Takdir Cinta

Takdir Cinta
Kenang -kenangan


__ADS_3

'' Vin , maafkan aku '' ucap Eric penuh sesal .


'' Cintamu memang tak akan pernah bisa aku gapai mas . Bahkan kau rela menukarku dan Ericana agar bisa bersama mbak Ana. Aku tak ada arti dimatamu mas ...hiks...hiks... '' ucap Vini seraya membereskan bajunya kedalam koper . Eric membuang koper Vini menjauh dari mereka.


'' Mas punya alasan mengatakan itu. Rafli telah menginjak harga diri mas jadi mas sengaja membuatnya marah '' sesal Eric.


'' Tapi tak seharusnya seperti itu mas . Aku lelah mas jika harus berjuang sendiri . Ceraikan aku selepas aku melahirkan '' ucap Vini yang pada akhirnya tak mampu untuk bertahan .


'' Aku tak bisa menceraikan dirimu Vini dan tak akan pernah menceraikanmu '' teriak Eric tak terima .


'' Kenapa , apa karena mama , apa karena anak ini . Mas tak perlu khawatir , aku akan menyerahkan anak ini setelah melahirkan '' ucap Vini lirih .


'' Karena aku mulai mencintaimu Vini '' ucap Eric gugup .


'' Cinta , cinta seperti apa . Apa cinta yang selalu menyakiti perasaanku " ucap Vini tersenyum getir dan Eric menggeleng dengan cepat ...


'' Sumpah demi apapun Vini , aku mulai mencintaimu dan perkataan Ana membuatku sadar bahkan namanya berada di bawahmu . Kau pemilik hati ini Vini , kau yang bertahta paling teratas '' ucap Eric kini matanya mulai berkaca-kaca.


'' Aku mohon Vini , beri sedikit waktu lagi agar cinta ini sepenuhnya untuk mu . Aku tak ingin kehilangan untuk kedua kalinya Vini. Jika saat Ana pergi membuatku gila dan bisa sembuh , namun jika kau pergi aku akan mati hari itu juga Vini '' ucap Eric dengan tubuh yang merosot kebawah, butiran kristal bening membasahi manik mata indahnya.


'' Kali ini beri aku kesempatan " ucap Eric memohon di bawah kaki Vini . Vini tersentak kaget dan segera membawa posisi tubuh Eric untuk berdiri .


'' Satu hal yang ingin ku tanyakan '' ucap Vini mencoba tenang.


'' Jika suatu saat mbak Ana berpisah dari suaminya karena wanita pelakor itu. Apa mas akan kembali pada mbak Ana " tanya Vini serius.


'' Mas berani bersumpah demi apapun , tak akan kembali kepada Ana jika itu terjadi dan cinta ini hanya untukmu. Tapi jika untuk tidak peduli saat itu , jujur mas tak bisa. Dari kecil mas selalu melindunginya , namun mas sadar batasan yang harus dijaga " ucap Eric.


'' Itu juga jika dirimu mengizinkannya " imbuhnya tegas.


'' Aku tak mungkin tak mengizinkan mas , asal mas tau batasannya. Mbak Ana orang yang baik dan dia juga gak ada niat buruk dalam hubungan kita " ucap Vini tersenyum.


'' Jadi " tanya Eric memastikan .


'' Aku mengizinkan mas untuk peduli pada mbak Ana namun sesuai batasan " ujar Vini.


'' Bukan itu yang mas tunggu jawabannya " ucap Eric.


'' Maksud mas , jawaban apa " tanya Vini polos .


'' Mau kan beri mas kesempatan " tanya Eric .


'' Ya , aku memberikan kesempatan terakhir untuk mas " ucap Vini tersenyum dan Eric segera memeluk tubuh Vini lalu mencium bibir wanita itu dengan perasaan cinta bukan hanya sekedar nafsu belaka.


ceklek.


'' Maaf , mama gak sengaja " ucap Sasa dan segera menutup pintu kembali.


'' Diriku cemas malah mereka asik berciuman " gerutu Sasa namun senyumnya mengembang saat mengetahui jika Eric begitu mencintai Vini .


'' Mas . Aku malu banget " ujar Vini.


'' Kau harus terbiasa nanti sayang . Lagian kita juga suami istri " ucap Eric mencium gemas pipi tembam Vini .


Sasa menanyakan tentang keributan yang baru saja terjadi. Sasa menghela nafas dalam karena disini dirinya cukup merasa bersalah dan juga merasa cemas tentang Ericana sementara Teguh merasa ada rahasia yang sengaja di tutupi oleh Eric tentang Ericana.


