
Pagi harinya, Zee terbangun di atas sofa dengan selimut menutupi tubuhnya. Sedangkan Sofia sudah tak ada di ranjangnya.
Zee bergegas bangun, berjanlan ke samping ranjang, mencari di kamar mandi tetap tak ada. Zee, pun akhirnya memberanikan diri tuk keluar.
"Astaga, kenapa tidurku sangat lelap. Dimana Nyonya Sofia, dimana juga Al," gumamnya.
"Nona, tolong ikut kami! Anda ingin membersihkan diri bukan?" tanya pelayan.
"Maaf, dimana semua orang?" tanya Zee balik.
"Semuanya, sedang ada di dekat taman, Nona. Saya di minta tuk melayani anda," jawab pelayan.
Akhirnya Zee pun mengikuti ke sebuah kamar yang begitu luas, terdapat sebuah kotak di atas ranjang.
"Nona, ini pakaian anda! Nyonya sendiri yang membelikannya. Tolong anda pakai!" pinta pelayan.
"Baiklah, terimakasih," ucap Zee membungkukkan badannya.
Pelayan itu pun keluar dari kamar, terlihat senyum di bibir pelayan tersebut.
Segera Zee membersihkan dirinya, berendam sebentar tuk melemaskan otot tubuhnya karena tidur di atas sofa.
"Kenapa, baju ini sangat bagus sekali? Modelnya memang simpel. Aku, jadi tak enak tuk memakainya. Jika, aku tak memakainya Nyonya Sofia pasti sedih," ucap Zee.
Akhirnya setelah memikirnya, Zee memakai baju tersebut. Zee mengingat sebagian rambut atasnya dengan poni belahan pinggir. Rambut panjang pirang nya begitu indah tuk di lihat.
Setelah selesai Zee keluar dan kembali mencari keberadaan mereka. Rumah itu sangat luas, Zee sampai pusing dibuatnya.
"Nona, mari saya antar!" seru pelayan.
"Maaf, sudah merepotkanmu," balas Zee tersenyum.
Pelayan itu hanya mengangguk dan tersenyum. Memberikan keberadaan Nyonyanya.
Di taman, terlihat ada Nyonya Sofia, Alya, Wili yang sedang bermain. Sedangkan sosok lelaki yang satunya sibuk dengan ponselnya duduk sebrang Sofia.
"Selamat pagi, maaf saya bangun kesiangan," sapa Zee tersenyum pada Nyonya Sofia.
Alya yang melihat Mommy nya berlari kearahnya. Tapi, langkahnya terhebat saat kakinya tersangkut sesuatu dab hampir terjatuh.
"Aaahhhhh," teriak Alya.
Tapi, gadis kecil itu tak sampai terjatuh. Karena tangan kekar sudah menangkapnya, dan menariknya di pelukannya.
"Alya," teriak Zee cemas.
Alya membuka matanya, terlihat tubuh Alex yang sedang memeluk dirinya.
"Uncle," panggil Alya.
"Kenapa? Jangan berlari! Lihat, kau hampir jatuh," ucap Alex dingin.
Alex pun melepas pelukannya dari Alya. Menatap gadis kecil itu, lalu melihat ponselnya yang terlempar tanpa sengaja saat melihat Alya akan terjatuh.
"Maaf, Uncle," balas Alya menunduk takut.
Wili mengambil ponselnya yang terjatuh di atas ubin. Sedangkan, Zee merasa tak enak hati pada Alex.
"Maaf, Tuan. Ponselmu jadi rusak," ucap Zee.
__ADS_1
"Lupakan! Aku masih bisa membeli banyak ponsel itu, tapi jika gadis kecil itu terluka dia akan menangis dan kesakitan," seru Alex.
Alex berlalu pergi dari sana, tanpa mengambil ponsel rusaknya. Sebenarnya, ponsel itu hanya retak saja.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Alex memang begitu," ucap Sofia.
Wili meminta Zee tuk duduk bersama dengan Alya. Wili duduk disamping Sofia.
"Apakah tidur mu lelap? Maaf, sudah merepotkanmu, semalaman," ucap Sofia.
"Tidak, Nyonya. Saya merasa tak di repotkan," balas Zee.
Sofia masih menatap wajah dari Zee, Wili menatap Ibu nya dengan penuh tanya.
"Kau memang sangat mirip dengan Ibumu," ucap Sofia.
"Bunda? Emm, apa anda mengenal bundaku?" tanya Zee.
"Tentu, siapa yang tak mengenal Azura. Wanita yang lembut, baik hati dan juga penuh kasih sayang," jawab Sofia.
Zee seketika berubah, dia teringat akan sosok sang bunda. Zee masih mendengarkan cerita Sofia.
"Kau beruntung memiliki sosok ibu seperti Azura, dia wanita yang baik. Kau pasti ingin tahu bukan, darimana aku tahu tentang ibumu!" seru Sofia.
"Ya, jika Nyonya tak keberatan. Saya ingin mengetahuinya!" pinta Zee.
Flashback On.
Saat itu adalah tahun terburuk bagi keluarga Sander. Semua pemesanan bunga yang biasanya mengirimkan, karena bunga di kota itu risak oleh wabah ulat. Menjadikan tidak lagi memasok bunga kepada mereka. Sofia rugi besar, mereka di tuntut tuk membayar ganti rugi.
Saat itulah, Bumi dan Azura sedang berada di kota tersebut. Melihat semua kekacauan di toko Sofia. Terlihat banyak orang yang marah. Yang, membuat Azura tak tega itu saat melihat salah satu anak dari Sofia terlempar jauh ke lantai karena di dorong oleh seorang lelaki.
"Kau, tak apa nak?" tanya Bumi.
