengembalikan waktu untukku


Akankah aku lebih jujur


Wajahku yang telanjang yang hanya aku yang tahu


Dan untuk teman lamaku yang jelek dan rendah hati dalam diriku


Mungkinkah kau masih mencintaiku dengan senyuman yang biasa kau buat disaat melihatku


Selamanya, berhenti mengatakan hal-hal seperti selamanya


Bagaimanapun juga harus ada akhirnya


Jika ada permulaan, aku tidak ingin mendengarkannya


Saran itu terlalu benar atau terlalu banyak kata kenyamanan


Aku tidak ingin mendengarkannya Aku sangat takut


Karena rasanya mungkin aku belum pernah mencintaimu sama sekali, bahkan tidak sekali pun


Meskipun terlambat, kau tulus


Hanya kau yang mencintaiku

__ADS_1


Lebih dari itu


Kau adalah awal dan akhirku, Itu saja


Pertemuanku dan perpisahanku


Itu saja


Ke depan, rasa takut akan terulang kembali dikarenakan oleh mu


Air mata


Air mata


-BTS : TEARS-


Air matanya terus mengalir menyadari seperti apa takdir cintanya. Tidak ada yang tahu akan seperti apa satu menit ke depan.


Hanya air mata yang menjadi kawannya, hanya ada hembusan angin dingin yang menyelimutinya.


Hatinya kini lebih dingin dari pada salju yang terhampar luas di depan matanya. Membeku lebih dari es batu yang kokoh.


Wanita itu terlihat begitu dingin dan seakan tertutup kabut tebal seperti salju yang selalu menutupi gunung nan tinggi.


"Harus aku berkata apa, jika semuanya harus menjadi kesakitan dan sebuah air mata? Sudah Ku mencoba kuat setegar karang. Tapi, nyatanya hatiku begitu rapuh bagaikan sebuah potongan katu kering yang terinjak."


"Aku tidak bisa menjadi sebuah takdir tuk seseorang, bahkan aku tidak bisa melihat seperti apa takdir ku sendiri."


Seketika waktu terhenti tuk dirinya yang terlupakan oleh seseorang yang sangat dia sayangi dan cintai. Terlihat di setiap kedipan matanya, semua kenangan indah yang terasa singkat, semua rasa nyaman dan senang yang telah dia lewatkan. Bahkan rasa sakit itu seperti sudah terbiasa dalam dirinya yang sekarang tak merasakan apa pun lagi.


"Aku tak ingin berada di masa lalu, masa kemarin atau pun masa sekarang. Aku ingin kembali terlahir tanpa berada di keliling kalian, aku tidak ingin bertemu dengan siapa pun yang berada di sekelilingku waktu ini."


Hembusan napasnya tersengal menahan rasa di hatinya, menahan udara dingin yang terus menghampirinya.


"Selamat tinggal, semoga kalian bisa selalu bersama dengan kebahagiaan. Lupakan segalanya dan aku harap tidak akan pernah bersua kembali," gumam Vanya seraya berjalan melewati jalanan bersalju.


Vanya meninggalkan segalanya yang sudah terjadi, setelah kejadian itu Vanya dan yang lainnya kembali ke Finlandia dengan membawa keluarga baru.


Vanya melihat Sam untuk yang terakhir kalinya, Abigail yang sudah mengetahui itu tidak bisa menahan atau pun melarang keputusan dari sang adik.


Yang Abigail tahu, jika sekarang Vanya dalam keadaan yang sangat terpuruk. Wanita muda ingin sekali bebas dan kembali merentangkan sayapnya tanpa belenggu dari siapa pun.


"Pergilah ke tempat di mana tidak ada yang tahu siapa dirimu. Jadilah seseorang yang baru, lahirlah kembali dengan takdir yang indah. Aku akan selalu melihatmu di mana pun kau berada," ucap Abigail seraya memeluk tubuh Vanya.


"Katakan pada semuanya. Vanya Anastasya telah tiada, tidak ada lagi Anha kecil di keluarga kalian. Katakan padanya jika bangun nanti, carilah adiknya yang lain!" pinta Vanya menatap Sam yang masih terbaring koma.


Abigail menyentuh pipi Vanya dengan lembut. Mencium kening sang adik sangat lama, Vanya tersenyum seraya berjalan pergi meninggalkan Abigail yang menangis melepas kepergiaannya.


Satu bulan lalu


Laudya dan Roy di selamatkan oleh Ken dan Wildan setelah membawa mereka kw rumah sakit terdekat. Vanya yang tak sadarkan diri, telah di bawa pergi oleh Messi beserta dengan Alex dan Zee.


Setelah melakukan operasi yang panjang, Ken dengan wajah yang kesal mengatakan jika Laudya selamat begitu juga dengan janin yang berada di perutnya.


Wildan yang marah pada Wil, sama sekali tidak ingin menemui lelaki itu dan hanya berpikir soal Vanya. Roy pun bisa di selamatkan dan Jukian sangat berterima kasih pada Wildan.


Zidan bernasib lain, lelaki tua itu meninggal setelah peluru yang bersarang di dada dan perutnya. Ah Yoon dan keluarga Kim memberikan infomasi kematian Zidan ke seluruh stasiun tv agar pada saingannya bisa melihat siapa yang telah membunuhnya.


Seketika nama Lexuon menjadi buah bibir karena sudah membunuh Zidan, identitas itu semakin di takuti oleh para pesaing bisnisnya.


Ken menyerahkan semuanya pada Zidan, karena dia tidak ingin di kenal sebagai pembunuh dari Zidan, karena dirinya adalah seorang dokter.


Vanya kini sudah menaiki sebuah pesawat pribadi yang siap membawanya pergi jauh dari seluruh keluarganya ke belahan dunia lainnya.


"Masih menitikkan air matamu?" tanya seorang lelaki yang berada di belakangnya.


"Tidak ada air mata lagi, aku rasa mulai sekarang air mataku mengering," jawab Vanya.


"Berpalinglah padaku, jangan lagi menatap ke belakang. Tataplah aku dan berjalan bersama ke depan denganku," serunya.


Vanya kembalikan tubuhnya dan menatap lelaki itu dengan senyuman di wajahnya. Terlihat lelaki itu sangat senang melihat senyum di wajah Vanya.


"Jangan tinggalkan aku lagi, terus lah bersamaku dan jangan lepaskan aku seperti sebelumnya!" pinta Vanya berjalan mendekat.


"Aku memang yang terakhir, aku memang lelaki yang akan selalu menjadi bayanganmu. Aku akan ada bersamamu, walau pun sangat terlambat," ujannya dengan menarik Vanya ke dalam pelukannya.


"Terimakasih, karena sudah datang dalam hidupku dalam waktu yang menyedihkan seperti ini," seru Vanya memeluk tubuh lelaki kekar itu.


"Waktuku memang salah tuk mencintaimu dalam sekejap mata, tapi rasa cintaku tidak akan pernah salah karena mencintaimu," ujarnya kembali seraya mencium pucuk kepala Vanya dengan sangat lama.


Pesawat itu terus menembus cakrawala, melihatkan keindahan dunia awan yang terlihat tenang.


Membawa pergi sepasang muda mudi itu pergi menjauh dari semua kenangan saat itu.

__ADS_1


Sedangkan di hari yang telah berlalu semuanya berjalan dengan baik tanpa mengingat satu hari yang terlupakan.


Bersambung....


__ADS_2