.


.


.


Sementara selama perjalanan pulang terasa hening saat Jelita telah berhenti menangis terlelap dalam pelukan sang nenek.


'' Seharusnya mas tak perlu berkata seperti itu pada Vini " ucap Ana menyesali ucapan suaminya yang bisa saja membuat hubungan Eric dan Vini berkahir di meja hijau


'' Tapi yang mas katakan benar adanya Ana. Mas sebagai pria bisa melihat tatapan matanya. Bahkan saat tau kau yang memencet bel tak sabaran wajahnya menjadi lembut gitu , menjijikkan " ucap Rafli .


'' Ya sudah gak usah di bahas. Maaf membuat mas marah . Aku tak mengizinkan mas jika bertemu dengannya lagi " ucap Ana lalu bergelayut manja di lengan suaminya meredahkan emosi Rafli salah satunya dengan merubah dirinya menjadi manja.


'' Mas hanya gak mau kehilangan kalian semua , terutama dirimu Ana " ucap Rafli lirih dan tetap fokus menyetir meski sekali-kali mengecup pucuk kepala Ana... Bu Laras yang melihatnya pun tersenyum bahagia , ternyata pilihan Gunawan untuk menerima lamaran Rafli tidaklah salah saat itu .

__ADS_1


'' Nak , bisa kita kerumah sakit sebentar " tanya Laras ...


'' Ibu mau periksa kesehatan " tanya Rafli .


'' Iya , ibu sudah janji temu sama dokter " ucap Bu Laras.


'' Baiklah Bu " ucap Rafli lalu berbelok ke jalur kanan untuk menuju rumah sakit swasta terbaik di kota Berlin.


'' Rafli , ibu meminta Ana untuk menemani ibu kedalam sebentar ya " izin Laras dan membuat Rafli tergelak.


'' Tentu saja boleh Bu . Aku didalam mobil saja Bu , Jelita masih tidur " ujar Rafli tersenyum .


'' Kau menantu yang baik dan juga pria paling tampan di muka bumi ini " ucap Bu Laras dan seketika pipi Rafli merona. Mertuanya yang kalem kini pintar dalam merayu orang. ..


'' Ibu begitu menggelikan. Pasti banyak bergaul dengan Rahma " ucap Ana sekenanya.


'' Sudah ayo. Nanti kita terlambat " ucap Laras saat Ana hendak bertanya tujuan mereka ..


'' Tetaplah diam dan ini akan jadi kejutan untukmu " ucap Bu Laras membuat Ana malah tambah penasaran.


Bu Laras masuk kedalam menemui dokter yang memang telah ia hubungi . Terlibat pembicaraan serius di dalamnya . Waktu tes DNA yang biasa memakan waktu lebih dari dua minggu kini akan segera keluar dalam waktu dua hari , Bu Laras pun tak keberatan meski harus membayar lebih dari 30 juta rupiah jika di rupiahkan . Meski hasilnya mengecewakan nantinya baginya tak masalah yang terpenting telah berusaha untuk menjawab semua kecurigaannya .


'' Semoga cucuku masih hidup dan itu Ericana " gumam Laras.


.


.


.


Rafli yang sedang berada di ruang kerja pribadi miliknya sedang sibuk memeriksa pekerjaannya sedangkan Ana kini tengah mencari sebuah kotak yang berisi dua buah gelang yang telah lama ia buat beberapa tahun yang lalu.


'' Ya ampun , dimana kotak itu " ucap Ana cemas dengan mata berkaca-kaca , mondar mandir mencoba mengingat benda itu dimana namun tak kunjung menemui titik temu ...


'' Siapa yang memindahkannya , tapi kok gak ada " gumamnya lirih.


ceklek


'' Mas , kamu lihat kotak yang dari jati itu yang ada permata berwana pink " tanya Ana .


'' Biasanya aku letakkan di dekat mukenah tapi gak ada " imbuh Ana . Rafli tersenyum getir , melihat kotak kecil imut itu ada kesedihan di hatinya . Didalam kotak itu terdapat kalung yang terbuat dari mutiara terbaik yang pernah ada dan dihiasi dengan mutiara terindah di sekitarnya .


" Mas " ucap Ana saat Rafli memeluk tubuhnya.


'' Kenapa lagi dicari . Lupakan hal itu Ana " ucap Rafli lirih...


'' Tidak bisa aku melupakannya mas . Kau mendapatkan mutiara itu dari pelelangan dan aku sendiri yang membuatnya menjadi sebuah kalung " Isak Ana , tangisnya pecah saat dua orang yang harus mengenakannya namun telah tiada.