"Mommy ku, tolong dia!" pintanya.
Bumi dengan segera bangun dan mengendong anak tersebut berjalan mendekati dengan Azura.
"Apa yang kalian lakukan, hah!" bentak Bumi begitu lantang.
Sofia sudah ketakutan dengan memeluk anak satunya lagi. Bumi menyerahkan anak lelaki tersebut pada Azura.
"Siapa kau? Kenapa ikut campur!" pekik seseorang.
"Aku harus ikut campur. Karena, sikap kalian yang sudah kurang ajar. Melakukan kekerasan pada anak kecil, dan merundung sang Ibu tanpa memberikannya berbicara," jelas Bumi.
Semua orang terdiam, Bumi terlihat sangat marah, semua orang seakan segan dan takut padanya. Karena memang Bumi terlihat begitu berwibawa.
"Coba katakan pada kami, ada apa sebenarnya!" pinta Azura.
"Nona, kami memesan banyak bunga dari Nyonya Sofia. Tapi sudah seminggu ini pesanan kami tak kunjung datang, dia mengatakan jika pasokan bunga rusak karena wabah ulat," jelas seorang wanita.
"Bunga? Bunga apa yang kalian pesan?" tanya Azura.
"Sebagian dari kami, memesan bunga mawar dan lily. Dan setiap orang yang memesan adalah 100 pict bunga," jawab seorang lelaki.
Azura sempat berpikir, jika dia memang semua bunga di temannya. Semuanya akan bisa membantu Nyonya tersebut. Bumi mengetahui apa yang sedang Azura pikirkan lun akhirnya, angkat bicara.
"Baiklah, aku akan memberikan 100 pict bunga mawar dan lily. Tapi, tolong jangan lagi meminta Nyonya ini tuk menganti rugi!" pinta Bumi.
__ADS_1
"Apa jaminannya. Jika, kalian akan menepati janji itu?" tanya seorang lelaki.
"Aku, mempunyai sebuah taman bunga yang luas. Dan disana, ada berbagai macam bunga. Jika kalian tak percaya, saya akan melakukan panggilan vidionya!" seru Azura.
Azura menatap Bumi, dan memberikan ijin tuk menelpon Ars kalau itu.Terlihat begitu segar, indah dan bunganya sangat besar-besar. Membuat semuanya sepakat menunggu 3 hari kemudian tuk mendapatkan bunga tersebut.
"Tuan, Nyonya, kenapa kalian melakukan itu? Aku, aku tak mempunyai uang tuk membayar semua bunga kalian," ucap Sofia.
"Tenanglah, Nyonya. Kami, tak mengharapkan anda tuk membayarnya. Kami, melakukannya tuk menolong anda dan anak-anak anda," balas Bumi.
Sofia menangis tak percaya masih ada seseorang yang baik. Mau menolong tanpa pamrih, walaupun mereka tak saling kenal.
Azura menatap satu anak lelaki kembar tersebut, mereka masih terlihat ketakutan.
"Apakah, dahimu tak apa?" tanya Azura.
"Tidak apa-apa, hanya luka kecil saja," jawanya.
"Siapa namamu?" tanya Azura.
"Alex, Wiliem Alexander," jawab Alex kecil.
"Wil, Alex ucapkan terimakasih pada Nyonya dan Tuan!"perintah Sofia.
"Nyonya, Tuan, terimakasih susah membantu kami," ucap mereka bersamaan.
"Sama-sama, boys!" balas Azura dan Bumi tersenyum.
"Semoga kelak saat dewasa kau bisa menjadi lelaki yang sukses dan bisa menjaga Ibumu!" seru Bumi.
"Ya, Tuan," jawab Alex dan Wili.
Setelah membantu, Azura dan Bumi pamit tuk segera pergi. Karena, mereka ada keperluan lain. Bumi mengatakan pada Sofia, di jangan khawatir karena bunga-bunga itu sedang di proses tuk pengiriman.
"Nyonya, Tuan, maaf siapa nama kalian?" tanya Sofia.
"Saya Raya dan ini Azura istriku," jawab Bumi.
"Saya Sofia, ini anak saya Alex dan Wiliem," ucap Sofia.
"Baiklah, kami hrus segera pergi," balas Azura.
Azura dan Bumi pun pergi begitu saha, tanpa meminta bayaran atas apa yang mereka lakukan. Tida hari kemudian bunga yang Sofia tunggu-tunggu dengan cemas, akhirnya sampai.
Bunga-bunga itu sangat indah, berwarna warni begitu segar, semua pelanggan sangatlah senang dan puas. Karena, mereka mendapatkan bunga kualitas bagus.
Flashback Off.
"Itu kenapa aku mengenal orangtua mu, dan kau tahu setelah setahun berlalu barulah aku tahu, jika Azura melahirkan anak kedua mereka. Yaitu kamu dan kakakmu, Zee dan Zyan," jelas Sofia.
Zee, memang sangat mengagumi bundanya. Azura memiliki hati yang bersih, pemaaf, penuh dengan kasih sayang, dan dia wanita yang baik, berbudi luhur.
Tanpa Zee tau, mata Alex tar pernah berpaling darinya. Hatinya semakin tak karuan saat mendengar kisah Azura dan Bumi.
"Jadi, Nyonya dan Tuan yang telah menolongku itu adalah orangtuanya?" batin Alex.
Alex masih ingat betul seperti apa wajah tampan Bumi, wajah khawatir dari Azura saat melihatmu terluka.
"Takdir apa ini? Kenapa semuanya harus terjadi pada saat seperti ini?" batin Alex seraya memandang Zee dan Wili.
__ADS_1
Sekian dan Terimakasih