'' Iya mas tau , tapi mas tak ingin kau sedih terus seperti ini sayang " ucap Rafli.


'' Aku hanya mau kotak itu mas , dimana " tanya Ana .


'' Di gudang , mas meletakkannya di gudang " ucap Rafli membuat Ana menatapnya kesal bukan main . Ana segera menuju gudang yang dimaksud suaminya dan di ekori Rafli di belakangnya .


Ana menyalakan lampu gudang dan manik matanya meneliti sekelilingnya. Rafli segera melangkah dan mengambil kotak yang di cari istrinya. Ana segera menerimanya dan membuka isinya , tak ada yang berubah dan nampak berkilau ...


'' Syukurlah masih tetap indah " ucap Ana tersenyum meski ada guratan kesedihan diwajahnya.


'' Ayo " ucap Rafli mengandeng tangan Ana dengan lembut. . .


'' Mau diapakan kalung itu sayang " ucap Rafli memeluk istrinya dari belakang , melihat pantulan wajah istrinya tersenyum mampu membuatnya tertular senyum tersebut.


'' Aku berniat memberikannya satu untuk Jelita dan satu untuk Ericana " ucap Ana.


'' Kenapa Ericana sayang . Kan bisa untuk anak perempuan dari sahabatmu atau anak perempuan dari sahabat mas " ucap Rafli ingin protes.


'' Aku ingin saja memberikan ini untuk Ericana. Apalagi besok ia akan berangkat ke Italia . Entah kapan aku akan bertemu dengannya lagi mas " ucap Ana tersenyum getir .


'' Jadi besok gak jadi ke kantor mas " tanya Rafli kecewa.


'' Aku akan tetap ke kantor mas , menjelang makan siang dan kita makan siang bersama tapi sebelum itu aku akan bertemu Vini dan Ericana " ucap Ana.

__ADS_1


'' Boleh ya mas " pinta Ana memelas .


'' Jika kau seperti ini mas mana bisa menolak , yang terpenting jangan dekat-dekat dengan b*jingan itu " ucap Rafli serius .


'' Iya mas . Aku hanya ingin ketemu Ericana dan memberikan kenangan ini " ucap Ana memeluk suaminya .


'' Ya sudah , ayo kita tidur " ajak Rafli dan dituruti Ana .


.


.


.


Setelah Ana selesai memasak makanan makan siang yang akan di bawanya kekantor suaminya dan sudah siap juga menu makanan untuk Ericana , Ana segera melangkah pergi memastikan semuanya telah selesai , anak-anak dirumah pun telah di urusnya dengan baik .


'' Silahkan nona " ucap bodyguard Licia yang kini bertugas sebagai supir pribadi . Setelah Ana memasuki mobil dan duduk dengan tenang , gerakan yang sama pun di ikuti oleh bodygaurd wanita yang lain namun bukan gaya kalem atau lemah lembut tapi dengan ciri khas mereka yang membuat para pria akan berfikir ulang untuk menikahi mereka. Bayangkan saja saat terjadi keributan , maka para pria bisa jadi samsak tinju untuk para bodyguard yang bertugas menjaga Ana.


Licia mengemudikan mobil yang di kendarai nya dengan begitu sempurna , mudah menyalip mobil di depannya dengan begitu mudah sama hal nya seperti Rafli saat mengendarai mobil jika sedang dalam keadaan terburu-buru .


'' Silahkan nona " ucap Jova saat Ana telah tiba di ruang parkir apartemen.


'' Terimakasih " jawab Ana tersenyum . Licia tetap di dalam mobil bersama rekan kerjanya sedangakan Ana di dampingi Jova dan satu rekannya. Rafli sengaja tak menambah bodyguard wanita atas permintaan istrinya sendiri ..


Ting Tong .


Ceklek . Sasa membuka pintu apartemen milik anaknya dan matanya sedikit membola saat melihat kedatangan Ana .


'' Silahkan masuk sayang " ucap Sasa lembut kepada Ana.


'' Terimakasih , Tante apa kabar " ucap Ana tersenyum ramah .


'' Alhamdulillah Tante baik " ucap Sasa .


'' Kalian juga boleh masuk , silahkan " ucap Sasa dan dua bodyguard Ana masuk dan hanya menyapa Sasa dengan anggukan kepala saja tanpa senyum , membuat Sasa mengelus dada.


'' Ini bodyguard sifatnya seperti suami Ana saja. Beruntung Ana tak berubah menjadi kaku dan dingin seperti ini " batin Sasa...


'' Aunty Ana " ucap Ericana girang dengan gaun cantik yang melekat indah di tubuhnya yang bergerak cantik. Seketika tatapan terkejut di perlihatkan oleh dua bodyguard Ana yang ikut menemani nya. ..


" Wajah ini " batin Jova dan melirik rekannya dan tatapan sama pun di tunjukkan.


" Ayo silahkan diminum dulu " ucap Sasa gugup dan itu tak lepas dari pengamatan Jova kali ini .


" Terimakasih Tante , dimana Vini " tanya Ana yang kini membiarkan Ericana memeluknya cukup lama. Semua yang terjadi membuat Jova serta rekannya mengambil beberapa kesimpulan .Bahkan Jova pun bertanya-tanya pada dirinya sendiri , bagaimana mungkin nona dan tuannya tak menyadari sosok gadis cilik ini begitu mirip dengan Ana .


Rafli bukan tak menyadari jika sosok Ericana begitu mirip dengan istrinya bahkan pertemuan pertama dengan Ericana membuat pikiran Rafli sukses terganggu saat itu namun menyadari anak itu putri dari Eric membuat Rafli membuang fikiran anehnya sejauh mungkin . Sedangkan Ana cukup menyadari jika wajahnya dan Ericana mempunyai kemiripan yang cukup mencolok namun Ana sadar atas peristiwa yang beberapa tahun ia alami , akan sangat sulit sekali jika anaknya bertahan hidup saat itu saja sakit di perutnya begitu terasa dan ia sendiri tak yakin atas keselamatan anak dalam kandungannya serta dirinya sendiri , sebuah mukzijat baginya setelah tersadar dari koma yang cukup panjang ia lalui . Hingga Ana membuang harapan yang begitu mustahil saat menyadari kemiripan wajah dengan Ericana , Ana kini mencoba ikhlas untuk kepergian anak yang belum pernah ia lihat sama sekali dan menjadikan Ericana pelampiasan sayang Ana terhadap anaknya yang telah tiada


" Maaf mbak . Aku baru saja siap-siapin semua keperluan kami " ucap Vini tersenyum canggung .


'' Tidak apa-apa Vin " ucap Ana tersenyum ....


'' Oh ya sayang. Aunty ada sesuatu untuk kamu " ucap Ana dan mengambil sebuah kotak kecil dan membukanya , terlihat mutiara yang berkilau dengan indah dan terjamin keasliannya. Mata Ericana berbinar bahagia dan melepaskan begitu saja boneka yang di beli oleh Sasa yang sedang dimainkannya.


'' Ericana mau pakai '' ucap Ana dan diangguki Ericana tanpa perlu bertanya lagi pada Vini seperti saat pertama kali bertemu Ana.


Terlihat indah saat kalung mutiara di pasangkan ke leher Ericana , mata Ana berkaca-kaca membayangkan yang memakai ini adalah Zilvanya .


'' Andai saja '' gumam Ana dan kesedihan Ana begitu mengenai hati Vini saat ini. Ingin sekali ia berkata jujur namun ia belum sanggup menanggung akibat yang akan terjadi kedepannya .


'' Sayang , tolong jaga kalung ini ya. Jika Ericana tak ingin memakainya simpanlah . Ini kenang-kenangan dari aunty , aunty yang membuatnya sendiri dan uncle yang memilih mutiaranya . Entah kapan kita akan bertemu lagi sayang . Aunty di sini pasti merindukan mu '' ucap Ana yang tak mampu membendung tangisnya .


'' Aunty jangan menangis , Ericana pergi sebentar dan kita pasti akan bertemu lagi '' ucap Ericana yang kini matanya memerah menahan tangis , jarinya mengusap air mata yang mengalir di pipi mulus Ana .


'' Ericana janji , akan jaga kalung dari aunty. Kalung ini akan Ericana pakai hingga besar nanti '' ucap Ericana dengan suara cadelnya .


'' Aunty berhentilah menangis . Ericana tidak akan suka jika aunty menangis '' ucap Ericana yang mencoba membendung tangisnya .


'' Ya Tuhan , apa kami termasuk manusia yang begitu jahat memisahkan ibu dan anaknya. Hati ku merasakan sakit sangat mengerti bagiamana rasanya menjadi mbak Ana. Aku juga takut jika berpisah dari anak kandungku " batin Vini mengusap perut buncitnya .


'' Jangan lupa like dan komentarnya "

__ADS_1


Selamat membaca 😊


__ADS_2